
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, perlahan dan kembali lagi muncul cahaya hangat nya dari ufuk timur.
Tak terasa hari telah berganti. Hari Senin adalah hari yang hampir tak disukai oleh sebagian besar murid dipenjuru dunia, selain ada kegiatan pagi yang wajib diikuti, waktu belajar pun lebih lama dibanding hari-hari lain nya.
Bruuummmm...
Kelima motor sport itu memasuki kawasan sekolah dan memarkirkan kendaraan roda dua itu ke tempat yang disediakan.
"Zhan mana?"
Relvan, Angga, Sigra dan Rizhan pun lantas menengok ke arah Rey dengan raut kebingungan. Zhan kan ada disini, kenapa ia malah bertanya??
Rizhan nampak mendengus setelah itu. "Lu gak liat gue disini?" Tanya nya ketus.
Rey terkesiap dengan gaya bahasa bocah itu. Bukan hanya itu saja, bahkan dari penampilan nya, gaya rambut nya dan juga raut wajah nya. Bocah itu nampak dingin dan pendiam, tak lagi banyak bicara seperti sebelum nya hingga membuat Rey merasa tak mengenali nya.
Entah kenapa dengan bocah itu??
"Gila nih bocah! Kerasukan apaan ya?" Rey bergumam kecil seraya mengusap lengan nya seolah merinding.
"Ngeri banget Zhan kalau ngomong pakai Lo gue, kagak ada imut - imut nya lagi lu! Mana muka lu dingin banget juga." Keluh nya membuat Relvan memandangi Rizhan dengan sangat.
Angga pun nampak nya tak ingin berkomentar, dan Sigra jangan ditanya lagi. Lelaki itu bahkan tak ingin perduli dengan urusan mereka, wajah nya sungguh terlihat tak bersahabat pagi ini.
"Pagi, kak Relvan!"
Relvan mengalihkan pandangan nya dan menengok ke arah Nina, ia tersenyum tipis seraya membalas sapaan perempuan itu.
"Pagi!" Sahut nya singkat.
"Bareng ke kelas ya." Pinta Nina membuat Relvan menganggukkan kepala.
Ia mengusap kepala Nina, namun senyum tipis yang terukir tadi seketika luntur saat melihat seseorang yang ia kenal tengah berjalan beriringan dengan seorang lelaki.
Relvan mendecakkan lidah nya pelan namun nampak nya Nina malah melihat ekspresi lelaki itu. Nina mengeratkan gigi nya kala tahu siapa yang dipandangi Relvan.
"Ayok, kak!" Desak nya seraya merangkul tangan lelaki itu. Relvan melirik kemudian mengangguk dan mereka pun melangkah menuju kelas.
Soya tadi sempat melihat ke arah mereka, ia nampak terdiam sehingga membuat Angkasa jadi mengikuti arah pandangan Soya.
Apa Soya tengah menatap Relvan??
"Soy." Panggil Angkasa namun Soya masih diam saja.
"Soya." Di tepuk nya pundak gadis itu pelan dan membuat Soya tersadar.
"Eh Kenapa?" Tanya Soya nampak bingung.
"Lu gak dengerin gue ngomong?"
Gadis itu lantas nyengir menampilkan deretan gigi putih nya ke hadapan Angkasa. "Em, maaf. Lu barusan ngomong apa?"
Angkasa menghela nafas, ia memaksakan senyum manis nya untuk gadis itu. "Adek gue nyariin lu mulu." Kata nya lembut.
"Oh ya?" Angkasa mengangguk sekali. Soya lantas terkekeh mendengar perkataan lelaki itu.
"Adek lu mudah deket ya sama orang baru?" Tanya Soya membuat Angkasa melirik ke arah nya.
"Enggak." Soya memandang Angkasa dengan raut tanya. "Adek gue biasa nya susah bersosialisasi sama orang baru." Sambung Angkasa, lagi.
"Lah?" Soya terlihat bingung mendengar perkataan Angkasa, lalu kenapa saat bersama nya Ita terlihat nyaman seolah mereka sudah dekat padahal baru beberapa jam bertemu??
Angkasa mengangkat bahu nya. "Ya gak tau kenapa bisa lengket sama lu padahal baru ketemu."
Soya jadi kicep, ia seketika tertawa dengan canggung. "Mungkin karena kita sama - sama cewek kali ya." Sahut nya asal.
"Maybe."
Mereka kemudian berjalan ke arah kelas masing - masing. Hari ini Laura tak sekolah karena alasan sakit jadi ia duduk sendirian saja. Soya menaruh tas lalu duduk termenung menatap keluar jendela.
Sekolah terasa sepi semenjak ketidakhadiran Risya. Ia merasa begitu sekarang, terakhir ia mengunjungi gadis itu Minggu lalu dan kabar nya kondisi nya masih tetap sama.
Kapan ya anak itu bangun?
Ia juga jarang bertemu Alby dan Rhaegar, entah kemana pergi nya dua lelaki itu. Bel masuk telah berbunyi dan pelajaran pertama pun kini berlangsung.
KRIINGG...
Istirahat, sekarang sudah waktu nya jam istirahat. Soya keluar dari kelas nya, ia melangkah menuju kafetaria berniat hanya membeli minum saja. Namun dipertengahan jalan ia malah bertemu dengan Angkasa.
"Mau ke kafetaria?" Tanya lelaki itu sambil mengimbangi langkah Soya.
"Iya, lu mau kesana juga?"
"Bareng."
Soya mengangguk lalu bergegas ke kafetaria. Disana ia hanya mengambil sebotol air mineral saja membuat Angkasa menautkan alis nya.
"Lu gak makan?" Soya menggelengkan kepala.
"Makan. Telat makan lu bisa kena magh." Kata Angkasa. Gadis itu menatap Angkasa sambil mengernyit.
"Gue tau lu dari tadi pagi belum makan, kan?" Soya tercengang mendengar nya, kenapa Angkasa bisa tahu??
"Tau dari mana?" Tanya gadis itu. Angkasa hanya tersenyum menatap nya.
"Mau gue ambilin?" Tawar nya namun Soya lebih dulu menolak nya.
"Gak perlu." Soya hendak berlalu karena ia sudah selesai mengambil air minum nya. Melihat itu, Angkasa lantas menahan tangan nya.
"Kena magh." Sahut Soya gamblang.
Lelaki itu mengerutkan kening kala mendengar jawaban Soya. Gila saja, Soya memilih merasakan perih di lambungnya ketimbang memilih makan mengisi perut nya.
"Serius?"
Soya tersenyum miring, ia seketika mengambil beberapa makanan dan berlalu dari hadapan Angkasa.
Angkasa langsung mendengus lalu mengikuti kemana Soya melangkah. Mereka mencari tempat duduk yang kosong. Meletakan makanan di atas meja lalu duduk berhadapan.
"Temen lu mana?" Tanya Angkasa pada Soya yang tengah memasukan satu sendok nasi ke dalam mulut.
Gadis itu menaikan sebelah alis nya. "Suka ya lu sama dia?" Terka Soya. Apakah ini akan jadi cinta segitiga antara Angkasa, Laura dan Rhaegar?? Xixixi:v
"Enggak." Sahut lelaki itu.
"Terus kenapa nyariin?"
Angkasa terkekeh pelan. "Cemburu lu?" Tanya nya, tengil. Soya lantas mengernyit dengan sangat.
"Dih!"
Angkasa tersenyum memandang Soya yang menatap datar ke arah nya. Ia kembali fokus pada makanan dan gadis itu pun melakukan hal yang sama.
Di meja lain, Relvan tengah menatap kedua orang itu dengan raut dingin. Nina terus mengumpat kala Relvan tak mendengarkan nya.
"Kak."
"Kenapa?" Tanya Relvan seraya menaikan sebelah alis nya.
"Kakak liatin apa sih? Kok gak dengerin aku ngomong?" Keluh Nina.
Lelaki itu mengusap kepala Nina pelan. "Sorry." Ucap nya lalu menurunkan tangan nya dari rambut perempuan itu.
"Van." Panggil Angga membuat Relvan mengalihkan pandangan ke arah nya.
"Lu baca gak pesen gue tadi malem?"
"Hm."
"Gimana?" Tanya Angga. Relvan menatap ke arah Rey dan Rizhan seolah meminta tanggapan mereka.
"Gue sih oke aja." Sahut Rey. Rizhan pun ikut mengangguk saja.
"Lu gimana, Gra?" Tanya Angga pada Sigra.
"Apa?" Tanya lelaki itu, ia sedari tadi diam dan hanya merespon seadanya saja.
"Ck. Tentang tadi malem."
"Gue gak bisa." Tolak Sigra cepat.
"Kenapa?" Tanya Rey. Biasa nya Sigra tak pernah menolak ajakan mereka, ia selalu ikut karena itu adalah hal yang paling disukai oleh Sigra. Balapan.
"Gak."
"Lah ngapa? Biasa nya lu kan--"
Brak!
Para siswa yang berada di kafetaria terperanjat kaget kala mendengar suara gebrakan meja. Mereka serentak menoleh dan memandang ke arah sejurus.
"Gue bilang gak bisa ya gak bisa!!" Bentak Sigra seraya berdiri dari duduk nya.
Angga mengusap dada nya yang berdetak kencang, sedangkan Rey tercekat mendengar suara tinggi Sigra. Ia sungguh merasa kaget akan hal ini.
Sigra mendecakkan lidah dan segera pergi meninggalkan mereka.
"Gra!!" Panggil Angga. Ia hendak menyusul namun dihentikan oleh Relvan. Ia menoleh ke arah orang yang telah menahan nya.
"Biarin, Le." Kata Relvan.
"Kenapa?"
"Akhir - akhir ini emosi dia gak ke kontrol. Kalau lu paksain ya siap - siap aja lu baku hantam sama dia."
Angga lantas menelan ludah nya dengan kesusahan. Memang lebih baik ia membiarkan Sigra sendirian dulu daripada ia yang dihajar lelaki itu. Bisa - bisa ia masuk UGD hari ini.
Rey masih tak paham akan situasi, ia terlihat sangat bingung. "Ini pada kenapa sih? Tadi Rizhan yang aneh sekarang malah Sigra lagi." Gerutu nya dalam hati.
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...Bersambung...