
Fajar sudah mulai
menyingsing, Ai terbangun dari tidur singkatnya. Axton masih terjaga di
sampingnya dengan masih menutup matanya. Namun istrinya tidak tau. Hanya
mengira bahwa Axton masih terlelap. Ai menuruni ranjang dengan pelan, dia
menuju kamar pelayan.
Tok tok,
“ ya tuan” pelayan itu
terbangun dengan tergopoh-gopoh. Tidak biasanya tuannya menghampiri ke kamar di
pagi buta seperti ini.
“ maaf mengganggu, bisa
tolong kau panggilkan tuan Kleiner kemari, sepertinya kondisi Duke mulai
mengkhawatirkan” ucap Ai kepada pelayan pondok. dia tidak tega melihat Axton
terbaring tak berdaya.
“ baik tuan” pelayan itu
segera memperbaiki penampilannya.
“terimakasih” Ai kemudian
pergi, takutnya Axton terbangun dan mengetahui dirinya tidak ada.
Sedangkan dikamar, Axton sudah sangat lemah. Dia mulai menggigil kedinginan. Hanya perlu
waktu singkat suhu tubuhnya menjadi turun.
“kau tak apa?” Axton
tidak menyadari jika Ai sudah masuk ke kamar.
“ kau kedinginan? Kenapa bajumu
basah semua?. Aku akan mengambil air hangat serta baju bersih. Kau tetap disini
ya” Ai tidak menunggu jawaban dia segera keluar dari kamar dan menyiapkan
segala hal yang dia ucapkan tadi.
Axton sudah kewalahan
dengan reaksi obat yang sangat kuat. Baginya rasa sakit saat terkena racun dan
menghilangkan racun sama-sama menyakitkan. Tubuhnya yang sebelumnya memang
sudah banyak mengandung beberapa racun, karena getah biru ini mengaktifkan
racun itu kembali maka efek dari ramuan bunga Yark akan lebih terasa. Belum
lagi penggunaan darah Hardwin, semakin membuat tubuhnya terasa remuk redam.
Berselang lama Ai membawa
baskom berisi air hangat, dia akan menyeka tubuh Axton yang lengket karena
keringat.
“ aku akan melepaskan
pakaianmu” ucap Ai. Axton sudah tidak bisa memikirkan apapun. Dia pasrah dengan
apa yang akan Ai lakukan pada tubuhnya.
Perlahan baju itu
terbuka, kini Axton bertelanjang dada. Setelahnya Ai membasuh tubuh Axton
dengan kain basah. Air hangat itu sedikit membuat Axton merasa nyaman. Ai
mengelap dada, tangan serta punggung Axton dengan hati-hati.
“ apa ada yang sakit?” Ai
memastikan jika rona kebiruan yang dia tekan tidak menimbulkan kesakitan.
“ tidak,” jawab Axton
singkat.
Setelah selesai bagian
atas, Ai segera memakaikan pakaian baru. Axton merasa lebih baik. Tubuhnya sudah
tidak menggigil lagi.
“ bagaian bawah belum”
ucap Axton, dia melihat Ai yang ragu-ragu untuk membersihkan bagian bawah
tubuhnya.
“ em, iya” Ai mulai
kikuk, dan gugup.
“ aku akan mengganti
airnya dulu” Ai keluar dari kamar. Wanita itu seakan salah tingkah, padahal dia
dan Axton sudah pernah polosan. Namun tetap saja, Ai merasa aneh kali ini. Mungkin
karena sudah lama.
Ai masuk dan meletakkan
baskom di atas nakas, dia melihat Axton yang juga sedang menatapnya.
“ wajahmu memerah” Axton
semakin membuat Ai malu.
“ kemarikan aku akan
melakukannya sendiri” akhirnya Axton mengakhiri kejahilannya, dia sudah puas
melihat istrinya malu seperti itu.
Perlahan Axton bangkit
dan duduk di ranjang, dia mengambil sebuah kain panjang dan kemudian dililitkan
di pinggangnya.
“ aku bantu” Ai tidak
bisa diam saja melihat suaminya yang lemah berniat membersihkan dirinya
sendiri.
“ kau yakin?” suara Axton
terdengar begitu lemah. Lelaki itu seperti baru saja berlari. Nafasnya tidak
beraturan.
“ kau masih sakit, tapi
terus saja menggodaku” Ai menjadi sedikit kesal.
Akhirnya Ai tetap menyeka
tubuh bagian bawah Axton, lelaki itu menggunakan kain penutup, jadi Ai hanya
perlu meraba dan membiarkan kain itu masuk ke dalam.
Semuanya sudah selsai,
tubuh Axton sudah bersih dan memakai pakaian kering. Ai menyelimuti Axton dan
bersiap pergi ke dapur.
“ aku akan menyiapkan teh
hangat” pamit Ai sebelum beranjak dari tepi ranjang.
“ memangnya dimana
pelayan pondok?” Axton masih ingin ditemani oleh istrinya. Dia tidak mau Ai
kecapean dengan melakukan hal-hal sepele seperti itu.
“aku menyuruhnya
memanggil tuan Kleiner” jawab Ai singkat. Dia tidak mau sampai terjadi hal
buruk kepada Axton, belum lagi masalah noda darah yang ia temukan semalam. Ai
tidak mau kecolongan.
“ kau tetap disini dan
temani aku, itu sudah sangat menghangatkan” cegah Axton. lelaki itu tetap tidak
mengizinkan Ai berkutat di dapur.
Ai menghembuskan nafas
panjang, suaminya kenapa begitu rewel pagi ini.
“ baiklah” mau tak mau Ai
tetap naik ke ranjang. Dia masuk ke dalam selimut dan memeluk suaminya. Sambil
menunggu kedatangan tuan Kleiner untuk mengecek kondisi Axton.
Memang dasarnya Ai sudah
kecapaian menjaga Axton semalam, wanita itu dengan segera langsung masuk
kedalam alam mimpi. Axton yang mengatahui bahwa istrinya tertidur hanya bisa
tersenyum singkat. Ingin sekali lelaki itu memeluk dan menyentuh wanita itu
lebih dalam, namun bagaimanapun keadaan tubuhnya yang memaksanya menahan rindu.
Matahari sudah nampak,
hari memulai putaran baru. Ai terbangun dan mengerjab matanya. Sebelahnya sudah
kosong. Axton pasti membiarkannya tertidur,padahal wanita itu tidak mau sampai
Axton melakukan sesuatu sendiri.
Tak ingin berlama-lama Ai
segera keluar dari kamar. Tujuan utamanya adalah teras samping. Karena setiap
pagi Axton selalu duduk disana sambil menikmati pemandangan danau.
“ pelaya itu masih belum
kembali?” Ai langsung duduk di sebelah Axton, melihat meja yang kosong menjadi
alasan pertanyaan Ai.
“ dia sudah kembali, itu
dapur.
“ lalu tuan Kleiner ?” Ai
takut jika dirinya ketinggalan penjelasan lelaki itu.
“ dia akan datang
sebentar lagi” jawab Axton, seketika Ai menjadi lega. Dia tidak terlewat
mengetahui perkembangan kesehatan Axton.
“bagus” ucap Ai senang.
Pelayan kemudian
menyiapkan sarapan, tidak ada perbincangan serius. Ai dan Axton hanya fokus
menghabiskan makanan.
“ tuan kleiner suda
datang” ucap pelayan begitu sarapan mereka selesai.
“ suruh kemari” Ai
terlihat begitu antusias.
Tak lama terdengar
langkah pelan menuju ke teras samping.
“ pagi Duke, ada apa
memanggil saya kemari?” tuan Kleiner memberikan salam pembuka.
“ saya yang meminta anda
datang, anda bisa langsung memeriksa perkembangan Axton” Ai segera
mempersilahkan tuan Kleiner untuk duduk di dekat suaminya.
“ apa semalam Duke
mengalami sesuatu?” tuan Kleiner tidak bisa langsung tau, dia perlu rujukan
dengan beberapa keluhan atau kejadian tertentu.
“ selama suhu tubuh Axton
begitu tinggi, dan lemah.. lalu..” Ai bingung harus bagaimana mengatakannya.
“ biar aku jelaskan ya”
Axton segera mengambil alih.
“ semalam mengalami demam
dan pernafasanku mendadak menjadi sesak, rasanya tubuhku tidak ada energi”
jelas Axton, sebenarnya dia juga tau alasan dibalik keluhannya semalam. Apa yang
terjadi dan akan terjadi Axton sudah mengerti pola penyembuhan ini. Namun dia
tidak bisa mengatakannya atau akan membuat Istrinya semakin khawatir. Lebih baik
seperti ini, Ai akan lebih tenang jika ada seseorang terpercaya yang
mengatakannya.
“ itu semua adalah efek
dari obat, ini menujukkan bahwa tubuh Duke sedang mengalami penyembuhan” jawab
tuan Kleiner tenang. Axton yang mendengarnya juga ikut senang, semuanya sesuai dengan
keinginannya.
“ lalu adakah cara untuk
meringankannya?” Ai mencoba untuk mencari tau apakah ada jalan untuk mengurangi
rasa sakit suaminya.
“ mungkin ini, anda bisa
merebusnya untuk Duke” tuan Kleiner mengeluarkan sebuah buntalan kertas berisi
beberapa bahan herbal dan memberikanya kepada Ai. Ai segera menerima dan
membuka isi buntalan itu.
“ aku akan menyuruh
pelayan menyiapkannya” Ai bergegas pergi.
“ dia sedang membersihkan
kamar dan pakaian kotor, mungkin lebih baik kamu saja, biar lebih cepat, tidak apakan?” Axton
menyuruh Ai halus.
“ ah begitu, tentu” Ai
berjalan menjauh dari meja.
“ apa ada sesuatu yang
terjadi?” tanya tuan Kleiner serius, memang sejak tadi dirinya menangkap kode
Axton yang menyuruhnya untuk bersandiwara didepan Ai.
“ aku sudah mengalami
muntah darah” jawab Axton singkat. tuan Kleiner yang mendengar tampak kaget
sambil mengerutkan keningnya.
“ bagaimana bisa, ini
masih fase kedua” tuan Kleiner dibuat bingung, efek yang Axton sebutkan
seharusnya terjadi begitu masuk ke tahap *******. Kenapa bisa secepat itu
terjadi.
“ kemungkinan karena
racun di tubuhku yang beraneka ragam, getah itu mengaktifkan sebagian besarnya.
Kapan fase ke tiga dimulai?” jawab Axton santai. Dia tidak merasa takut dengan
gejala yang aneh ini.
“ kita tidak bisa
melanjutka dulu, bisa-bisa tubuh anda malah tidak kuat dengan efek obatnya. Kita
tidak tau bagaimana reaksinya kali ini, kemungkinan bisa lebih parah atau anda
mengalami koma “ tuan Kleinner lebih terlihat panic daripada takut. Dia tidak
mau sampai Duke mengalami hal terburuk itu.
“ lanjutkan saja, aku
bisa menahannya. Kita tidak memiliki waktu” Axton menatap penuh keseriusan.
“ tapi hal terburuknya adalah anda akan kehilangan kesadaran, kita
tidak bisa melihat anda seperti itu” tuan Kleiner semakin panic dengan ucapan
Axton.
“ entah koma atau mati, takutnya
semakin lama racun ini malah akan menjadi kebal. Semuanya bermuara pada
kematian, namun setidaknya dengan obat itu aku memiliki sedikit harapan” kalimat itu terdengar begitu menyedihkan,
Axton seakan sudah putus asa dan hanya bisa bergantung pada obat itu.
Tuan Kleiner terdiam, dia
memandang Axton dalam. Bagaimana jika obat itu malah membunuh Axton lebih
cepat. Tapi jika sampai racun itu menjadi kebal peluang untuk sembuh menjadi
hilang. Aidyn benar-benar dilemma. Keputusan apa yang sebaiknya dia ambil.
“kita tidak punya banyak
waktu Aidyn, ibu kota sudah sangat kacau dengan kudeta Sea, kau tau sendiri. Pilihan
kita sekarang cuma dua, maju atau tidak sama sekali” Axton semakin membuat tuan
Kleiner ketakutan. Semuanya tergantung dari tuhan. Bagaimana pertahanan tubuh
Axton semuanya akan dia serahkan pada takdir.
“ saya akan melakukan
sesuai dengan permintaan anda” ucap tuan Kleiner lemah. Dia akan berharap dan
terus berdoa untuk keselamatan Duke.
Di dapur Ai sedang
menuangkan ramuan itu perlahan. Dia tidak mau sampai ada yang terbuang percuma.
Setelah selesai wnita itu berjalan menuju teras.
“ tuan Kleiner dimana?”
tanya Ai saat sampai di teras dan hanya mendapati Axton seorang diri.
“ dia sudah pergi, ada
hal penting yang harus dia kerjakan” jawab Axton, sambil membantu Ai menaruh
mangkuk obat di atas meja.
“ kalian disini ternyata
tidak sedang bersantai ya, selalu saja ada hal penting. Sibuk sekali” ucap Ai
sedikit kesal. Dia salah menilai, awalnya dia mengira bahwa semua orang sedang
bersembunyi disini. Ternyata mereka tidak kalah sibunya saat sedang di ibukota.
“ kenapa?” Axton
mengganggap lucu ucapan polos istrinya.
“ tidak, aku salah
mengira saja. Sudahlah ini minumlah”Ai mendekatkan mangkuk ramuan itu kearah
Axton. Axton hanya tersenyum menatap Ai lalu mengambil ramuan itu dan
meminumnya. Itu hanya herbal biasa. Hanya untuk meningkatkan energy tidak termasuk
dalam obat pemawar racun.