Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 97 | DNLM



Di sebuah apartemen yang cukup luas dengan warna abu gelap yang lebih mendominasi, ruangannya terlihat cukup nyaman untuk ditinggali hingga membuat lima pemuda itu sering menjadikan tempat itu sebagai tempat tongkrongan mereka di kala waktu senggang.


Namun sekarang hanya terlihat empat pemuda saja yang berada di sana, kalau yang satunya kalian tahu saja akan kebiasaannya itu bagaimana??


"Rey."


Yang dipanggil pun lantas menoleh saat merasa namanya disebutkan, Rey menatap Angga dengan kernyitan. "Ke sini gak tuh bocah?" Tanya Angga pada lelaki yang tengah tengkurap sambil menemani Rizhan mengisi teka-teki silang.


Rizhan mendongakkan kepalanya hanya untuk ikut menatap Angga. "Bocah siapa?" Tanyanya lalu kembali menatap buku teka-teki di depannya.


"Sigra lah!" Sahut Angga. "Emang siapa lagi yang gak ada di sini?"


"Anjirt lu! Kalau Sigra denger, lu bisa digebuk sama dia, tau!" Rizhan berkata dengan wajah seriusnya, aslinya mah ia juga hanya bercanda. Palingan cuma dipelototi oleh Sigra dengan tatapan tajam kalau mendengar ia dipanggil bocah oleh teman-temannya.


Angga lantas menyengir kuda. "Lagian udah ditunggu juga belum aja dateng tuh manusia, kebiasaan buruk, telat mulu!"


Rizhan geleng-geleng kecil mendengar keluhan Angga, apa Sigra tidak tersedak ya karena mereka selalu membicarakannya saat berkumpul seperti ini? Rizhan seketika jadi terkekeh sendiri saat membayangkannya.


Relvan mematikan layar ponselnya yang tadi menyala lalu kemudian ia memandang ke arah teman-temannya. "Nina pengen ke sini," celetuknya tiba-tiba.


Sontak saja perkataan Relvan membuat atensi ketiga teman lelakinya kini teralih padanya. "Emang dia gak apa-apa? Badannya udah enakan?" Tanya Rey.


Rizhan dan juga Angga, hanya saling pandang tanpa berniat ikut menimpalinya. Bukankah Nina sedang tidak baik-baik saja, ya, saat di sekolah tadi? Kenapa sekarang sudah ingin berjalan-jalan keluar rumah? Apakah tidak apa-apa? Secepat itu?


Relvan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Rey. "Terus dia ke sini sama siapa?" Tanya Rey lagi.


"Dia minta gue yang jemput," ucap Relvan.


Karena sudah mendapatkan jawaban, jadi Rey hanya menanggapinya dengan anggukan kecil, kalau tak ada yang mau, ia tadi ingin menawarkan diri untuk menjemput perempuan itu ke sini. Kalau sudah ada Relvan 'kan aman saja.


Angga beranjak dan merogoh dompet miliknya. "Van, karena lu keluar jadi sekalian aja beliin kita makanan, ya, nih." Ia memberikan beberapa lembar uang berwarna biru pada lelaki itu.


"Gak pake duit gue dulu?" Tanya relvan seraya menerima uang yang diberikan oleh Angga.


"Udah, pake itu aja."


Wajah Rey serta Rizhan langsung full senyum kala mendengar penuturan Angga. Tumben sekali anak itu tidak keberatan mengeluarkan beberapa uang untuk mereka. Entah terbentur apa kepala Angga hari ini?


Relvan pun menyimpan uang tersebut lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. Angga lalu mengalihkan pandangannya kala Relvan sudah menghilang dari balik pintu, ia menoleh menatap aneh pada kedua bocah yang tertinggal bersamanya saat ini.


"Ngapa sih muka lu pada?" Tanya nya dengan ketus sambil mendudukkan diri di single sofa. "Mau gue timpuk pake sendal, nih?!" Lanjutnya lagi.


"Lele baik banget sih, makan obat apaan hari ini?" Tutur Rizhan dengan wajah sumringah tapi terlihat begitu mengesalkan di mata Angga.


"Baik apaan? Ganti duit gue nanti," celetuknya dan membuat Rizhan langsung melayangkan bantal sofa yang berada di tangannya tepat mengenai wajah lelaki itu.


"Cih! Pelit banget lu sama temen!" Rizhan mengerucutkan bibirnya.


Rey juga mengangguk setuju. "Nyesel gue tadi muji lu dalam hati," tambahnya dengan wajah masam.


Angga hanya tergelak menyaksikan reaksi kedua temannya, ia hanya bercanda, kok. Ia tak akan meminta ganti rugi atas makanan yang telah ia berikan kepada mereka, lagian harga makanannya juga tidak seberapa, tidak membuat ia langsung bangkrut dan hidup melarat juga.


Ding dong!


Ding dong!


Tak lama dari itu, terdengar suara bel dari ujung pintu yang seketika membuat mereka tersentak kaget bersamaan.


"Siapa?" Tanya Angga pada mereka.


Rizhan mengendikan bahunya kemudian ia beranjak dari tempat. "Biar gue dah yang buka." Ia berjalan meninggalkan Rey dan Angga yang melongo ditempat.


Angga terdiam memandang punggung belakang Rizhan lalu menelengkan kepalanya ke arah Rey. "Masa iya sih Relvan cepet banget baliknya?" Ia tak mendapat jawaban dari sang empu dan hanya mendapat tatapan tanya dari lelaki itu.


Rizhan menghentikan langkahnya tepat di depan pintu apartemen Rey. Dibukanya pintu tersebut kemudian ia menyembulkan kepalanya terlebih dahulu untuk melihat siapa yang berada di sana. Mulutnya seketika membulat, membentuk huruf O kala mendapati Sigra yang ternyata berdiri di depannya.


"Lama amat, Gra! Macet ya jalannya?" Tanyanya seraya terkekeh kecil.


Rizhan memasang wajah kesal sambil mengusap dahinya. Ia membukakan pintu lebar-lebar dan kemudian berbalik melangkah masuk diikuti oleh Sigra.


"Telat lagi, lu?"


Baru juga menghampiri, mereka malah melemparkan pertanyaan serupa dan membuat Sigra hanya membalasnya dengan dehemam. Sigra mendudukkan dirinya tepat di sebelah Rey dengan santai, tanpa perduli dengan tatapan dari teman-temannya.


Rizhan terkekeh, entah kenapa melihat respon cuek dari Sigra itu menjadi suatu hiburan tersendiri baginya. Lucu saja, mereka yang sudah mencoba mencari topik pembicaraan biar tidak canggung namun malah mendapat respon seperti itu saja.


Angga menghela nafas seraya menilik ponselnya sebentar. Beberapa saat tadi sudah berlalu, namun sampai ini masih tak ada tanda-tanda bahwa Relvan akan kembali. Nomor lelaki itu juga tidak aktif, entah apa yang tengah dilakukannya.


"Pada laper gak sih? Lama amat dah si Relvan."


Rizhan mengangguk sekali, perutnya juga sudah terdengar berbunyi. Mungkin bayi-bayi cacing di dalam perutnya sudah demo karena lambat diberi asupan makanan.


Sigra melirik ke arah teman-temannya, ia juga baru menyadari kalau ada yang kurang di antara mereka, Relvan tidak ada, ya?? Padahal ia sudah di sini sejak tadi tapi malah tak menyadari.


"Emang dia ke mana?" Timpal Sigra.


Rizhan langsung menoleh dan menyahut, "itu, lagi jemput Ninaninu." Teman-temannya seketika memasang wajah melongo saat mendengar perkataan Rizhan, bocah itu menyengir kuda setelahnya.


"Eh hehe, maksud gue itu si Nina." Rizhan menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal.


Sigra mengangguk-anggukan kepalanya setelah mendengar penjelasannya. "Kenapa kalian gak masak aja sih daripada lama?"


"Itu lah masalahnya, Gra. Di dapur kagak ada apa-apa, gue lupa belanja," kata Rey.


"Kenapa gak milih gof*od?"


Angga menghela nafas panjang. "Ya mana kita tau sih kalau Relvan bakal selama ini."


"Kenapa gak bilang sama gue?"


Kali ini Rizhan yang melotot ke arah Sigra. "Heh! Gimana kita mau bilang coba, kalau chat pribadi sama grub aja elu nggak buka!" Rizhan mengomel dengan wajah kesalnya namun itu malah terlihat begitu lucu di mata mereka. Mana sambil berkacak pinggang lagi.


"Sorry," ucap Sigra dengan kekehan kecil.


Rizhan mendengus, lebih baik ia tiduran saja sambil menunggu makanan tiba. Ia kemudian membereskan buku teka-teki silang tersebut ke atas meja yang berada di dekat televisi, lalu ia pun merebahkan diri di lantai yang beralaskan karpet berbulu lembut dan nyaman untuk merilekskan diri.


Beberapa menit kembali berlalu dengan perasaan bosan yang semakin melanda, play station sudah terbengkalai dan ponsel pun tak cukup untuk membuat mereka terhibur.


"Anjir nih, paketu!" Keluh Angga. "Nyasar ke mana coba? Dari tadi kagak balik-balik juga!" Ia menatap ke arah teman-temannya. "Btw, dari rumah Nina ke sini gak jauh-jauh amat kan, ya?"


"Gak sih, palingan lima belas menit," sahut Rey.


"Lima belas menit?" Angga bergumam kecil. "Dari sini ke rumah tu cewek cuma lima belas menit, ditambah balik ke sini lagi jadinya tiga puluh menit. Kalau singgah beli makanan palingan lima menitan lah, ya." Ia terdiam sejenak. "Tapi kenapa jadi lama amat, ya?!"


Ini sudah hampir satu jam berlalu, namun entah kemana anak perginya itu. Angga membelalakkan matanya kemudian dan berkata," jangan-jangan paketu lupa lagi kalau kita masih nongki di sini?!"


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...Bersambung...