
Sepeninggal putra mahkota
Sea dari camp, Aric kembali duduk sambil memikirkan cara bagimana keluar dari
sana. Terlalu masuk dalam fikirannya
Aric tidak menyadari pelayan datang membawakan makanan. Tidak ada firasat
apapun hingga seorang pelayan seakan memberikan kode lewat matanya.
Menunggu makanan selesai
dihidangkan, Aric segera mendekat dan memeriksa makanan, apakah kode yang dia
terima adalah benar. Lelaki ini nyaris putus asa ketika dilihatnya sebuah kue
yang memiliki bentuk yang aneh. Di bukanya dan ternyata ada sebuah kertas tergulung
di bagian tengah, sangat rapi dan kecil.
Kertas itu merupakan
surat dari pengawalnya, segala informasi tertera disana. Masing-masing Kue
memiliki satu kertas dan salah satu diantaranya berisikan rencana melarikan
diri. Aric langsung membakar surat itu setelah memastikan tidak ada yang
tertinggal, dia harus menghilangkan bukti.
Dalam hati dia bersyukur,
kerja mata-matanya cukup diacungi jempol. nyaris saja semua rencana akan gagal
total. Dia tinggal menunggu waktu, disana tertulis jika tengah malam ini upaya
melarikan diri baru akan di mulai.
Sedangkan di ibu kota,
kediaman Duke kembali kedatangan seseorang, tak lain adalah pelayan yang kabur
dari kediaman desa. Dia baru saja sampai dan langsung menemui Mily. Dengan
penampilan yang lusuh membuat Mily yakin jika ada situasi mendesak.
“ kemarilah ikut dengan
ku” Mily segera membawa pelayan itu masuk menuju lantai 3. Untung saja kediaman
saat itu sedang sepi, tidak banyak pelayan rumah yang mengetahui kedatangan
sang pelayan.
Kedua wanita itu berjalan
agak cepat untuk bisa segera sampai di lantai 3.
“ masuklah” Mily
mengantar ke dalam ruang kerja Duke, disana sudah ada Ai yang sedang memikirkan
sesuatu.
“ nyonya, saya membawa
seseorang” tanpa memberikan salam pembuka Mily langsung membawa pelayan itu
duduk disana.
“ kau pelayan untuk Grace
bukan?” Ai segera mengenali pelayan yang terlihat luruh dengan wajah sedikit
ketakutan.
“ iya Duchess” jawab
pelayan itu.
“kenapa kau bisa seperti
ini?” Ai segera bangkit dan duduk di sofa tepat di samping pelayan tersebut.
“ kemarin malam putra
mahkota Sea datang ke kediaman” jawabnya sontak hal itu membuat seisi ruangan
menjadi sunyi, mata Ai melebar sesaat dan dia menatap Mily seakan mengatakan
jika situasinya akan buruk.
“ saya saat itu berada di
itu adalah milik putra mahkota Sea. Nona Grace terlihat berbincang tapi saya
tidak tau apa yang mereka perbincangkan, jadi saya memutuskan untuk pergi
menyelamamatkan diri. Putra mahkota membawa banyak prajurit dan itu membuat
saya takut” pelayan itu menjelaskan semua situasinya dengan detail.
Ai menyimak dengan
seksama, perasaanya mulai khawatir. Jika ada kejadian seperti ini kenapa Grace
tidak memberinya kabar.
“apa putra mahkota
menyakiti Grace?” Ai menanyakan dugaanya.
“ saya melihat putra
mahkota dan nona Grace tidak sedang bertengkar. Mereka berbincang dengan
tenang” Ai semakin bingung, jika tak ada perdebatan ataupun saling serang,
kenapa kabar seperti ini tidak harus lewat pelayan yang melarikan diri.
Ai curiga jika Grace kembali bekerja sama dengan Sea,
pria brengsek itu. Jika tidak kenapa Grace menutupi semuanya. Benar perkataan
Axton, jangan pernah mempercayai seseorang dalam keadaan genting seperti ini.
“ kau semetara tempati
kamar di ujung lorong ini, bersembunyilah dulu” pelayan itu mengangguk, Mily
dan Ai saling menatap. Mereka seakan memikirkan hal yang sama.
“ terimakasih Duchess”
mily mengantarkan pelayan itu sampai di depan kamarnya. Tak lupa dengan pelukan
agar pelayan itu tenang.
Setelah selesai mengantar
pelayan itu, Mily kembali lagi ke ruang kerja Axton, Ai saat ini sedang berdiri
di dekat jendela besar. Ai memikirkan kemungkinan apa yang membuat Grace
kembali menghianatinya. Beberapa minggu lalu, wanita itu bersikap baik padanya,
dia sudah tobat dengan niat jahatnya.
“ nyonya apa yang harus
kita lakukan?” Mily mendekat. Dia juga di serang dengan rasa takut bagaimana
dengan nasib nyonya ini.
“ sepertinya kita perlu
meminta pertolongan Hardwin” dengan nada datar, Ai tidak mengelurkan ekpresi
apapun. Wanita ini sudah biasa mengahapi situasi yang berubah, membuatnya
terlatih dalam mengolah emosinya.
Mily mengangguk, memang
sudah lama pelayan itu ingin meminta bantuan pada tuan muda Kleiner. Saat ini
baru mendapatkan izin dari nyonyanya membuat dia merasa lega.
“ saya akan mengatur
pertemuannya dengan nyonya” Mily sudah akan beranjak pergi, saat Ai mengatakan
sesuatu.
“ tidak, malam ini aku
akan menemuinya” penuh dengan nada serius. Mily menelan ludahnya, nyonyanya
semakin hari berubah semakin kuat dan dingin. Wanita itu menanggung beban yang
sama sekali tidak ringan. Mily memaklumi itu, dia tidak berani membantah.
Akhirnya mengangguk singkat dan keluar dari ruangan.