
"Mungkin si Relvan itu salah minum obat kali maka nya kayak gitu," celetuk Alby sambil terkekeh kecil.
Risya juga ikut terkekeh, karena mungkin saja apa yang Alby katakan itu benar, Relvan salah minum obat hari ini. Tidak mungkin lelaki itu tiba - tiba bersikap seperti itu, apa ada suatu alasan yang melatarbelakangi nya??
"Lu bilang ada Angkasa kan disana?" Tanya Risya seraya menatap ke arah mereka berdua.
Rhaegar mengangguk sekali. "Emang kenapa, Rin?" Risya terdiam dan membuat Alby serta Rhaegar saling pandang.
"Kenapa, Sya?" Kini Alby yang bertanya.
Risya menggelengkan kepala. "Gak apa - apa, kok. Gue cuma nanya doang." Alby mengangguk - anggukan kepala. "Oh kira in kenapa," sahut lelaki itu.
"Ngomong - ngomong kalian tau dari mana kalau gue udah pulang? Bukan dari Sigra, kan?"
"Bukan," ucap Alby. Risya mengerutkan dahi nya menatap lelaki itu. "Ini monyet yang ngasih tau," sambung nya seraya menunjuk ke arah Rhaegar yang tengah mencomot cemilan yang disediakan oleh Risya.
"Kenapa?" Tanya Rhae saat merasa Risya sedang menatap ke arah nya. Ia menghela nafas usai menenggak minuman milik nya. "Gue tau dari bokap lu."
Risya memiringkan kepala nya. "Lu kenal bokap gue?" Tanya nya seolah bingung dari mana Rhae mengetahui siapa ayah nya, apakah mereka berdua sudah saling mengenal?
"Kenal dong. Tanya aja sama bokap lu," kata Rhae. Sebelum kata - kata selanjut nya membuat Risya melempar bantal sofa ke arah nya. "Dia pasti kenal sama calon mantu."
Buk!
Bantal sofa itu seketika melayang ke wajah Rhaegar, yang di lempar malah tertawa kecil melihat wajah masam gadis itu. Ada semburat merah jambu di pipi Risya yang membuat Rhae tambah terkekeh geli melihat nya. Imut banget!
"Khayalan elu tinggi banget, Rhae. Gue jamin Sigra bakal jadiin elu tumbal sebelum jadi adik ipar." Rhaegar langsung menoyor kepala Alby yang tengah menertawai nya.
"Kalian gak di cariin sama orang tua kalian apa kalau main ke sini dulu baru pulang ke rumah? Gak dimarahin kalau telat pulang?"
"Gue sih aman, bokap gue nggak ada di rumah," sahut Rhaegar.
"Gue aman juga lah, orang rumah juga maklum karena gue anak cowok jadi gak perlu terlalu dikhawatirin. Gue sering nya pulang ke apartemen Sya, bukan ke rumah," ujar Alby yang kemudian menghabiskan sisa air minum nya.
Risya nampak manggut - manggut mengerti. "Gue tadi pengen sekolah tapi Sigra gak bolehin," kata gadis itu seraya mengerucutkan bibir nya.
"Ya kalau gue jadi Sigra juga gak bakal bolehin elu masuk sekolah," tukas Alby ketus. "Elu baru sembuh, terus kalau tiba - tiba drop lagi pas di sekolah, gimana?"
Pertanyaan Alby sontak membuat Risya melemparkan cengiran kepada nya. "Tinggal di bawa ke rumah sakit lagi," sahut Risya enteng.
"Enak bener ngomong nya!" Sergah Rhae sambil sedikit menarik pipi gempal Risya. "Suka banget bikin orang khawatir."
Risya sedikit menjauh setelah berhasil menampik tangan Rhae dari wajah nya. Lelaki ini suka sekali menyentuh wajah nya, lain kali ia harus menjauh seperti nya, terlalu bahaya.
Beberapa menit setelah itu obrolan mereka pun berakhir sampai disini. Alby dan Rhaegar bergegas pulang dan Risya mengantarkan mereka sampai ke depan pintu rumah.
"Hati - hati, ya." Risya tersenyum memandang kedua teman nya yang sudah bersiap pulang.
"Siap ibu negara!" Rhaegar mengulas senyuman tipis, ia melangkah mendekati Risya yang berdiri di depan pintu. "Jangan sakit lagi, Rin." Risya mengangguk-anggukan kepala nya. "Janji, okey?" Ucap nya sendu sambil mengangkat tangan nya untuk mengusap pipi gadis itu.
Risya menepis tangan Rhae sebelum sempat menyentuh pipi chubby nya. "Iya bawel!" Ketus nya. Rhaegar tertawa kecil tanpa berniat marah kepada Risya. "Udah sana." Ia mendorong kecil punggung Rhae. "Jangan pegang - pegang pipi gue lagi!"
Rhaegar terkekeh geli sambil melangkah menjauh dari Risya, ia menaiki motor dan memasang helm lalu menghidupkan mesin motor nya.
"Kita pulang ya, Sya. Kalau masih sakit, besok lu izin aja lagi," ucap Alby.
Risya memberikan jempol nya kepada mereka dan kemudian melambaikan tangan saat kedua lelaki itu menjauh dari perkarangan rumah nya. Risya menurunkan tangan nya dan terdiam sesaat menatap punggung yang perlahan menghilang itu.
"Eh monyet!!" Latah Risya saat ia berbalik dan mendapati Sigra berdiri dibelakang nya. Tubuh nya hampir saja oleng jika saja Sigra tak menahan berat tubuh nya. Tangan kekar itu melingkar sempurna di pinggang ramping Risya, netra mereka bersitatap sejenak sebelum Sigra melepaskan tangan nya dan menyentil dahi Risya.
Tak!
Risya mengusap dahi nya yang terasa nyut-nyutan, ia mengerucutkan bibir agar Sigra merasa iba kepada nya namun ternyata tidak. Cowok itu hanya menatap datar ke arah nya tanpa berniat meminta maaf pada nya.
Risya tersenyum kecut. "Abang ngapain sih berdiri dibelakang Caca?! Ngagetin orang aja!" Gerutu nya. "Mana gak kedengeran lagi langkah kaki nya," gumam nya kecil.
Sigra tak langsung menjawab, ia malah sibuk memerhatikan adik nya yang sedang mengusap kecil dahi nya yang sudah ia sentil. Imut. Sigra menggelengkan kepala nya pelan, tidak boleh tertipu dengan keimutan makhluk di depannya ini. Ia masih marah perihal tadi.
"Kenapa sih?" Tanya Risya kikuk. Tak nyaman dengan tatapan Sigra yang terlalu lekat memperhatikan nya. "Bang, jangan diem - diem bae!"
Sigra menajamkan tatapan nya dan nampak mengintimidasi. "Kalian ngapain aja tadi di kamar? Lama!" Ketus nya dan nampak kesal seperti nya.
Risya justru terkekeh kecil seraya melangkahkan kaki nya ke arah ruang tamu, capek berdiri, sekarang ia ingin duduk.
"Ca," panggil Sigra yang merasa diabaikan oleh Risya. Kaki nya juga melangkah mengikuti kemana pergi nya Risya.
Risya duduk santai diikuti oleh Sigra. "Ngapain?" Ulang Sigra lagi seraya menatap ke arah adik perempuan nya.
"Ngobrolin apa?"
Risya melirik sekilas. "Kepo!" Seru nya ketus. Ia kemudian menghela nafas nya kala Sigra kembali memanggil nama nya. "Ngobrol biasa tentang gimana di sekolah hari ini, ada tugas apa enggak. Caca kan udah banyak ketinggalan pelajaran, mungkin harus ngejar nanti. Kita gak ngobrol macem - macem kok, cuma itu."
"Bener?" Tanya Sigra nampak tak percaya dengan perkataan Risya.
"Iya," sahut Risya rada malas. Ia terdiam sesaat. "Bang," panggil nya. Sigra berdehem untuk menanggapi nya. "Sejak kapan Egar tau kalau Abang itu Abang kandung Caca?"
"Kenapa?" Tanya Sigra. Bukan nya dijawab, ia malah bertanya balik. Egar itu si Rhaegar, bukan?
Risya menggelengkan kepala nya pelan sambil tersenyum tipis. Tidak jadi, ia tidak jadi bertanya dengan Sigra pun Sigra seperti nya juga tidak ingin memberi tahu. Ia akan mencari tahu sendiri atau membiarkan semesta yang menjawab nya sendiri.
"Bang."
"Kenapa?" Sahut Sigra sambil tersenyum seraya mengusap rambut adik nya. Suhu badan Risya sudah kembali normal, adik nya benar - benar sudah sehat. Seperti nya sih, tapi kenapa secepat itu?
"Mau jalan," ujar Risya tiba - tiba.
Sigra menautkan alis nya. "Jalan?" Tanya nya memastikan, Risya mengangguk-anggukan kepala. "Kamu emang beneran sehat? Besok aja, ya."
Risya langsung menggeleng ribut. Sudah bosan ia terkurung seharian di dalam rumah, ia ingin menghirup udara di luar sekaligus ingin memanjakan mata juga. "Gak. Caca mau sekarang."
"Tapi--"
"Sekarang atau nanti malem?" Ancam Risya cepat.
"Oke, sekarang." Sigra kalah. menghela nafas dan tak bisa menolak ajakan itu lagi, lebih baik ia memilih sekarang daripada nanti malam. Siapa yang bisa menjamin kalau Risya tidak akan sakit lagi saat terkena angin malam??
Risya bersorak gembira di dalam hati. Ia segera beranjak dan melompat ke pelukan Sigra sekaligus minta di gendong untuk naik ke atas. Ia lelah berjalan dengan kaki.
Setelah mengantarkan Risya ke depan pintu kamar, Sigra juga berbalik ke arah kamar nya dan bersiap - siap untuk pergi.
"Handphone ada, dompet juga ada," gumam Risya saat memeriksa isi tas selempang kecil yang di bawa nya. "Tapi nanti kan Sigra juga yang bayar." Risya mengangkat bahu nya tak acuh, ia tak ingin mengeluarkan uang. Sigra harus mentraktir nya hari ini.
"Sudah semua?" Risya menganggukkan kepala. "Gak ada yang ketinggalan?" Risya kembali menggelengkan kepala.
Setelah memastikan semua nya siap, Sigra pun mulai menyetir dan melajukan mobil mereka. Disepanjang perjalanan, Risya memutar musik sebagai backsound keheningan mereka.
"Kamu aneh, Ca," celetuk Sigra tiba - tiba. Risya seketika langsung membeku mendengar celetukan nya. Kenapa Sigra tiba - tiba bicara begitu? Apa Sigra sudah curiga kalau dia bukan Risya asli?? Bagaimana ini?!!
"Em, aneh kenapa, Bang?" Tanya Risya nampak berhati - hati. Sigra terdiam sejenak hingga membuat jantung Risya berdegup kencang saking gugup nya.
"Aneh." Risya melirik Sigra dari ekor mata nya. "Setelah sembuh sakit biasa nya orang pengen istirahat full sampai benar - benar vit, kamu baru sembuh malah pengen jalan - jalan."
Risya seketika bernafas dengan lega, ternyata bukan kekhawatiran yang ia kira. Sigra masih belum curiga kalau ia bukan Risya. Harus kah ia bersyukur??
Risya mengulas senyuman lalu cengiran. "Daripada mendem di rumah nggak ngapa - ngapain, mending jalan. Caca bosen cuma diem aja, mau lihat suasana luar juga."
Sigra menolehkan kepala nya sekilas ke arah Risya, tangan nya terangkat mengusap rambut Risya. "Maaf, ya," ujar Sigra.
Risya menyingkirkan tangan kekar Sigra lalu menggenggam nya. "Kenapa minta maaf?" Tanya nya halus.
Sigra membalas genggaman tangan Risya dengan erat dan sedikit mengusap nya dengan jari jempol tapi mata nya tetap fokus pada jalanan. "Abang gak bisa nemenin kamu," tukas Sigra sendu.
Risya lantas terkekeh dan mengacak rambut Abang nya dengan gemas. "Jangan nangis di jalan," celetuk Risya yang langsung membuat Sigra mendengus sebal. "Gak apa - apa, Bang. Lagian Abang juga sekolah, kan? Ngapain nyalahin diri sendiri? Caca bosen itu alami, bosen itu manusiawi," tutur nya hingga membuat Sigra menarik sudut bibir nya membentuk senyuman. Hari ini waktu mereka habiskan berdua. Makan, jalan - jalan, nonton dan lain nya.
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...Bersambung...