
Pukul 20.00 wib
"Mah, aku cocok gak pakai ini." Tanya Viona sambil menunjukkan penampilannya pada Dewi.
"Cocok banget sayang. Kamu cantik banget." Ucap Dewi yang bangga dengan penampilan Viona.
Ponsel Viona berdering..
Daren J
Lo udah siap belum?
Vionaaa
Udah nih..
Lo udah dimana?
Daren J
Gue udah didepan rumah lo, cepat turun.
"Mah, Rafi udah didepan. Aku pergi dulu ya mah.. dadah mamah" ucap Viona yang berlalu menghampiri Daren.
Sesampainya dimobil Rafi, Viona langsung masuk.
"Lo cantik banget malam ini Vie. Gue bisa suka sama lo" ucap Rafi.
Diam-diam Rafi menatap tubuh Viona. Malam ini Viona memakai baju panjang bewarna dongker transparan dan celana hotpans bewarna putih dengan rambut yang dicepol asal membuat penampilannya sederhana dan sexy.
Rafi melajukan mobilnya.. sudah satu jam mereka belum tiba ditempat tujuan membuat Viona bosan.
"Lo mau bawa gue kemana sih, kok lama banget sampe nya?" Tanya Viona.
"Kejutan sayang." Ucap Rafi mengacak rambut Viona. Mendapat perlakuan seperti itu membuat Viona tersenyum malu-malu.
Beberapa menit kemudian mereka sampai disalah satu club elit.
"Lo bawa gue ke club?" Tanya Viona heran.
"Iya sayang, ini tempat kencan terbaik." Ucap Rafi yang lagi-lagi bisa meluluhkan Viona.
Rafi enggandeng tangan Viona dan masuk kedalam club. Rafi mengajak Viona untuk duduk disebuah sofa. Tak lama kemudian seseorang datang memberikan minuman untuk Rafi dan Viona.
"Hey! Lama lo gak main kesini." Ucap seorang laki-laki yang menghampiri Rafi. Viona terbelalak kaget melihat Daren juga ada diclub ini.
"Iya bro, gue lagi ada urusan." Jawab Rafi santai. Kemudian pandangan laki-laki itu teralih menatap Viona.
"Ini cewek lo Raf?" Tanya laki-laki itu.
"Iyaa. Ini cewek guee." Jawab Rafi sambil mencolek dagu Viona. Hal itu membuat Viona mendelik.
"Hai, gue Daren " Ucap Daren sambil menyodorkan tangannya kearah Viona.
"Gue Viona Angel. Lo bisa panggil gue Viona." Ucap Viona. Setelah itu Daren pergi meninggalkan Rafi dan Viona.
"Lo gak minum, nih." Ucap Rafi menyodorkan segelas wine pada Viona. Viona langsung meneguk gelas tersebut hingga habis. Rafi yang melihatnya tersenyum puas karena rencananya berhasil. Tak lama kemudian Viona merasakan kepanasan.
"Rafi, kok panas banget ya?" Ucap Viona mengibas-ngibaskan tangannya.
"Ah masa sih, gue aja gak kepanasan." Ucap Rafi berbisik ditelinga Viona. Tanpa sadar Viona mendesah akibat tangan Rafi yang mengelus-elus paha putihnya.
"Ahhh.... Rafiih shhh.... ahh" Desah Viona yang membuat beberapa orang menatap kearahnya.
Daren menatap Viona dari jarak yang cukup Jauh
Rafi membawa Viona kelantai atas dimana ruangannya berada. Sesampainya diruangan Rafi segera mengunci pintu dan melempar Viona diatar ranjang king size yang ada diruangannya. Viona yang sudah terpengaruh dengan obat rangsang memohon agar Rafi menyentuhnya. Tangan daren mulai masuk kedalam baju Viona dan mulai membuka satu persatu kancing baju milik Viona. Kemudian Rafi melepaskan kaitan bra Viona dan menampilkan dua gundukan yang menggugah selera untuk disentuh...
"Darenh ahh... Darenhh" ucap Viona yang terus mendesah. Rafi terkejut mendengar nama Daren yang diucapkan Viona. Padahal jelas-jelas yang menyentuhnya saat ini adalah Rafi.
Rafi mulai mengecup payudara milik Viona. Viona yang melihat wajah Rafi berusaha mendorong Rafi sekuat tenaga. Namun tenaga Rafi yang lebih kuat daripada Viona membuat Viona menyerah.
Tak lama terdengar suara pintu yang dibuka membuat Rafi menoleh dan..
BUGhhh.. Rafi mendapat pukulan beberapa kali membuatnya jatuh tak berdaya di lantai.
"Bawa dia pergi dari sini!" Perintah orang yang menolong Viona pada anak buahnya. Kemudian ia menarik selimut menutupi tubuh Viona yang setengah telanjang.
"Lo gakpapa kan?" Tanya nya. Viona membuka matanya yang sedati tadi terpejam.
"Da.. Daren?" Viona terkejut, ternyata Daren lah yang menolongnya dari si brengsek Rafi.
"Gu.... gue takut hiks... gue takut.." ucap Viona dan menangis sesegukan.
'Gue akan buat lo menderita Dewi' batin Daren
🐨
Olive bangun dari tidurnya. Semalam Olive tidur dikamar Aiden. Ia merawat Aiden semalaman, tapi sampai sekarang Aiden enggan membuka matanya. Olive berjalan menghampiri Aiden.
"Lo kapan bangunnya, lo gak asik ah tidur mulu. Gue kangen elo." Ucap Olive pada Aiden yang masih belum siuman.
Entah setan apa yang merasuki Olive sehingga Olive berani mendekatkan bibirnya ke telinga Aiden.
"Gue kangen elo, cepat sadar dong.. gue kesepian" bisik Olive ditelinga Aiden. Tapi hal itu tidak membuat Aiden sadar. Olive beranjak dari tempatnya keluar dari kamar Aiden. Olive memasuki kamar yang berada disebelah kamar Aiden. Olive berniat untuk membersihkan dirinya, semalam Olive tidak mandi karena ingin menjaga Aiden. Gimana pun dirinyalah yang bertanggung jawab atas keadaan Aiden saat ini.
🐨
Viona tersadar dari tidurnya, ia merasakan pusing yang menyerang dikepalanya. Kemudia ia melihat sekeliling dan menyadari kalau ruangan ini bukanlah kamarnya.
"Guee dimanaa" ucap Viona pelan. Tiba-tiba pintu kamar terbuka menampilkan sosok lelaki yang dikenalnya.
"Daren? Lo ngapain disini?" Tanya Viona yang kaget melihat kemunculan Daren.
"Gue? Ini kamar gue lah." Ucap Daren santai. Semalam Daren membawa Viona ke apartemennya, dia takut kalau Viona akan trauma melihat ruangan yang menjadi saksi atas kebejatan Rafi. Kemudian Viona melihat keadaanya yang tidak mengenakan satu pakaian pun dibalik selimut nya.
"Ahh! Kemana baju gue!" Teriak Viona..
"Ssssttt..." Daren mendesis mendengar teriakan Viona. Kemudian Daren berjalan gontai mengambil kamera yang ada di atas lemari.
"Ini nih, gue tunjukin sama lo" ucap Daren menunjukkan video, bukti persetubuhan yang dilakukan Viona dan Daren semalam.
Flashback on
Daren menggedong Viona menuju parkiran dimana mobilnya berada. Daren melajukan mobilnya menuju apartemennya. Daren takut Viona trauma karena mengingat Rafi yang hampir menyetubuhinya, maka Daren memutuskan membawa Viona ke apartemennya.
Diapartemen, Daren meletakkan Viona diatas ranjangnya. Melihat baju Viona yang transparan membuat miliknya menegang.
Kemudian Daren beranjak pergi dari ruangan itu, ia takut akan terjadi hal yang tidak diinginkan. Namun langkah Daren terhenti, dia melihat pergelangan tangannya yang dipegang oleh Viona.
"Darenhh... panashh.. hhh" Daren beralih menatap Viona yang memelas, melihat Viona yang mendesah membuat nafsunya meningkat.
'Shit!.. seberapa banyak obat perangsang yang dimasukkan si brengsek itu sampai efeknya masih ada sampai sekarang.' batin Daren berusaha menahan gairahnya.
Tiba-tiba Viona menarik Daren sehingga Daren menindih tubuhnya.
Flashback off
Viona tak sanggup mengingat kejadian dimana dia dan Daren melakukannya.
"Lo apain gue! Lo perkosa gue Daren brengsek!!" Teriak Viona memukul mukul Daren.
"Heh! Semua orang juga bisa lihat kalau lo yang minta gue buat nyetubuhin elo, bahkan divideo itu elo mohon-mohon sama gue." Ucap Daren yang membuat Viona mengacak rambutnya tak percaya.
"Gue bakal sebarin video ini..." ucapan Daren terputus.
"JANGAN!! Jangan sebarin gue mohon, gue akan lakuin apa yang lo mau." Ucap Viona meyakinkan, membuat Daren melanhutkan kalimatnya.
"Gue gak bakaln sebarin video ini, asalkan elo nurut sama gue selamanya." Ucap Daren menekankan kata terakhir dalam kalimatnya.
"O.. okehh.." ucap Viona pasrah. Hal itu membuat Daren menyeringai..
🐨
'Sudah dua hari lo belum bangun.' Batin Olive saat melihat Aiden.
"Hai Aiden, lo kapan bangunnya? Gue kangen sama lo." Ucap Olive yang berusaha mengajak Aiden berbicara.
Sebenarnya situasi ini bisa dimanfaatkan Olive untuk kabur dari mansion ini. Mengingat semua pengawal sibuk mengurus sana-sini membuatnya sangat mudah untuk kabur.
Tapi Olive tidak mau melakukannya. Entah mengapa, berada dekat dengan Aiden membuatnya merasa nyaman dan aman. Olive merasa kalau Aiden akan melindunginya sepenuh hati.
"Aiden, lo tau nggak. Dua hari ini gue kesepian banget. Orang tua gue udah ninggalin gue sendirian. Sahabat gue pergi keluar negri ninggalin gue jugak. Ibu dan saudara tiri gue malah ngejual gue sama lo. Masa sekarang lo ninggalin gue. Sebegitu sialnya ya gue, gue sampe ditinggalin sama orang-orang yang gue sayang." Ucap Olive yang tak ditanggapi oleh Aiden.
"Alah.. udahlah. Elo mah omong kosong. Kata Roby lo suka sama gue, lo cinta sama gue. Tapi lo gak bangun saat gue butuh lo. Elo emang bulshit." Ucap Olive yang kemufian beranjak pergi dari sisi Aiden. Tiba tiba tangan Aiden terangkat menghentikan Olive.
"Liv, kamu jangan.. pergi. " ucap Aiden terbata-bata.
"I.. iya gue gak pergi kok." Ucap Olive senang melihat Aiden udah sadar.
"Lo mau apa biar gue ambilin." Tanya Olive menggenggam tangan Aiden. Aiden menggeleng menjawab pertanyaan Olive.
'Melihat kamu disini aja udah buat aku senang Liv. Apa gue harus sakit dulu, biar kamu perhatian samaku' Batin Aiden.