
Detak jantung seorang pasien itu tiba - tiba saja melemah membuat beberapa perawat dan Dokter kalang kabut karena nya. Mereka mencoba menempelkan alat Defibrillator ke dada pasien tersebut.
Di gosok - gosok sebentar lalu ditempelkan untuk memacu detak jantung nya. Di lakukan berulang-ulang namun hasil nya nihil, kondisi masih tetap sama, tak ada perubahan.
Akhir nya dengan berat hati, mereka memasang kan beberapa alat ke tubuh pasien. Untuk mengurangi resiko pada nyawa nya.
Tidak ada gejala apapun sebagai penyebab nya, detak jantung pasien tiba - tiba saja melemah. Namun beruntung detak nya tak bertambah lemah. Walau pasien sudah dinyatakan koma tapi kondisi pasien baik - baik saja. Aneh bukan??
"Apakah hal itu pemicu nya? Apa kamu masih belum saja memberitahukan nya kepada orang tuamu, Risya?" Batin sang Dokter sendu. "Saya juga tidak bisa asal bertindak tapi kalau ini mendesak, saya akan meminta maaf sebesar - besar nya padamu."
Saat menangani pasien, ia terus menatap was - was ke arah Elektrokardiogram disampai ranjang pasien. Khawatir, kalau pikiran buruk itu benar - benar terjadi.
Setelah semua nya selesai, ia keluar dari ruangan tersebut. Ternyata Sigra sudah menghadang nya di depan pintu.
"Gimana adik saya?" Tanya nya dingin. Namun ada nada kekhawatiran dalam kalimat nya. Itu benar-benar membuat nya tak bisa berbohong kalau ia memang sedang khawatir.
Dokter terdiam sesaat lalu membuang nafas berat. "Maaf, kami sudah berusaha-"
Para perawat yang berada disana sontak menjerit saat Sigra tiba - tiba menarik kerak dokter tersebut. Mereka sudah was - was kalau akan terjadi perkelahian di sini.
"Lu jangan ngomong yang gak bener?!! Adek gue gak mungkin ninggalin gue, bangsat!!" Sigra berteriak di depan wajah Dokter tersebut.
Tak perduli lagi dengan pandangan orang-orang terhadap nya. Kalau adik nya sampai kehilangan nyawa, mungkin ia juga akan mengubur seisi rumah sakit bersama. Biar semua juga merasakan betapa sakit nya kehilangan Risya.
Dokter tersebut mencoba melepaskan tangan Sigra dari kerah nya karena ia merasa tercekik. "Saya belum selesai berbicara." Tukas nya hingga akhir nya cengkeraman itu terlepas begitu saja.
Dokter itu perlahan mengatur nafas nya sejenak. Ia memandang pemuda didepan nya yang tengah menatap nya dengan marah dan mungkin juga sekaligus bingung mendengar perkataan nya.
"Maksud saya, kami meminta maaf walau kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mengembalikan detak jantung pasien menjadi normal, tapi ternyata alat juga tidak memberikan reaksi lebih. Detak jantung pasien masih lemah namun beruntung tidak bertambah lemah." Ia menarik nafas dalam - dalam dan menghembuskan nya secara beraturan.
"Jadi kami memutuskan untuk memasangkan beberapa alat pada tubuh nya untuk mengurangi resiko yang tak diinginkan terjadi."
Sigra mengacak - acak rambut nya frustasi, ia lantas melangkah masuk ke dalam ruang inap dan melewati sang dokter begitu saja.
Dokter tak menghentikan nya, ia hanya menatap punggung Sigra yang perlahan menghilang. Dokter tersebut menghela nafas berat sambil menggelengkan kepala nya. Ia berjalan meninggalkan ruangan pasien.
Sigra nampak termenung menatap Risya yang terbaring dengan beberapa alat yang terpasang di tubuh nya. Ia ingin marah dengan semua Dokter di rumah sakit ini, tapi... Ah sudah lah.
Apa ia harus melarikan penanganan Risya ke luar negeri?? Ke rumah sakit yang jauh lebih baik dari ini??
"Hey, are you okay?" Ia mengusap kepala Risya pelan. "Tenang ya, Abang ada disini..." Ujar nya lirih seraya mengecup puncuk kepala Risya sedikit lama.
•
•
•
•
Pagi hari nya suasana SMA GIBS masih terasa seperti biasa nya. Tak ada yang berubah kecuali beberapa siswa yang mungkin ada masalah.
Di ujung parkiran sebelah timur, terlihat dua orang siswa sedang berlarian sambil mengumpat satu sama lain. Tapi bagus juga kan pagi - pagi sudah berlari menghasilkan keringat.
"Al, balikin sepatu gue njir!!" Pekik salah satu dari mereka.
Siswa satu nya hanya tertawa riang sambil berlari menjauh membawa sebelah sepatu teman laki - laki nya. "Kerjain dulu PR gue dulu! Baru gue kasih." Sahut nya.
"Ogah banget!"
"Ya udah gue gak mau-"
Buk!
"Akhh!" Seseorang terjatuh di depan nya karena di tabrak oleh lelaki yang membawa sepatu.
"Sshh.."lelaki tersebut meringis karena dada nya terbentur kepala seseorang dan lumayan keras.
Rhaegar, lelaki sang pemilik sepatu itu baru sampai menyusul teman nya pun dibuat kaget. Ia langsung menghampiri lalu reflek menggeplak kepala Alby.
"Elu nabrak siapa, woi lah!" Sarkas nya.
Alby mengusap kepala nya yang terasa nyut-nyutan. "Gak sengaja gue." Ucap nya.
Rhae yang mendapat kesempatan pun lekas mengambil sepatu nya yang berada ditangan lelaki itu. "Sepatu gue." Ketus Rhae.
Lalu ia memasangkan pada kaki nya. Rhaegar sudah menahan malu saat beberapa pasang mata nampak menatap aneh ke arah nya karena hanya memakai satu sepatu saja.
Alby mencebikkan bibir nya kemudian menatap ke arah seseorang yang masih terduduk di bawah. Mata mereka bertemu pandang, Alby terbelalak lebar.
"Soya?" Buru-buru Alby membantu Soya berdiri. Rhaegar ikut menoleh menatap Soya yang tengah menepuk - nepuk rok nya yang terkena debu jalan.
"Makasih, Al." Ucap nya seraya tersenyum tipis.
"Eh, sorry banget Soy. Gue gak sengaja." Alby merasa tak enak dengan nya, mana yang ditabraknya perempuan lagi.
"Alah sengaja dia mah, marahin aja Soy." Kompor Rhaegar.
Alby lantas menoyor kepala Rhae dengan kesal. "******! Lu temen gue apa bukan?!" Gerutu nya sambil mendelik tajam.
"Bukan." Sahut Rhaegar santai. Tidak beneran sih, ia hanya bercanda pada Alby.
"Unpren kita!"
Soya tertawa kecil melihat interaksi kedua orang itu. Pagi-pagi sudah disuguhi tontonan seperti ini, mana pemain nya ganteng lagi. Xixixi..
"Gue gak apa - apa, kok. Sakit nya juga gak seberapa, tapi malu nya itu loh aduh.. mau ditaroh dimana muka gue." Kata Soya pelan sambil melirik kan mata ke sekeliling.
Alby tersenyum canggung jadi nya. "Sorry." Ucap nya, lagi.
Soya terkekeh saja, lalu mengangguk sekali. Sebenarnya hanya bercanda saja, lagipula ia juga tak perduli dengan beberapa pasang mata itu.
"Sorry juga, gue ikutan gak liat jalan tadi." Soya tadi hendak pergi ke mobil nya, mengambil sesuatu yang tertinggal disana. Sebenar nya tak penting - penting amat, jadi sekarang ia mengurungkan niat kesana.
Rhaegar sudah cekikikan sendiri padahal tak ada yang lucu. Soya yang melihat itu sontak mengernyit bingung. Apa yang ditertawakan lelaki itu??
"Temen lu stres ya, Al?" Bisik Soya pada Alby.
"Mungkin." Sahut nya balik berbisik.
Rhaegar berhenti terkikik lalu memandang nyalang kedua nya. "Apaan lu berdua bisik - bisik?! Ngomongin gue?" Tanya nya dengan tidak santai.
"Dih! Kepedean!" Celetuk Soya mencibir.
"Yuk Al! Kita ke kelas, tinggalin aja Rhaegar dongo ini disini." Soya menyeret Alby membuat lelaki itu hanya pasrah mengikuti.
"Oi! lu berdua gak sekelas bego!"
Namun mereka hanya mengabaikan Rhaegar dan membuat lelaki itu berdecak kesal. Rhaegar menyusul dan berjalan dibelakang dua manusia itu.
Soya mengajak Alby berbincang di sepanjang selasar kelas, mereka benar - benar mengabaikan Rhae yang misuh - misuh di belakang.
"Oh ya?" Alby mengangguk yakin.
"Hooh, pelit banget ye kan? Orang macam begitu kuburan nya sempit." Sindir nya sambil melirik sang pelaku.
Soya terkekeh geli. "Kuburan nya sempit kata nya, Rhae." Ucap gadis itu membuat Rhaegar mendelik sinis ke arah mereka.
"Alby ******!" Umpat Rhaegar.
"Elu dongo!"
Rhae nampak terkesiap mendengar sahutan Alby. "Lu denger gue ngomong?" Tanya nya sambil mengedip lucu.
Alby membalikkan tubuh nya lalu menoyor kepala Rhae hingga membuat sang empu menggerutu. "Elu ngomong nya kenceng monyet! Gimana gue gak denger coba?!"
Rhaegar langsung nyengir tanpa rasa bersalah. Tapi memang nya tadi ia mengumpat terlalu keras ya?? Tak tau lah.
"Santai dong muka nya!" Tukas Rhae. Alby hanya mencebikkan bibir dan menatap nya malas.
"Muka muka gue!"
Mendengar itu, Rhae dengan jahil nya lantas menendang tulang kering Alby, lalu kabur ke kelas. Sebelum itu ia sempat memeletkan lidah nya ke arah Alby.
"Rhaegar!!" Yang di panggil hanya tertawa mengejek dan mempercepat lari nya.
"Awas lu ya!" Alby meringis sambil mengusap kaki yang ditendang oleh makhluk tak waras tadi.
"Sshh, sakit juga ya rasa nya." Gumam nya kecil. Soya malah tertawa tanpa mengiba dengan ringisan Alby.
"Jangan ketawa lu!" Tukas nya sedikit ketus, rada malu juga begini didepan cewek tapi sungguh ini beneran sakit.
"Lucu dah liat lo berdua." Celetuk Soya membuat Alby memutar bola mata nya. "Btw, lu sama Rhae kayak nya deket banget ya? Tetanggaan?"
Lelaki itu mendecakkan lidah. "Bukan." Sahut nya. Memang bukan tetangga kan? Jarak rumah Rhaegar dengan rumah nya saja sudah lumayan jauh.
"Terus?"
"Sepupu." Sahut nya seperti tak ikhlas untuk mengakui. Lagian Rhae itu sangat kurang ajar dengan nya padahal ia yang lebih tua beberapa bulan.
"What?!" Alby menutup mulut Soya saat cewek itu memekik di dekat telinga nya.
"Sstt.. mulut lu berisik!" Ketus nya lalu menjauhkan tangan nya. Soya lantas memberikan cengiran khas nya pada Alby.
"Pantes sih kelakuan lu berdua gak jauh beda, mana muka kalian rada - rada mirip kalau di liat sekilas." Tutur Soya.
Alby bergidik ngeri mendengar nya. "I don't want to be compared to him." Ia menatap ke arah Soya. "Btw emang bener mirip? Gue gak ngerasa dah."
"Ya, lu sama Rhae gak pernah kan ngaca bersama?"
Alby terdiam sambil berfikir sejenak. Untuk apa berkaca bersama seperti tak ada kerjaan saja.
"Coba dah ngaca bersama." Celetuk Soya, lagi.
"Ogah ah! entar gue malah liat yang enggak -.enggak di dalam kaca." Alby tertawa renyah sambil terus melangkah ke kelas nya, dan mereka kembali berpisah karena berbeda arah tujuan.
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...Bersambung...