
Beberapa saat, Risya nampak menggeliat tak nyaman dalam tidurnya. Suara seperti gumaman lebih dari satu orang seketika mengganggu tidur nyenyak nya. Perlahan, mata itu terbuka sambil mengerjap pelan menatap langit-langit ruangan yang lebih dulu ia lihat.
Lalu matanya melirik ke arah samping kanan, Risya sempat terkesiap kala melihat Rhaegar dan Alby ada di dekat ranjangnya. Ternyata suara-suara tadi itu berasal dari perdebatan yang dilakukan oleh dua lelaki ini.
Bersamaan dengan itu, Rhaegar langsung menolehkan kepala ke arahnya. "Erin, lu udah bangun?" Sambutnya dengan senyuman hangat yang terlihat mengembang di bibirnya.
Tak menjawabnya juga tak menganggukkan kepala. Risya terlihat diam sambil mengerjapkan matanya, dan mengumpulkan nyawanya yang melayang saat tidur.
Setelahnya, ia kemudian hendak bangun dan mencoba untuk duduk. Melihat hal itu, Alby dan Rhae dengan sigap sontak membantunya duduk secara bersamaan. Akibatnya, kedua lelaki itu malah bertabrakan dan akhirnya saling mengaduh kesakitan.
"Akh! Sshh.. lu ngapa jadi nabrak kepala gue, monyet?!"
Rhaegar mengusap kepalanya yang baru saja terbentur oleh kepala Alby. Alby sendiri juga mengaduh sakit sebelum ia sempat menyentuh Risya.
"Elu tuh yang ngapain?!" Sentak Alby sambil mendelik dengan sinis. "Gue kan mau bantu Risya, elu malah ikut-ikutan."
"Apaan?! Gue pun juga mau bantu dia."
Rhae seolah tak mau kalah dengan temannya itu, tapi memang benar kok, ia juga berniat membantu Risya. Bukan karena ikut-ikutan dengan sengaja. Ini memang reflek dari hatinya.
Risya memejamkan matanya sejenak sebelum kembali memandang mereka. "Diem deh kalian," ucapnya kemudian sembari membangunkan tubuhnya sendiri tanpa bantuan orang lain.
Risya juga menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang dan menatap kedua laki-laki itu dengan seksama. "Ganggu orang tidur!" Tambahnya dengan ketus.
"Sorry, Sya," ujar Alby.
Kalau Rhae hanya mengangkat tangannya, menjangkau kepala Risya dan mengusap rambut gadis itu pelan. Tak ada raut lain selain ekpresi datar yang Risya tampilkan. Rhaegar ikut duduk di sisi ranjang yang sama dengannya, sedangkan Alby tetap duduk di kursi yang berada di dekat situ.
"Gimana keadaan lu?" Tanya Alby kepada Risya. Tatapannya nampak terlihat begitu lembut.
Risya tersenyum tipis. "Gue baik-baik aja, kok," sahutnya.
Alby lalu mendengus setelah itu. "Gak usah boong lu! Rhaegar juga udah bilang sama gue kalau lu tadi sempat kepengaruh sama obat sialan itu!"
Walau Rhae memang tak menjelaskan kepada Alby secara menyeluruh, tapi Alby sendiri bisa memahami dengan jelas dari beberapa perkataan yang telah dilontarkan laki-laki itu padanya. Walaupun memang memerlukan sedikit waktu juga untuk berpikir.
Risya melirikkan matanya ke arah Rhaegar yang juga tengah menatap ke arahnya. Risya menelan ludahnya, entah mengapa, ia jadi tak kuasa menatap penuh ke arah laki-laki itu. Jantungnya berdebar tak karuan dan perutnya terasa menggelitik sesaat.
Tak mau membuat suasana menjadi canggung, Risya berdehem pelan dan berkata, "Gue beneran gak apa-apa, Al, lu gak perlu khawatir gitu. Tapi untungnya sih tadi Egar yang bawa gue ke sini."
Alby sontak memicingkan matanya. "Sya, lu tadi gak diapa-apain sama nih curut, kan?" Selidiknya seraya melirik ke arah Rhaegar dengan sengit. Bukannya tak percaya dengan Rhae, sih, Alby hanya ingin memastikannya sekali lagi.
Risya tersenyum kecut mendengar pertanyaannya. "Enggak, Al. Mana mungkin Egar berani apa-apain gue."
Perkataan yang keluar dari mulut Risya sebenarnya sangat tak sesuai dengan isi hatinya. Ia tak yakin juga, siapa tahu bukan Rhae yang melakukan hal aneh padanya melainkan dirinya sendiri yang sempat melakukan hal aneh pada laki-laki itu.
Alby terlihat mengangguk-anggukan kepala, dan setelah ia telisik juga tak ada raut tertekan atau mencurigakan di wajah Risya. "Bagus deh," jawabnya kemudian.
Rhaegar menatap ke arah Alby dengan sorot mata malas. Sejak tadi Alby nampak sangat curiga kepadanya, padahal ia memang tidak berbuat hal lain pada Risya selain ciuman yang mereka lakukan sebelumnya. Tetapi hal itu juga bukan sepenuhnya salah dirinya, itu karena Risya sendiri yang memancing keadaannya jadi seperti itu. Namanya rezeki, kan, mana boleh ditolak.
"Gar, lu kok malah bengong sih?" Risya menyeletuk. Merasa sedikit aneh sekaligus tak nyaman dengan keadaan sekarang ini. Rhaegar sedari tadi juga tak mengajaknya berbicara selain sapaan saat di awal ia membuka mata.
Sebelumnya, kalau mereka bertemu pasti selalu saja ada pertengkaran kecil yang dilakukan, random dan tidak jelas. Tapi kali ini, Risya merasa seolah semua tidak berjalan baik-baik saja.
"Ah, sorry sorry." Rhaegar menyengir sembari mengusap tengkuknya sendiri. "Gue cuma lagi mikirin sesuatu," katanya. "Eh, ngomong-ngomong elu udah baik-baik aja, kan? Gak ngerasain hal aneh lagi?" Risya menganggukkan kepala sambil mengulas senyuman ke arah laki-laki itu.
Mulut Rhaegar lantas membulat dan setelah itu ia kembali berkata lagi, "Oh iya, botol yang lu minta tadi udah gue kasi ke dokter yang jaga nih UKS."
Rhaegar lalu memasang wajah songong andalannya. "Ya jelas lah, kan, itu gue. Lain hal semisal lu itu nyuruh si Alby."
Risya lantas tergelak mendengar perkataanya. "Bener, bener," sahutnya hingga membuat Alby seketika memasang raut masam.
"Apa sih lu berdua? Gak usah bawa-bawa nama gue ngapa!" Dengusnya setelah itu. Rhaegar langsung mendengus tawa sedangkan Risya sudah tergelak karenanya.
"Eh, bentar-bentar. Gue tiba-tiba jadi aus," celetukan Risya tiba-tiba. Tenggorokannya terasa kering, mungkin karena langsung diajak bicara setelah bangun tidur dan bukannya diberi air minum.
Rhaegar pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah gelas yang terletak di atas meja. "Teh lu udah dingin, mau gue beliin yang anget lagi gak?" Tawarnya seraya memandang ke arah Risya.
"Boleh?" Tanya Risya. Memastikan, takut tak enak pada temannya itu. Lagipula, air teh yang sudah dingin menurutnya sangat tidak enak untuk diminum kembali.
"Boleh," ujar Rhaegar sembari mengulas senyuman. Ia lantas berdiri dan hendak melangkah, namun Risya malah menarik tangannya seketika.
Ia terhenti dan bertanya, "Kenapa?" Sambil menolehkan kepala.
Risya nampak terkesiap sendiri karena gerakan refleknya dan di detik berikutnya ia langsung saja melepaskan tangannya. Gadis itu menggeleng kecil seraya berkata, "e.. gak apa-apa, kok."
Di dalam hati, Risya sontak merutuki dirinya sendiri. Entah kenapa tadi ia seolah tak ingin Rhaegar menjauh darinya, makanya ia juga langsung menghentikan laki-laki itu. Ah, sialan!
Rhaegar lalu menganggukkan kepala setelah mendapati jawaban dari sang empu dan saat itu juga Rhaegar berlalu dari hadapan mereka. Dan kini tertinggal lah dua orang di dalam sana hingga keheningan menguasai keduanya.
Alby lalu melirikkan matanya ke arah Risya, lebih mendekatkan kursi yang ia duduki ke dekat ranjang agar bisa menatap Risya dengan jarak yang dekat dan lekat. "Sya," panggilnya kemudian.
"Hm?" Risya terdengar bergumam seraya menaikan sebelah alisnya dengan tatapan tanya.
Laki-laki itu merebahkan kepalanya di sisi ranjang dengan bertumpuan menggunakan tangan. "Elu kepala gue, please," pintanya.
Permintaannya sangat terdengar aneh di telinga Risya. Walau wajahnya terlihat sangat bingung tapi tangan gadis itu tetap terulur untuk mengusap kepala si peminta.
"Lu kenapa?" Tanya Risya karena tidak biasanya Alby meminta hal aneh seperti ini. "Lagi ada masalah, ya?" Sambungnya lagi.
Alby terdiam sesaat dan tak meresponnya. "Nggak, Sya. Gue cuma lagi pengen aja," katanya menyahut. Risya tak bergeming, tangannya tak berhenti dan tetap mengusap kepala Alby.
"Sya, lu pernah denger gak tentang perkataan kalau 'cinta itu bisa datang karena terbiasa'?" Celoteh Alby.
Dahi Risya mengerut seketika. "Pernah, kok. Emang kenapa?"
Alby tak langsung menjawabnya, Risya sendiri pun juga tak bisa melihat raut wajah yang diberikan oleh lelaki itu.
"Gak. Tapi lu percaya sama hal kayak gitu gak?" Tanya Alby lagi.
"Percaya," sahut Risya tanpa perlu berlama-lama. "Bukannya cinta itu emang sering datang tiba-tiba? Bahkan tanpa aba-aba dari pemiliknya."
Tak ada lagi percakapan setelah itu di antara mereka, Alby terdiam begitupun dengan sang empu. Laki-laki itu diam-diam menarik sudut bibirnya membentuk senyuman, entah apa yang membuatnya seperti itu. Namun kalau benar, itu pasti ada hubungannya dengan pertanyaan yang ia lontarkan sebelumnya.
...•...
...•...
...•...
...•...
...Bersambung...