
"Iya, gue gak denger apa-apa," ucap Soya. "Emang ada apaan sih?"
Soya sungguh tak mengerti dengan pembicaraan ini, pantas saja sejak tadi ia merasa ada yang menatap ke arah nya. Mungkin itu karena berita yang baru saja menghebohkan, tapi apakah itu ada hubungan nya dengan diri nya?
"Gak ada sih," sahut Risya enteng.
Soya nampak cemberut seraya menggeplak lengan Risya pelan. "Ih yang bener aja sih lu!" Keluh nya. "Gue penasaran nih!"
Risya terkekeh geli. Ya sebenar nya tidak penting-penting amat juga, diabaikan saja juga tidak apa-apa. Tapi kasihan juga ya, sia-sia perempuan itu berbicara panjang lebar tapi tak didengarkan.
"Cepetan ngomong, Sya!" Desak Soya lagi.
"Iya, iya," kata Risya pada akhir nya. "Gak terlalu penting sih menurut gue, tapi gak tau kalau menurut elu."
"Emang apaan sih? Lu jangan bikin gue mati penasaran di sini."
Risya mendengus tawa, dilirik nya jam yang berada di pergelangan tangan lalu ia edarkan pandangan ke sekeliling tempat. Dari arah pintu masuk kafetaria, terlihat beberapa orang yang baru saja memasuki nya. Lima lelaki yang tampan nya paripurna dan satu perempuan yang baru saja menghebohkan mereka.
Ia memutuskan pandangannya dan kembali menatap Soya. "Cuma permintaan maaf dari seseorang buat lu," kata nya.
Soya mengernyit dalam. "Permintaan maaf dari seseorang?" Risya menganggukkan kepala. "Buat gue?" Dan lagi-lagi Risya menjawab nya dengan hal serupa.
"Emang gue ada salah apaan?"
"Kebalik dongo!" Sergah Risya. "Dia yang punya salah sama lu!"
Soya terdiam sejenak seraya melirikkan matanya ke atas sesaat kemudian ia tatap Risya dengan lekat. "Eh maksud lu si Nina minta maaf sama gue gitu?" Tanya nya.
Memastikan apakah benar perempuan itu yang meminta maaf pada nya. Sulit bagi Soya untuk percaya, tapi kalau benar sih ada bagus nya juga, kan?
Tapi ia tak terlalu perduli sih tentang hal itu. Biarkan saja, ia tak mempermasalahkan nya untuk kali ini. Karena rotasi nya akan tetap berada dititik yang sama, kau yang menang dan aku yang kalah.
Tak apa.
"Iya," sahut Risya. "Sayang banget ya kelewat dan lu gak denger apapun dari mulut dia."
Soya mendengus. "Biar aja, gak penting juga itu," celetuk nya sambil tersenyum tipis.
Risya tertawa puas melihat respon Soya, ia kemudian melirik ke arah beberapa orang yang seperti nya sedang menuju ke arah meja mereka.
"Tuh, kayak nya mau ke meja ini," ucap nya. Memberitahu Soya sekaligus menyuruh nya agar mengikuti arah pandang nya.
"Soy," panggil Angga kala lelaki itu berserta kawan-kawan nya sudah berada di depan meja mereka. "Kita boleh gabung di sini gak? Meja lain gak ada yang kosong soal nya, udah penuh semua," tambah nya seraya menatap sekitar kafetaria.
Soya ragu, ingin mengiyakan atau tidak. Tapi kan ini tempat umum yang disediakan oleh GIBS untuk murid-murid nya, jadi dia punya hak apa untuk melarang mereka?
Soya menatap ke arah Risya namun sang empu malah terlihat sibuk dengan ponsel nya hingga tak menengok ke arah nya.
"Ya," sahut nya singkat.
Mendapat persetujuan itu, kelima lelaki tadi langsung mengambil posisi untuk duduk. Sedangkan satu perempuan yang tadi bersama mereka masih berdiri di ujung meja dekat Risya.
"K-kamu bisa minggir gak?" Tanya Nina sambil menundukkan kepala.
Cih! Nunduk mulu! Dia kira ini sedang mengheningkan cipta apa?
Rizhan, Sigra, Angga, Relvan, Rey, serta Soya sontak menatap ke arah Nina dengan tatapan tanya. Apalagi yang ingin dilakukan oleh perempuan ini?
Kalau Risya? Gadis itu tak ikutan menengok, entah ia mendengar atau tidak tapi yang jelas ia terlihat tak bergeming. Biasa lah, kalau sedang fokus pada sesuatu, yang lain hanya dianggap seperti angin lalu.
Kayak nya dia ngomong sama Risya, pikir Soya. Ia menendang pelan kaki Risya yang berada di bawah meja, Risya langsung menoleh dengan bingung.
"Kenapa?" Tanya nya. Soya tak menyahut, ia hanya sedikit melirik ke arah Nina. Paham akan tatapan yang diberikan Soya, Risya menengadahkan kepala nya.
"Lu... Ngomong sama gue?" Tanya nya pada Nina.
"Em, i-iya. Jadi kamu bisa pindah tempat gak? Aku mau duduk di sebelah sini."
Risya mengernyit, begitupun dengan Soya. Apa maksud perempuan itu ingin merebut kursi yang sudah di tempati oleh orang lain?
Bahkan Rizhan yang sudah menempati salah satu kursi pun nampak terheran-heran dibuat nya.
Di sebelah kiri Soya masih ada satu kursi kosong alias tidak ada pemilik nya atau tidak ada yang menempati nya. Lalu pertanyaan nya, kenapa Nina tidak duduk di sebelah sana saja? Apakah ada perbedaan antara kursi satu dengan kursi lain? Ataukah Nina tidak melihat benda itu ada di sana??
Buta kali!?
Rizhan melirik dari ekor mata, menatap Sigra yang terlihat memasang wajah dingin nya. Mungkin karena tak suka dengan sikap Nina yang seenak jidat saja apalagi sekarang ia bersikap seperti itu terhadap Risya.
"Duduk aja lah, Nin. Itu di sebelah kiri Soya masih ada kursi yang kosong, kok," ucap Rizhan. Memberitahukan perempuan itu agar lekas diam dan duduk dengan tenang.
Selain ingin menuntaskan rasa lapar masing-masing individu, mereka ke sini juga berniat untuk meminta maaf kepada Soya. Bukan mereka sih, lebih tepat nya Nina.
Kalau begini cerita nya bakal dimaafkan atau tidak?
"Tapi aku mau duduk di sini, Zhan," kekeuh Nina. Masih saja ngotot ingin merebut tempat orang lain.
Nina sebenar nya tidak buta soal satu kursi kosong di samping Soya, tapi ia tak ingin duduk di sana, mau nya di sini, di kursi yang ditempati oleh Risya.
Kenapa?
Karena Sigra yang duduk di depan nya.
Mau caper dulu.
"Dih!" Suara Soya langsung mengalihkan atensi mereka. "Kenapa?" Tanya nya pada kelima lelaki di meja ini.
Soya menghela nafas panjang kala tak ada yang menjawab atau sekedar perwakilan nya saja. Ia menatap Nina sekilas. "Lu kalau mau duduk ya duduk aja, gak usah ribet!"
Sedetik, sedetik saja wajah Nina terlihat seperti sedang kesal namun berusaha ia tahan. Dan dengan cepat pula diubahnya sebelum ada yang sempat melihat.
"Sigra..."
"Sebelah sana," sahut Sigra cepat. Malas sekali dia.
Dengan terpaksa, akhir nya Nina melangkah melewati Risya dan duduk di samping kiri Soya karena hanya kursi itu yang tersisa.
Angga nampak mencuri-curi pandang ke arah Soya yang terlihat tidak terlalu perduli dengan kehadiran mereka kecuali dengan cewek imut yang berada di samping nya. Tapi bukan Nina.
Nina juga imut sih, imut seperti barongsai kalau kalian mau membayangkan.
Bercanda.
Angga jadi menatap ke arah cewek imut di sebelah kanan Soya dengan lekat, kalau tidak salah nama nya Risya, benar 'kan? Pacar Sigra bukan?
"Gra, cewek lu gak lu sapa?" Bisik Angga yang hanya dibalas dengan tatapan tajam dari Sigra.
Duh! Mulut nya ini tak salah ngomong, kan?
Ya 'kan?
Kan?
Alamat dapat tonjokan ini.
...•...
...•...
...•...
...•...
...Bersambung...