The New Duchess

The New Duchess
Bab 94 : Putra Mahkota



“ oh, apa dia juga?”


sambil memberikan isyarat tangannya di dekat telinga bermaksudkan bila apa


mungkin lelaki ini menderita tuli juga.


“ iya, yang mulia”


akhirnya Sea tau kenapa lelaki ini tidak langsung berdiri saat dia datang


menyapa. Semua alasan yang disampaikan Hardwin tampak sesuai dan tidak ada yang


mencurigakan.


“ kasihan sekali” ucap


Sea sambil terus meneliti penampilan lelaki bertopi yang seperti sedang


menyembunyikan wajahnya.


Hardwin mengangguk


sebagai jawaban, lelaki itu tidak mau membuat Sea berlama-lama di mejanya


dikhawatirkan bisa membuat identitas Duchess terbongkar.


“ yah silahkan


dilanjutkan, “ Sea berjalan pergi meninggalkan kedai. Hardwin dan Ai mulai


bernafas lega. Akhirnya penghalang mereka pergi juga.


“ bagaimana bisa dia


berada disini?” Ai mengurutkan keningnya, kehadiran Sea disini seakan


menjelaskan sesuatu. Tidak mungkin lelaki itu berkeliaran tanpa tujuan.


“ aku juga tak mengerti,


kemungkinan dia sedang menuju ibukota” pasalnya Hardwin mengetahui jika di


kerajaan kemarin lelaki itu tidak terlihat. Raja juga tidak memanggilnya saat


Grace dan Mily memberikan kesaksian.


“ kau yakin?” Ai masih


merasa ada sesuatu yang janggal dengan putra mahkota.


“ kemarin saat di


kerajaan raja menampilkan gelagat yang aneh, seakan memberikan kesan bahwa


putra mahkota tidak berada di tempat”Hardwin menjelaskan alasan dari


jawabannya. Ai hanya mengangguk singkat,kemudian beralih mendekati meja makan.


“ ah ya kau berhutang


penjelasan padaku, kenapa kalian bisa berada di kerajaan” Ai kembali duduk dan


menyelesaikan makan malamnya.


“ dan kau berhutang


padaku dimana kau bersembunyi selama ini” Hardwin tidak mau kalah. Dia juga


akan meminta penjelasan.


Setelah menyelesaikan


makan malamnya, mereka berdua keluar dari kedai menuju kuda-kuda mereka. mereka


sedikit dikagetkan dengan beberapa orang lelaki yang mengitari kuda milik


mereka.


“ siapa mereka?” bisik Ai


melihat perawakan orang-orang yang terlihat garang.


“ tenang saja” jawab


Hardwin yang juga sedang menenangkan dirinya.


Mereka berjalan semakin


mendekati kuda dan secara otomatis mendekati kumpulan orang-orang garang.


Kemungkinan mereka adalah para pemalak atau preman kota yang biasanya beraksi


saat malam seperti ini.


“ minggir!” ucap Hardwin


meninggi. Lelaki itu sudah akan menarik pistolnya dari pinggangnya, karena beberapa


dari mereka mencoba menghalangi jalan.


“ kita bertemu lagi” ucap


seseorang dari arah belakang. Membuat Ai dan Hadwin segera membalikkan badan.


Mereka begitu kaget


dengan seseorang itu, dialah Sea. Ternyata lelaki masih belum pergi. Dengan di


temani sekitar 4 orang lelaki, Sea mengurung pergerakan Ai dan Hardwin.


“ aku sudah mengira ada


yang salah dengan lelaki bisu itu” Sea mendekati Ai, dan secara tiba-tiba topi


yang Ai kenakan ditarik jatuh dari kepalanya.


“ Duchess Wellington, “


ucap Sea yang juga sedikit kaget, dia tidak mengira bahwa lelaki itu ternyata


adalah wanita cantik incaraanya.


Hardwin langsung dengan


sigap melindungi Ai dengan berdiri di depan wanita itu, menjadi taneng agar Sea


tidak mudah menyakiti Duchess.


“ menjauh dari kami”


desis Hardwin penuh penekanan. Lelaki ini tidak akan takut berhadapan dengan


siapapun yang mencoba menyakiti Ai.


“ hahahaha, tenang. Aku


tidak akan memakan kalian” Sea masih sempat bercanda. Anak buahnya masih belum


kembali jadi dia harus mengulur waktu selama mungkin. Jika gegabah sedikit saja


dia pasti kehilangan momen untuk mendapatkan  Duchess.


“ pergi” ancam Hardwin.


hadapannya. Membuat Sea segera ingin memberi pelajaran pada Hardwin.


“ kau hanya anak kemarin


sore, bukan tandinganku” Sea memberika kode kepad salah satu anak buahnya untuk


memberikan pelajaran.


Brak, cah, dor.


Dengan cepat Hardwin


melumpukan lawannya, kini tersisa 3 orang. Sea lupa jika lelaki di hadapannya


ini adalah anak pensiunan tentara dan terbiasa hidup dalam lingkungan senjata,


dia melupakan hal penting.


“jangan mengusik kami” Ai


dan Hardwin berjalan mundur menuju kudanya. Sedangkan Sea dan anak buahnya


terdiam mulai gentar.


“ apa kau tak ingin


mengetahui kabar suamimu, Duchess?” Sea memancing Ai agar wanita itu tidak


cepat pergi. Sea akan mempermainkan emosi dan simpati Ai untuk bisa


menjebaknya.


Mendengar perkataan putra


mahkota Ai jelas tertarik dan menghentikan langkahnya.


“ apa yang kau lakukan


padanya?” balas Ai, dia sudah berhasil memancing wanita itu.


“ Ai jangan kau hiraukan,”


Hardwin menarik tangan Ai agar segera kembali ke kuda, mereka tidak memiliki


banyak kesempatan untuk melarikan diri.


“ coba kau fikirkan? “


Sea memotong ucapan Hardwin, lelaki itu tidak akan berhenti mempermainkan


simpati Ai sampai di bisa dengan mudah mendapatkan wanita itu.


“ Ai, ayo pergi” tubuh Ai


rasanya kaku, meski ditarik oleh Hardwin namun Ai tetap tidak goyah.


“ aku kasih tau padamu,


lelaki itu ada di tanganku. Asal kau mau menukar dirimu dengan dirinya, aku akan


melepaskannya hidup-hidup” Sea terus membual dan berbohong, sedikit demisedikit


langkahnya terus mendekati Ai dan Hardwin. Hardwin yang merasa bahwa posisi


mereka semakin terjepit terus saja menyadarkan Ai. sayangnya wanita itu lebih


peduli dengan perkataan Sea, jika benar begitu bukankah inilah tujuan


kepergiannya.


“ Ai, dia tidak mungkin


berkata benar” meski Hardwin tidak mengetahui bagaimana kebenarannya, lelaki itu


tetap tidak menyetujui kesepakatan yang Sea katakan. Ada atau tidaknya Duke di


tangannya, Hardwin tidak mau Ai menjadi alat tukarnya. Wanita itu meski dengan


nyawanya sendiri Hardwin akan melindunginya.


Perkataan Hardwin


ternyata sedikit menyadarkan Ai. wanita itu jelas tau bahwa Sea tidak mungkin


dengan mudahnya mengatakan kebenaran. Jika Axton berada di tangannya maka


seharusnya lelaki itu takut dengan kedatangannya yang mungkin saja berusaha


merebut Duke kembali.


Tak ingin jatuh dalam


jebakan putra mahkota, akhirnya Ai kembali berjalan mendekati kuda sesuai


dengan intruksi dari Hardwin. Sea yang mengetahui bahwa jebakannya tidak


berhasil menyuruh anak buahnya untuk melakukaan sesuatu agar wanita ini tidak


bisa pergi.


Hap, mereka berdua


menaiki kuda, bersamaan dengan salah seorang berniat mencelaki Ai dengan


mencoba melumpukan kudanya.


Dor..aakh


Mereka tidak mengira jika


wanita itu juga memiliki senjata dan kemampuan menembak. Satu tangan anak buah


Sea harus terkena timah panas dari Ai. begitu formasi Sea kacau, Hardwin dan Ai


segera memacu kudanya meninggalkan kota.


Sea kesal dan marah, dia


melampiaskan kemarahanya dengan menendang anak buahnya yang gagal.


“ sial!” ucap Sea, dia


sudah lengah dan kalah strategi. Jika bukan karena separuh anak buahnya yang


pergi dia pasti sudah menagkap Ai dan membawanya bersamanya. Sayang sekali


kesempatan emas ini hilang begitu saja.


Cah,, cah


Ai dan Hardwin memacu


kudanya meninggalkan kota, mereka bergabung kembali ke pasukan. Sea tidak


mungkin berani mengejar atau dia akan berhadapan dengan pasukan milik Hardwin


beserta surat tugas milik raja. Mau bagaimanapun Hardwin menang dalam situasi


ini.