
“ ini nyata, kau
benar-benar tersadar” Ai kembali memeluk erat sang suami. Dia tidak mau
kehilangan lelaki ini lagi, sudah cukup dia merasakan moment antara hidup dan
mati.
“ sekarang katakan
padaku, bagaimana bisa kita semua basah kuyup dengan keadaan kau yang tidak
sadar?” Axton ingin mengetahui alasan yang membuat istrinya terkapar tidak
sadar di ruang depan pondok.
“ em, tadi..” Ai
menceritakan semuanya, apa yang sudah penghuni pondok ini lakukan untuk menjaga
Axton kemarin di sepanjang malam. sampai alasan kenapa dia membawa suaminya ke
danau dan berakhir mereka tenggelam disana saat hujan badai. Axton mendengar
semuanya dan hati yang gelisah, kenekatan istrinya semakin waktu semakin besar.
Meski ada rasa bangga dalam hatinya nyatanya Axton tidak mau lagi ada situasi
dimana Ai harus mengambil pilihan yang beresiko. Axton tidak mau sampai dia
kehilangan istri kecilnya.
“ kau benar-benar nekat,
bagaimana jika tidak ada yang menemukan kita?” Axton mencoba memarahi tindakan
Ai yang dirasa terlalu beresiko itu.
“ kita menjadi pasangan
sehidup semati” jawab Ai enteng, sambil menampilkan deretan gigi putihnya.
Wanita itu tidak mau membuat suasana berubah tegang.
“ kau ini” Axton
benar-benar tidak bisa marah kepada Ai setelah apa yang wanita itu perjuangkan
untuk dirinya. Axton begitu berterimakasih kepada tuhan yang membuat mereka
selamat dari maut. Dia memeluk istrinya penuh haru.
“ sudahlah, kita makan
ini dulu selagi masih hangat” imbuh Axton. kedua orang itu kemudian
menghabiskan soup itu dengan cepat.
Waktu semakin malam,
setelah menyelesaikan makan malam, tuan Kleiner memeriksa pasangan itu. Tidak
ada masalah serius, namun keberadaan racun di dalam tubuh Axton masih terasa
jejaknya. Kemungkinan besok setelah meminum obat terakhir keadaan Axton bisa
dipastikan baik-baik saja.
Ai sedang sibuk di dalam
kamar, sedangkan Axton berbincang dengan tuan Kleiner di teras depan. Lelaki
itu menjelaskan keadaan tubuh Duke.
“ sesuai dengan perkiraan
anda, butuh satu lagi ramuan untuk membersihkan racun itu sampai ke akarnya”
ucap tuan Kleiner.
“ ya baguslah. Namun
jangan katakan apapun kepada Hardwin mengenai hal ini. Ah ya, selama aku tidak
sadar bagaimana kabar perkembangan pencarian Brian?” Axton hampir saja
melewatkan perkembangan informasi dari paman Al.
“ mereka sudah
menemukannya, baru kemarin Allard dan anaknya kembali ke kota bersama dengan
Brian. Keadaanya cukup parah namun tidak ada yang fatal” jelas tuan Kleiner,
dia secara khusus menyampaikan pesan yang sudah paman Al titipkan padanya.
“ syukurlah kalau begitu,
sekarang tinggal pangeran Aric. Aku akan menemuinya dulu sebelum menyuruhnya
kembali” Axton menerawang jauh pada langit yang terlihat sudah cerah. Bulan
tampak dengan sangat jelas. Malam ini terasa begitu dingin, setelah lepas senja
tadi turun hujan badai cukup lama. Bahkan suara katak dan binatang malam
lainnya terdengar saling bersautan mengisi kesunyian malam.
“ apa anda yakin membiarkan
pangeran kembali begitu saja?” tuan Kleiner merasa sedikit takut, pasalnya
“ kita akan kembali pada
rencana awal” ucap Axton tegas, keadaan sudah berubah. Dia sudah kembali sehat
dan siap melaksanakan rencana awal yang sudah mereka canangkan sebelumnya.
“ anda yakin Duke?, tapi
bagaimana jadinya jika..”
“ aku sudah bertekad, tidak
ada siapapun lagi yang bisa menanggungnya” Axton langsung memotong ucapan tuan
Kleiner, dia tidak bisa membiarkan si Sea bertindak sesukanya, sebagai kakak
dia akan mengatur adiknya nakalnya. Dia akan bertindak lebih jauh lagi jika
ternyata Sea melewati batasannya.
“ saya siap membantu
anda, kapanpun dan dimanapun” tuan Kleiner sudah begitu mengagumi sang Duke.
“aku tau, tapi kau sudah
sangat membantuku. Kali ini pikirkan anakmu, bagaimana ayahku menyelamatkannya
dulu kau harus menjadikannya lebih berguna” Axton tidak mau melibatkan siapapun
pada rencana, setidaknya pihak kerajaan akan melihatnya begitu. Semuanya akan
dia tanggung sendiri. Hanya saja dia begitu merasa bersalah pada Ai, istrinya. Wanita
itu bagaimana keadaanya nanti, dia harus mengaturnya mulai dari sekarang. Dia yakin Ai pasti akan nekat jika dia tau
rencana Axton sebenarnya.
“ saya akan berusaha”
jawab tuan Kleiner dengan nada sendu. Akhirnya waktu mereka di tempat ini akan
segera berakhir, mereka akan bersiap melindungi Bavaria sebagaimana tugas yang
mereka emban. Menjadikan negara yang damai dan aman, apapun akan mereka
usahakan bahkan dengan mengorbankan nyawa.
Perbincangan itu selesai saat
malam semakin larut dan udara luar terasa begitu menusuk. Axton kembali ke
kamar, disana Ai ternyata sudah tertidur pulas. Istrinya pasti sangat lelah
akibat menjaganya kemarin malam. Tak ingin menggagu tidur sang istri, Axton
menaiki ranjang dengan pelan dan langsung bergabung masuk kedalam selimut. Tak lupa
untuk memeluk sang istri agar semakin hangat.
Pagi menjelang, pasangan
itu sudah siap di teras samping. Disana sudah ada semangkuk ramuan terakhir
yang akan Axton minum. Semua yang disana tampak senang, rasanya masing-masing
harapan meraka terwujud. Axton bisa sembuh dengan cepat.
“ aku bantu” Ai membawa
mangkuk itu kearah bibir Axton, dia akan menyuapi Axton. tentu saja Axton
langsung membuka mulutnya dan meminumnya sampai habis.
“ akhirnya” ucap Ai lega.
Dia menatap Axton dengan mata yang berbinar-binar.
“ kalau begitu saya pamit”
tuan Kleiner merasa tugasnya sudah selesai, dia akan kembali merawat Hardwin
yang sudah memberikan darahnya beberapa hari secara berkala. Lelaki itu juga
perlu pemulihan sebentar.
“ terimakasih banyak tuan
Kleiner” Ai segera mengucapkan rasa terimakasihnya, wanita itu sesaat melupakan
sesuatu yang menunggunya di depan sana, perjanjiannya dengan Hardwin atas
pertukaran darahnya dengan kesembuhan Axton.
“ semuanya karena anda juga
Duchess” Aidyan bermaksud mengingatkannya pada kejadian mereka yang tenggelam
di danau. Ai yang mendengarnya hanya mengangguk sambil tersenyum kecil. Tidak menyangka
aksi nekatnya bisa menyelamatkan sang suami.
Setelah tuan Kleiner
pergi, Axton juga menyuruh pelayan pondok untuk memeriksa kawasan pondok depan.
Namun itu hanya alasan saja karena sebenarnya Axton ingin berdua saja dengan Ai
disini.