Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 89 | Rasa Yang Tak Asing



Jam istirahat sekolah kini tak terasa sudah berbunyi, siswa - siswi GIBS semua nya nampak bergegas keluar dari kelas mereka sesudah guru yang mengajar keluar dari ruangan.


Mereka buru - buru pergi ke kafetaria sekolah untuk mengganjal perut yang sudah terdengar keroncongan. Di dalam kelas XI-IPS1, Risya terlihat tengah menyimpan buku tulis nya ke dalam laci meja.


"Ke kafetaria gak?" Tanya Rhaegar yang menatap ke arah Risya. Gadis yang ditanya pun menolehkan kepala nya dan mengangguk kecil.


Usai menerima respon tersebut, Rhaegar seketika beranjak dari tempat duduk dan hendak melangkahkan kaki nya. Namun Risya sontak menghentikan pergerakan nya dengan menarik ujung almamater lelaki tersebut.


Rhaegar menengok dan memandang Risya dengan kernyitan, Alby yang hendak beranjak juga ikut menengok menatap mereka. "Kalian mau duluan?" Tanya Risya menatap Alby dan Rhae bergantian.


Alby menaikan sebelah alis karena bingung mendengar perkataan Risya. "Lu gak mau bareng kita?"


"Mau," sahut Risya. Rhaegar melirik ke arah Alby kemudian kembali menatap Risya. "Tapi gue nunggu Sigra," sambung nya seraya melepaskan tangan nya dari almamater Rhae.


Risya menyerongkan tubuh nya menghadap Rhaegar dan menyenderkan punggung nya pada dinding kelas sambil menikmati angin yang berhembus lembut menerbangkan helaian kecil rambut nya.


"Oh ya?" Rhaegar kembali mendudukkan bokong nya, nampak nya lelaki ini tidak mau meninggalkan Risya sendirian di kelas. "Sigra mau jemput ke sini?" Lanjut nya lagi. Risya mengangguk sekali.


"Ya udah tungguin aja, biar kita bareng," tambah Alby yang kembali duduk ditempat nya lagi.


"Kalian gak apa - apa kan kalau bareng mereka?" Risya hanya takut kalau mereka berseteru dengan Relvan dkk, sebab mereka juga tidak pernah akrab. Apalagi Sigra dan teman - teman nya itu adalah kakak kelas mereka, bukan sungkan dengan senior namun mereka benar - benar tidak pernah akrab satu sama lain.


"Gak masalah, lagian kita juga gak punya masalah sama mereka." Risya menganggukkan kepala nya kalau mendengar sahutan Alby, bagus juga kalau begitu, setidak nya tidak ada kesan buruk diantara mereka.


Mereka kemudian menunggu sambil sedikit berbincang dan sedikit jenuh sebab Sigra juga tak kunjung datang. "Lama banget njay! Bisa lumutan gue kalau begini," celetuk Risya kesal.


"Palingan bentar lagi, kalau lama kita tinggalin aja mereka." Tak berselang lama setelah perkataan Rhaegar, Sigra dan teman - teman nya kini datang ke kelas mereka.


Sekejap kelas mendadak hening saat kelima lelaki populer itu memasuki ruangan ini. Tentu saja arah tujuan Sigra adalah ke meja milik adik nya, Sigra mendelik dengan raut datar. Rupa nya adik nya duduk dengan Rhaegar.


"Maaf lama," ucap Sigra sambil menatap Risya.


"It's okay." Risya kemudian bangkit dari tempat duduk nya. Sigra menarik sudut bibir nya tipis lalu menggandeng tangan Risya dan mengajak nya untuk ke kafetaria.


Rhaegar, Alby serta teman - teman Sigra kemudian melangkahkan kaki juga dan mengikuti mereka.


"Sigra," panggil Risya. Sigra seperti nya tak mendengarkan panggilan dari nya. Apa suara nya kurang kencang??


"Gra," panggil nya lagi. Namun Sigra tetap tak bergeming dan seolah tuli, entah sengaja atau tidak, Risya tidak tahu. "Sigrayen Diva Serville." Kali ini Risya memanggil nama nya sampai ke nama panjang nya, ia sampai tak habis pikir dengan Sigra yang masih tak kunjung menyahut juga. Sigra ini punya masalah pada pendengaran nya kah??? Risya menghela nafas dengan kesabaran yang sudah nampak menipis.


"Oi! Budeg ya lu?!" Kesal Risya pada akhir nya. Bukan tanpa alasan ia memanggil tapi sejak keluar dari kelas tadi, sepanjang selasar kelas dan sekitar nya, anak - anak disini semua melihat ke arah mereka. Lebih tepat nya ke arah ia dan juga Sigra.


"Heh, yang sopan." Sigra menolehkan kepala nya dan menatap Risya dengan tajam. Sebenar nya ia mendengar saja tapi sengaja mengabaikan nya.


"Maap." Risya mengerucutkan bibir milik nya dan sedikit menunduk lalu kemudian mendongak mencari mata Sigra. "Tapi bisa lepasin tangan aku gak?" Tanya nya, Sigra terlihat menatap nya dengan datar. "Kita diliatin sejuta pasang mata, gak risih apa? Sepanjang teras kelas semua nengok ke sini."


Sigra tahu itu, rasa nya ia ingin mencolok mata mereka satu persatu atau menendang mereka sampai ke ujung Amazon. Tetapi lelaki ini seperti nya tak ingin merusak image baik di depan adik perempuan nya satu - satu ny.


Sigra mengalihkan pandangan seraya menatap orang - orang yang melihat ke arah mereka dengan tatapan tajam. Seketika itu juga orang - orang di sekitar langsung gelagapan, mereka sontak mengalihkan pandangan untuk pura - pura tidak melihat ke sana lagi.


Sigra mendenguskan nafas nya. "Udah, mereka gak akan liat kesini lagi," ucap nya kemudian membawa mereka ke arah kafetaria tanpa melepas genggaman tangan nya pada Risya.


Mereka mencari tempat duduk sebentar sebelum memesan makanan. Risya mendudukkan diri di kursi kosong yang tentu nya bersebelahan dengan Sigra, kalau disamping kiri nya ada Rhaegar dan Alby.


"Lu mau makan apa?"


Belum juga selesai, Rhaegar sudah memotong perkataan Risya. "Jangan minum es, lu masih belum boleh, Sya."


Risya menautkan alis nya lalu mengerucutkan bibir nya, ia menatap Sigra dengan ekspresi macam kucing yang minta dipungut. "Caca mau es jeruk ya, Ay. Boleh?" Pinta nya dengan mata berbinar - binar. Wajah nya sangat penuh harap memandang Sigra.


Sigra terdiam sejenak sambil menatap Risya dengan lekat, sialan! Rasa nya ia tak bisa menolak permintaan adik nya. "Jangan dulu, ya," ucap nya setelah sempat menguatkan hati nya. Sigra mengusap rambut Risya lalu membisikan sesuatu ke telinga adik nya.


"Oke, fine." Risya tak membantah lagi dan memesan susu hangat sebagai ganti minuman nya.


Rey melirik ke arah Angga dan sedikit menyenggol lengan lelaki itu. "Fix sih ini, mereka pasti pacaran, Le, mana pakai panggilan khusus lagi," bisik nya pelan. Untung nya Sigra tak mendengar, jika tidak mungkin mata tajam lelaki itu akan berubah menjadi leser yang seakan menebas kepala nya.


Angga memutar merotasikan mata nya dengan jengah. "Orang buta aja kali yang nggak liat kalo mereka berdua pacaran," sergah nya membuat Rey langsung menoyor kepala Angga.


"Gue ngomong serius, monyet!"


"Gue Angga bukan mon--"


"Berisik! Lu berdua sana pesan," titah Relvan yang tadi memotong perkataan Angga, ia menaruh beberapa lembar uang kertas diatas meja.


Wajah Angga dan Rey lantas terlihat sumringah dan begitu cerah melihat duit merah itu. "Lu yang traktirnih ye," celetuk Angga.


"Udah sana," usir Relvan secepat nya. Angga serta Rey beranjak dari tempat duduk dan memesan makanan teman - teman nya tak terkecuali Rhaegar dan juga Alby.


Relvan menghembuskan nafas ke udara sambil memandang Rhaegar yang terlihat asik dengan ponsel nya. Entah perasaan nya saja atau bagaimana, Rhaegar ini seolah mengingatkan nya pada sesuatu tapi ia tak bisa mengingat apa itu.


Rasa akrab itu selalu muncul diantara mereka, tak tahu apa penyebab nya. Apa mereka pernah bertemu ya? Tapi di mana dan kapan?? Tak ada ingatan sedikit pun tentang hal itu.


Rhaegar yang merasa ditatap pun mendongakkan kepala menatap Relvan dengan kernyitan. "Kenapa?" Tanya nya membuat mereka yang berada di meja itu sontak menilik Rhaegar.


Relvan mencoba menetralkan raut wajah nya agar tetap datar saat terciduk tengah memandangi sang empu beberapa detik yang lalu. "Gak," sahut nya dengan nada setenang mungkin. Mendengar jawaban itu, Rhaegar hanya mengangguk - anggukan kepala nya dan kembali menatap ke arah ponsel nya.


Apa Relvan penasaran dengan nya ya? Di tambah lagi perihal ia yang menyapa Relvan kemarin dengan kata - kata seperti itu, seperti teman lama yang baru saja berjumpa.


Akan kah Relvan dapat mengingat itu???


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...Bersambung...