Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 109 | Berasumsi



Di dalam kelas yang terlihat gelap itu, isak tangis seseorang masih saja terdengar walau sudah diberi pelukan yang hangat dan menenangkan. Sigra, lelaki itu tak bisa berbuat apa-apa dan kini hanya bisa mengusap punggung sang adik dan sesekali membisikkan kata-kata yang bisa membuatnya tenang.


Tidak berbohong, Risya memang masih diselimuti perasaan cemas sampai saat ini. Hujan dan petir selalu membuat perasaannya kalut dan takut. Jiwanya terasa bergetar kala mendengar gemuruh hujan dan petir yang menyambar-nyambar.


Azriella menyukai hujan karena suaranya itu bisa menenangkan akal dan pikiran, stres yang melanda bisa seketika lenyap dan mata yang insomnia bisa tertidur dengan lelapnya.


Namun... Saat kecelakaan yang menewaskan kedua orangtuanya itu terjadi, Azriella kini memutuskan untuk berhenti menyukai hujan. Hujan dengan kenangannya yang menyakitkan.


Kecelakaan yang mengakibatkan kedua orangtuanya meninggal secara bersamaan dan Riel juga salah satu yang menjadi korban namun tak sampai nyawanya melayang.


"Udah... Kamu tenang, ya." Sigra berbisik ditelinga Risya. "Abang ada di sini..."


"Abang..." Gumam Risya lirih. Ia memeluk erat tubuh sang kakak dan melampiaskan rasa takutnya.


"Gak ada yang bisa nyakitin kamu, oke? Jadi jangan nangis lagi."


Sigra tidak mengerti kenapa adiknya punya phobia seperti ini? Phobia itu bisa juga karena pengaruh trauma pada diri seseorang, entah pernah mengalami suatu hal yang mengerikan hingga menjadikan kita selalu berada dalam perasaan ketakutan.


Lelaki itu menggenggam tangan sang adik yang terasa begitu dingin, ia takut Risya akan sakit setelah ini. Membayangkannya saja bisa membuat perasaan Sigra seolah tertoreh luka.


Ia merapikan rambut yang menghalangi wajah Risya, ditatapnya dengan lembut wajah tersebut sambil mengulas senyuman hangat. "Kenapa kamu gak bilang sama Abang? Setidaknya kabarin dulu kalau misal kamu telat keluar kelas."


"Maaf... Aku--" Risya seakan tak bisa melanjutkan ucapannya, bibirnya seketika melengkung ke bawah dengan linangan air mata yang siap meluncur detik itu juga.


"Hei, kenapa mau nangis lagi?" Tangan Sigra terulur menyapu cairan bening itu dengan lembut. Ia menatap dalam ke arah mata Risya. "Abang gak akan marah sama kamu, justru ini kebalikannya, Abang khawatir, Ca..." Matanya berubah sendu. "Abang emang gak becus jadi seorang kakak," ucapnya dengan sangat lirih.


Di luar ruangan kelas, empat orang lelaki itu saling terdiam. Suara air hujan yang sekarang menjadi backsound menjadikan mereka hanyut dalam pikiran masing-masing.


"Bener-bener dah jadi sejak kapan mereka berdua itu adek kakak?" Kata Angga membuka suaranya.


"Ya sejak mereka lahir lah!" Ketus Rizhan. "Lu bikin pertanyaan kok aneh banget sih, Le? Nanya mereka sejak kapan jadi adek kakak? Mereka sekandung, cuy. Bukan adek ketemu gede kayak yang lu pikirin," ucapnya membuat Angga kicep seketika.


"Pantesan ye, gue tuh kayak ngerasa kalau muka Risya sama Sigra tuh rada mirip. Sekilas deh, coba lu pada liat," celetuk Rey membuat mereka langsung memikirkan hal yang sama.


Ternyata selama ini Relvan juga tidak salah lihat perihal kemiripan wajah kedua orang itu. Dan Risya juga seperti terlihat familiar di matanya, ingatan samar-samar selalu muncul di kepalanya namun tak bisa ia ingat semuanya.


Satu hal yang selama beberapa bulan ini selalu membuatnya penasaran, ada perasaan aneh saat ia melihat wajah Risya, Rhaegar dan juga Sigra, terasa seperti ia tengah rindu akan seseorang yang telah lama menghilang. Namun itu tak jelas.


Dan karena hal itu bisa membuat kepalanya terasa pening, Relvan berusaha mengabaikannya dan memilih untuk tidak memikirkannya lagi.


Rizhan menguap sambil menutupi mulutnya dengan tangan, selain dinginnya hujan selalu membuatnya ingin buang air kecil, hujan juga selalu membuatnya mengantuk dan ingin tidur secepatnya. Berpelukan dengan kasur, selimut dan guling yang hangat.


Membayangkan hal itu seketika membuat Rizhan ingin cepat-cepat pulang ke rumah saja, namun hujan kali ini seakan tak memihaknya untuk melakukan kegiatan yang disukainya.


Rizhan mencolek kecil lengan Relvan hingga membuat lelaki itu nampak terkesiap kaget, padahal Zhan hanya menyentuhnya sedikit saja tetapi itu seperti begitu mengejutkannya.


"Jangan melamun," tegurnya pada Relvan.


Relvan mendengus setelahnya. "Gue gak ngelamun," bantahnya. Mengelak, padahal perkataan Rizhan benar adanya, ia tengah memikirkan sesuatu hal yang tidak jelas akhirnya.


"Gue gak bakal kena tonjok Sigra 'kan ya karena selama ini udah nuduh dia pacaran sama adeknya?" Ucap Angga.


"Kalau gue jadi Sigra sih udah gue tonjok lu sampe masuk ke rumah sakit," gurau Rizhan membuat Angga mendelik sinis ke arahnya.


Rey juga berbicara, "itu 'kan salah dia sendiri kenapa gak ngomong sama kita dari awal, padahal kita juga gak akan masalah sama hal kayak gitu."


"Tapi seriusan dah gue penasaran kenapa Risya sama Sigra harus nyembunyiin status hubungan keluarga mereka?" Angga memandang teman-temannya bergantian. "Bahkan satu sekolah pun gak ada yang tau tentang hal itu."


"Gak mungkin sih karena malu." Rizhan berpendapat juga. "Fisik mereka berdua itu udah terbilang bagus di antara rata-rata jutaan manusia, satu cantik dan satunya juga tampan."


"Apa karena masalah keluarga mereka?" Tanya Rey.


Angga menggelengkan kepala. "Menurut gue juga bukan. Sejauh yang gue perhatiin, hubungan mereka berdua tuh terbilang cukup akrab yang artinya hubungannya juga baik-baik aja." Ia kemudian menatap lurus ke depan. "Semisal apa yang lu ucapin itu benar, Risya dibedakan sama keluarganya dan Sigra yang seakan jadi anak laki-laki satu-satunya udah pasti juga mereka bakal canggung kalau ketemu tapi ini enggak."


Rizhan mengangguk-anggukan kepalanya. "Terus lu pada sadar gak sih kalau baru beberapa bulan ini aja Sigra tiba-tiba jadi deket sama Risya?"


"Iya juga ya." Rey bergumam dan mencoba mengingat. "Dulu tuh mereka kayak gak deket gitu, kan? Bukan gak deket deng tapi udah kayak manusia yang gak saling kenal satu sama lain. Jangankan ngobrol, nyapa pun kagak pernah," tukasnya.


"Sedangkan kita sendiri aja juga gak pernah ketemu Risya, Rey, padahal satu sekolah dan kelas juga sama-sama ada di lantai dua," sahut Angga. Tak habis pikir dengan semua ini, entah ini keanehan atau keajaiban.


"Waktu itu Risya pernah nabrak elu 'kan, Le? Yang di koridor, dan itu juga untuk pertama kalinya kita ketemu dia." Angga menganggukkan kepalanya sambil balas menatap Rizhan. "Gue gak tau tapi saat itu gue ngerasa aneh sama dia, Risya langsung ngomel-ngomel sama elu seakan itu bukan diri dia yang biasanya tenang dan gak perduli sama orang lain."


"Nah itu, gue juga mikirin kenapa dia jadi banyak omong dari hari itu sampai saat ini." Angga melipat kedua tangannya ke depan dada. "Tapi itu juga termasuk hal yang bagus karena tanpa dia sadari, dia udah mulai bisa berinteraksi sama orang lain."


...•...


...•...


...•...


...•...


...Bersambung...