
Nina masih saja sibuk dengan buku tulis nya dan beberapa buku paket yang ada di atas meja nya, ia tak beranjak dari bangku nya padahal jam istirahat telah tiba. Lila yang melihat Nina masih sibuk pun beranjak dan mendekati sang empu.
"Nin, ayok ke kafetaria!" Ajak nya. Tapi Nina terlihat tak bergeming, detik berikut nya perempuan itu nampak melirik ke arah Lila dengan wajah malas sembari mendecakkan lidah pelan.
"Lu aja sana!" Sahut Nina tanpa sadar hingga membuat Lila yang mendengar nya pun terkesiap dengan wajah kaget nya.
"Nin?" Lila menatap tak percaya, Nina yang biasa nya adalah seorang perempuan lemah lembut kini malah berbicara seperti itu. Kata - kata nya juga terkesan seperti orang yang tak suka.
Nina mengerjap saat sadar kalau omongan nya keterlaluan. "M-maksud aku, kamu duluan aja. Aku nanti nyusul kalau laper." Ia tersenyum simpul dan memasang wajah imut nya.
Lila terdiam dan tak langsung menanggapi, ia mnatap Nina lekat sejenak baru menganggukkan kepala nya. "Ya udah deh kalau gitu gue duluan." Setelah itu, Lila benar - benar mninggalkan Nina seorang diri di dalam kelas.
"Sialan!" Nina mengumpat dengan bergumam, ia mendongakkan kepala untuk menatap jam dinding di kelas nya. Ia kembali menatap buku saat tahu kalau lima belas menit lagi bel masuk berbunyi.
Nina kini berkutat dengan buku nya, membaca beberapa materi dan beberapa soal yang dikerjakan oleh nya. Namun tak berselang lama, ia pun menutup buku tersebut dan beranjak seketika. Ia keluar dari kelas nya dan menuju ke arah toilet kelas mereka.
Di sepanjang lorong kelas, Nina selalu menyapa ramah siapa saja yang terlihat menyapa diri nya dengan ramah juga. Ia berbelok ke arah toilet dan menyelesaikan tujuan awal nya, setelah buang air kecil, Nina pun melangkah ke arah wastafel untuk mencuci tangan nya menggunakan sabun.
"Heh, anak emas!" Dua orang remaja perempuan tiba - tiba masuk dan menghampiri Nina yang nampak diam saja seolah tak ingin menghiraukan mereka.
"Budeg ya lu?!" Tanya mereka lagi.
Nina menghela nafas, mendongakkan kepala dan menatap mereka melalui kaca di depan nya sebelum akhir nya berbalik ke arah mereka dan tak membelakangi lagi.
"Ada apa ya, kak?" Tanya nya dengan nada ramah padahal asli nya ia sungguh malas untuk meladeni mereka. Lagian mereka ini siapa? Seperti nya Nina belum pernah melihat mereka.
"Gak perlu pasang tampang sok ramah deh lu kalau asli nya busuk juga," ujar salah seorang perempuan itu sambil tersenyum meremehkan.
"Aku bener - bener gak ngerti maksud kakak sekalian itu apa."
Kedua perempuan yang tak di kenal itu sontak memutar bola mata malas. "Cih! Berlagak polos," celetuk salah satu nya. Ia melirik teman nya dan memberikan kode lewat mata.
Teman nya yang paham pun langsung merogoh sebuah ponsel di saku almamater, mengusap layar nya sebentar untuk membuka kunci. Ia memperlihatkan sesuatu dari ponsel nya kepada Nina. "Bagus gak?" Tanya nya sembari menaik-turunkan kedua alis nya.
Nina terkesiap tapi berusaha untuk tetap tenang dan tak terbawa emosi karena mereka, harus tetap sabar tak boleh menunjukan gelagat aneh apalagi ekspresi yang bisa lebih menyudutkan nya.
"Lagian itu bukan aku, itu jelas - jelas editan," sahut Nina santai
Mereka saling lirik sebentar. "Oh, editan?" Perempuan yang memperlihatkan ponsel tadi pun mengangguk - anggukan kepala nya. "Kalau yang ini gimana?" Sambung nya setelah sempat menggeser layar pipih itu untuk memperlihatkan foto selanjut nya.
Kali ini Nina nampak terbelalak lebar, tangan nya sontak merebut ponsel tersebut namun tak bisa karena di cegah oleh mereka.
"Eits!! Mau ngapain lu?" Tanya mereka, teman nya tertawa menyaksikan perubahan ekspresi Nina yang nampak pias.
"Hapus gak?!" Sarkas Nina dengan guratan emosi yang kentara di wajah nya.
Perempuan tadi menaikan sebelah alis nya. "Elu siapa emang jadi berani merintah gue?" Tanya nya.
Teman yang satu nya pun nampak tergelak lalu mengangguk setuju dengan senyuman mengejek yang benar - benar meremehkan Nina. "Kata nya tadi cuman editan, kok sekarang malah ngamuk minta kita hapus? Santai aja kali," tukas nya mengesalkan.
"Kalau gue sebar ke forum sekolah gimana ya? Pasti asik," ucap nya memandang ke arah Nina sebab ia sibuk dengan ponsel nya.
Mendengar itu, Nina lantas menggigit bibir bawah nya menahan emosi yang ingin meluap sambil mengepalkan kedua tangan nya dengan erat. "Mau kalian apa sih?!" Tanya Nina pada akhir nya. "Gue gak ada punya masalah sama kalian!"
Perempuan itu mengalihkan pandangan nya dari ponsel sedangkan yang satu nya menatap Nina sambil bersidekap dada. "Wow... Jadi ini rupa asli nya? Cih, polos banget sok pakai aku - kamu sedangkan asli nya pakai lu - gue juga. Biar apa sih?"
Ia menyimpan ponsel nya dan memasukan kedua tangan nya ke dalam saku almamater, lalu berjalan mendekat ke arah Nina. "Heh, Nina! Upss! Bukan deng, tapi J.*.L.*.*.G." Ia semakin mendekati Nina. "Lu mau foto itu gue hapus?" Tanya nya.
Nina menelan ludah nya dengan perasaan yang bercampur takut. Apakah di luar tak ada orang? Apakah tak ada yang mau lewat sini?
"Sujud dulu di kaki gue, baru gue hapus tuh foto," sambung perempuan itu seraya tersenyum miring.
Teman nya merasa jengah saat tak menerima jawaban dari mulut Nina. "Oi! Di jawab dong!" Tukas nya kesal. "Punya mulut 'kan situ?"
Nina menunduk dan terus melangkah mundur kala perempuan di depan nya terus melangkah maju. "Gue gak mau," gumam nya pelan.
Teman perempuan itu tadi mengorek kuping nya saat tak mendengar jawaban Nina. "Ngomong apa dia, Bre?" Tanya nya. "Kagak denger gue."
Ia melirik teman nya sekilas. "Yang kenceng dong ngomong nya!" Pekik nya di depan wajah Nina, tangan nya ikut bermain menarik rambut belakang Nina hingga membuat Nina mendongak.
"Sshh... Sakit, kak," desis Nina sembari meringis sakit. Rasa nya ia jadi tak berdaya saat di keroyok seperti ini, ia juga tak bisa bertindak macam - macam saat sesuatu yang mengancam hidup nya berada di genggaman mereka.
Mereka tersenyum miring menatap penderitaan Nina tapi ini belum seberapa, ia melepaskan Nina dengan kasar dan membuat Nina terjatuh ke lantai.
Ia menatap menatap Nina dari atas dengan helaan nafas pelan. "Mau cium kaki gue lu?" Tanya nya sambil mengangkat kaki nya tepan di depan wajah Nina. "Nih, cium!" Sergap nya.
Beberapa saat Nina tak bergeming dan hanya diam saja, tak berani mendongak juga. "Duh, lama amat! Pegel nih kaki gue!" Keluh perempuan yang membully Nina itu. Ia menurunkan kaki nya kembali seraya menatap si kuman di lantai itu dengan malas.
"Kayak nya selain buta, lu itu juga tuli ya?" Ia menepuk - nepuk tangan nya merasa kotor saat menyentuh Nina. "Karena waktu itu elu menang Olimpiade Sains Nasional jadi kita mau ngasih hadiah buat lu, ye gak?" Ucap nya seraya menatap teman nya.
"Yoi, mulai gak nih?" Tanya nya juga. Perempuan itu mengangguk sekali untuk menyetujui.
Byurr!!
Mereka menyiramkan air WC ke kepala Nina dengan tega, bau air nya itu menyeruak menusuk indera penciuman manusia. "Iwhh!! Bau banget dah," celetuk mereka seraya menutup hidung masing - masing.
Tubuh Nina bergetar tapi tak membuat mereka menghentikan aksi nya. "Itu hadiah pertama buat elu." Dua butir telur busuk mereka pecahkan di atas kepala Nina dengan tawa seolah ini adalah lelucon yang sengaja mereka buat untuk nya. "Ini hadiah kedua karena lu menang."
Nina terisak di tempat, bau tubuh nya sudah benar - benar busuk dan mungkin tak ada yang mau mendekat ke arah nya kecuali lalat. "Hiks.. kak, udah."
Salah satu nya berjongkok dan mensejajarkan diri dengan Nina yang berada di bawah. "Lah? Udah nangis? Belum juga selesai ini," ucap nya lalu kembali berdiri. "Nangis nya di tunda dulu ya, say," lanjut nya sebelum satu plastik tepung terigu berhamburan menyelimuti kepala Nina.
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...Bersambung...