The New Duchess

The New Duchess
Bab 105: Ketemu



“ A..Ax.ton” suara Ai


tercekat, begitu lemah. Namun dapat di dengar oleh kedua lelaki itu, dengan


wajah kagetnya mereka langsung menoleh kearah suara. Mereka sama-sama terpaku,


tercengang. Seakaan semua mimpi.


Baik Axton maupun Ai


sama-sama tidak bisa menggerakkan tubuhnya, mereka seakan kaku menerima


kenyataan yang selalu mereka impikan. Angin menerpa  tubuuh mereka, mengantarkan aroma tubuh yang


selama ini mereka damba.


Selang beberapa lama Ai


sudah bisa menguasai tubuhnya, mulai perlahan menggerakkan kakinya melangkah


cepat sampai memeluk tubuh lelaki pujaanya. Tubuh mereka tertubruk pelayan itu


segera melepaskan pegangannya, membiarkan sosok wanita asing merangkul memeluk


erat sang tuan.


Axton hanya terdiam, dia


memang sudah lama menginginkan pelukan ini. Namun dia tidak pernah berfikir


bahwa akan terjadi dalam kenyataan. Nyatanya dia sendiri yang menghalau dan


membatasi mereka.  Axton tidak menginginkan


jika mimpinya menjadi kenyataan.


“ aku merindukanmu” ucap


Ai serak, tangisnya sudah turun begitu bibirnya menyebutkan nama suaminya.


Meski begitu Axton hanya mengusap rambut istrinya dia tidak membalas pelukan


itu, dia harus bisa menahan dirinya.


Tidak ada sautan ataupun


kata yang keluar dari bibir suaminya, membuat Ai mendongak menatap wajah Axton


tanpa melepaskan pelukannya. Wanita itu meneliti wajah suaminya yang begitu


nampak berbeda. Matanya terlihat sayu, pipinya tirus dengan jenggot yang


sedikit berantakan, bibirnya pucat pasih. Suaminya tidak dalam keadaan


baik-baik saja.


“ kau tak merindukanku?”


Ai bertanya, dia kebingungan dengan respon yang suaminya berikan setelah


perpisahan mereka yang terasa begitu lama.


“tentu aku merindukanmu


Ai” jawab Axton yang akhirnya menenangkan hati istrinya. Lelaki itu menatap


kecantikan Ai dia merekam semuanya dan akan mengingatnya dalam sisa waktu yang


dia miliki.


“kondisi Duke masih


lemah, lebih baik kalian masuk” pelayan itu memotong rasa rindu pasangan itu.


Dia tidak mau tuannya akan semakin lemah.


“ kita masuk” ajak Axton,


kini giliran Ai yang memapah suaminya masuk ke dalam pondok. Meski banyak


sekali pertanyaan yang ada dikepala Ai, wanita itu hanya bisa diam. dia akan


menanyakannya nanti, malam ini dia hanya ingin memeluk sang suami.


Bagian dalam pondok itu


terbilang luas dan begitu bersih, meski aroma rebusan ramuan hampir memenuhi


ruangan. Ai membantu Axton masuk kedalam kamar, Ai hanya mengikuti arahan dari


pelayan saja.


“ bagaimana kabarmu?”


tanya Axton setelah berhasil duduk di atas ranjang. Dia menyuruh Ai ikut duduk


di tepi ranjang.


“ labih baik kau


berbaring” belum juga menjawab pertanyaan suaminya, Ai kembali membantu Axton


untuk berbaring. Dari wajahnya saja Axton terlihat sudah sangat kelelahan.


Tubuh yang semula begitu kuat kini tampak lemah tanpa tenaga. Entah apa yang


terjadi padanya.


Ai memandangi wajah


suaminya sambil mengusap keringat di wajahnya. Wanita itu begitu sedih melihat


kondisi Axton yang sekarang ini.


“ bagaimana kabarmu?”


Axton kembali bertanya, lelaki itu menyuruh Ai berhenti mengelap keringatnya.


Dia memegang kedua tangan Ai dengan lembut.


“ baik, seperti  yang kau lihat” Ai tersenyum namun  diiringi dengan lelehan air mata.


Axton menarik nafas panjang,


melihat istrinya menangis seperti ini membuat hati Axton semakin sakit.  Inilah salah satu alasanya mengapa dia tidak


mau bertemu dengan istrinya. Hatinya seakan di remas, bukannya melindungi sang


istri dia malah membuatnya bersedih sepanjang hari.


“ bagaimana kabarmu?”


gantian Ai yang bertanya, meski keadaan Axton terpampang nyata, Ai masih ingin


berbasa-basi.


“ jauh lebih baik” jawab


Axton, dengan pelan tangannya menyetuh pipi sang istri. Dia begitu merindukan


sosok ini, tapi harus sekuat tenaga menahan untuk mengutarakannya. Dia tidak


mau Ai akan bersedih jika tau kebenarannya.


Tangis Ai semakin pecah


mendengar jawaban Axton yang terkesan menutupi kesakitannya demi dirinya. Wanita


itu kemudian memeluk Axton, dia terbaring di sisi Axton. mencium dalam-dalam


Di sisi lain setelah


memastikan rencananya berhasil, Dalbert segera meninggalkan hutan. Dia kembali


ke kawasan pondok depan. Seseorang pasti sedang kebingungan mencari seseorang.


“ Dalbert, kau tau Ai


dimana?” Allard melihat anaknya saat melewati lorong pondok. Mendengar


pertanyaan itu lelaki itu hanya diam tanpa ekpresi.


“ kau tidak melakukan


sesuatu bukan?” Allard seakan mencurigai dari mimik wajah anaknya yang datar


itu. Apalagi anaknya barusaja masuk dari arah belakang.


Dalbert tetap dalam


kebisuannya, dia tidak mau mengatakan sesuatu yang pastinya ayahnya bisa


menduganya.


“ kau sudah berjanji


tidak mengatakan apapun” suara Allard mulai meninggi, dia yakin telah terjadi


sesuatu di pondok khusus.


“ aku tidak mengatakan


apapun padanya” jawab Dalbert jujur, dia memang tidak memberitahu Ai apapun


soal Duke.


“ lalu dia dimana


sekarang?” saut Allard cepat, dia sudah terbakar emosi. Namun Dalbert kembali


diam, dia tidak mau ayahnya semakin marah jika dia mengatakannya.


“ Dalbert!, kau berbohong


pada ayah?” Allard seakan terus mendesak anaknya, meski dirinya sudah memiliki


dugaan yang nyata.


“ tidak ayah, aku tidak


mengatakan apapun pada Ai, aku hanya membawanya ke dekat danau. Dia sendiri


yang menemukan dan pergi ke pondok Duke” jawab Dalbert lemah, dia tidak mau


ayahnya semakin naik pitam.


 “ kau tau apa yang kau lakukan! Ai akan


semakin terpuruk setelah mengetahui semuanya, kau mau dia seperti itu?hah”


kemarahannya semakin naik, bagaimana bisa anaknya dengan tanpa merasa bersalah


membiarkan Ai pergi ke tempat rahasia itu.


“Ini bukan hanya keputusan


kita, Duke sendiri yang meminta. Dia tidak mau memberikan harapan kosong dengan


mengatakan bahwa dia masih hidup sekarang. Kau tau betul jika Duke terkena


racun dan waktunya tinggal beberapa bulan lagi” lanjut Allard, lelaki itu sama


perhatiannya kepada Ai. dia tidak mau melihat Ai terluka batinnya. Biarkan


wanita itu berfikir jika Axton sudah meninggal toh waktu yang lelaki itu miliki


juga tidak banyak.


“ ayah, mau terpuruk atau


tidak, Ai pasti bisa melewatinya. Jangan karena Duke tidak memiliki banyak


waktu lalu kita mengatakan jika dia tiada. Biarkan mereka bertemu dan


mengucapkan perpisahan dengan benar, biarkan mereka menikmati sisa waktu yang


mereka miliki bersama. Jika memang takdirnya Duke tiada, biarkan Ai menemaninya


di sisa waktunya” suara Dalbert melemah di akhir kalimat. Tidak bisa di


bohongi, lelaki itu begitu kasihan dengan kisah cinta adiknya. Rasanya selama


menikah selalu saja ada masalah, mereka tidak bisa merasakan kebahagiaan mereka


sendiri.


Allard terdiam mendengar


jawaban anaknya, rasanya berat melihat Ai yang sudah dianggapnya sebagai anak


perempuanya harus melewati penderitaan hidup seperti ini. Dalam kehidupannya


wanita itu tidak pernah bahagia, bahkan saat dirinya berfikir jika Axton dapat


melindungi Ai, nyatanya lelaki itu harus berkorban secepat ini.


“ Dalbert ada benarnya


tuan Allard” seorang lelaki yang sedari tadi menyimak langsung masuk dalam


pembicaraan keluarga itu.


“ anda sudah kembali


pengeran” ucap Allard.


“ pangeran Aric, maafkan


kami tidak menyadari kehadiran anda” ucap Dalbert. Dia tidak tau jika pengeran


mendengarkan adu argument mereka.


“ tak apa, jadi Duchess


ada disana?” pangeran melirik arah pondok Duke. Dalbert mengangguk sebagai


jawaban.


“ lebih baik besok saja


aku menemui Duke” ucap pangeran Aric.


“ apa anda sudah


menemukannya?” giliran Allard yang bertanya. Pangeran Aric memang barusaja


kembali setelah mencari sesuatu yang penting untuk kesembuhan Duke.


“ besok kita bicarakan


bersama-sama” pengeran Aric kemudian berbalik badan dan kembali menuju


kamarnya. Dia akan mengatakan hasil pencariannya besok, entah ini akan menjadi


kabar baik atau buruk.