Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 51 | Hari H



Warna biru malam yang mendominasi keseluruhan langit ditambah bulan yang bersinar terang dengan taburan bintang menambah kesan indah malam ini.


Soya duduk disebuah kursi di balkon kamar nya, seraya menikmati angin malam yang berhembus dingin menembus kulit. Ditemani secangkir kopi panas yang bisa membuat tubuh terasa lebih hangat.


Gadis itu mengusap lengan nya yang tertutupi jaket bulu yang lumayan tebal, suasana nya sangat nyaman namun terasa dingin. Ia memandang ke arah langit, melihat apakah ada tanda-tanda ingin hujan atau tidak.


Ting!


Ting!


Ting!


Alis nya bertaut ketika bunyi notifikasi beruntun terdengar dari ponsel milik nya. di raihnya benda pipih itu dan melihat nya dengan seksama.


Ada pesan dari Relvan yang mengatakan bahwa besok mereka tampil pada urutan kelima. Relvan juga menyuruh nya berlatih sedikit dan belajar rilex agar tak gugup nanti.


Sebelum ia duduk disini pun ia sudah beberapa kali melatih suara, takut akan mengecewakan mereka semua karena suara fals yang tiba - tiba tercipta.


Jari jempol nya mengetik kata 'ya' lalu menekan tombol send. Entah kenapa perasaan hambar itu makin terasa, ia seperti tak punya perasaan lagi untuk laki - laki itu.


Namun sungguh, jauh di lubuk hati terdalam masih ada secuil rasa. Rasa yang kini tertutupi oleh luka.


Sesaat ponsel nya tiba-tiba bergetar, ada sebuah panggilan masuk dengan nomor yang sama, nomor yang beberapa menit yang lalu telah mengirimi nya pesan.


Ia menggeser tombol hijau dan mendekatkan benda pipih itu ke telinga.


"Kenapa?" Tanya nya singkat, seolah malas untuk menanggapi panggilan tersebut.


[Lu belum tidur ya?] Tanya Relvan dari balik telepon, semacam berbasa - basi. Tumben sekali, lagi kerasukan setan apa dia??


"Ya." Jawab Soya. Cowok itu terdiam sejenak lalu kembali membuka suara.


[Tidur sana.] Ucap nya, namun terdengar seperti perintah.


Kini Soya yang terdiam, tidak biasa nya Relvan perhatian seperti itu padanya. Apa dia salah makan sesuatu??


"Gue insom." Sahut Soya lagi.


[Sejak kapan?] Tanya Relvan.


"Sejak negara api belum menyerang." Jawab Soya asal sambil tertawa kecil.


Namun tidak dengan cowok itu, ia tidak tertawa dan tak menganggap perkataan Soya itu sebuah lelucon. Ia malah menanggapi ucapan gadis itu dengan serius.


[Gak lucu.] Sahut Relvan.


[Jangan bercanda. Gue nanya serius, sejak kapan lu insom?] Sambung nya lagi.


Soya menghela nafas panjang dan memejamkan mata sebentar. Ia jauhkan ponsel tersebut, lalu tangan nya meraih gelas berisi kopi panas itu dan meneguk nya perlahan.


"Sejak lama, dan lu gak perlu tau itu kapan. Sekarang gue yang nanya, lu ngapain nelpon gue? Cuma buat basa-basi doang?"


Soya mengernyit ketika cowok di seberang telepon nampak grasak-grusuk tak jelas. Apa sih yang dia lakukan disana??


"Oi, lu ngapain sih?" Tanya Soya hingga membuat suara berisik itu seketika senyap dan kembali tenang.


"Van?" Ia kembali menyapa karena tak mendengar jawaban sama sekali.


[Lu tidur sana, sekarang. Awas kalau kesiangan! Besok pagi kita perlu latihan lagi sebelum acara dimulai. Jangan malu-malu in gue.]


Soya memutar bola mata, jengah. Selalu saja seperti itu. Dikira dia aja kali yang ingin tampil perfect, Soya pun juga mau nya begitu. Ini juga lagi diusahakan.


"Ya udah, matiin cepet. Gue lagi males mencet."


[Kenapa harus dimatiin?] Tanya Relvan yang sontak membuat seribu pertanyaan di benak Soya.


Soya mendadak loading kala mendengar perkataan cowok itu. Apa maksud nya? Bukan kah tadi ia menyuruh soya untuk tidur?? Lalu sekarang kenapa? Apa maksud Relvan tidak boleh memutuskan sambungan telepon ini??


"Lah terus? Gue kan mau tidur." Ucap Soya dengan dahi yang mengernyit.


[Jangan dimatiin. Gue harus mastiin lu beneran tidur atau enggak.] Sahut Relvan ketus.


Soya kini tertawa kecil ketika pikiran nya menyadari sesuatu. "Apa sih, Van? Tinggi amat gengsi lu, bilang aja kalau elu sebenar nya mau sleep call sama gue, kan? Pakai modus ngingetin lomba segala." Celetuk nya, membuat Relvan nampak mendengus dari seberang telepon.


[Gak. Cepetan sana tidur. Se.ka.rang!!]


"Iya deh! Bawel banget lu!"


Soya mendecakkan lidah seraya beranjak dari kursi sambil membawa gelas bekas nya tadi. Ia masuk ke kamar, menutup pintu balkon dan menutup tirai.


Ditinggalkan nya ponsel diatas kasur dan ia sendiri melangkah ke kamar mandi. Soya berdiri di depan wastafel seraya menatap dirinya dalam pantulan cermin.


Ia terdiam dan sedikit melamun, kemudian kembali tersadar ketika gelas yang ia isi air untuk berkumur - kumur penuh dan air nya melimpah membasahi tangan nya.


Ia matikan kran air tersebut lalu memulai kegiatan menyikat gigi dan tak lupa mencuci muka. Mengelap wajah nya dengan handuk khusus untuk wajah sampai tak ada lagi tetesan air.


Soya kembali ke kamar seraya meloncat ke atas kasur. Ia pandangi ponsel nya yang masih tergeletak di sana. Telepon nya masih tersambung tidak ya??


Ia meraih telepon genggam itu, ternyata masih tersambung. Namun tak terdengar suara.


"Vano?" Panggil nya.


[Hmm?]


"AHZKSGSNDGSJ!! Gila!! Aura cool nya nyampe sini!!"


Damn it!!


Soya menarik nafas dalam - dalam dan mengeluarkan nya beraturan. "Matiin aja lah, ya? Gue gak bisa tidur nanti kalau lu masih telepon."


Relvan terkekeh kecil. [Kenapa? Keinget gue, ya?] Ia nampak bercanda sekarang. Dasar sok kegantengan, huh!


"Dih! Kepedean. Udah, gue matiin, ya? Beneran deh, besok gue pasti bangun pagi dan gak bakal telat. Sekarang gue matiin, oke? Bye!"


Soya menutup sepihak tanpa persetujuan dari Relvan sendiri. Bodo amat! Yang penting gak ke ganggu lagi sama tuh makhluk. Makin malam kayak nya omongan tuh cowok makin melantur, jadi lebih baik dimatikan saja telepon nya.


Ia taruh ponsel di atas meja nakas. Lalu membenahi kasur sebelum tidur. Soya mematikan lampu dan hanya menyalakan lampu tidur. Lalu mulai merebahkan diri, menarik selimut sampai ke dada. Mata nya terpejam, tak lama ia mulai terbuai ke alam mimpi.


Tak, tik, tak, tik...


Kamar yang begitu sunyi membuat detakan jarum jam terdengar begitu jelas. Jam berputar pada semestinya. Tak terasa hari sudah mulai pagi, jam dinding menunjukan tepat pada pukul 6.


Kriiingg...


Suara alarm dari jam weker menggema di pagi ini. Soya menggeliat, menarik tangan ke atas sambil menguap lebar.


Dengan wajah yang masih mengantuk ia pun duduk dengan mata yang terpejam. Suara ketukan pintu membuat mata Soya sepenuh nya terbuka.


"Ila, sudah bangun, nak?"


Suara bunda terdengar dari sana. Soya mengangguk kan kepala seolah membalas pertanyaan dari bunda.


"Ila?" Panggil bunda lagi.


Bak tak punya tenaga, Soya pun menjawab nya dengan nada yang melambat.


"Udah Bunda." Sahut nya seperti orang yang tak diberi minum beberapa hari saja.


"Cepetan mandi, nak. Jangan tidur lagi."


Soya mengangkat jempol walau tahu kalau bunda tak dapat melihat jawaban nya. Ia rasa bunda juga sudah pergi dari depan kamarnya.


Soya merenggangkan tubuh kemudian beranjak ke kamar mandi. Menyelesaikan ritual mandi kemudian bersiap berangkat ke sekolah lagi.


**


Soya memarkirkan mobil di parkiran khusus yang disediakan sekolah. Membenahi pakaian nya sedikit, ia keluar dari mobil dan melenggang pergi ke kelas.


Saat melangkahi selasar kelas, ia mengedarkan pandangan. Menilik sekeliling sekolah yang sudah nampak ramai.


Di lapangan utama, terdapat banyak stand makanan dan minuman dan disediakan juga kursi untuk para tamu yang hadir.


Ada sebuah tenda juga yang lumayan besar, itu pasti hiburan dari anak kelas 11. Kemarin kalau tak salah dengar, entah anak kelas 11 mana, Soya tidak ingat. Mereka bilang ingin membangun tenda pesulap, mereka ingin bermain ramalan dari kartu tarot dan membaca nasib dari telapak tangan seseorang.


Terserah sajalah yang penting mereka senang.


Acara nanti diselenggarakan di dalam aula yang serupa gedung besar tempat biasa yang digunakan ketika acara sekolah diadakan.


Kalau di lantai dua sekolah, ada juga aula namun kecil. Dan digunakan untuk tempat berkumpul ketua kelas atau ketua ekskul jika ada pemberitahuan dari OSIS atau guru dengan alasan tertentu, bisa juga jika murid biasa ke sana dengan urusan tertentu juga seperti ia yang dipanggil pak Didi kemarin.


Soya menaiki tangga yang mengarah ke lantai dua dimana kelas nya berada. Ia tidak tahu Relvan sudah berangkat atau belum karena kelas cowok itu jarak nya lumayan jauh dari kelas dia berada dan Soya juga tidak menoleh ke arah parkiran motor tadi.


"Angkasa!" Ia menyapa ketua osis yang nampak terlihat tampan pagi ini. Pakaian nya sangat rapi dan bersih, wajar saja karena ketua osis juga harus mencontohkan cara berpakaian yang baik kepada murid yang lain.


"Ya, kenapa?"


Suara nya terdengar sangat maskulin dan tak lupa dengan senyuman yang mampu menggetarkan jiwa perempuan mana saja.


Soya tersenyum menatap nya. "Lu dari lantai atas ya?" Tanya nya saat berpapasan dengan cowok itu di tangga yang baru ia lewati beberapa langkah.


Angkasa mengangguk kan kepala. "Kenapa emang?" Tanya nya lagi.


"Lewat kelas 12 IPA-1 gak?"


Cowok itu mengerutkan kening. "Barusan gue dari sana." Sahut nya.


"Lu lihat Relvan gak di kelas tadi?"


Ia terdiam memandang Soya. "Relvano maksud lu?" Gadis itu mengangguk sekali. "Gak ada." Sambung nya.


Soya mengernyit mendengar perkataan Angkasa. "Beneran?" Tanya nya dan cowok itu pun mengangguk kan kepala.


"Ada lagi yang mau ditanyain? Gue mau ruang guru." Angkasa bertanya karena nampak nya Soya masih menghalangi jalan nya.


Soya pun reflek bergeser ke pinggir. "Gak ada. Emm... Makasih Sa." Angkasa tersenyum sebelum berlalu pergi.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...Bersambung...