
Rizhan tak tahu apa yang ada di pikiran Relvan serta Rey, mereka berdua memang seperti itu sedari dulu jadi tak perlu heran sih. Namun apakah mereka memang sengaja menutup mata dan telinga untuk hal-hal yang nyata di depan mata??
Rizhan tak marah dan tak menyalahkan mereka juga, toh sebenar nya ia juga tidak perduli. Bagi nya ini sedikit menyenangkan, permainan yang tidak membuat nya bosan. Tapi para tokoh nya ini yang membuat suasana jadi bosan, coba pakai otak dan sedikit pintar mungkin akan lebih menyenangkan.
Ah ia jadi ingin ikut campur tapi mager [Malas gerak].
Rizhan memandang mereka dengan seksama. "Gue tau kok kalau lu berdua itu gak buta," celetuk nya tiba-tiba hingga membuat mereka semua sontak menatap ke arah nya.
"Lu." Ia menatap Relvan. "Dan elu juga." Lalu menatap Rey. "Padahal kalian tau tapi cuma diem aja dan pada akhir nya memilih buta," ucap nya.
"Relvan, lu gak sebodoh itu 'kan?" Relvan terdiam sambil menelan ludah nya sebab tenggorokan nya terasa kering. "Gue ngerti cinta itu buta dan bisa bikin bodoh pemilik nya, tapi itu hanya sugesti yang cuma dibuat-buat aja."
"Hahh..." Rizhan nampak menghela nafas. Ia berdiri di dekat jendela sambil bersedekap dada dan menyandarkan kepala nya. "Terserah deh, gue kagak ikutan," tukas nya. "Lu, lu pada boleh pikirin perasaan Nina, tapi kalau punya otak tolong pikirin perasaan pihak satu nya."
Relvan, Angga dan Rey terdiam dengan pikiran masing-masing dan perasaan kalut yang melanda ketiga nya. Rizhan geleng-geleng kepala, lelah juga dengan keadaan yang seperti ini.
Sigra tak sedang bersama mereka, entah apa yang dilakukan lelaki itu Rizhan juga tidak tahu. Kalau Sigra adalah orang yang netral sama dengan diri nya. Tidak membela siapa-siapa dan juga tidak ingin ikut campur dengan urusan teman-teman nya apalagi soal perempuan.
"Gue juga tau kalau di antara kalian berdua gak ada yang suka nya sama Nina, iya 'kan?" Seloroh Rey. "Tapi gak perlu nyudutin dia juga, bisa?"
"Iya gue emang gak suka, terus kenapa?! Lu gak terima?!" Sergap Angga. Relvan tersentak mendengar jawaban nya, merasa terkejut saat tahu kalau Angga tak menyukai Nina.
Tapi ini bukan suka sebagai lawan jenis, ya.^^
"Elu mau nya Soya aja yang disudutin, gitu?" Tanya nya lagi. "Emang gak punya otak!"
Panas, Rey merasa terbawa dengan situasi ini. Ia sontak menyergah ke arah Angga dan mencengkeram kerah seragam lelaki itu. "Maksud lu apa sih?!" Tanya nya dengan urat leher yang nampak menyembul keluar.
"Elu mau berantem sama gue cuma karena hal kayak gini?"
"Ya 'kan lu duluan yang mancing gue?!" Sahut Angga seraya menepis kasar tangan Rey dari kerah nya.
"Bukan nya itu elu?!" Sergah Rey.
Rizhan memutar bola mata nya dengan malas. Tak perlu saling menyalahkan di sini, sebab kedua nya sama-sama bersalah namun minim sadar diri.
"Berisik banget ishh!" Gerutu Rizhan.
Ia menarik Angga agar sedikit menjauh dari Rey, takut nanti malah ingin berkelahi lagi. "Kalian itu udah gede, jangan pada berantem ngapa." Rizhan menatap kedua nya bergantian. "Relvan pengen nya pakai kepala dingin, kalian malah bikin suasana nya jadi panas," ucap nya.
"Perbaiki nama baik Soya, dan suruh Nina buat minta maaf secara langsung 'kan beres? Masalah di maafin atau enggak itu soal belakangan, gak usah dipikirin dulu."
Angga mendengus mendengar penuturan Rizhan. "Tapi gue gak yakin kalau tuh cewek mau minta maaf sama Soya," tukas nya.
"Kenapa engga?" Tanya Rey yang tak mendapat jawaban dari siapapun yang ada di sana.
***
Jam pembelajaran berlangsung seperti biasa namun mungkin ada beberapa hal yang tidak menyenangkan untuk di dengar. Kini tibalah jam istirahat yang di nantikan oleh seluruh siswa untuk mengisi perut kala rasa lapar menerpa.
Para siswa berbondong-bondong menuju kafetaria, memesan makanan sambil berceloteh ria.
"Tes! Tes!"
Jarang sekali ada pengumuman di jam istirahat, jadi ini apakah ada sesuatu yang penting yang ingin diumumkan oleh pihak sekolah?
Suara seorang perempuan terdengar dari sana. "Hai semua! Ini aku, Nina," ucap nya membuat satu sekolah riuh seketika.
"Dih! Mau ngapain lagi tuh orang?!" Ujar salah seorang siswa yang begitu menyukai Nina.
"Aku mau ngomong sama kalian terutama semua siswa GIBS, tentang masalah yang sempat heboh kemarin itu memang bukan salah Soya. Dia bukan pelaku utama juga bukan tersangka."
"Kalian pasti udah liat berita pagi tadi di mading sekolah dan itu kejadian yang sebenar nya." Nina menjeda kalimat nya. "Jadi berhenti ngomongin dia yang enggak-enggak, dia cuma tersangka yang salah sasaran."
"Soya... Terlepas dari semua nya, aku minta maaf sama kamu. Aku harap kamu bisa maafin aku."
Setelah itu tak ada suara lanjutan yang terdengar, mungkin hanya sampai itu yang bisa dikatakan oleh Nina.
"Woo!!" Sorak mereka yang berada di pihak Soya. "Kenapa baru ngomong sih setelah semua nya salah paham?!"
"Jal*** 'kan emang suka caper!" Sahut mereka lagi walau hanya menjadi angin lalu karena itu tidak bisa didengar oleh Nina.
"Dih! Yang penting 'kan dia udah mau jelasin!" Kata mereka yang ada di pihak Nina. "Emang Soya tuh, malah ngang-ngong-ngang-ngong aja gak jelasin juga!"
"Heh! Kalau elu jadi Soya juga mana bisa elu jelasin di saat elu udah disudutkan kemarin!" Balas yang lain.
Terus berlanjut karena kehebohan yang baru saja terjadi. Di antara semua keributan, Soya hanya diam dan terlihat tidak perduli sama sekali. Walau ia sedang berada di kafetaria namun ia sama sekali tak mendengar kericuhan bahkan pengumuman beberapa detik yang lalu.
Ia hanya fokus pada makanan nya dan ponsel, dan juga earphone yang terpasang di telinga nya. Itu sebab nya ia tak bisa mendengar merek.
Saat sedang asyik-asyiknya, tiba-tiba ada yang melepas satu earphone milik nya yang berada di telinga kanan nya. Itu justru membuat Soya tersentak dan sontak menoleh ke arah sejurus.
"Risya?" Gumam nya saat menyadari bahwa itu adalah orang yang dikenali nya.
Risya duduk di sebelah Soya dan meletakkan earphone milik gadis itu di atas meja. Ia memutar kepala nya agar bisa menatap Soya dengan penuh.
"Elu dari tadi pakai ini?" Tanya nya sambil menunjuk earphone tersebut. Soya terlihat bingung dengan pertanyaan nya tetapi tetap menganggukkan kepala. "Lu berarti gak denger pengumuman yang bikin heboh barusan?"
"Pengumuman?" Soya mengernyit dengan sangat.
Risya menopang dagu nya dengan satu tangan. "Serius lu gak denger?" Tanya nya lagi. Soya hanya diam karena memang ia tidak tahu apapun tentang hal yang barusan terjadi.
Hal apa? Emang penting??
...•...
...•...
...•...
...•...
...Bersambung...