The New Duchess

The New Duchess
Bab 67 : Buruk



Sepeninggal putra mahkota


Sea dari camp, Aric kembali duduk sambil memikirkan cara bagimana keluar dari


sana.  Terlalu masuk dalam fikirannya


Aric tidak menyadari pelayan datang membawakan makanan. Tidak ada firasat


apapun hingga seorang pelayan seakan memberikan kode lewat matanya.


Menunggu makanan selesai


dihidangkan, Aric segera mendekat dan memeriksa makanan, apakah kode yang dia


terima adalah benar. Lelaki ini nyaris putus asa ketika dilihatnya sebuah kue


yang memiliki bentuk yang aneh. Di bukanya dan ternyata ada sebuah kertas tergulung


di bagian tengah, sangat rapi dan kecil.


Kertas itu merupakan


surat dari pengawalnya, segala informasi tertera disana. Masing-masing Kue


memiliki satu kertas dan salah satu diantaranya berisikan rencana melarikan


diri. Aric langsung membakar surat itu setelah memastikan tidak ada yang


tertinggal, dia harus menghilangkan bukti.


Dalam hati dia bersyukur,


kerja mata-matanya cukup diacungi jempol. nyaris saja semua rencana akan gagal


total. Dia tinggal menunggu waktu, disana tertulis jika tengah malam ini upaya


melarikan diri baru akan di mulai.


Sedangkan di ibu kota,


kediaman Duke kembali kedatangan seseorang, tak lain adalah pelayan yang kabur


dari kediaman desa. Dia baru saja sampai dan langsung menemui Mily. Dengan


penampilan yang lusuh membuat Mily yakin jika ada situasi mendesak.


“ kemarilah ikut dengan


ku” Mily segera membawa pelayan itu masuk menuju lantai 3. Untung saja kediaman


saat itu sedang sepi, tidak banyak pelayan rumah yang mengetahui kedatangan


sang pelayan.


Kedua wanita itu berjalan


agak cepat untuk bisa segera sampai di lantai 3.


“ masuklah” Mily


mengantar ke dalam ruang kerja Duke, disana sudah ada Ai yang sedang memikirkan


sesuatu.


“ nyonya, saya membawa


seseorang” tanpa memberikan salam pembuka Mily langsung membawa pelayan itu


duduk disana.


“ kau pelayan untuk Grace


bukan?” Ai segera mengenali pelayan yang terlihat luruh dengan wajah sedikit


ketakutan.


“ iya Duchess” jawab


pelayan itu.


“kenapa kau bisa seperti


ini?” Ai segera bangkit dan duduk di sofa tepat di samping pelayan tersebut.


“ kemarin malam putra


mahkota Sea datang ke kediaman” jawabnya sontak hal itu membuat seisi ruangan


menjadi sunyi, mata Ai melebar sesaat dan dia menatap Mily seakan mengatakan


jika situasinya akan buruk.


“ saya saat itu berada di


itu adalah milik putra mahkota Sea. Nona Grace terlihat berbincang tapi saya


tidak tau apa yang mereka perbincangkan, jadi saya memutuskan untuk pergi


menyelamamatkan diri. Putra mahkota membawa banyak prajurit dan itu membuat


saya takut” pelayan itu menjelaskan semua situasinya dengan detail.


Ai menyimak dengan


seksama, perasaanya mulai khawatir. Jika ada kejadian seperti ini kenapa Grace


tidak memberinya kabar.


“apa putra mahkota


menyakiti Grace?” Ai menanyakan dugaanya.


“ saya melihat putra


mahkota dan nona Grace tidak sedang bertengkar. Mereka berbincang dengan


tenang” Ai semakin bingung, jika tak ada perdebatan ataupun saling serang,


kenapa kabar seperti ini tidak harus lewat pelayan yang melarikan diri.


Ai curiga  jika Grace kembali bekerja sama dengan Sea,


pria brengsek itu. Jika tidak kenapa Grace menutupi semuanya. Benar perkataan


Axton, jangan pernah mempercayai seseorang dalam keadaan genting seperti ini.


“ kau semetara tempati


kamar di ujung lorong ini, bersembunyilah dulu” pelayan itu mengangguk, Mily


dan Ai saling menatap. Mereka seakan memikirkan hal yang sama.


“ terimakasih Duchess”


mily mengantarkan pelayan itu sampai di depan kamarnya. Tak lupa dengan pelukan


agar pelayan itu tenang.


Setelah selesai mengantar


pelayan itu, Mily kembali lagi ke ruang kerja Axton, Ai saat ini sedang berdiri


di dekat jendela besar. Ai memikirkan kemungkinan apa yang membuat Grace


kembali menghianatinya. Beberapa minggu lalu, wanita itu bersikap baik padanya,


dia sudah tobat dengan niat jahatnya.


“ nyonya apa yang harus


kita lakukan?” Mily mendekat. Dia juga di serang dengan rasa takut bagaimana


dengan nasib nyonya ini.


“ sepertinya kita perlu


meminta pertolongan Hardwin” dengan nada datar, Ai tidak mengelurkan ekpresi


apapun. Wanita ini sudah biasa mengahapi situasi yang berubah, membuatnya


terlatih dalam mengolah emosinya.


Mily mengangguk, memang


sudah lama pelayan itu ingin meminta bantuan pada tuan muda Kleiner. Saat ini


baru mendapatkan izin dari nyonyanya membuat dia merasa lega.


“ saya akan mengatur


pertemuannya dengan nyonya” Mily sudah akan beranjak pergi, saat Ai mengatakan


sesuatu.


“ tidak, malam ini aku


akan menemuinya” penuh dengan nada serius. Mily menelan ludahnya, nyonyanya


semakin hari berubah semakin kuat dan dingin. Wanita itu menanggung beban yang


sama sekali tidak ringan. Mily memaklumi itu, dia tidak berani membantah.


Akhirnya mengangguk singkat dan keluar dari ruangan.