
Olivia keluar menghirup udara segar pagi ini. Setelah melewati masa-masa sulit, akhirnya ia bisa terbebas dari dua orang penyihir yang berniat menjadikannya pembantu dirumahnya sendiri.
Olivia berjalan kaki menuju sekolahnya sambil menyapa orang-orang yang berlalu lalang. Olivia memang dikenal sebagai anak yang ceria, ramah, dan sopan. Bahkan mereka tidak akan percaya dengan kisah hidup Olivia yang sebenarnya.
Beberapa menit berjalan, Olivia sudah tiba di depan sekolahnya. Olivia melangkahkan kakinya memasuki sekolahnya.
Tiba-tiba Olivia teringat sesuatu, Olivia memutar balik badannya dan langsung berlari kembali menuju rumahnya tanpa menghiraukan tatapan kebingungan temannya.
Sesampainya dirumah, Olivia langsung berlari menuju kamarnya.
"Oliv! Dasar anak gak tau sopan santun kamu ya! Bukannya ngucap salam dulu baru masuk, malah main nyosor aja!" Ucap Dewi menatap sinis Olivia.
Olivia sudah mengambil buku catatannya dan mengunci pintu kamarnya, kemudian ia berbalik menatap tajam Dewi.
"Apa!? Gue gak salah dengar? Emangnya kalau gue ngucap salam, ada yang jawab gitu? Gue kira dirumah ini gak ada orang. Ternyata ada TANTE."
Olivia menekankan kata tante diakhir kalimatnya. Memang sedari awal Olivia tidak pernah suka dengan wanita yang menjadi ibu tiri nya itu. Entah kenapa Ayah nya tidak mau mendengarkan pendapatnya saat itu, dan sejak saat itu juga hubungannya dan Ayahnya semakin jauh. Bahkan Olivia sering melawan Ayahnya karena selalu membela Viona, saudari tirinya.
Setelah mengambil buku catatannya, Olivia kembali berlari menuju sekolahnya. Olivia sampai tepat waktu disekolahnya sebelum gerbang ditutup. Olivia berlari menuju kelasnya dengan nafas ngos-ngosan. Dia langsung duduk dibangkunya dan meminum air putih yang dibawanya.
"Liv, lo kok ngos-ngosan gitu. Abis nampak setan ya?" ujar Danis yang duduk di depan meja nya.
"Eh bukan, dia abis main kejar-kejaran sama pak Boy." semua tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Salsa. Olivia memiliki wajah yang cantik natural dan postur tubuh yang bagus, sehingga membuatnya banyak disukai kaum lelaki disekolahnya.
"Fakboy kali ah." ucap Denia menanggapi.
"Gue abis ketemu mak lampir tadi. Makanya gue lari." ucap Olivia sambil mengeluarkan buku nya.
"Oh si mak lampir. Terus, ngapain tadi balik lagi kerumah Liv?" tanya Denia penasaran.
"Buku catatan mat gue ketinggalan hehee." ucap Olivia sambil menunjukkan gigi putih nya.
🐨
"Sa, gue bosen nih dirumah, jalan yuk ntar malem." ucap Denia. Denia memang sering ditinggal oleh orang tuanya untuk urusan bisnis keluar negeri. Dan saat merasa kesepian, dia mengajak teman-temannya untuk sekedar jalan atau nongkrong.
"Gue sih hayuk, elo gimana Liv? Kuy ga nih?" Salsa dan Denia menatap Olive meminta jawaban.
"Yuk lah, bosen juga nengok dua maklampir di rumah gue." Olivia menjawab pertanyaan Salsa setelah lima menit menunggu.
"Oke jadi fiks nih ya." ucap Denia langsung dianggukin Salsa dan Olive.
"Emangnya Bokap lo kemana Liv? Kerja lagi? " tanya Salsa penasaran, dia merasa kasihan melihat Olive. Semenjak tante Riska meninggal, Olive selalu bertengkar sama om Ferdi. Bukan hanya itu, perasaan Olive juga semakin terluka karena om Ferdi memilih menikah dengan tante Dewi. Hal itu membuat Olive semakin terpuruk dan membenci Ayahnya. Salsa dan Denia hanya bisa memberikan semangat untuk Olive.
"Iya, dia mah bisnis mulu kerjaannya. Gue aja anaknya diabaikan Sa. Gue sih udah terbiasa Sa." ucap Olive memainkan jari nya. Salsa dan Denia tau kalau Olive merindukan Ayah dan Bundanya.
"Yaudah, kita pulang aja yuk. ntar malem kan kita dinner nih, jadi kita istirahat dulu." ucap Denia mencairkan suasana.
"Yuk lah." ucap Salsa
Mereka pun pulang bersama dengan Olive yang diantar sampai depan rumah oleh Denia dan Salsa.
"Mah, anak itu kalau dibiarin makin ngelunjak. Mendingan kita usir aja dia dari sini mah." ucap Viona yang sangat membenci Olivia.
"Sabar sayang, kita harus main cantik. Kamu tahu kan pewaris rumah ini siapa? Kita akan merebutnya dengan perlahan." ucap Dewi menyemangati anaknya.
"Aku nggak sabar mah, lihat dia mohon-mohon untuk tinggal disini. Aku pingin lihat dia ngemis sama kita mah. Dia terlalu sombong atas apa yang dimilikinya." Ucap Viona yang sedari awal iri melihat keberuntungan Olivia yang mendapat kasih sayang dari orang tua yang lengkap dan kaya. Sedangkan Viona, ia terlahir dari keluarga yang miskin, bahkan dia tidak tahu sama sekali tentang Ayahnya.
Olivia yang mendengar semua apa yang dikatakan oleh ibu dan saudari tirinya itu langsung keluar dari kamarnya.
"Main cantik? Cara lo terlalu rendahan. Lo pikir gue bisa dikalahkan dengan semudah itu? Ups maaf, gue bukan orang yang lemah." ucap Olive menatap tajam Dewi.
" Apa maksudmu menatap mamaku seperti itu!? " ucap Viona tidak terima.
"Oh, lo nggak terima? Kalau lo gak terima, lo bisa keluar dari rumah ini dan ajak ibu ****** lo ini angkat kaki dari rumah gue. Karna disini bukan tempat sampah kaya lo berdua." Ucap Olive menantang. Olive tidak takut sama sekali dengan mereka, bahkan adu mulut seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hari untuknya.
"Lo yang ****** Olive, gue gak akan diam lo hina kek gini, gue akan rebut semua yang lo punya dan bakalan buat hidup lo hancur." Ucap Viona dengan kalimat penuh ancaman. Namun Olive adalah gadis yang tangguh, dia tidak takut dengan ancaman Viona. Karna baginya Viona hanya seorang wanita feminim yang lemah. Dan bisanya cuma bicara omong kosong.
"Basi omongan lo tau gak! Buktiin dong, emangnya lo punya apa buat balas gue? Duit aja lo minta dari Bokap gue. Bahkan duit gue lebih banyak dari pada duit lo berdua. Oh atau jangan-jangan lo berdua jual diri terus dapet duit buat balas gue. Pasti iya kan, kan lo berdua ******!" Ucap Olive yang masih terus menatap sinis Viona dan Dewi.
"Lo bener-bener ya!" Viona ingin menampar Olive, namun terhenti karna suara Ayahnya.
"Viona!!" Ferdi sangat marah melihat Viona yang ingin menampar Olive. Sedangkan Dewi dan Viona terlihat ketakutan akan kemarahan Ferdi.
" Jangan berani-berani kamu layangkan tanganmu pada Olive. Atau aku akan membalasmu berkali lipat." Ucap Ferdi menatap tajam Viona. Meskipun Viona sudah menjadi anak tirinya, Ferdi tetap membedakan kasih sayang antara Olivia dan Viona. Sedangkan Olivia tersenyum dibalik wajahnya yang menunduk.
"Tapi Olive berbicara kurang sopan ke mamah. Aku gak terima mamaku dihina." ucap Viona mencari alasan. Ferdi menatap kearah Dewi dan Olive bergantian.
"Iya pah, tadi Olive ngelawan sama mamah." ucap Dewi mendukung Viona.
"Olive?" Ferdi menatap Olive yang masih menunduk, kemudian Ferdi mengankat dagu putrinya. Ternyata air mata putrinya mengalir dengan derasnya.
"Aku tidak mau tahu Dewi, Aku lebih percaya dengan Olive kali ini. Jika sampai kalian menyakiti Olive, maka aku akan mengusir kalian dari rumah ini." Ucap Ferdi yang mampu membuat Olive tersenyum tipis.
Ternyata rencananya berhasil. Sewaktu di balkon kamar, Olivia sudah melihat mobil Ayahnya di ujunng jalan. Hal itu menjadi kesempatan Olive untuk membalas maklampir dirumahnya.
Dering ponsel Ferdi membuat suasana menjadi cair sedikit. Ferdi mengangkat telponnya dan menjauh dari Dewi dan anak nya. Hal itu dimanfaatkan Olive untuk mengejek Viona dan Dewi dengan menjulurkan lidahnya. Sampai akhirnya Ferdi kembali.
"Olive, Ayah akan balik ke kantor lagi. Kamu baik-baik dirumah. Jangan nangis lagi." ucap Ferdi menyapu lembut kepala Olive.
"Iya yah." cicit Olive dangan sesegukan.
"Dan kalian, jangan ulangi hal ini lagi." ucap Ferdi pada Dewi dan Viona yang direspon anggukan oleh mereka.
Setelah Ferdi pergi, Dewi dan Viona menatap tajam Olivia.
"Apa!? Mata lo berdua pingin gue congkel?" Ucap Olive mengacungkan pisau buah digenggamannya. Viona langsung pergi disusul oleh Dewi.
'Kalian pikir aku mudah dikalahkan. Aku ini cerdik dan pintar. Kalian akan kewalahan menghadapiku.' Batin Olive menyeringai.