
Bel pulang sekolah telah berbunyi, menandakan jam pembelajaran harus berhenti sampai disini.
Para murid bergegas pulang ke rumah, sebagian nya ada yang masih berada di sekolah untuk melaksanakan ekskul yang mereka ikuti, ada juga yang masih berada di sekolah karena kepentingan lain.
Risya sendiri tak mengikuti ekskul apa apa, jadi ia lebih baik cepat pulang ke rumah, pun pak supir yang menjemput sudah datang dan menunggu di depan.
Risya membereskan alat tulis kemudian bergegas melangkah ke luar kelas bersama Alby dan Rhaegar.
"Kalian berdua langsung pulang?" Tanya Risya sambil melangkah kan kaki.
Rhaegar menengok sekilas lalu kembali memandang ke depan. "Gue sih iya." Sahut nya.
"Kalau lu, Al?"
Alby nampak berpikir sejenak. "Emm.. pulang juga deh. Lagi pun gue juga gak ikut kegiatan apa apa, tapi ini mau ke rumah Tante gue dulu baru pulang ke rumah mama."
Risya mangut mangut mengerti.
"Oh iya, Sya. Tadi yang nyari lu siapa?" Tanya Alby, penasaran karena tak melihat siapa yang berada di balik pintu. Tadi di kelas ia lupa bertanya dan sekarang baru mengingat nya.
"Kak Fara." Jawab Risya singkat.
Mereka bertiga berbelok turun ke bawah seraya melangkahi anak tangga sambil berbincang bincang.
"Ketua tim basket putri kan?" Sahut Alby dan Risya pun mengangguk. "Ngapain emang?" Sambung nya.
"Pasti ngajak lu masuk basket kan buat festival nanti." Terka Rhaegar.
Risya mengangguk lesu, bukan karena tak mau sebenar nya tapi karena ia itu tipe manusia pemalas. Pemalas di dunia ini, kalau di dunia nya dulu ia tak malas malah bersemangat kalau masalah basket begini. Niat nya hanya ingin menikmati hidup disini tanpa harus menambah beban lain nya lagi.
"Tapi belum gue jawab sih, gue minta waktu dan kak Fara bolehin gue buat mikir dulu." Sahut Risya.
"Tim mereka kurang apa? Kok ngajak elu sih?" Tanya Rhaegar.
"Iya kurang, maka nya dia cari gue dan satu anak lagi yang lain biar tim mereka pas. Pengganti dua orang tim basket mereka yang ikut olimpiade sains." Ucap Risya santai.
"Hah? Kok lu mau sih jadi pengganti?!" Sergah Alby, nampak tak terima dengan kata pengganti yang di ucapkan Risya.
Risya mengernyitkan dahi. "Memang nya kenapa?" Balas nya balik bertanya.
"Jangan mau, Sya! Gue nggak suka dan nggak bakal dukung kalau mereka cuma manfaatin elu buat kepentingan mereka sendiri."
"Manfaatin apa nya sih, Al? Ini kan buat kepentingan tim. Kemarin dia juga sempat ngajak gue buat gabung."
"Kepentingan tim?! Cih! Lu nggak tau kan kelakuan komplotan Fara itu kayak gimana?!"
Risya terdiam tak bisa menyergah perkataan Alby lagi. Pun perkataan Alby ada benar nya, ia tak tahu bagaimana sebenar nya kak Fara itu. Tapi kan... ah bagaimana ya bicara nya, susah sekali.
"Tau dah, serah lu aja." Lanjut Alby.
Setelah berkata begitu Alby melangkah lebih dulu di depan mereka tanpa menoleh. Risya menghela nafas panjang lalu menghembuskan secara perlahan, bagaimana ya? apa kalau ia meminta izin pada Sigra respons nya juga akan sama seperti Alby?
"Nggak usah dimasukin ke usus ya kata kata Alby." Tukas Rhaegar seraya mengusap pelan surai Risya. Tak ada yang mengejar Alby, mereka membiarkan nya saja.
"Ke hati kali." Timpal Risya. Ekspresi yang tadi nya nampak kosong kini lebih terisi lagi.
Rhaegar terkekeh, sengaja berbicara seperti itu. "Jangan terlalu dipikirin, Rin. Alby emang kayak gitu kalau udah khawatir, kata kata nya kadang nyelekit padahal niat nya bukan kayak begitu."
"Iya, gue tau kok dia khawatir. Apa kalau gue minta izin ke Sigra respons dia bakal kayak Alby juga ya?" Ucap Risya tanpa sadar.
Rhaegar berhenti tiba tiba membuat Risya otomatis ikutan berhenti.
"Kenapa Rhae?" Tanya Risya bingung, ia sedikit mendongak menilik ekspresi wajah Rhae yang tak bisa dimengerti nya.
Sedetik setelah Risya bertanya, ekspresi Rhaegar kembali seperti semula. Rhae menggeleng tanda bahwa ia tidak apa apa.
"Masalah Alby biar gue yang urus, elu boleh pikirin baik baik permintaan kak Fara tadi. Ikutin kata hati aja, jangan dipaksa. Nggak apa apa nolak permintaan mereka kalau emang elu nggak mau." Ucap Alby seraya mengelus puncuk kepala Risya, lagi.
"Maaf." Cicit Risya pelan. "Gue jadi ngerepotin elu, Alby jadi kayak gitu juga gara gara gue."
"Kenapa ngomong gitu, hmm?"
Rhaegar menghela nafas ketika Risya nampak terdiam dan menundukkan pandangan. "Erin, it's okay kalau lu ngerasa gak enak." Rhae mengangkat dagu Risya, sedikit mendongak agar bertemu pandang dengan nya. "Tapi dengerin gue, elu sama sekali nggak ngerepotin dan jangan salahin diri lu sendiri. Manusia punya hak dan punya jalan masing masing, and you also have the right and the way itself. "
"Okey... thanks..." Sahut Risya, suara nya masih terdengar pelan. Mereka kembali melanjutkan langkah nya yang sempat tertunda.
"Emm... By the way, Egar kenapa panggil gue Erin? Kenapa nggak Risya aja?" Tanya Risya seraya melirik Rhae sepintas.
"Dan elu kenapa panggil gue Egar?" Tanya Rhaegar, melempar balik pertanyaan.
Risya menatap ke atas sepintas kemudian memandang lurus ke depan. "Karena lebih enak manggil Egar. Kalau manggil Rhae jadi nya ke inget seseorang."
Rhaegar menautkan alis nya. "Seseorang?" Tanya nya.
"Itu anak geng TB (Tiger Black) si Rey. Rada rada mirip kan penyebutan nya kayak nama elu, Rhae dan Rey. Jangan jangan lu berdua anak kembar yang terpisah lagi?!" Sergap Risya.
Rhaegar melongo lalu mendecakkan lidah, apa sih yang ada di dalam otak kecil gadis ini? Kata kata nya selalu terbilang tak masuk akal. Mana mungkin mama nya memiliki anak tanpa sepengetahuan diri nya, Rhae sudah memastikan itu.
"Ada ada aja lu! Nggak mungkin lah gue punya saudara kembar, udah gue pastiin itu." Sahut Rhaegar sedikit jengah.
"Sekarang giliran elu jawab pertanyaan gue." Ucap Risya dan kini Rhaegar menelengkan kepala.
"Pertanyaan yang mana?" Tanya nya bingung.
Risya menendang tulang kering Rhae, kesal juga dengan bocah ini. Pasti Rhae sengaja berpura pura lupa agar ia tak banyak bertanya.
"Nggak usah pura pura lupa deh lu! Jawab cepet, kalau nggak gue hajar lu disini!" Tukas Risya garang.
Rhaegar mengaduh seraya mengusap kaki nya yang di tendang Risya. "Iya iya, inget kok. Emm.. nama Erin juga mengingatkan gue akan seseorang." Risya mengernyit. "Seseorang yang selalu gue nanti kan kehadiran nya selama beberapa tahun ini dan seseorang yang berarti bagi gue, bagi hidup gue..."
...•...
...•...
...•...
...•...
Di sebuah warung makan yang terletak dipinggir jalan diseberang pom bensin, terdapat sekumpulan orang tengah duduk santai disana. Ia dan teman temannya nongki sambil duduk ala di warung kopi dengan sebilah rokok yang bertengger diantara jari telunjuk dan tengah.
"Gimana, mau nggak dia?" Tanya salah satu dari mereka.
"Masih dipikirin." Ucap nya seraya menghisap rokok perlahan lalu menghembuskan asap nya ke udara.
"Biarin aja lah kalau dia nggak mau, lagian bisa cari yang lain kan?" Celetuk anak lain.
"Eey.. nggak bisa gitu dong, dari beberapa anak yang gue lihat, dia yang paling jago dan cara main nya juga hebat. Kalau dibandingin elu sih, kalah jauh." Sahut teman yang lain lagi.
"Ya iya lah, gue kan emang hebat."
"Elu yang kalah jauh maksud gue."
"Sialan lu!"
Ia mematikan puntung rokok yang sudah tinggal sedikit ke asbak. Ia beranjak membayar makanan nya, teman teman yang lain pun mengikuti nya. Membayar lalu meninggalkan warung tersebut.
"Pulang yuk. Tenang aja, masalah tadi urusan gue. Biar gue yang tanganin sendiri. Gue udah kasih tawaran buat dia, biar nggak ada yang sama sama rugi diantara kita..."
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...tbc...