Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
DNLM 10



Sejak Aiden siuman, Olive selalu bersikap baik sama Aiden. Olive bahkan sudah seperti babysiter nya Aiden.


Bahkan Aiden sering menjahili Olive dan berakhir Olive marah dan Aiden kemudian minta maaf, seperti saat ini...


"Hey... masa kamu gitu aja marah sii, aku aja yang kamu racuni nggak marah." Ucap Aiden.


"Ih.. udah deh!!" Ucap Olive sebal.


" Mendingan lo jauh-jauh dari gue! Lo cuma manfaatin keadaan doang." Olive menatap jengkel Aiden yang juga menatapnya.


Olive masih kesal mengingat tingkah Aiden yang pura-pura sakit dihadapannya. Bahkan Aiden meminta dibelikan ini.. dibelikan itu.. dibuatkan ini.. diambilin ituu.. membuat Olive menuruti keinginan Aiden.


Sampai dimana saat Olive lupa membawa dompetnya membuatnya kembali ke kamar Aiden, disana Olive melihat Aiden yang sedang bermain game diponselnya. Padahal sebelum Olive pergi, ia melihat Aiden yang berbaring lemas diatas ranjang minta dibelikan buah mangga. Hal itu membuat Olive kesal setengah mati. Bahkan dengan sengaja ia menginjak kaki Aiden dengan kakinya.


"Olive maafkan aku, aku gak bermaksud..." ucap Aiden terputus.


"Udahlah... kalau memang lo mau jadiin gue pembantu, gue mau kok. Asalkan elo izinin gue buat kuliah lagi. Udah sebulan gue gak kuliah." Ucap Olive memanfaatkan situasi.


"Kamu akan kuliah, tapi bukan berarti kamu jadi pembantu disini. Aku akan ngantar jemput kamu, dan kamu harus telpon aku setiap kali mau pergi atau ada acara mendadak. Kamu gak boleh pergi dengan sembarangan orang." Ucap Aiden membuat Olive memutar bola matanya malas.


"Iya iyaaa.. gue bakal lapor sama lo." Ucap Olive berlalu pergi dati hadapan Aiden. Sepeninggal Olive, Aiden tersenyum melihat tingkah Olive.


'Menggemaskan' gumam Aiden.


🐨


"Pokoknya tante harus kembalikan uang yang udah aku transfer." Ucap Rafi marah-marah


"Loh, gak bisa gitu dong. Kan kamu sendiri yang gagal." Ucap Dewi sinis.


"Kalau tante nggak mau balikin. Saya akan kasih tau semua ini sama Viona. Dan tante akan masuk penjara karena menjual anaknya sendiri hanya demi uang seratus juta. Tante pikir saya nggak tahu kebusukan tante yang lain? Saya tahu kalau Elsha Olivia, anak tiri tante juga tante jual. Sa..." ucapan Rafi terputus


"Oh.. jadi mamah udah ngejual aku? Untuk apa mah?Salah aku apa ..." ucap Viona kecewa. Ia sudah mendengar percakapan antara Rafi dan mamah nya. Kini ia merasakan apa yang dirasakan oleh Olive selama ini.


"Iya, mama jual kamu. Kamu hanya akan menghabiskan harta mama aja!" Ucap Dewi.


"Hiks... aku ini anak mamah bukan sih! Aku juga bantu mamah buat dapetin harta itu.. hiks... mamah kok tega sama Vio" Viona menangis melihat sikap mamah nya yang berubah.


"Kamu bukan anak kandungku Viona, kamu cuma anak pungut yang kujadikan alat untuk balas dendam. Hahah... kamu hanya alat dan cuma alat." Ucap Dewi menekankan kalimat terakhirnya yang membuat Viona tak percayaa.


'Aku.. aku bukan anak kandung mamah? Jadi aku ini anak siapa? Orang tuaku dimana?' Batin Viona penuh tanya.


"Udah kita pergi aja dari sini, lo tinggal bareng gue


aja." Ucap Daren yang turun dari mobil. Sedari tadi Daren menyaksikan bagaimana Viona melabrak mamanya setelah mendengar bahwa Dewi menjual Viona.


Mereka kemudian pergi meninggalkan Dewi dan Rafi.


Dimobil, Daren memperhatikan Viona yang terus menangis. Daren sedikit iba melihat Viona, tapi Daren harus ketujuan awalnya untuk menyiksa Viona dan Dewi. Tapi setelah melihat kejadian ini membuat Daren memikitkan ulang untuk ikut menyiksa Viona.


'Kukira dengan menyakiti Viona membuat Dewi juga ikut tersakiti. Tapi kenyataannya Dewi sama sekali tidak peduli padanya.' Batin Daren.


Tak bisa dipungkiri kalau Daren saat ini ikut sedih melihat keadaan Viona. Daren sangat mengingat jelas dimana ia merenggut kesucian Viona.


Viona memang gadis yang nakal dan suka berpakaian seksi membuat orang-orang yang melihatnya akan berpikir bahwa Viona bukanlah gadis yang baik, membuat Daren yang awalnya sangat jijik melihat Viona.


Mengingat hal itu membuat Daren merasa bersalah atas dugaannya selama ini. Bahkan ia menyetujui permintaan Aiden untuk menghancurkan Dewi dan Viona. Mungkin Dewi akan dengan mudah bisa ia hancurkan. Tapi melihat Viona, Daren akan melindungi Viona sebagai permintaan maaf nya pada gadis itu.


Daren melirik Viona melalui ekor matanya.


"Udahlah buat apa lo tangisi Ibu lo itu. Mendingan lo pikirin cara buat balas dia." Ucap Daren. Daren ingin Viona membantunya untuk menyiksa Dewi. Karena Dewilah dalang dibalik meninggalnya Orang tua Olive. Viona hanyalah alat yang dijadikannya untuk menguntungkan dirinya sendiri.


"Gu... gue gak bakalan bisa ngehancurin dia. Gu.. gue takut...." kata Viona terputus.


"Lo takut bernasib sama dengan Olive." Kata Daren menatap tajam Viona. Wajah Viona terlihat ketakutan melihat Daren.


'Bagaimana Daren tau tentang Olive. Bahkan aku tak pernah menceritakan apa-apa padanya' batin Viona.


"Sayangnya nasib Olive lebih baik daripada lo." Ucap Daren membuat terbesit rasa bingung dipikiran Viona.


"Lo bisa balas Dewi kalau lo mau kerjasama sama gue. Olive sekarang sudah hidup tenang, ia bahkan lebih senang daripada hidup bersama lo dan Dewi." Viona masih diam mencerna kalimat yang dilontarkan oleh Daren.


"Gue orang suruhan, yang disuruh buat ngehancurin hidup lo dan Dewi. Gue kasihan sama lo, lo yang mau dijual Dewi, sama seperti Olive. Sayangnya elo jatuh ketangan orang brengsek kaya Rafi, sedangkan Olive jatuh ketangan orang yang mencintainya." Ucap Daren menatap Viona dengan pandangan meremehkan.


"Mungkin... mungkin ini udah takdir gue. Mungkin ini balasan atas perbutan gue sama Olive.. hiks..." ucap Viona menyesali perbuatannya.


Daren pun tidak menanggapi ucapan Viona. Ia melajukan mobilnya kembali keapartemen.


🐨


Hari ini Olive kembali kuliah, Aiden telah mengurus segala keperluan Olive. Aiden juga menjelaskan alasan Olive tidak masuk kuliah beberapa hari ini.


Olive sedang duduk ditaman kampus, sudah satu bulan lebih ia tidak keluar dari mansion Aiden. Ia menikmati udara ditaman sambil memejamkan matanya.


"Olive?" Ucap seseorang membuat Olive membuka matanya dan melihat orang yang memanggilnya.


"Eh Bella.. haii" ucap Olive senang dan melambaikan tangannya. Bella langsung duduk disebelah Olive.


"Liv, kok lo baru kelihatan.. gue kira lo ga bakalan masuk kampus lagi." ucap Bella.


"Ah.. enggak. Gue cuma liburan doang kemarin." Kata Olive.


"Ooh.. gue kira lo pindah kampus Liv." Ucap Bella pura-pura percaya. Ia sebenarnya tahu kejadian yang menimpa Olive. Namun sebagai teman, Bella akan menunggu sampai Olive mau terbuka dan menceritakan semuanya pada dirinya.


Tiba-tiba Sarah datang menghampiri Bella dan Olive.


"Hai.." ucap Sarah membuat Bella dan Olive menoleh.


"Lo dari tadi gue cariin kemana-mana.. ternyata lo disini Bee" Kata Sarah pada Bella.


"Eh iya.. gue lihat Olive sendirian. Jadi gue samperin deh." Ucap Bella yabg dibalas anggukan kecil oleh Sarah.


Sarah beralih menatap Olive yang duduk disamping Bella. Sarah melihat Olive yang tersenyum ramah padanya, ia pun membalas senyuman itu dengan menyodorkan tangannya.


"Hai.. gue Sarah Lee, lo bisa panggil gue Sarah. Nama lo Olivia kan?" Olive menyambut tangan Sarah dengan antusias. Olive senang mendapat teman baru lagi, jika dilihat Bella dan Sarah ini orangnya baik dan asik. Akan sangat cocok dengannya.


"Iya gue Olive." Kata Olive menunjukan senyum pepsodent nya.


'Ngeliat Bella sama Sarah, buat gue rindu sama Denia dan Salsa. Apa kabar lo berdua?..' batin Olive