
“ oh, apa dia juga?”
sambil memberikan isyarat tangannya di dekat telinga bermaksudkan bila apa
mungkin lelaki ini menderita tuli juga.
“ iya, yang mulia”
akhirnya Sea tau kenapa lelaki ini tidak langsung berdiri saat dia datang
menyapa. Semua alasan yang disampaikan Hardwin tampak sesuai dan tidak ada yang
mencurigakan.
“ kasihan sekali” ucap
Sea sambil terus meneliti penampilan lelaki bertopi yang seperti sedang
menyembunyikan wajahnya.
Hardwin mengangguk
sebagai jawaban, lelaki itu tidak mau membuat Sea berlama-lama di mejanya
dikhawatirkan bisa membuat identitas Duchess terbongkar.
“ yah silahkan
dilanjutkan, “ Sea berjalan pergi meninggalkan kedai. Hardwin dan Ai mulai
bernafas lega. Akhirnya penghalang mereka pergi juga.
“ bagaimana bisa dia
berada disini?” Ai mengurutkan keningnya, kehadiran Sea disini seakan
menjelaskan sesuatu. Tidak mungkin lelaki itu berkeliaran tanpa tujuan.
“ aku juga tak mengerti,
kemungkinan dia sedang menuju ibukota” pasalnya Hardwin mengetahui jika di
kerajaan kemarin lelaki itu tidak terlihat. Raja juga tidak memanggilnya saat
Grace dan Mily memberikan kesaksian.
“ kau yakin?” Ai masih
merasa ada sesuatu yang janggal dengan putra mahkota.
“ kemarin saat di
kerajaan raja menampilkan gelagat yang aneh, seakan memberikan kesan bahwa
putra mahkota tidak berada di tempat”Hardwin menjelaskan alasan dari
jawabannya. Ai hanya mengangguk singkat,kemudian beralih mendekati meja makan.
“ ah ya kau berhutang
penjelasan padaku, kenapa kalian bisa berada di kerajaan” Ai kembali duduk dan
menyelesaikan makan malamnya.
“ dan kau berhutang
padaku dimana kau bersembunyi selama ini” Hardwin tidak mau kalah. Dia juga
akan meminta penjelasan.
Setelah menyelesaikan
makan malamnya, mereka berdua keluar dari kedai menuju kuda-kuda mereka. mereka
sedikit dikagetkan dengan beberapa orang lelaki yang mengitari kuda milik
mereka.
“ siapa mereka?” bisik Ai
melihat perawakan orang-orang yang terlihat garang.
“ tenang saja” jawab
Hardwin yang juga sedang menenangkan dirinya.
Mereka berjalan semakin
mendekati kuda dan secara otomatis mendekati kumpulan orang-orang garang.
Kemungkinan mereka adalah para pemalak atau preman kota yang biasanya beraksi
saat malam seperti ini.
“ minggir!” ucap Hardwin
meninggi. Lelaki itu sudah akan menarik pistolnya dari pinggangnya, karena beberapa
dari mereka mencoba menghalangi jalan.
“ kita bertemu lagi” ucap
seseorang dari arah belakang. Membuat Ai dan Hadwin segera membalikkan badan.
Mereka begitu kaget
dengan seseorang itu, dialah Sea. Ternyata lelaki masih belum pergi. Dengan di
temani sekitar 4 orang lelaki, Sea mengurung pergerakan Ai dan Hardwin.
“ aku sudah mengira ada
yang salah dengan lelaki bisu itu” Sea mendekati Ai, dan secara tiba-tiba topi
yang Ai kenakan ditarik jatuh dari kepalanya.
“ Duchess Wellington, “
ucap Sea yang juga sedikit kaget, dia tidak mengira bahwa lelaki itu ternyata
adalah wanita cantik incaraanya.
Hardwin langsung dengan
sigap melindungi Ai dengan berdiri di depan wanita itu, menjadi taneng agar Sea
tidak mudah menyakiti Duchess.
“ menjauh dari kami”
desis Hardwin penuh penekanan. Lelaki ini tidak akan takut berhadapan dengan
siapapun yang mencoba menyakiti Ai.
“ hahahaha, tenang. Aku
tidak akan memakan kalian” Sea masih sempat bercanda. Anak buahnya masih belum
kembali jadi dia harus mengulur waktu selama mungkin. Jika gegabah sedikit saja
dia pasti kehilangan momen untuk mendapatkan Duchess.
“ pergi” ancam Hardwin.
hadapannya. Membuat Sea segera ingin memberi pelajaran pada Hardwin.
“ kau hanya anak kemarin
sore, bukan tandinganku” Sea memberika kode kepad salah satu anak buahnya untuk
memberikan pelajaran.
Brak, cah, dor.
Dengan cepat Hardwin
melumpukan lawannya, kini tersisa 3 orang. Sea lupa jika lelaki di hadapannya
ini adalah anak pensiunan tentara dan terbiasa hidup dalam lingkungan senjata,
dia melupakan hal penting.
“jangan mengusik kami” Ai
dan Hardwin berjalan mundur menuju kudanya. Sedangkan Sea dan anak buahnya
terdiam mulai gentar.
“ apa kau tak ingin
mengetahui kabar suamimu, Duchess?” Sea memancing Ai agar wanita itu tidak
cepat pergi. Sea akan mempermainkan emosi dan simpati Ai untuk bisa
menjebaknya.
Mendengar perkataan putra
mahkota Ai jelas tertarik dan menghentikan langkahnya.
“ apa yang kau lakukan
padanya?” balas Ai, dia sudah berhasil memancing wanita itu.
“ Ai jangan kau hiraukan,”
Hardwin menarik tangan Ai agar segera kembali ke kuda, mereka tidak memiliki
banyak kesempatan untuk melarikan diri.
“ coba kau fikirkan? “
Sea memotong ucapan Hardwin, lelaki itu tidak akan berhenti mempermainkan
simpati Ai sampai di bisa dengan mudah mendapatkan wanita itu.
“ Ai, ayo pergi” tubuh Ai
rasanya kaku, meski ditarik oleh Hardwin namun Ai tetap tidak goyah.
“ aku kasih tau padamu,
lelaki itu ada di tanganku. Asal kau mau menukar dirimu dengan dirinya, aku akan
melepaskannya hidup-hidup” Sea terus membual dan berbohong, sedikit demisedikit
langkahnya terus mendekati Ai dan Hardwin. Hardwin yang merasa bahwa posisi
mereka semakin terjepit terus saja menyadarkan Ai. sayangnya wanita itu lebih
peduli dengan perkataan Sea, jika benar begitu bukankah inilah tujuan
kepergiannya.
“ Ai, dia tidak mungkin
berkata benar” meski Hardwin tidak mengetahui bagaimana kebenarannya, lelaki itu
tetap tidak menyetujui kesepakatan yang Sea katakan. Ada atau tidaknya Duke di
tangannya, Hardwin tidak mau Ai menjadi alat tukarnya. Wanita itu meski dengan
nyawanya sendiri Hardwin akan melindunginya.
Perkataan Hardwin
ternyata sedikit menyadarkan Ai. wanita itu jelas tau bahwa Sea tidak mungkin
dengan mudahnya mengatakan kebenaran. Jika Axton berada di tangannya maka
seharusnya lelaki itu takut dengan kedatangannya yang mungkin saja berusaha
merebut Duke kembali.
Tak ingin jatuh dalam
jebakan putra mahkota, akhirnya Ai kembali berjalan mendekati kuda sesuai
dengan intruksi dari Hardwin. Sea yang mengetahui bahwa jebakannya tidak
berhasil menyuruh anak buahnya untuk melakukaan sesuatu agar wanita ini tidak
bisa pergi.
Hap, mereka berdua
menaiki kuda, bersamaan dengan salah seorang berniat mencelaki Ai dengan
mencoba melumpukan kudanya.
Dor..aakh
Mereka tidak mengira jika
wanita itu juga memiliki senjata dan kemampuan menembak. Satu tangan anak buah
Sea harus terkena timah panas dari Ai. begitu formasi Sea kacau, Hardwin dan Ai
segera memacu kudanya meninggalkan kota.
Sea kesal dan marah, dia
melampiaskan kemarahanya dengan menendang anak buahnya yang gagal.
“ sial!” ucap Sea, dia
sudah lengah dan kalah strategi. Jika bukan karena separuh anak buahnya yang
pergi dia pasti sudah menagkap Ai dan membawanya bersamanya. Sayang sekali
kesempatan emas ini hilang begitu saja.
Cah,, cah
Ai dan Hardwin memacu
kudanya meninggalkan kota, mereka bergabung kembali ke pasukan. Sea tidak
mungkin berani mengejar atau dia akan berhadapan dengan pasukan milik Hardwin
beserta surat tugas milik raja. Mau bagaimanapun Hardwin menang dalam situasi
ini.