Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 119



"Becanda, Soy. Maaf," ucap Risya disertai dengan tertawaan kecil.


"Gak!" Tolak Soya. "Lu gak bener-bener minta maaf sama gue."


Ia berkata sembari membuang pandangan ke arah lain, tapi saat itu juga ia sempat-sempatnya melirik ke arah Risya sesekali. Tak ada reaksi sama sekali dari Risya, gadis itu hanya memasang raut datar saja.


Risya terdengar mendengus. "Terus mau gimana lagi? Lama-lama gue tinggalin juga nih ke kelas."


Langsung saja Soya menoleh dengan cepat dan menahan lengan Risya, takut kalau beneran ditinggal sendirian. Ia benci sepi.


"E-eh jangan dong, Sya! Gue gak mau sendirian di sini."


Wajahnya terlihat memelas, memohon agar Risya tak jadi meninggalkannya. Melihat respon dari Soya membuat Risya merotasikan bola matanya. Lagipula ia hanya bercanda saja, kok. Risya juga lagi malas untuk beranjak dan pergi ke kelasnya.


Biar saja kalau mereka mencari dirinya, toh, kalau dihukum pun ia tak akan mempermasalahkannya.


Risya beranjak dan berjalan ke arah ranjang UKS yang berada tak jauh dari ranjang yang Soya tempati. Ia berpindah ke kasur satunya hanya untuk rebahan di sana. Kalau satu ranjang dengan Soya akan jadi sempit tempatnya, ia ingin merilekskan diri menggunakan tempat yang sedikit luas agar ruang geraknya juga bebas.


Risya terlihat menutupi matanya dengan menggunakan salah satu lengannya. Ia tak tidur dan hanya memejamkannya saja.


Hening. Suasana di dalam ruangan itu seketika senyap, tak ada satu pun suara yang mengiri keheningan di antara mereka. Risya tiduran sedangkan Soya duduk bersila di atas ranjang dan menghadapkan tubuhnya ke arah temannya itu.


"Sya," panggilnya.


"Hm?"


"Elu tidur, kah?" Tanyanya. Tapi kalau Risya masih menyahut sih berarti anak itu belum tidur atau memang ia tidak tidur?


"Gak," sahut Risya masih dengan posisi tubuh yang sama seperti sebelumnya. "Kenapa emang?"


Terjeda. Soya tak langsung menyahuti perkataanya. Ia seolah sedang memikirkan apa yang akan ditanyakannya selanjutnya.


"Sya," panggil Soya untuk kedua kalinya.


"Ya?" Jawab Risya. "Kenapa?"


"Gak apa-apa."


Kenapa sih dengan anak ini? Risya jadi lelah 'kan dan membuang-buang tenaganya saja hanya untuk menjawab panggilan yang tidak penting itu.


Suasananya kembali menjadi hening. Sampai Soya kembali membuka mulutnya dan kembali memanggil Risya.


"Sya."


Tidak ada jawaban. Risya hanya diam tanpa berniat untuk meresponnya. Ia memang sengaja membiarkan Soya biar perempuan itu lekas berbicara dan tak berbasa-basi lagi.


"Sya." Risya masih terlihat tak bergeming hingga membuat Soya kesal sendiri. "Ih, Risya! Katanya tadi lu gak tidur?" Sentaknya.


Risya nampak mengambil helaan nafas dan kemudian berkata, "lu kalau berisik lagi bakal gue tendang beneran lu ke Pluto, mau?"


Soya langsung menyergah dengan cepat "Janganlah!" Katanya. "Sya, dengerin gue dulu coba."


"Iya, kenapa?" Ujar Risya dengan nada yang sedikit malas.


"Emm..." Soya melirikkan matanya ke atas sesaat sembari mengetukkan jempolnya ke dagu.


"Awas aja, ya, lu kalau bilang gak apa-apa lagi!" Ancam Risya.


Soya terlihat menyengir lebar. "Hehe, kali ini beneran, kok," ucapnya.


"Ya udah sih, ngomong aja." Tapi jangan terlalu berharap kalau Risya akan memberikannya jawaban yang memuaskan. Risya lagi malas banyak omong soalnya. Mood-nya sedang tidak baik.


"Menurut lu Relvan itu gimana, Sya?" Tanyanya. Ia terlihat harap-harap cemas menantikan jawaban yang keluar dari mulut Risya.


Risya lantas mengernyit seketika. "Relvan?" Katanya seolah bingung.


Soya nampak menganggukkan kepalanya walau tak ditatap oleh Risya. "Iya, si Relvan. Lu pasti tau kan?"


"Tau sih, tapi gak kenal," sahut Risya enteng.


"Masa iya lu gak kenal?" Soya menatap Risya dengan dahi berkerut.


"Iya, kan belum pernah kenalan," ujar Risya. Memang benar, mereka saja belum pernah berkenalan secara resmi.


"Mau gue kenalin gak?" Tawar Soya sambil menahan tawa.


"Ogah!" Sahutnya cepat.


Soya lantas tergelak seketika. Padahal kan Relvan itu tampan, aneh-aneh saja ada perempuan yang tak mau berkenalan dengannya.


"Emang kenapa, Sya?"


"Kenapa apaan?" Tanya Risya.


Tentang Relvan tadi, ya? Risya kemudian berpikir sejenak, memikirkan jawaban apa yang cocok untuk lelaki itu. Ia masih tetap memejamkan mata dan dengan posisi yang tidak berubah juga.


"Relvan itu bego."


Soya hendak tersedak ketika mendengar jawabannya. Matanya langsung membola tapi di dalam hati ia juga membenarkan perkataan Risya kalau Relvan itu memang bego.


"Tapi masih bego-an elu, sih," Sambung Risya dan membuat Soya langsung mendelik ke arahnya.


"Kok gue juga?" Protes Soya tak terima dengan perkataanya. Ia kembali tak mendapat jawaban, dan kemudian menghela nafas panjang.


"Kalau Nina gimana?" Padahal Soya sangat malas saat menyebut namanya, tapi entah kenapa ia jadi ingin bertanya seperti itu kepada Risya.


"Gak tau," sahut Risya kemudian. "Tapi, Soy, lu jangan deket-deket sama dia dan juga jaga diri lu baik-baik ke depannya."


"Kenapa? Nina bahaya banget, ya?"


Risya melirik Soya dari ujung matanya. "Kenapa lu bisa bilang kayak gitu?"


Soya menggeleng kecil. "Gak, cuma gue tuh kayak ngerasa ada sesuatu yang gak beres sama otaknya, ditambah juga lu bilang kayak gitu tadi."


Risya menghembuskan nafasnya ke udara beberapa kali. "Soy." Soya hanya menatap Risya saja dan menunggu perkataan selanjutnya.


"Lu masih berharap sama Relvan?"


"Gak tau, tapi sungguh.. gue udah capek banget, Sya, sama dia." Suara Soya terdengar lirih namun masih mampu untuk bisa didengar Risya yang rebahan di seberangnya.


"Ya, itu bakal jadi hal yang lebih baik buat lu ke depannya," gumam Risya dengan suara pelan.


**


KRINGG!!!


Jam pembelajaran hari ini sudah berakhir sampai di sini. Soya sudah kembali ke kelasnya setelah jam istirahat kedua dan begitu pun dengan Risya.


Ting!


Soya menilik ke arah ponselnya yang tergeletak di atas meja. Nomor tak dikenal nampak mengiriminya sebuah pesan.


"Siapa, Soy?" Soya menatap ke arah Laura yang tengah membereskan beberapa alat tulis di atas meja.


"Gak tau," sahutnya. "Orang iseng aja mungkin."


Laura mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kalau emang ngeganggu, itu mending diblokir aja, Soy," ujarnya sambil beranjak dari tempat duduknya.


Soya terlihat mengacungkan jempolnya dan ikut beranjak juga. Mereka kemudian berjalan bersamaan keluar kelas.


Sembari berjalan, Soya membuka ponselnya dan membuka pesan tadi lalu membaca isinya. Pesannya bertuliskan seperti menyuruhnya untuk melewati sebuah jalan yang diberitahukannya barusan.


Soya lantas mengedip dengan pelan. Kenapa dia jadi menyuruhnya untuk melewati jalan ini? Kalau ia melewati jalan itu maka ia akan berputar arah dan akan sedikit lebih lambat sampai ke rumahnya. Soya jadi merasa was-was, sdikit takut kalau-kalau itu adalah nomor para penjahat.


Ting!


Sebuah pesan kembali masuk dan dengan cepat pula Soya langsung meniliknya. pesan itu kembali bertulisan "Bukan penjahat."


Gadis itu seketika terkesiap saat membacanya. Ia menelan ludahnya sembari mengedarkan pandangan ke sekitar. Menilik dengan lekat, melihat apakah ada orang di sekitar yang nampak mengikuti mereka?


"Lagi ngeliatin apaan, Soy?" Laura ikut menatap sekitar dengan seksama.


"Ha? E.. gue gak liatin apa-apa, kok," elaknya seraya tersenyum ke arah Laura.


Laura hanya mengangguk dan diam tanpa suara, jelas-jelas Soya seperti tengah mencari sesuatu di sekitar mereka. Wajahnya juga nampak tegang, entah karena apa. Tapi Soya tak mau bilang, ya? Ya sudahlah, tidak apa.


Mereka menuju ke arah parkiran. Sebelum Samapi ke sana, Soya bertanya pada Laura, "Lau, gak mau bareng gue?"


Laura menggeleng kecil. "Gak, Soy, supir gue udah nungguin noh di depan," katanya seraya menunjuk ke arah gerbang sekolah.


"Oh, oke, lu hati-hati," ujar Soya.


"Elu yang harusnya hati-hati, Soy," ucap Laura sambil mendengus. "Kalau gitu gue duluan, ye. Papayy!!" Ia kemudian melambaikan tangannya ke arah Soya dan pergi berlalu dari hadapan gadis itu.


...•...


...•...


...•...


...•...


...Bersambung...