Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 126



Tak berselang lama dari hal itu, seseorang tiba-tiba melepaskan topi Alby yang sudah terpasang rapi di kepala Soya.


Merasa ada yang mengambilnya, Soya sontak terkesiap kaget dan langsung menatap ke arah sejurus. Bahkan Risya, Rhaegar, Alby serta Laura pun ikut menengok.


"Relvan?" Ucap mereka hampir serentak.


Risya menatapnya dengan lekat. Relvan hanya sendirian saja menghampiri mereka, teman-temannya kemana? Gadis itu menilik ke sekitarnya, di tengah banyaknya murid GiBS ia tak dapat melihat di mana posisi Sigra, Rizhan, Rey dan juga Angga.


Relvan, lelaki itu hanya memasang raut datar saja sembari mengembalikan topi tersebut kepada yang punya. Alby yang menerima pun nampak terdiam dengan kebingungannya.


Ia tak marah, namun hanya bingung karena perlakuan tiba-tiba darinya dan begitupun dengan Soya sendiri. Soya semakin bertambah bingung saat melihat Relvan melepaskan topi dan memasangkannya ke kepalanya.


"Ini cowok kenapa?" Batinnya. Tapi anehnya ia tak mengelak sama sekali, membiarkan Relvan yang menyentuh kepalanya dengan hati-hati.


Setelah itu, relvan menatap Soya. "Pakai topi gue," katanya. "Lu gak boleh panas-panasan dan gue perlu ngawasin lu juga," tambahnya.


Dahi Soya mengerut seketika, ia hendak menjawab tapi Relvan kembali berbicara, "kata Abang lu." Setelah itu, lelaki itu pun kemudian pergi meninggalkan mereka yang terdiam dengan wajah tanya.


"Sejak kapan Elio ngomong gitu?" Batin Soya lagi. Apakah Relvan berbicara yang sebenarnya atau hanya dusta saja?


"Itu bocah kenapa, ya?" Celetukan Risya dan langsung membuyarkan keheningan mereka.


Rhaegar menoleh seketika. "Kesambet mungkin?" Sahutnya dengan nada bertanya.


"Mungkin juga dia salah sarapan tadi pagi," sambung Laura.


Alby tak beraksi banyak, ia menatap ke arah banyaknya siswa di sekitar mereka lalu kemudian ia alihkan agar kembali menatap ke arah Soya. Tanpa ia duga, ternyata Soya malah ikut menatap ke arahnya.


"Al-"


Seolah paham, Alby langsung memotong perkataanya. "Gak apa-apa, pakai itu aja," ujarnya sembari mengulas senyuman.


"Tapi-"


"Udah, lagian itu bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan."


Alby memakai topinya kembali seraya mengajak teman-temannya untuk segera berbaris di lapangan dan bergabung dengan murid yang lain. Saat teman-temannya nampak sangat khawatir karena perlakuan Relvan tadi, Alby kembali meyakinkan bahwa dia memang tidak apa-apa, lagian harusnya mereka bersyukur kalau ia tak jadi kena hukuman atas dasar tak memakai sebuah topi hari ini.


Rhaegar terlihat menghela nafas lalu menepuk pundaknya temannya itu. Alby hanya meresponnya dengan senyuman tipis dan tak ada reaksi lain yang bisa ia berikan lagi.


Upacara kini sudah selesai dan berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan. Lalu setelah itu, kegiatan belajar-mengajar pun segera dilaksanakan seperti biasanya. Para murid mulai masuk ke kelas masingmasing dan berdoa sebelum pembelajaran dimulai.


Di dalam kelas Xl-IPS2, hanya terdengar suara guru pengajar saja. Anak-anak murid di dalamnya nampaknya tidak berniat membuat kericuhan pagi ini. Sang guru pun sudah pasti sangat lega hingga ia bis amengajar dengan santai kali ini.


Di salah satu kursi dari barisan keempat dekat dengan jendela, Alby nampak terdiam sedari tadi, lelaki itu tidak seperti biasanya mau serius dalam belajar. Ia juga tak berbicara sama sekali sejak pembelajaran pertama berlangsung.


Risya yang duduk tepat di kursi belakangnya pun jadi sedikit bingung kala melihatnya. Ia sedikit memiringkan kepalanya ke samping dan berbisik pada Rhaegar yang menempati kursi di sebelahnya.


"Gar," panggilnya pelan takut kalau didengar guru di depan dan mengganggu pembelajaran.


Rhae yang mendengar pun langsung menolehkan kepala sambil bertanya, "kenapa?"


"Temen lu tuh kenapa?" Bisik Risya kembali sambil menunjuk Alby yang menatap serius ke arah papan tulis.


"Itu temen lu juga kali!" Sahutnya hingga membuat Risya lantas mendecakkan lidahnya.


"Kenapa?" Tanya Risya lagi. Ia menatap Alby dengan lekat, lelaki itu tak kepikiran soal tadi, kan? Apa ia galau? Karena apa?


Rhaegar meresponnya dengan mengendikan bahunya tanda bahwa ia juga tidak tahu juga. Tapi Rhae juga baru sadar kalau Alby tumben sekali tak mengajak mereka berbicara setelah upacara tadi, ia hanya merespon dengan sedikit kata.


Dia bukan sedang sakit, kan? Soalnya kalau Rhae sedang sakit, ia biasanya tak banyak bicara juga seperti Alby dan banyak diamnya juga.


"Oi, Al!"


Panggilan pertamanya tak dihiraukan oleh Alby. Rhaegar mengerutkan keningnya lalu memanggil lagi.


"Al!"


Suaranya pelan saja karena takut menganggu yang lain. Kesabarannya semakin menipis saat Alby masih tak bergeming.


"Monyet budeg!" Sentaknya kesal. Dan tetap dengan respon yang sama, Alby tak menyahutinya atau mungkin saja lelaki itu tak mendengar suaranya?


Rhaegar mengalihkan pandangannya pada Risya, dengan wajah frustasi ia mengeluh, "gak nyahut lah, males gue!"


Risya handak tertawa namun ditahannya, ia nampak menatap Rhaegar dengan malas. "Di sentuh-sentuh dikit, Gar," ucapnya kemudian.


Rhaegar mengernyit. "Ambigu banget perintah lu, Rin!" Sergahnya sembari menoyor dahi Risya pelan.


Gadis itu lantas mengerucutkan bibirnya dan balik mencubit lengan Rhaegar hingga membuat lelaki itu meringis kecil.


"Gue cubit juga nih ginjal lu!" Gerutu Rhaegar sambil sedikit menjauh dari sang empu.


"Emang lu berani begitu?" Tanya Risya sembari melotot ke arahnya.


Tanpa mereka sadari, Bapak yang mengajar di depan kelas mereka sudah sejak beberapa detik yang lalu melihat ke arah anak muridnya yang nampak berbisik-bisik di sana.


"Itu yang di belakang, kalau mau pacaran nanti saja setelah pelajaran Bapak selesai!"


Suara lantang dari guru pengajar di depan kelas sontak membuat suasana kelas senyap seketika. Risya menelan ludahnya kesusahan saat semua mata anak di kelasnya menatap ke arah mereka. Sedangkan Rhaegar malah tersenyum saja dan segera menjawab ucapan guru tersebut.


"Baik, Pak!" Serunya hingga membuat teman sekelasnya seketika menyorakinya dengan riuh. Risya hanya bisa tersenyum hambar sambil menutup wajahnya dengan buku karena malu.


***


Istirahat pertama kini telah tiba, Risya hanya membeli sebotol air mineral dari kafetaria dan membawanya ke arah lapangan basket. Sudah hampir dua bulan ia tidak menginjakkan kaki di sana dan sepertinya lapangan itu juga tidak ada yang menggunakannya saat jam istirahat ini. Ia ingin bermain sebentar, melepaskan rindu akan dunia lamanya.


Rhaegar serta Alby juga ikut bersamanya. kedua lelaki itu duduk di salah satu kursi penonton dan hanya memperhatikan Risya yang sudah lebih dulu memegang bola.


Alby menatap ke arah Risya dengan lekat. "Lu mau main, Sya?" Tanyanya pada gadis itu.


Sembari mendribling bola, Risya menengok ke arah mereka. "Iya," sahutnya dengan antusias. "Mau tanding gak?" Tantangnya sambil tertawa kecil.


"Gak ah, takut lu kalah terus nanti malah nangis," sahutnya dengan senyuman manis.


Risya mendengus mendengar ucapan Alby, ia lalu melemparkan bolanya ke keranjang yang terlihat di depan mata dan dari jarak yang sedikit jauh. Risya kemudian kembali mengambil bola tersebut seraya mendekat ke arah dua teman lelakinya.


"Ayok lah! Buat taruhan juga boleh."


Rhaegar beranjak seketika dan berjalan mendekat ke arah Risya. "Kalau lu kalah, lu harus nurutin kemauan gue selama satu hari gimana?" Bisiknya tepat di telinga Risya hingga membuat darah sang empu terasa berdesir seketika.


...•...


...•...


...•...


...•...


...Bersambung...