
Di sebuah kamar yang luas dengan interior ala Eropa, terdapat seorang pemuda tengah berdiri di depan cermin di dalam kamar mandi nya.
Ia terdiam seolah tengah mengingat sesuatu hal yang cukup mengganggu pikiran nya. Cukup lama ia berdiam diri disana seraya mengamati dirinya dalam pantulan cermin.
Tak tahu apa yang ia pikirkan, tapi dari mata nya nampak terlihat sendu. Hati nya seolah tengah berkabung dengan kesedihan yang tersirat di dalam nya namun seperti tak berani ia tunjukan pada dunia.
Ia berbalik dan keluar dari kamar mandi. Mengeringkan rambut lalu berganti pakaian. Pemuda itu duduk di pinggir tempat tidur nya sambil mengotak - atik ponsel.
Dihubungi nya nomor seseorang dari kontak yang ada di ponsel nya.
Tuuuutt...tuuuuttt...
Suara panggilan sebelum panggilan yang sebenarnya tersambung. Ia mendekatkan ponsel ke telinga, menunggu sahutan seseorang dari seberang sana.
**
Ditempat lain, di sebuah ruang keluarga terdapat seorang pemuda tengah berbincang dengan dua wanita dewasa. Ia terus menolak karena dipaksa menjaga keponakan nya yang berumur 2,6 tahun.
"Jagain sebentar doang, Alby. Cuma di komplek sebelah acara nya, nggak bakal lama." Ujar wanita yang berumur 27 tahun, ia adalah kakak sepupu Alby dari pihak Papa.
Seorang wanita yang lebih tua beberapa tahun dari kakak sepupu Alby itu mengambil alih anak perempuan yang berada di gendongan wanita 27 tahun itu. Ia menyuruh putra nya untuk menggendong batita itu.
"Nih gendong Cicha, Al. Dia gak akan rewel, kok." Ujar wanita itu seolah tahu apa di khawatir kan putra nya. Wanita ini ialah Mama Alby.
Alby menghela nafas panjang dan sedikit terpaksa menyambut si batita. "Nggak akan rewel, kan? Entar Al malah bingung sendiri, mah." Keluh nya pada sang Mama.
Ibu dari si batita mendekat ke arah anak nya itu. Mengusap kepala si batita pelan membuat anak tersebut tertawa riang. "Kamu sama uncle dulu ya, sayang. Bunda keluar sebentar. Kamu jangan rewel." Si anak tertawa saja karena tak bisa menyahuti perkataan Bunda nya.
"Anak pinter." Ujar Ibu si batita lagi. Setelah itu dua wanita tadi keluar dari rumah dan meninggalkan Alby bersama si batita tadi.
Setelah punggung kedua orang itu menghilang, Alby menghela nafas panjang. Ia menunduk menatap anak batita yang tertawa - tawa dalam gendongan nya.
"Jangan rewel lu, ya. Kalau rewel gue jual lu ke pasar gelap."
Mendengar ancaman itu, si batita hendak menangis seolah mengerti ucapan paman nya. Alby sendiri gelagapan dan buru-buru menenangkan nya.
"Iya - iya, enggak deh. Gak jadi gue jual. Cicha sayang, jangan nangis ya." Ucap nya. Jujur saja, ia juga tidak mengerti cara mengasuh anak.
"Utututu... Cicha Cicha di dinding-. Eh, kok tambah nangis?" Alby tambah bingung ketika keponakan nya malah menangis kencang. Ia timang timang agar berhenti, namun nyata nya tak berhasil.
"Kita telepon uncle Rhae aja gimana?" Tawar Alby pada akhirnya dan seketika tangis si bayi berhenti.
Selain dekat dengan Alby, Cicha juga dekat dengan Rhaegar. Malahan lebih lengket dengan Rhaegar ketimbang dirinya.
"Giliran denger nama Rhae aja lu berhenti nangis. Pilih kasih nih bayi!" Gerutu nya.
Baru saja ingin menekan tombol panggil, tiba-tiba ponsel nya bergetar. Ada panggilan masuk.
"Nah, baru juga diomongin udah nongol nih orang. Kekuatan tangis Cicha nih pasti." Ujar nya membuat si bayi mulai tertawa meski sesekali ia juga sesegukan.
"Oi, kenapa Rhae?" Jawab nya ketika panggilan itu tersambung.
Si penelpon tak langsung menyahut, dan nampak menarik nafas dulu.
[Ikut gak?] Tanya nya membuat Alby sedikit kebingungan.
"Ha? Kemana?"
Terdengar decakkan lidah dari seberang sana, seperti nya ia jengah mendengar pertanyaan Alby.
[Lu gak baca chat gue, apa?]
Alby terdiam sejenak sebelum suara nya kembali terdengar.
"Oh, iya - iya. Aduh.. tapi gak bisa Rhae. Gue lagi jagain si Cicha nih." Ujar nya setelah selesai membaca pesan tersebut.
[Lah emak nya kemana emang?] Tanya Rhaegar.
"Emak nya kondangan sama emak gue." Sahut Alby sambil sesekali menepuk melirik si bayi.
[Bapak nya?]
"Bapak nya pergi tuh ada urusan sama Bapak gue. Lu kesini Rhae, Cicha nangis nih nyariin elu." Ucap Alby, padahal Cicha sendiri tak mencari Rhaegar juga tapi ini salah satu cara agar anak itu tak menangis lagi.
[Ck. Gue ke rumah sakit dulu deh, entar baru ke rumah elu.]
"Salam buat-"
Kini giliran Alby yang berdecak ketika sambungan telepon mereka terputus karena Rhaegar mematikan nya sepihak. Ia tak sempat menyelesaikan perkataan nya.
Alby memandangi Cicha yang sekarang sudah anteng dipangkuan nya. "Nah uncle Rhae kata nya mau kesini. Kamu nggak boleh nangis lagi, ya. Kalau nangis beneran uncle jual." Seketika tangis Cicha malah pecah.
"E-eh, kok malah nangis lagi?" Tanya nya kebingungan.
***
Rhaegar turun dari kamar nya, menggunakan lift karena ia malas lewat tangga.
"Mau kemana kamu?"
Ketika sudah keluar dari lift beberapa langkah, ia berhenti kala suara sang Mommy terdengar di telinga nya.
Ia melirik wanita itu sesaat sebelum melanjutkan langkah nya." Ke rumah sakit." Ujar nya lalu kembali melangkah.
"Ngapain kamu ke rumah sakit?" Tanya Mommy lagi, seolah ingin menahan Rhaegar pergi.
Rhaegar berdecak pelan, ia berbalik menatap wanita itu datar. "Urusan dengan Anda apa? Saya mau ke rumah sakit dan kemana saja itu urusan saya, bukan Anda." Tukas nya membuat sang Mommy nampak geram.
"Kamu yang sopan sama Mommy kamu!!"
Rhaegar ingin menjawab namun tak jadi karena Papa nya lebih dulu menyahut.
"Ada apa ini ribut - ribut?" Tanya nya seraya mendekat ke arah mereka berdua.
Rhaegar menatap wanita itu dengan jengah, mengadu saja kerjaan nya padahal dia sendiri yang sudah menunda perjalanan Rhae.
"Rhae." Tegur sang Papa membuat Rhaegar mengacak rambut nya karena kesal.
"Aku mau ke rumah sakit, Pa." Ujar Rhaegar, ia harus sedikit cepat takut kalau jam berkunjung telah habis.
"Siapa yang sakit?" Tanya Papa Rhae yang tengah mengerutkan kening.
"Temen." Ujar Rhaegar singkat.
"Temen kam-"
"Udah deh, Pa. Entar Rhae jelasin, Rhae buru - buru soalnya."
Tanpa banyak cingcong lagi, Rhaegar berlalu dari hadapan Papa dan Mommy nya. Dan lekas pergi ke rumah sakit.
Motor sport nya berhenti di lobby rumah sakit. Ia memarkirkan kendaraan beroda dua itu lalu cepat - cepat masuk ke dalam.
Ia berhenti di resepsionis dan bertanya tentang ruangan Risya. Setelah beberapa detik si resepsionis pun memberi tahu dimana ruangan pasien. Rhaegar berterima kasih dan bergegas menuju ruangan itu.
Ternyata ada beberapa penjaga yang berada di luar pintu ruangan itu. Tanpa rasa takut, ia berjalan santai ke sana.
Ketika sudah dekat, ia di cegat mereka dan disuruh pulang karena tak ada sesiapapun yang boleh masuk ke dalam sana kecuali keluarga pasien dan dokter serta perawat yang bersangkutan.
"Rhaegar Pahlevi."
Pengawal Daddy Vino terdiam seraya melirik satu sama lain. Ada sedikit rasa ragu ketika mendengar nama itu, mereka nampak berpikir sejenak.
Rhaegar berdecak pelan, ia merogoh dompet nya dan memberikan kartu nama ke hadapan mereka.
Setelah mereka mastikan dengan benar, akhirnya Rhaegar dipersilahkan masuk dengan jaminan kartu nama tadi.
Rhaegar masuk ke ruangan VVIP yang terlihat mewah. Manik nya langsung tertuju pada seorang gadis yang terbaring di atas bed hospital dengan tangan yang ditusuk infus.
Ia lihat ada seorang pemuda yang duduk di samping kasur pasien. Langkah kaki nya membuat laki-laki itu menoleh dan menatap nya dengan datar.
"Siapa yang bolehin lu masuk?" Tanya nya.
Rhaegar tak menyahut, ia malah semakin mendekat ke arah laki - laki itu. Di tatap nya Risya dengan lekat sebelum mengalihkan pandangan ke arah Sigra.
"Dia belum sadar?" Tanya Rhae. Sigra hanya diam seraya memandang adiknya yang tertidur nyenyak.
"Gra." Panggil Rhaegar, tapi Sigra masih diam saja.
Sigra memilih tak mengatakan apa - apa ketimbang mengatakan sepatah kata yang membuat dada nya terasa sesak.
Ia mengusap surai cokelat Risya dengan lembut sambil tersenyum tipis namun mata nya tak bisa berbohong kalau ada sebuah kesedihan yang berusaha ia tutupi.
"Kata dokter, Risya kenapa?" Tanya Rhaegar berusaha mencari jawaban dari mulut Sigra. Namun nampaknya lelaki itu tak mau membuka mulut seolah orang seperti dia juga tak boleh tahu apa yang terjadi pada gadis itu.
Rhaegar akhirnya menghela nafas panjang dan memilih diam juga. Sampai mulut nya berbusa pun seperti nya Sigra tak mau juga menjawab pertanyaan nya.
Ia mengamati lekat-lekat gadis yang tengah tertidur itu. Wajah nya terlihat pucat namun tak memudarkan kecantikan nya, wajah nya juga masih imut dan pipi nya masih bulat.
"Risya cantik ya, Rhae?"
Rhaegar seketika tersadar dari lamunan nya.
Ia melirik Sigra yang tengah memperhatikan Risya juga.
"Hm." Sahut Rhae.
"Tapi kenapa dia belum bangun juga?"
Rhaegar terdiam kaku mendengar pertanyaan Sigra. Jadi Risya belum sadar juga? Tak tahu kenapa tapi perasaan cemas seketika memenuhi benak nya.
"Apa dia bahagia tidur nyenyak kayak gitu? Dia gak mau liat gue ya? Gak mau liat Mommy sama Daddy yang khawatir sama dia? Dia-"
Plak!
Rhaegar menepuk jidat Sigra hingga membuat lelaki itu berhenti berbicara. "Lu kenapa, Gra?! Omongan lu dari tadi ngaco tau gak?!" Sarkas nya.
Air muka Sigra langsung berubah dingin, nampak tak bersahabat sama sekali. "Ngaco lu bilang? Lu tau apa?!! Hampir 10 jam gue nunggu, dia masih juga belum sadar!! Lu tau gak itu gimana rasanya?!!"
Tadi ia hampir mengamuk di rumah sakit jika saja Daddy Vino tak menghentikan nya. Mommy nya juga sempat pingsan karena cemas melihat Risya yang belum juga sadarkan diri.
"Ya lu bisa tenang gak sih?! Dia juga butuh waktu buat rehat, Gra!" Sergah Rhaegar walau didalam hati juga tidak tenang.
"Gimana gue bisa tenang, Rhae?!! Coba lu kasih tau gue gimana caranya!!"
Rhaegar seketika terdiam membuat Sigra mengacak rambut nya frustasi.
"Arghh!! Bangsat!" Umpat nya pelan sambil mengatur nafas nya yang tak beraturan.
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...Bersambung...