Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 63 | Tempat Ternyaman untuk Pulang



KRIINGG...


Bel pulang telah berbunyi. Relvan bergegas keluar kelas bersama Rey, Rizhan dan Angga menuju parkiran.


"Akhirnya bebas juga dari sekolah."


Rey mengernyit mendengar perkataan Rizhan. "Bebas apaan? Sekolah aja belum lulus." Komentar nya.


"Ho? Apa iya?" Ekspresi Rizhan polos sekali hingga membuat Angga menyentil dahi bocah itu dengan pelan.


"Kenapa sih?!" Sinis Rizhan. Ia menutupi dahinya dengan kedua tangan, kalau-kalau disentil oleh Angga lagi. Angga hanya mengangkat bahunya acuh.


"Lele ngeselin!! Pengen tak sleding!!"


Angga menaikan sebelah alisnya dan menatap Rizhan dengan lekat. "Berani?" Tanya nya.


"Berani, kok!" Tapi Rizhan malah berlari lebih dulu ke arah parkiran sepeda motor untuk menghindari Angga.


Angga geleng-geleng kepala dan ikut menyusul bocah itu. Diparkiran motor, Rey, Angga dan Relvan kini menaiki motor masing-masing. Angga dan Rey memasang helm full face mereka.


"Zhan punya mainan baru. Main yuk, Le!"


Angga melirik Rizhan yang tengah memasang helm nya. "Pasti puzzle." Terka nya.


Rizhan melebarkan matanya. "Loh kok tau?" Tanya nya cengo.


"Ya tau, lu kan kemarin emang pingin itu." Sahut Angga membuat Rizhan nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Oh iya ya." Gumam Rizhan.


"Gue gak diajak?" Celetuk Rey tiba-tiba.


Rizhan menatap kearah nya dengan mata bulatnya. "Ha? Rey juga mau ikut? Yuk! Ke rumah Zhan ya nanti." Ajaknya.


Relvan hanya diam saja karena tak mengerti pembicaraan mereka, lagi pula ia juga tidak terlalu menyukai permainan seperti itu. Ia lebih suka jadi pengamat teman-temannya.


Rizhan kini mengalihkan pandangan ke arah Relvan yang sedari tadi diam. "Relv gimana?" Tanya nya.


Relvan menengok sesaat. "Gak. Kalian aja." Tolak nya.


Rizhan mengangguk - anggukkan kepalanya sambil menaiki motor sport nya. "Ya udah deh. Kuy pulang!"


**


Motor sport berwarna hitam itu memasuki perkarangan rumah mewah berlantai tiga. Kemudian memasuki bagian garasi.


Lelaki itu turun dari motor seraya melepas helm dikepalanya. Ia melangkah masuk ke dalam rumah dan disambut hangat oleh bibi ART yang bekerja di rumah nya.


"Baru pulang kamu?"


Suara itu seketika membuat senyum tipisnya memudar, ia menghela nafas dan menoleh ke arah sumber suara.


"Ya." Sahut nya singkat.


"Darimana aja kamu? Kenapa baru pulang jam segini?!"


Lelaki itu mengerutkan dahi. "Mama gak liat aku pakai seragam?" Tanya nya.


"Kamu--"


"Mama bisa gak berhenti ngurusin aku?! Urusin aja pekerjaan mama sana. Biasanya juga begitu kan?!"


Plak!


Ia terkesiap dan terdiam dengan kepala yang menoleh ke kiri akibat tamparan wanita yang ia sebut Mama. Dada nya terasa sesak namun berusaha ia tahan.


"Kamu jangan kurang ajar, Relvan!!"


Relvan hanya diam, tak menatap wanita itu. "Pasti didikan Papa kamu kan jadi kamu kurang ajar begitu sama orang tua?!"


Relvan perlahan menatap sang Mama dan mengepal erat tangan nya. "Kenapa sekarang Mama malah nyalahin Papa? Kenapa gak salahin mama yang gak pernah ngurusin aku?!!" Ucap nya dengan nada yang meninggi.


"Relvan!!"


"Kenapa? Kenapa setiap pulang selalu marah-marah sama Relvan? Mama kenapa gak pernah ngertiin perasaan Relvan?!"


Setelah berucap, Relvan pun kembali melangkah menjauh dari sang Mama.


"Relvan!" Panggil sang Mama.


Relvan tak menghiraukan dan terus berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Brak!!


Pintu tersebut ditutupnya dengan keras hingga menimbulkan bunyi. Ia menghempaskan tubuh lelahnya di atas ranjang king size nya. Kemudian menutup matanya dengan lengan.


Cairan bening tiba-tiba mengalir dari ekor matanya. Ia menangis dalam diam tanpa suara isakan.


"Relvan mau Papa..." Gumamnya lirih.


Beberapa jam telah berlalu, dan kini ia kembali turun kelantai dasar. Berniat mengembalikan mood nya tapi malah berpapasan dengan Mama nya lagi.


"Mau kemana lagi kamu?" Tanya Mama Relvan.


"Keluar." Sahut nya. Sambil berjalan melewati sang Mama.


"Memang nya sopan kamu kayak gitu?!! Keluyuran malem-malem gak pamitan sama orang tua?!"


Relvan tak perduli, ia bergegas keluar dari rumah menuju garasi motor.


Mama Relvan menatap punggung sang putra yang menghilang dari pandangan nya. Tangan nya memijit kepala, pusing.


"Anak itu.." gumam nya pelan.


Di garasi motor, Relvan memasang helm dan menunggangi kuda besi itu. Tidak tahu ingin kemana, yang penting ia pergi dari rumah itu. Sebenarnya ia punya apartemen, namun ia malas kesana.


Perutnya tiba-tiba terasa lapar, ia pun singgah di warung pinggir jalan yang terletak di persimpangan. Memarkirkan motornya dan menghampiri penjual itu.


"Kang!" Panggil nya.


"Iya, mas?"


"Nasi goreng spesial satu, minuman nya teh anget." Kata Relvan.


"Siap, mas!"


Relvan duduk dan menunggu di bangku yang disediakan warung itu. Iamerogoh ponsel dan mengirimkan pesan pada seseorang.


"Vano, bukan?"


Suara itu, sepertinya ia mengenalinya. Relvan mendongak dan sedikit terkesiap melihat lelaki didepannya.


"Eh, bang El?" Ucap nya.


Elio terkekeh seraya ikut duduk juga di bangku dekat Relvan.


"Sendiri aja lu?" Tanya Elio.


Relvan mengangguk sebagai jawaban. "Abang sendiri?" Tanya nya balik.


"Gak. Sama bocah, tuh!" Elio menunjuk menggunakan dagu nya ke arah Soya yang tengah memesan makanan. Relvan mengikuti arah pandang Elio kemudian menganggukkan kepala.


"Tumben banget lu malem - malem nongki sendiri." Celetuk Elio.


Relvan tersenyum tipis mendengar perkataan nya. "Temen - temen pada sibuk, bang." Kata nya.


Relvan sengaja berbohong agar Elio tak curiga kalau ia tengah melarikan diri dari rumah. Soya berjalan mendekat ke arah Elio yang tengah berbincang dengan seseorang.


"Eh?" Ia mengerjap menatap siapa yang duduk bersama Elio. "Ada vano juga?" Tanya nya.


"Kebetulan ketemu, La." Sahut Relvan.


Soya terlihat biasa saja, ia mengangguk dan ikut duduk disamping Elio. Tak lama, Akang penjual datang membawakan makanan pesanan mereka.


"Ini, mas. Mari dinikmati." Kata nya ramah.


"Makasih, kang." Ucap ketiganya hampir bersamaan.


Usai menghabiskan makanan mereka, mereka pun beranjak dan membayar makanan masing-masing.


Relvan nampak berpikir sejenak kemudian mengiyakan ajakannya. "Boleh deh, bang. Gue mau ketemu bunda juga."


Relvan menunggangi motornya juga dan melajukan kuda besi itu mengikuti Elio.


Kedua motor itu kini sampai di rumah Soya, Relvan ikut berbelok dan memarkirkan motornya di garasi karena Elio yang menyuruh.


Ceklek.


Elio membuka pintu rumah dan diikuti oleh dua bocah dibelakangnya. "Bunda tebak dong Elio bawa apaan?"


Bunda menoleh ke arah putra nya. "Nasi goreng?" Terka nya.


"Kok tau?" Kaget Elio.


"Kan bunda yang pesen tadi sama kalian." Elio nyengir menatap bunda yang terlihat santai duduk sambil menonton acara di televisi.


"Elio bawa vano juga."


Bunda Seya terkesiap, ia beranjak sambil menilik seseorang yang berjalan dibelakang Elio. "Beli nasi goreng kok bisa bonusnya Vano, El?" Tanya nya pura - pura heran.


Relvan seketika cosplay menjadi anak kecil, ia berlari dan memeluk bunda Seya dengan erat. Bunda terkekeh melihat anak itu, ia mengusap kepala Relvan lembut.


"Mungut dimana, bang?" Tanya nya pada putra nya.


"Ketemu dipinggir jalan, Bun. Elio kasihan jadi El pungut deh." Ujar Elio santai.


Soya sudah cekikikan melihat ekspresi Relvan yang tengah menekuk wajah nya.


"Bunda ihh." Cemberut Relvan.


Soya tersenyum tipis, jarang-jarang ia melihat Relvan bertingkah seperti itu. Boleh kah ia mengabadikan momen ini?


Bunda Seya tertawa kecil dan menggiring Relvan untuk duduk. "Ayo duduk dulu." Ucap nya.


Elio dan Soya juga mengikuti mereka, namun tidak duduk di sofa tapi dilantai yang beralaskan karpet bulu yang lembut. Mereka seolah memberi ruang untuk Relvan dan bunda.


Bunda itu sudah menganggap Relvan sebagai anaknya sendiri, pun Elio dan Soya juga tahu hal itu. Jadi tak apa karena Elio tahu Relvan menginginkan sosok ibu yang bisa menyayangi nya.


"Vano mau minum apa? Biar bunda bikinin."


Relvan menggeleng dan menolak halus perkataan Bunda. "Vano gak haus, Bun. Nanti Vano bisa ambil sendiri." Kata nya.


"Beneran?" Bunda Seya menatap anak itu dengan sangat. Relvan pun mengangguk sekali.


"Kamu udah makan belum?" Tanya bunda lagi.


"Kita kok nggak ditanyain?"


Bunda melirik ke arah anak perempuannya. "Bunda tau kalau kalian udah makan." Sahut nya membuat Soya nyengir kuda.


"Udah kok, Bun. Barusan bareng bang El sama Ila." Ucap Relvan.


Bunda mengalihkan pandangan ke Elio dan Soya. "Bener?" Tanya nya pada kedua anaknya dan mereka mengangguk serentak.


Bunda mengangguk-anggukan kepala. "Vano gimana kabarnya? Jarang banget kamu main kesini." Tukas bunda.


Relvan tersenyum simpul menatap wanita yang sudah ia anggap sebagai sosok ibu itu dengan lembut. "Maaf bunda." Hanya itu yang bisa ia katakan padanya.


Relvan merebahkan diri dengan paha bunda Seya sebagai bantalan. Bunda tak keberatan, ia malah mengusap lembut rambut Relvan.


Elio dan Soya pun tak mempermasalahkan, toh mereka sudah tahu kalau Relvan itu sangat manja dengan bunda. Jadi tak perlu heran lagi.


"Vano berat gak, bunda?" Tanya nya tiba - tiba.


Bunda Seya melirik Relvan sambil tersenyum. "Enggak. Bunda malah ngerasa kamu kurusan, kamu jarang makan ya?"


Relvan seketika terdiam sambil menggigit bibir bawahnya. Tak tahu harus menjawab apa. Apa ia harus berbohong?? Namun sepertinya ia tak bisa melakukan itu.


"Kenapa? Vano harus jaga kesehatan loh, jangan keseringan telat makan apalagi enggak makan. Kamu punya magh, nak."


Bunda menatap khawatir pada Relvan. Sedangkan anak itu memeluk perut bunda Seya dan menenggelamkan wajahnya.


"Maafin, Vano. Nanti enggak lagi." Kata nya dengan suara yang teredam. Soya serta Elio hanya saling melirik sambil mencomot cemilan yang ada dimeja.


"Marahin aja, Bun." Tukas Elio. Relvan diam - diam mendengus mendengar ucapan Elio.


"Papa kamu gimana kabarnya, nak?"


Relvan beranjak dari rebahan nya, ia bangun dan duduk seraya menatap bunda Seya. "Papa baik, Bun." Sahut nya.


Bunda pun mengangguk. "Kalau gitu--"


Zraaasssshhh!!


Jederrr!!


Bunda terkesiap kaget sampai - sampai ia lupa dengan perkataan yang ingin dilontarkan nya tadi. "Lah kok ujan?" Tanya nya entah pada siapa.


"Emang tadi langit nya udah mendung, Bun." Ucap Elio.


Bunda beranjak dan menyingkap tirai jendela seraya melihat keluar kaca. "Deras banget." Gumam nya. Bunda membalikkan tubuhnya dan melangkah ke arah anak - anaknya.


"Vano nginep disini aja, nak. Hujan diluar kayaknya awet, bakal lama reda nya. Kalau nunggu hujan berhenti udah keburu tengah malem."


Sepertinya semesta tengah berpihak pada Relvan, ia jadi punya alasan untuk menginap. Pun ia juga tak punya arah tujuan. Jadi tak apa kan kalau ia menginap satu malam?


"Gak apa-apa, Bun?" Tanya Relvan.


"Gak apa-apa. Kamu bisa tidur bareng Elio."


Elio mengangguk setuju. "Iya, Van. Nginep aja, lagian lu gak mungkin pulang tengah malem, kan? Rada bahaya soalnya, ditambah lagi jalanan licin bekas hujan." Ujar nya.


"Ya udah deh, Bun. Vano nginep disini."


Bunda kemudian mencium kepala mereka satu persatu. "Bunda mau ke atas dulu, kalian jangan begadang ya? Besok masih harus sekolah." Kata nya memperingati.


"Berarti Elio boleh begadang? Besok kan El gak ada kelas."


Bunda melotot ke arah putra kandungnya. "Kamu juga jangan begadang, bang. Nanti adek-adek kamu malah ngikutin!"


Elio cengengesan sambil menggaruk kepalanya. "Iya deh, Bun."


"Vano, nanti bilang sama Papa Mama kamu ya kalau kamu nginep di rumah bunda."


Relvan mengangkat jempolnya dan Bunda pun berlalu pergi dari hadapan mereka, menyisakan ketiga manusia yang nampak planga-plongo di ruang tamu.


Elio mengalihkan pandangan menatap Relvan. "Lu kabur dari rumah ya?"


Soya melotot dan Relvan terkesiap kaget. Kenapa Elio tiba-tiba berbicara tentang itu?


"Van, lu kab-- mmphh." Mulut Soya dibekap oleh Elio sebelum perkataannya selesai.


"Elu ke kamar sana! Tidur!" Ucap Elio seraya melepas bekapannya.


"Tapi--"


"Sstt!! Udah sana!" Usir Elio lagi.


Soya mendecakkan lidah dan beranjak sambil menggerutu. Ia melangkah sambil menghentak - hentakan kaki nya karena kesal dengan Elio. Padahal kan ia juga ingin tahu maksud pembicaraan mereka berdua. Membuat dirinya penasaran saja!!


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...Bersambung...