
"Mau pulang sekarang?"
Risya pun sontak mengangguk dengan antusias, ia juga sudah menghabiskan satu cup es krim yang berukuran besar jadi sekarang sudah kenyang. Jalanan masih terlihat sangat ramai, pun terik matahari masih terasa menyengat kulit. Ini masih terlalu siang untuk kembali berjalan-jalan, sebaiknya ia menunggu sedikit sore biar tidak terlalu panas.
Ah, Risya ingin cepat sampai ke rumah dan merehatkan badannya sejenak. Bisakah Sigra membawa motornya lebih cepat lagi?
"Bang, cepet dikit lah!" Risya berseru seraya menepuk pundak Sigra sebanyak dua kali.
"Kamu gak liat apa di depan sana macet?" Risya langsung berdecak dan memilih diam.
"Keselamatan itu lebih penting, Ca, jadi gak perlu ngebut. Lagian rumah kamu gak bakal lari juga, masih ada di sana."
Beberapa menit setelah itu, mereka pun sampai juga di rumah. Saat memasuki rumah mewah itu, Risya langsung di sambut hangat oleh sang Mommy dan juga bi Iyem --wanita yang mengasuhnya sejak lahir. Risya dan mommy Aliya saling cium pipi alias cipika-cipiki.
"Tumben banget Mommy cepat pulang? Biasanya juga selalu malem." Risya melirik ke arah sang mommy yang hanya tertawa ketika mendengar sindirannya.
"Oh~ jadi kamu gak suka nih kalau mommy pulang cepet, hm?"
Sontak saja, Risya pun mengerucutkan bibirnya. "Ih bukan kayak gitu, mom! Kan biasanya juga gak jam segini pulangnya, jadi rada aneh waktu Caca liatnya."
Mommy Aliya mengulas senyuman. "Maaf ya, sayang."
"Kenapa minta maaf?" Tanya Risya dengan kernyitan heran.
Wanita itu tak menjawab, ia mengusap rambut anak perempuannya sembari mengecup singkat pelipis sang anak juga. Mommy kemudian memalingkan kepala, menatap anak sulungnya yang terdiam memandang mereka.
"Nah, anak mommy yang satu ini kenapa diem aja, hm? Gak suka juga kalau mommy pulang cepet?"
Sigra lantas mendengus dan memandang sang mommy dengan malas. "Apa sih, mom? Sigra belum ngomong apa-apa aja udah di tuduh begitu."
Mommy Aliya seketika tergelak, tatapannya terlihat tulus dan hangat kala menatap kedua anaknya yang begitu ia cintai. Tak terasa ya, mereka sudah beranjak dewasa. Padahal rasanya baru kemarin mereka belajar merangkak kemudian berjalan. Dan beberapa tahun kedepannya, pasti ada yang bakal menikah di salah satunya.
"Mom, kenapa nangis?" Risya menyeletuk saat melihat setetes air mata yang terjun mengalir di pipi sang Mommy. Ia menatap khawatir sembari mengusap jejak air mata tersebut.
"Ha? Eh, gak kok apa-apa, sayang." Mommy Aliya mengusap-usap kedua matanya, ia tersenyum lebar menatap Risya dan juga Risya. Aduh~ sampai tidak merasa lagi air matanya terjatuh.
"Ayo, sekarang kalian ganti baju dulu. Mommy udah masakin makanan kesukaan kalian." Wanita itu sedikit mendorong punggung sang anak untuk segera pergi ke kamar dan berganti baju.
Risya tak bergeming, ia masih memasang ekspresi serupa, khawatir. Risya menatap ke arah Sigra lalu kemudian kembali menatap ke arah Mommy.
"Mommy beneran gak apa-apa, nih? Semisal ada apa-apa, bilang aja sama Caca," ujarnya.
"Atau ada yang nyakitin Mommy? Bilang, biar Sigra pukul orangnya." Sigra langsung menyambung perkataan Risya.
Mommy nampak menggelengkan kepala, senyuman hangatnya masing tercetak jelas di bibirnya. "Gak ada, sayang. Tapi kalau semisal Daddy mu yang nyakitin, gimana?"
Risya seketika mengerjap dengan raut wajah terkejut, sedangkan Sigra sendiri langsung memasang ekspresi dingin. "Gak perduli, Sigra bakal tetep hajar Daddy. Dan kalau perlu sampai gak bangun-bangun lagi."
"Siapa yang mau ngehajar Daddy?"
Mommy Aliya dan kedua anak kesayangannya itu sontak terkesiap kaget ketika sebuah suara lain tiba-tiba menimpali percakapan mereka. Dari balik pintu, muncullah Daddy Vino yang nampak mengernyit karena mendengar perkataan Sigra sebelumnya.
Mommy Aliya juga mengerjap bingung kala melihat sang suami sudah pulang dari jam yang biasanya. "Lho, kamu udah pulang, Mas?"
Mommy langsung melangkah menghampiri sang suami. Ia meraih tas kerja dan jas milik suaminya. Ini sudah menjadi kebiasaannya ketika sang suami pulang kerja, ya... Walaupun tidak sering sih karena dirinya biasanya ia juga lembur.
"Gak ada jadwal meeting lagi?"
"Nggak ada, sayang."
Sigra dan Risya hanya saling melirik dari ekor mata, kedua orangtuanya terlihat baik-baik saja. Jadi tadi mommy cuma bercanda?
Daddy kini tersadar akan kedua anaknya yang berdiri tak jauh dari mereka. "Udah pulang kalian?" Tanyanya lembut sambil mengulas senyuman.
Risya sontak mengerucutkan bibirnya. "Apa sih, Dad? Kami kan biasa pulangnya emang jam segini tau! Hmp, masa lupa?"
Daddy Vino lantas terkekeh, seketika itu juga ia merasa bersalah karena lupa dan jarang memperhatikan anak-anaknya. "Maaf, ya, biasalah Daddy udah tua. Sini peluk Daddy dulu."
Daddy merentangkan kedua tangannya dan detik itu juga Risya langsung berlari kepelukan pria itu dan mendekapnya dengan erat. Rasanya hangat, sampai Risya seketika ingin meneteskan air matanya.
Ck! Baperan sekali hatinya ini. Apa mungkin saja karena ia begitu rindu? Rindu akan beberapa hal yang sontak membuat ia sendu. Untuk kali ini bersabarlah hati, engkau akan merasakan bahagia di dunia ini. Tidak apa jika tak selamanya, asalkan ia bisa merasakannya.
"Anak Daddy yang satu itu gak mau pelukan juga?"
Risya mendongakan kepala ketika Daddy berbicara. Daddy Vino terlihat nampak tersenyum jahil pada anak sulungnya itu. Daddy-nya itu pasti tahu kalau Sigra punya gengsi yang tinggi dan susah diajak romantisan ala keluarga Cemara. Ckckck!
"Nggak."
Sigra seketika menyahut sambil memandang sang Daddy dengan jengah. Setelah itu, ia langsung melongos pergi dari hadapan adik, Mommy dan juga Daddy nya. Tak usah ditanya lagi pemuda itu mau ke mana, ya sudah pasti ia mau pergi ke kamarnya.
Mommy hanya bisa geleng-geleng kepala sambil mengulas senyum di bibirnya. "Abang kamu tuh, pakai acara malu-malu segala," ucapnya hingga membuat Risya terkikik geli.
"Anak Daddy tuh," sahut Risya dan langsung membuat Daddy Vino mendengus.
"Anak Mommy kamu itu."
Mommy Aliya langsung mendelik ke arah sang suami. "Itu mah kamu yang bikin!" Celetuknya dengan cemberut dan ikut melongos dari hadapan suami dan anak perempuannya.
Kini hanya tertinggal Risya dan Daddy vino, ayah dan anak itu sontak saling pandang ketika kedua orang tadi meninggalkan mereka. "Hati-hati aja Daddy bakal tidur diluar karena bikin mommy ngambek," tutur Risya sambil menahan senyumnya. Pelukan mereka sudah terlepas dari beberapa detik yang lalu.
Daddy menarik pelan hidung mungil sang anak. "Jahil banget ya kamu," ujarnya dengan raut yang tak bisa pria itu tutupi lagi, ia begitu bahagia melihat anak perempuannya nampak ceria.
"Sayang, ganti baju kamu juga! Abis itu langsung langsung turun ke meja makan, ya, bilangin juga sama Abang kamu!"
Risya seketika menolehkan kepalanya menatap ke arah dapur. "Oke, Mom!" Serunya seraya meninggalkan sang Daddy.
Pria yang tertinggal sendiri itu nampak menghela nafas panjang. Nasib sudah dirinya yang ditinggalkan.
...•...
...•...
...•...
...•...
...•...
...Bersambung...