
"Kemarin Risya udah pulang dari rumah sakit." Soya langsung menatap seorang lelaki yang duduk di depan nya itu. Mereka sedang duduk di kafetaria bersama Alby juga. Kalau Laura sendiri tidak sedang bersama mereka.
"Beneran?" Tanya Soya. Wajah nya terlihat guratan keraguan yang kentara, kalau Risya sudah pulang ke rumah berarti anak itu sudah sadar dari koma nya, kan?
Rhaegar menganggukkan kepala. "Kapan dia sadar?" Tanya Soya lagi.
"Kemarin."
"Kemarin?" Alis Soya berkerut dengan sangat. "Dia baru sadar kemarin tapi udah di pulangkan ke rumah?" Tanya nya dengan mata yang membulat lebar.
"Risya yang minta." Soya menengok ke arah Alby. "Dia emang agak keras kepala, Soy. Tapi kalau bokap dia setuju juga bawa Risya pulang, arti nya keadaan dia emang udah membaik tanpa perlu bermalam di rumah sakit lagi."
"Bener juga apa kata lu," sahut Soya. Namun entah kenapa rasa ragu masih muncul di benak nya, padahal Risya kan baru sadar dari koma tapi malah meminta pulang. Apa tubuh nya itu tidak terasa kaku saat tidak digerakkan selama hampir dua Minggu?
"Sekarang Risya ada di rumah, ya?"
"Bisa jadi," sahut Rhaegar.
"Kok bisa jadi sih?! Berarti lu masih gak yakin dong sama berita lu sendiri!" Keluh Soya.
Rhaegar mengangkat bahu acuh. "Risya beneran udah balik dari rumah sakit, tapi gue gak tau pasti nya di ada di rumah apa enggak. Kemarin Kakek dia juga dateng, mungkin aja kan dia di bawa ke rumah Kakek dia."
Soya mengangguk - anggukan kepala nya, paham. Bisa jadi sih apa yang di katakan Rhae itu benar. "Pengen jengukin," gumam nya kecil.
Mereka sudah menyelesaikan makanan milik masing - masing saat beberapa menit yang lalu, karena suasana kafetaria sekolah sangat mendukung untuk mengobrol jadi mereka menghabiskan waktu sebentar disini sebelum kembali ke kelas lagi.
"Kak Alby."
Mereka bertiga sontak menoleh bersamaan menatap seorang siswi dengan rambut yang dikuncir kuda tengah menghampiri mereka. Saat melihat name tag siswi itu pun juga tidak mengenali nya. Seperti nya dia adalah adik kelas mereka.
Siswi itu menggaruk kepala yang mendadak terasa gatal, mana gugup juga di pandang dua cowok tampan di depan nya. Tapi yang nama nya si Alby itu yang mana ya? Ia jadi mendadak lupa.
"Kakak yang nama nya Alby?" Tanya siswi itu pada Rhaegar yang kebetulan berada dekat dengan siswi perempuan itu.
Tadi cewek kuncir kuda ini sempat mencari Alby di kelas XI-IPS1, tapi tidak ditemukan nya lelaki itu dan ada yang memberitahu nya bahwa Alby berada di kafetaria.
Rhaegar menaikan sebelah alis nya. Mereka kan juga tengah memakai name tag, kenapa tidak di baca saja??
"Dia noh, Alby!" Tunjuk Rhaegar pada Alby yang tengah menahan tawa nya.
"Ah, maaf." Si kuncir kuda lantas memberikan cengiran nya pada lelaki di sebelah Rhaegar, pasti itu yang nama nya Alby. Karena tak ada lagi lelaki di meja ini selain mereka berdua, kalau yang satu nya kan sama gender dengan dia.
"Kenapa nyari gue?" Tanya Alby.
Si kuncir kuda tersenyum ramah pada nya. "Tadi Pak Joko manggil kakak, kata nya suruh ke ruangan nya sebentar."
"Ngapain?"
"Mana gue tau, kak. Bapak nya aja gak ngasih tau," ujar kuncir kuda.
Alby membulatkan bibir nya. "Thanks ya," ucap nya.
"Woke!" Setelah itu siswi tadi berbalik dan berlari meninggalkan kafetaria sekolah.
Alby mengalihkan pandangan menatap Soya dan Rhaegar. "Kalian mau balik ke kelas nih?" Tanya nya.
"Iya lah! Terus mau kemana lagi?!" Ketus Rhaegar sambil mulai beranjak dari duduk nya.
"Ya udah, santai dong! Gak usah ngegas!" Gerutu Alby dengan wajah masam nya.
Soya beranjak dari tempat duduk. "Gue mau beli air minum dulu deh, lu berdua duluan aja ke kelas," kata nya.
"Gak mau bareng?"
Soya menggelengkan kepala nya. "Lagian lu juga di panggil sama Pak Joko kan tadi? Udah sana, entar si Bapak bisa ngamuk kalau lu telat."
"Ya udah deh." Alby langsung ngacir dari Kafetaria menuju ruangan si Pak Joko.
"Lu gak langsung ke kelas, Rhae?" Tanya Soya yang mulai melangkah sambil menoleh ke arah Rhaegar. Lelaki itu juga ikut melangkah, apakah Rhaegar juga memiliki arah tujuan yang sama dengan nya?
"Gue mau nyamperin Sigra dulu." Soya nampak menelengkan kepala nya, bingung. Untuk apa Rhae mendatangi Sigra?? Apa lelaki itu ingin mencari masalah dengan kakak kelas mereka?
Soya mengangguk saja dan tak membahas perkataan Rhaegar. Baru beberapa langkah ia berjalan, tiba - tiba dari ada yang memanggil nama Soya.
Soya menoleh ke arah sejurus, ternyata itu teman sekelas nya. Mereka memanggil dia untuk segera ke sana.
"Lu duluan aja ya, Rhae."
"Oke." Rhaegar meneruskan langkah nya ke arah meja yang ditempati Sigra dan teman - teman lelaki itu. Tak butuh waktu lama, ia pun sampai di meja Sigra, kehadiran nya sontak mengalihkan atensi beberapa orang di meja itu.
"Gra, bisa ngomong bentar gak sama gue?" Tanya Rhaegar. Sigra menengadahkan kepala nya memandang lelaki itu dengan wajah datar nya. Rhaegar melirik ke arah teman - teman Sigra. "Berdua," sambung nya lagi.
Sigra menganggukkan kepala tanpa memberikan penolakan atas permintaan Rhaegar, lagipula ia juga sudah selesai makan jadi tak apa. Mungkin saja Rhae ingin berbicara sesuatu yang penting, kalau tak penting mungkin ia akan menonjok lelaki itu karena sudah membuang waktu nya.
Relvan memandang Rhaegar dan Sigra secara bergantian. Kenapa ia merasa ada perasaan familiar yang merambat di dalam dada nya. Rhaegar menoleh dan membalas tatapan mata nya, lelaki itu mengembangkan senyum menatap diri nya.
Entah kenapa Relvan jadi reflek mengulas senyuman tulus juga saat Rhae dan Sigra menatap nya sambil tersenyum begitu. Senyuman yang belum pernah ia tampilkan ke hadapan semua orang termasuk teman - teman nya.
Angga, Rey, dan Rizhan saling menendang kaki satu sama lain di bawah meja karena bingung dengan ketiga orang itu, kalau Nina sedang tidak berada di meja ini. Kenapa merasa saling pandang begitu?? Relvan dan Sigra juga ternyata bisa tersenyum seperti itu.
"Relvan, kan?" Relvan hanya menatap Rhaegar dengan kebingungan, apakah lelaki ini mengenali nya??
Masih dengan senyuman tulus yang tercetak di bibir Rhaegar. "Hei, long time no see," ucap nya. Setelah itu, ia pergi dari hadapan mereka diikuti oleh Sigra.
Senyuman nya kembali luntur saat Sigra dan Rhaegar meninggalkan meja mereka. Relvan nampak mengernyit memikirkan perkataan Rhaegar. "Lama tidak bertemu?" Ia bergumam kecil dan sibuk dengan pikiran nya.
Bruk!!
"Arghh!! Gila Lo!"
Semua yang ada di kafetaria sekolah langsung mengalihkan pandangan meraka termasuk Rhae dan Sigra yang sontak berhenti melangkah dan seketika menatap ke arah sejurus.
Disana terlihat Nina yang terduduk di lantai, sedangkan Soya masih berdiri tapi gadis itu terlihat meringis karena ketumpahan kopi panas di baju seragamnya.
Soya menatap sengit si pelaku yang nampak sengaja menabrak tubuh nya, padahal kopi itu baru saja ia beli bahkan ia saja belum mencicipi rasa nya.
"Lu gak punya mata apa?!!" Bentak Soya. Tak perduli dengan mereka yang sebagian menatap iba ke arah Nina, padahal Nina tidak apa - apa, hanya terjatuh saja. Sedangkan ia sendiri malah terkena air panas, kulit perut nya sekarang terasa perih.
Nina terlihat sangat menyedihkan, ia seolah tak bisa bangkit dari duduk nya untuk sekedar berdiri saja. Nina yang menabrak Soya, Nina juga yang terjatuh sendiri.
"Sshh... Bangsat, panas banget." Soya bergumam sambil mengibaskan baju nya yang sudah kotor bekas air kopi tadi. Nina ini minta di hajar apa ya jadi bertingkah seperti itu?! Kesal nya dalam hati.
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...Bersambung...