Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 39 | Pemberian Sigra



Risya menghempaskan tubuh di atas kasur empuk milik nya. Lengan kanan ia letakan diatas mata agar menutupi pandangan nya. Ia menarik nafas perlahan dan menghembuskan nya secara beraturan.


Baju seragam sudah ia ganti dan juga sudah mandi, sekarang tinggal memejamkan mata, merilekskan pikiran, tubuh, dan juga hati nya.


Baru saja hendak terbuai ke alam mimpi, pintu kamar nya tiba tiba saja di ketuk oleh seseorang dari luar. Risya tak bergeming ditempat, membiarkan orang di luar terus mengetuk pintu.


Lama kelamaan ketukan nya semakin menjadi tanpa ada suara seseorang yang mengiringi nya. Risya mengernyit kenapa tak terdengar suara seseorang dan yang hanya terdengar suara ketukan saja??


"Siapa sih? Orang mau tidur juga masih aja diganggu." Gerutu nya.


Karena suara itu terlalu berisik, terpaksa ia beranjak dan memaksa kaki nya melangkah ke arah pintu.


Ketika pintu terbuka, Risya menaik kan sebelah alis memandang malas lelaki di depan nya ini.


"Apa? Gue mau tidur, kalau nggak penting silahkan pergi dari depan kamar ini." Ucap Risya sambil bersandar pada ambang pintu seraya melipat tangan ke dada, mata nya sudah redup dan sungguh ia benar benar mengantuk.


"Ganti bahasa kamu kalau lagi di rumah." Tegur Sigra lembut.


Risya mendecakkan lidah. "Iya, nggak usah basa basi, cepet ngomong mau ngapain ke sini?" Tanya nya malas.


"Abang masuk ya." Ucap Sigra seraya menyelonong masuk ke dalam padahal Risya saja belum menjawab apalagi mengizinkan nya.


Risya melongo menatap tak percaya makhluk yang baru saja masuk ke dalam kamar nya. Merasa tak ada yang mengikuti, Sigra pun menoleh menatap ke arah pintu dimana Risya yang masih tetap berdiri disana dengan wajah melongo tanpa berniat melangkah.


"Ngapain masih disana? Sini masuk." Ucap Sigra seolah tak ada beban sambil duduk dipinggiran kasur dengan tenang.


Risya mengernyit heran, kenapa rasa nya seperti ia yang menjadi tamu ya?


"Nyelonong aja lu kayak kambing!" Tukas Risya, kesal.


"Husst.. nggak sopan bahasa nya bilangin Abang kambing." Risya memutar bola mata jengah. "Sini sini duduk. Ngapain masih berdiri?" Imbuh Sigra.


Risya menutup pintu dan berjalan gontai menuju kasur. Ia menghempaskan diri di atas sana, tak memperdulikan Sigra yang juga ikut merebahkan diri di atas kasur milik nya.


Keheningan menyapa kakak beradik itu, rasa nya tenteram dan damai. Adem ayem lah pokok nya. Risya tersenyum tipis bersiap melalang buana ke alam mimpi namun tak jadi lagi karena Sigra malah mengajak nya berbicara. Sungguh Risya ingin mengamuk saja disini!


"Ca, Caca tau nggak bentar lagi ada festival sekolah." Ucap Sigra. Tak tahu kenapa, tapi nampak nya Sigra sangat antusias akan hal itu.


"Ya." Jawab Risya, suara nya bak orang yang tak memiliki tenaga tapi beruntung masih bisa ditangkap oleh pendengaran Sigra.


"Daddy yang bakal sambut acara ini." Risya tak bergeming. "Kalau kamu berangkat, bareng abang aja ya. Jangan kemana kemana juga, tetap di sekolah."


Dahi Risya berkerut namun mata nya masih tertutup. "Kenapa emang?" Tanya nya.


Sigra melirik sang adik sekilas lalu kembali memandang langit langit kamar. "Nggak apa apa, pingin aja."


Hening kembali menyapa dan hanya dingin AC yang ada di antara mereka. Beberapa detik hingga Risya kembali membuka suara.


"Aku bisa bareng Alby sama Egar." Ucap Risya pelan.


"Egar?" Tanya Sigra bingung, kalau Alby ia sudah tahu. Lelaki yang mengantar adik nya malam itu.


Risya bergumam sebagai jawaban. "Rhaegar... Rhaegar Pahlevi." Ucap nya dengan suara serak.


Tanpa Risya tahu, Sigra sekarang tengah terbelalak lebar beberapa detik sebelum ia mengerjap pelan.


"Kamu... Udah ketemu dia?" Tanda Sigra rada ambigu.


Risya lagi lagi mengernyit, ia membalikkan kepala menghadap Sigra dan memandang nya sebentar lalu kembali menutup mata.


"Ketemu apa?" Tanya Risya, bingung. "Egar itu murid baru di kelas Caca. Caca juga belum pernah ketemu sama Egar." Sambung nya.


"Kenapa sih? Abang tau sama Egar?" Tanya Risya lagi.


"Nggak tau." Jawab Sigra, nada bicara nya tak seantusias awal.


Risya terpaksa membuka mata walau sebenar nya ia tak bisa tidur lagi walau pun sudah mencoba menutup mata. Ia menilik wajah Sigra, melihat ekspresi apa yang dikeluarkan lelaki itu. Tak ada yang spesial, hanya raut datar yang terpampang jelas di wajah tampan itu.


"Egar bilang kenal Abang." Kata Risya dan detik itu juga Sigra tersentak dan menatap sang adik dengan sangat.


"Dia bilang begitu?" Tanya nya dengan nada tak percaya. Risya mengangguk dengan serius.


"Bilang kenal sama Abang?"Tanya Sigra lagi.


"Ya."


"Beneran?"


Risya mendengus tawa tak tahan dengan ekspresi yang di pasang Sigra. Abang nya ternyata mudah di kibulin, masa begitu saja langsung percaya??


Tak tahu kenapa tapi nampak nya Sigra bernafas lega. "Bukan gitu, Ca. Kan kita nggak kenal, masa dia bilang kenal sama Abang. Kan Abang rada kaget denger nya." Dalih nya.


"Masa sih?" Risya memicing curiga kala Sigra tampak menghindari tatapan mata nya. "Kalau bohong hidung nya tambah panjang kayak Pinokio."


Beberapa detik Risya terdiam sebelum melanjutkan ucapan nya. "Tuh, kok tambah panjang sih hidung nya?!" Sentak Risya membuat Sigra tanpa sadar menyentuh ujung hidung nya.


"Kan bohong!" Tukas Risya, tiba tiba. Sigra yang tersadar pun langsung menjauhkan tangan nya dari ujung hidung.


"Nggak bohong kok." Dalih Sigra lagi.


Risya reflek menjelekkan wajah nya kala mendengar alasan Sigra. Ia berdecih pelan sambil bergumam. "Cih! Banyak banget alasan nya."


"Jadi Abang kesini cuma mau pamer tentang festival sekolah?" Tanya Risya, berusaha tak memperpanjang masalah Rhae tadi walau ia penasaran.


Sigra mengangguk. "Huh, kira'in apaan tadi. Ternyata nggak penting banget, Abang udah ganggu waktu aku tidur tau nggak?!" Protes Risya.


"Ya, maap. Abang nanti ikut main, nanti nonton ya kasih semangat." Pinta Sigra pada sang adik.


"Aku juga main." Celetuk Risya.


"Apa?"


"Aku juga ikut main." Ucap Risya, mengulang. "Budek ya lu?" Lanjut nya, kesal.


"Siapa yang ngajak kamu?" Tanya Sigra, tak menanggapi ejekan sang adik. Ia hanya takut salah dengar kalau Risya ikut tampil saat festival sekolah nanti. Masalah nya jangan kan bermain, hadir di acara sekolah itu saja tidak. Bagaimana bisa Sigra percaya??


"Kak Fara." Sahut Risya datar.


"Fara? Anak mana?"


"Masa sih nggak tau? Itu lho cewek yang ngejar ngejar Abang dari awal masuk SMA." Ucap Risya membuat Sigra menyentil kening sang adik.


Risya menabok balik Sigra sebagai balasan. "Kenapa sih?! Emang bener kan?" Keluh nya sambil mengusap kening.


Sigra mendengus. "Jadi Elina Fara itu yang ngajakin kamu?" Risya memberikan jempolan tangan sebagai respons. "Tolak aja." Ucap Sigra singkat.


"Kalau selain dia, berarti boleh dong terima yang lain?"


"Gak."


Dengan kesal Risya beranjak dan melemparkan bantal ke arah Sigra, beruntung lelaki itu reflek menangkap sebelum mengenai wajah nya. Saat Risya berbalik, Sigra dengan cepat meraih tangan sang adik sebelum beralih dari hadapan nya.


"Mau kemana?" Tanya Sigra.


"Ke kamar mandi." Jawab Risya malas. "Kenapa emang? Mau ikut?" Sambung nya.


"Nih." Ucap Sigra seraya menyodorkan sebuah gelang berwarna hitam dengan bandul huruf 'R ke hadapan Risya. "Kelupaan, tadi mau ngasih ini sebenar nya." Imbuh nya.


"Buat apaan?" Tanya Risya. Ia tak terlalu suka memakai aksesoris semacam itu kecuali memang terpaksa atau saat mood saja.


"Kalau nggak mau di pake juga nggak apa apa. Di simpan aja." Sigra menaruh gelang itu di telapak tangan Risya, kemudian ia beranjak dan mencium gemas kepala Risya seraya menghirup aroma stroberi yang menguar dari rambut sang adik.


"Abang mau latihan basket dulu. Kamu baik baik di rumah, jangan keluyuran."


Risya terpaku ditempat setelah Sigra sudah sepenuh nya meninggalkan kamar. Ia terdiam sambil memandangi gelang itu dengan kernyitan.


Tak mungkin Sigra bisa membeli gelang seperti ini. Bukan, maksud nya tak mungkin Sigra bisa memilih dan mau membelikan benda semacam ini.


Hanya satu kalimat yang terlintas di kepala nya. Ini milik siapa??


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...tbc...