Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 80 | Bersama Mereka Lagi



Dokter tersebut memeriksa keadaan Risya dengan benar. Alat - alat pada tubuh pasien sudah dicabut oleh mereka. Stetoskop itu ia kalungkan kembali ke leher, Dokter tersebut tersenyum menatap keluarga pasien.


"Ini sungguh keajaiban, padahal baru tadi malam kondisi pasien drop. Sekarang keadaan nya benar - benar baik, bahkan pasien bisa dinyatakan sehat," kata nya membuat Mommy, Daddy dan Sigra serta satu orang lagi tersenyum bahagia.


Dokter menatap ke arah Risya. "Apa yang kamu rasakan?" Tanya nya membuat gadis itu menelengkan kepala.


Risya menggelengkan kepala. "Saya baik - baik aja, Dok," ujar nya seraya membalas tatapan sang Dokter.


"Tidak ada keluhan?"


Lagi - lagi Risya menggelengkan kepala nya. Ia benar - benar merasa sehat sekarang tanpa ada keluhan sedikitpun.


"Emm.. Tapi saya mau pulang." Ia menatap Dokter dan keluarga nya secara bergantian. Mommy tersentak mendengar hal itu, sedangkan Dokter tersebut hanya terdiam.


"Tapi kamu harus dirawat beberapa hari disini dulu, sayang. Sampai kamu pulih."


Risya seketika menggeleng ribut. "Hiks.. gak mau. Caca mau pulang, gak suka bau rumah sakit," rengek nya. Gadis itu menekuk lutut lalu menyembunyikan wajah di antara lutut nya sambil terisak.


Ia jadi takut sekarang, bayang - bayang suasana rumah sakit kala kedua orang tua nya dibawa dulu tiba - tiba melintas saja didalam kepalanya. Bau obat yang terasa familiar hingga membuat kepala nya sedikit pusing. Ya Tuhan, disaat yang seperti ini ia jadi menginginkan kakak perempuan nya yang menemani nya.


Daddy Vino dan Mommy Aliya saling tatap mata, bingung dengan sikap anak nya sendiri. "Pak Vino, kalian bisa merawat nya di rumah jika pasien benar - benar tidak nyaman berada disini," ucap Dokter memberi saran pada kedua orang itu.


Jika pasien tidak merasa nyaman berada disini, kita juga tidak bisa terlalu memaksakan kehendak dan egois terhadap mereka. Tapi jika itu memang mengharuskan nya berada disini, apa boleh buat??


"Gimana, Dad?" Tanya Mommy Aliya.


Daddy Vino menghela nafas berat lalu menatap ke arah Risya yang masih menyembunyikan wajah nya. "Turutin aja permintaan Caca," tukas pria itu pada akhir nya. Mereka masih bisa merawat putri nya di rumah dan tentu dengan pengawasan Dokter terbaik juga untuk putri mereka.


Dokter keluar dari ruangan, menyisakan satu keluarga itu berbincang. "Sayang udah ya nangis nya, kita bakal pulang ke rumah." Mereka kembali saling pandang karena Risya tak kunjung menyahut.


Namun secara perlahan Risya mulai mengangkat kepala nya, mengintip sedikit dari celah bulu mata lalu kemudian mendongak.


"Sekarang?" Tanya nya. Mommy Aliya mengangguk dan mengusap kepala Risya pelan.


"Daddy sama Mommy mau keluar dulu, sebentar ya." Risya menganggukkan kepala, Daddy Vino memeluk Risya sebentar sebagai pengobat rasa rindu nya pada sosok putri nya itu yang menghilang beberapa hari kemarin.


Sekarang di ruangan ini tertinggal Risya, Sigra dan pria tua yang hanya diam sambil terus memandang ke arah Risya. Membuat gadis itu merasa takut dan pura - pura untuk tidak melirik ke arah nya.


"Kamu mau ini gak?" Sigra menawarkan sebuah apel dan mengupaskan kulit nya.


"Mau."


Lelaki itu kemudian menyuapkan sepotong buah tersebut ke mulut Risya. Dan dilahap gadis itu dengan senang, seolah ia sudah melupakan bayang - bayang yang membuat nya ketakutan tadi. Sekarang ia terlihat biasa saja, tapi mungkin masih ada sedikit rasa takut saat rasa familiar itu suka melintas begitu saja.


"Abang," panggil Risya.


"Hm?"


"Itu siapa?" Risya melirik pria berumur itu dari ekor mata, Sigra mengikuti arah lirikan gadis itu. "Gue takut, tatapan nya serem. Mana wajah nya tua lagi," celetuk Risya, lagi.


"Huss!" Risya bingung saat Sigra nampak mendesis seolah melarang nya untuk berkata seperti itu. Memang nya itu siapa sih?


"Kenapa?"


"Itu Kakek kamu," tukas Sigra.


Mata Risya terbelalak lebar mendengar perkataan abang nya, oh jadi ini kakek nya si pemilik tubuh? Yang nama nya Jaya itu, kan? Risya memandang pria itu dengan lekat lalu tersenyum kecut.


"Halo, Kakek!" Sapa nya sambil nyengir lebar. Kakek Jaya terlihat memandang cucu nya dengan lekat.


"Kenapa Kakek itu gak ngomong?" Bisik Risya ke telinga Sigra.


"Mungkin kakek mau ngomong berdua sama kamu." Risya sontak memegang lengan Sigra erat - erat. "Jangan keluar," pinta gadis itu pada nya.


"Caca." Risya kembali menatap sang Kakek sambil mengerjap lucu. Namun si Kakek tiba - tiba merentangkan tangan membuat Risya tidak mengerti dan langsung melirik ke arah Sigra.


"Peluk mungkin," bisik Sigra.


Kakek nya itu memang sangat merindukan Risya, dulu Risya juga lumayan dekat dengan Kakek Jaya. Namun entah kenapa mungkin karena faktor lama tak bertemu, Risya jadi melupakan wajah Kakek nya itu. Apa begitu??


Risya sedikit meringis walau tak merasakan sakit. "Kakek pedo nih," celetuk gadis itu dalam hati.


Risya mengangkat tangan yang masih terpasang infus. "Gak bisa. Kakek yang kesini." Ia menatap sang Kakek dengan mata polos nya.


Kakek Jaya tertawa kecil mendengar penuturan cucu nya, ia sampai lupa kalau sang cucu tak bisa mendekat ke arah nya.


Risya tertegun memandang Kakek Jaya, ternyata kalau tertawa kakek jadi mirip sama Daddy. Apa Daddy yang mirip kakek?


Kakek Jaya beranjak dari duduk nya dan menghampiri Risya. Ia memeluk cucu nya dan si cucu pun membalas pelukan nya. Mereka kemudian melepaskan pelukan, Kakek Jaya menepuk kecil puncuk kepala Risya.


"Kakek kok mirip Daddy?" Tanya Risya. Kakek Jaya lantas tertawa sedangkan Sigra menghela nafas mendengar pertanyaan adik nya. Daddy kan anak nya Kakek ya jelas mereka mirip, kecuali kalau Daddy anak orang lain.


"Kakek kan Papa nya Daddy kamu." Kakek Jaya tersenyum geli. Mulut Risya seketika membulat membentuk huruf O.


"Oh begitu, pantesan keliatan tua," gumam Risya kecil namun nampak nya telinga si Kakek masih tajam saja pendengaran nya.


"Kamu bilangin saya tua?! Dasar cucu kurang ajar!" Sergah Kakek Jaya sambil melotot ke arah cucu nya.


Risya gelagapan sendiri, ia mengumpat dalam hati karena keteledoran mulut nya ini. Tapi telinga Kakek ini kok tajam sekali sih?! padahal ia kan tak berbicara keras.


"Ha? B-bukan kok. Bukan begitu, Kek!" Dalih Risya panik, ia meng-kode Sigra lewat mata untuk segera membantu nya.


Sigra tertawa kecil dan karena tak tega melihat wajah kecut Risya, ia mengatakan pada Kakek bahwa adik nya tidak bermaksud begitu. Padahal kan memang sudah tua, untuk apa lagi disembunyikan?


Kakek Jaya menghela nafas dan mencubit hidung cucu perempuan nya pelan. "Cucu Kakek kenapa bisa jadi kayak gini?" Tanya Kakek, lagi.


"Jadi kayak gini?" Risya bergumam sambil mengernyit bingung, ia menatap ke arah tubuhnya apakah ada yang berubah dari badan nya?? Lebih kurusan??


"Maksud Kakek kenapa kamu bisa masuk rumah sakit bahkan sampai koma hampir dua Minggu."


Risya terlihat mengerjap dan tercekat. "Gue koma?" Ia kembali bergumam seraya melirikkan mata ke atas lalu ke tangan yang terpasang infus.


Sebentar, kalau gue beneran koma berarti yang mimpi gue itu cuma karena khayalan alam bawah sadar bukan halusinasi. Atau... Gue beneran sempat kembali ke tubuh asli gue?


Mata gadis itu terbelalak lebar membuat Kakek Jaya dan Sigra sontak melirik bingung ke arah nya. Risya masih terdiam dan tak percaya dengan tebakan nya sendiri, benarkah dia pulang ke dunia asli nya?? Sekejap saja??


"Caca." Risya tak bergeming dan masih sibuk dengan kemungkinan - kemungkinan yang tengah ia simpulkan. Ia benar - benar sibuk dengan pikiran nya hingga tak mendengar panggilan dari Kakek nya.


"Hei." Kakek Jaya melambaikan - lambaikan tangan di depan wajah cucu nya.


Risya tersentak sambil menatap Kakek nya dengan canggung. "Ah iya kenapa, Kek?"


"Kamu masih sakit?" Raut wajah Kakek Jaya terlihat khawatir pada cucu nya, ia meletakan telapak tangan nya ke dahi Risya seraya mengukur suhu badan cucu nya.


Risya tersenyum simpul, menurunkan tangan Kakek Jaya dari dahi nya pelan. "Caca baik - baik aja, udah gak sakit lagi. Kakek jangan khawatir."


"Benar?" Risya mengangguk. "Mau Kakek panggilin Dokter?"


"Nggak usah, Kek," kata Risya pada sang Kakek.


Kakek Jaya nampak terlihat ragu - ragu tapi ia juga menganggukkan kepala. Ia melirik ke arah cucu laki-laki nya, nampak nya cucu nya itu juga ingin berbicara empat mata dengan Risya.


"Jangan sakit - sakitan lagi." Risya tak menganggukkan kepala, ia hanya membalas nya dengan senyuman. "Kakek tinggal dulu ya sebentar, mau cari angin diluar," kata Kakek Jaya sambil terkekeh.


"Siap!" Seru Risya dan tertawa sambil hormat. Diusap nya kepala Risya lalu Kakek Jaya keluar dari ruangan ini.


Sigra terdiam sambil memandang Risya lekat. "Ngapa liatin gue?" Tanya Risya ngegas.


Sigra sontak menarik bibir Risya seperti mulut bebek. "Mulut nya yang sopan!" Tukas lelaki itu. Ia melepaskan tangan nya membuat Risya mengerucutkan bibir mungil nya.


"Abis nya Abang ngeliatin Caca gitu amat dah!" Keluh gadis itu.


"Kamu gak mau peluk juga sama Abang?" Tanya Sigra seraya menaikan sebelah alis nya.


"Gak mau," sahut Risya dengan nada mengejek. Ia hendak merebahkan tubuh nya tapi segera dihentikan Sigra. Lelaki itu tiba - tiba memeluk tubuh nya tanpa aba-aba hingga membuat Risya terkesiap kaget.


"Hiks..."


Risya mengedip pelan, Sigra kenapa? Kenapa dia menangis?? Pelukan lelaki itu terasa erat seolah takut kalau Risya pergi meninggalkan nya.


Cukup lama Risya membiarkan Sigra menangis, akhir nya ia menangkup wajah Sigra dengan kedua tangan nya. Dilihatnya wajah tampan itu kini tengah berlinang air mata, hidung nya memerah dan bibir nya melengkung ke bawah.


Jantung Risya seketika berdebar-debar, tidak bisa dia terlalu imut! Sialan!! Ingin rasa nya ia menculik Sigra pulang ke dunia asli nya. Boleh kah? Tapi cara membawa nya bagaimana??


"Si cengeng kenapa nih?" Risya terkekeh seraya menetralkan kegemasan nya terhadap abang pemilik tubuh. Ia mencoba menenangkan dengan mengusap lembut pipi sang Abang.


"Kamu- huaa..." Sigra langsung menutup wajah nya dengan tangan lantaran malu karena dilihat Risya. Sampai-sampai ia juga tak bisa melanjutkan perkataan yang terpotong tadi.


"Bang," panggil Risya lembut.


"Jangan dilihat!" Kata Sigra saat Risya ingin menyingkirkan tangan yang menutupi wajah tampan itu. Risya menghembuskan nafas ke udara dan mendiamkan Sigra beberapa saat.


"Caca salah ya?" Sigra masih menyembunyikan wajah nya. "Caca juga pengen bangun lebih awal kalau Abang mau tau. Caca gak pengen tidur lama kayak gini dan bikin semua orang khawatir. Caca gak mau itu, tapi ternyata Tuhan punya rencana lain buat kita semua. Dan saat Caca di beri kesempatan untuk bangun aja itu udah syukur." Risya menyingkirkan tangan yang menutupi wajah Sigra. Di pandang nya lelaki itu lekat-lekat seraya melemparkan senyuman tulus pada nya.


"Lebih mendingan kan? Dari pada Caca yang gak bangun selama nya." Sigra lantas kembali menjatuhkan air mata untuk kesekian kaki nya.


"Kamu gak boleh ngomong kayak gitu, Ca."


Risya tersenyum lalu mengusap air mata Sigra. "Maka nya jangan nangis lagi. Caca gak suka Abang kayak gini. Jangan merasa bersalah atas kejadian ini. Abang juga gak boleh nyalahin siapapun, banyak - banyak bersyukur aja. Tuhan itu punya banyak rencana yang lebih baik dari manusia," Tutur nya lembut.


Sigra nampak terdiam lalu mengangguk - anggukan kepala nya pelan. "Cuci muka sana! Entar dikira Mommy malah Caca yang bikin Abang nangis." Risya terkekeh usai berucap.


"Emang kamu!" Sahut Sigra sambil mendengus melihat adik nya yang seolah mengejek diri nya, ia lantas beranjak ke kamar mandi yang ada di dalam ruangan ini.


Risya merebahkan diri seraya menatap langit - langit ruangan ini, ia menghela nafas beberapa kali sambil memejamkan mata sesaat.


"Setidak nya kasih gue kesempatan lagi buat lihat wajah mereka, bukan cuma suara nya aja. Gue bener - bener rindu." Air mata nya seketika menetes dari ekor mata. Ia menangis dalam diam tanpa suara.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...Bersambung...