
“ A..Ax.ton” suara Ai
tercekat, begitu lemah. Namun dapat di dengar oleh kedua lelaki itu, dengan
wajah kagetnya mereka langsung menoleh kearah suara. Mereka sama-sama terpaku,
tercengang. Seakaan semua mimpi.
Baik Axton maupun Ai
sama-sama tidak bisa menggerakkan tubuhnya, mereka seakan kaku menerima
kenyataan yang selalu mereka impikan. Angin menerpa tubuuh mereka, mengantarkan aroma tubuh yang
selama ini mereka damba.
Selang beberapa lama Ai
sudah bisa menguasai tubuhnya, mulai perlahan menggerakkan kakinya melangkah
cepat sampai memeluk tubuh lelaki pujaanya. Tubuh mereka tertubruk pelayan itu
segera melepaskan pegangannya, membiarkan sosok wanita asing merangkul memeluk
erat sang tuan.
Axton hanya terdiam, dia
memang sudah lama menginginkan pelukan ini. Namun dia tidak pernah berfikir
bahwa akan terjadi dalam kenyataan. Nyatanya dia sendiri yang menghalau dan
membatasi mereka. Axton tidak menginginkan
jika mimpinya menjadi kenyataan.
“ aku merindukanmu” ucap
Ai serak, tangisnya sudah turun begitu bibirnya menyebutkan nama suaminya.
Meski begitu Axton hanya mengusap rambut istrinya dia tidak membalas pelukan
itu, dia harus bisa menahan dirinya.
Tidak ada sautan ataupun
kata yang keluar dari bibir suaminya, membuat Ai mendongak menatap wajah Axton
tanpa melepaskan pelukannya. Wanita itu meneliti wajah suaminya yang begitu
nampak berbeda. Matanya terlihat sayu, pipinya tirus dengan jenggot yang
sedikit berantakan, bibirnya pucat pasih. Suaminya tidak dalam keadaan
baik-baik saja.
“ kau tak merindukanku?”
Ai bertanya, dia kebingungan dengan respon yang suaminya berikan setelah
perpisahan mereka yang terasa begitu lama.
“tentu aku merindukanmu
Ai” jawab Axton yang akhirnya menenangkan hati istrinya. Lelaki itu menatap
kecantikan Ai dia merekam semuanya dan akan mengingatnya dalam sisa waktu yang
dia miliki.
“kondisi Duke masih
lemah, lebih baik kalian masuk” pelayan itu memotong rasa rindu pasangan itu.
Dia tidak mau tuannya akan semakin lemah.
“ kita masuk” ajak Axton,
kini giliran Ai yang memapah suaminya masuk ke dalam pondok. Meski banyak
sekali pertanyaan yang ada dikepala Ai, wanita itu hanya bisa diam. dia akan
menanyakannya nanti, malam ini dia hanya ingin memeluk sang suami.
Bagian dalam pondok itu
terbilang luas dan begitu bersih, meski aroma rebusan ramuan hampir memenuhi
ruangan. Ai membantu Axton masuk kedalam kamar, Ai hanya mengikuti arahan dari
pelayan saja.
“ bagaimana kabarmu?”
tanya Axton setelah berhasil duduk di atas ranjang. Dia menyuruh Ai ikut duduk
di tepi ranjang.
“ labih baik kau
berbaring” belum juga menjawab pertanyaan suaminya, Ai kembali membantu Axton
untuk berbaring. Dari wajahnya saja Axton terlihat sudah sangat kelelahan.
Tubuh yang semula begitu kuat kini tampak lemah tanpa tenaga. Entah apa yang
terjadi padanya.
Ai memandangi wajah
suaminya sambil mengusap keringat di wajahnya. Wanita itu begitu sedih melihat
kondisi Axton yang sekarang ini.
“ bagaimana kabarmu?”
Axton kembali bertanya, lelaki itu menyuruh Ai berhenti mengelap keringatnya.
Dia memegang kedua tangan Ai dengan lembut.
“ baik, seperti yang kau lihat” Ai tersenyum namun diiringi dengan lelehan air mata.
Axton menarik nafas panjang,
melihat istrinya menangis seperti ini membuat hati Axton semakin sakit. Inilah salah satu alasanya mengapa dia tidak
mau bertemu dengan istrinya. Hatinya seakan di remas, bukannya melindungi sang
istri dia malah membuatnya bersedih sepanjang hari.
“ bagaimana kabarmu?”
gantian Ai yang bertanya, meski keadaan Axton terpampang nyata, Ai masih ingin
berbasa-basi.
“ jauh lebih baik” jawab
Axton, dengan pelan tangannya menyetuh pipi sang istri. Dia begitu merindukan
sosok ini, tapi harus sekuat tenaga menahan untuk mengutarakannya. Dia tidak
mau Ai akan bersedih jika tau kebenarannya.
Tangis Ai semakin pecah
mendengar jawaban Axton yang terkesan menutupi kesakitannya demi dirinya. Wanita
itu kemudian memeluk Axton, dia terbaring di sisi Axton. mencium dalam-dalam
Di sisi lain setelah
memastikan rencananya berhasil, Dalbert segera meninggalkan hutan. Dia kembali
ke kawasan pondok depan. Seseorang pasti sedang kebingungan mencari seseorang.
“ Dalbert, kau tau Ai
dimana?” Allard melihat anaknya saat melewati lorong pondok. Mendengar
pertanyaan itu lelaki itu hanya diam tanpa ekpresi.
“ kau tidak melakukan
sesuatu bukan?” Allard seakan mencurigai dari mimik wajah anaknya yang datar
itu. Apalagi anaknya barusaja masuk dari arah belakang.
Dalbert tetap dalam
kebisuannya, dia tidak mau mengatakan sesuatu yang pastinya ayahnya bisa
menduganya.
“ kau sudah berjanji
tidak mengatakan apapun” suara Allard mulai meninggi, dia yakin telah terjadi
sesuatu di pondok khusus.
“ aku tidak mengatakan
apapun padanya” jawab Dalbert jujur, dia memang tidak memberitahu Ai apapun
soal Duke.
“ lalu dia dimana
sekarang?” saut Allard cepat, dia sudah terbakar emosi. Namun Dalbert kembali
diam, dia tidak mau ayahnya semakin marah jika dia mengatakannya.
“ Dalbert!, kau berbohong
pada ayah?” Allard seakan terus mendesak anaknya, meski dirinya sudah memiliki
dugaan yang nyata.
“ tidak ayah, aku tidak
mengatakan apapun pada Ai, aku hanya membawanya ke dekat danau. Dia sendiri
yang menemukan dan pergi ke pondok Duke” jawab Dalbert lemah, dia tidak mau
ayahnya semakin naik pitam.
“ kau tau apa yang kau lakukan! Ai akan
semakin terpuruk setelah mengetahui semuanya, kau mau dia seperti itu?hah”
kemarahannya semakin naik, bagaimana bisa anaknya dengan tanpa merasa bersalah
membiarkan Ai pergi ke tempat rahasia itu.
“Ini bukan hanya keputusan
kita, Duke sendiri yang meminta. Dia tidak mau memberikan harapan kosong dengan
mengatakan bahwa dia masih hidup sekarang. Kau tau betul jika Duke terkena
racun dan waktunya tinggal beberapa bulan lagi” lanjut Allard, lelaki itu sama
perhatiannya kepada Ai. dia tidak mau melihat Ai terluka batinnya. Biarkan
wanita itu berfikir jika Axton sudah meninggal toh waktu yang lelaki itu miliki
juga tidak banyak.
“ ayah, mau terpuruk atau
tidak, Ai pasti bisa melewatinya. Jangan karena Duke tidak memiliki banyak
waktu lalu kita mengatakan jika dia tiada. Biarkan mereka bertemu dan
mengucapkan perpisahan dengan benar, biarkan mereka menikmati sisa waktu yang
mereka miliki bersama. Jika memang takdirnya Duke tiada, biarkan Ai menemaninya
di sisa waktunya” suara Dalbert melemah di akhir kalimat. Tidak bisa di
bohongi, lelaki itu begitu kasihan dengan kisah cinta adiknya. Rasanya selama
menikah selalu saja ada masalah, mereka tidak bisa merasakan kebahagiaan mereka
sendiri.
Allard terdiam mendengar
jawaban anaknya, rasanya berat melihat Ai yang sudah dianggapnya sebagai anak
perempuanya harus melewati penderitaan hidup seperti ini. Dalam kehidupannya
wanita itu tidak pernah bahagia, bahkan saat dirinya berfikir jika Axton dapat
melindungi Ai, nyatanya lelaki itu harus berkorban secepat ini.
“ Dalbert ada benarnya
tuan Allard” seorang lelaki yang sedari tadi menyimak langsung masuk dalam
pembicaraan keluarga itu.
“ anda sudah kembali
pengeran” ucap Allard.
“ pangeran Aric, maafkan
kami tidak menyadari kehadiran anda” ucap Dalbert. Dia tidak tau jika pengeran
mendengarkan adu argument mereka.
“ tak apa, jadi Duchess
ada disana?” pangeran melirik arah pondok Duke. Dalbert mengangguk sebagai
jawaban.
“ lebih baik besok saja
aku menemui Duke” ucap pangeran Aric.
“ apa anda sudah
menemukannya?” giliran Allard yang bertanya. Pangeran Aric memang barusaja
kembali setelah mencari sesuatu yang penting untuk kesembuhan Duke.
“ besok kita bicarakan
bersama-sama” pengeran Aric kemudian berbalik badan dan kembali menuju
kamarnya. Dia akan mengatakan hasil pencariannya besok, entah ini akan menjadi
kabar baik atau buruk.