The New Duchess

The New Duchess
Bab 115 : Pilihan



Fajar sudah mulai


menyingsing, Ai terbangun dari tidur singkatnya. Axton masih terjaga di


sampingnya dengan masih menutup matanya. Namun istrinya tidak tau. Hanya


mengira bahwa Axton masih terlelap. Ai menuruni ranjang dengan pelan, dia


menuju kamar pelayan.


Tok tok,


“ ya tuan” pelayan itu


terbangun dengan tergopoh-gopoh. Tidak biasanya tuannya menghampiri ke kamar di


pagi buta seperti ini.


“ maaf mengganggu, bisa


tolong kau panggilkan tuan Kleiner kemari, sepertinya kondisi Duke mulai


mengkhawatirkan” ucap Ai kepada pelayan pondok. dia tidak tega melihat Axton


terbaring tak berdaya.


“ baik tuan” pelayan itu


segera memperbaiki penampilannya.


“terimakasih” Ai kemudian


pergi, takutnya Axton terbangun dan mengetahui dirinya tidak ada.


Sedangkan dikamar, Axton sudah sangat lemah. Dia mulai menggigil kedinginan. Hanya perlu


waktu singkat suhu tubuhnya menjadi turun.


“kau tak apa?” Axton


tidak menyadari jika Ai sudah masuk ke kamar.


“ kau kedinginan? Kenapa bajumu


basah semua?. Aku akan mengambil air hangat serta baju bersih. Kau tetap disini


ya” Ai tidak menunggu jawaban dia segera keluar dari kamar dan menyiapkan


segala hal yang dia ucapkan tadi.


Axton sudah kewalahan


dengan reaksi obat yang sangat kuat. Baginya rasa sakit saat terkena racun dan


menghilangkan racun sama-sama menyakitkan. Tubuhnya yang sebelumnya memang


sudah banyak mengandung beberapa racun, karena getah biru ini mengaktifkan


racun itu kembali maka efek dari ramuan bunga Yark akan lebih terasa. Belum


lagi penggunaan darah Hardwin, semakin membuat tubuhnya terasa remuk redam.


Berselang lama Ai membawa


baskom berisi air hangat, dia akan menyeka tubuh Axton yang lengket karena


keringat.


“ aku akan melepaskan


pakaianmu” ucap Ai. Axton sudah tidak bisa memikirkan apapun. Dia pasrah dengan


apa yang akan Ai lakukan pada tubuhnya.


Perlahan baju itu


terbuka, kini Axton bertelanjang dada. Setelahnya Ai membasuh tubuh Axton


dengan kain basah. Air hangat itu sedikit membuat Axton merasa nyaman. Ai


mengelap dada, tangan serta punggung Axton dengan hati-hati.


“ apa ada yang sakit?” Ai


memastikan jika rona kebiruan yang dia tekan tidak menimbulkan kesakitan.


“ tidak,” jawab Axton


singkat.


Setelah selesai bagian


atas, Ai segera memakaikan pakaian baru. Axton merasa lebih baik. Tubuhnya sudah


tidak menggigil lagi.


“ bagaian bawah belum”


ucap Axton, dia melihat Ai yang ragu-ragu untuk membersihkan bagian bawah


tubuhnya.


“ em, iya” Ai mulai


kikuk, dan gugup.


“ aku akan mengganti


airnya dulu” Ai keluar dari kamar. Wanita itu seakan salah tingkah, padahal dia


dan Axton sudah pernah polosan. Namun tetap saja, Ai merasa aneh kali ini. Mungkin


karena sudah lama.


Ai masuk dan meletakkan


baskom di atas nakas, dia melihat Axton yang juga sedang menatapnya.


“ wajahmu memerah” Axton


semakin membuat Ai malu.


“ kemarikan aku akan


melakukannya sendiri” akhirnya Axton mengakhiri kejahilannya, dia sudah puas


melihat istrinya malu seperti itu.


Perlahan Axton bangkit


dan duduk di ranjang, dia mengambil sebuah kain panjang dan kemudian dililitkan


di pinggangnya.


“ aku bantu” Ai tidak


bisa diam saja melihat suaminya yang lemah berniat membersihkan dirinya


sendiri.


“ kau yakin?” suara Axton


terdengar begitu lemah. Lelaki itu seperti baru saja berlari. Nafasnya tidak


beraturan.


“ kau masih sakit, tapi


terus saja menggodaku” Ai menjadi sedikit kesal.


Akhirnya Ai tetap menyeka


tubuh bagian bawah Axton, lelaki itu menggunakan kain penutup, jadi Ai hanya


perlu meraba dan membiarkan kain itu masuk ke dalam.


Semuanya sudah selsai,


tubuh Axton sudah bersih dan memakai pakaian kering. Ai menyelimuti Axton dan


bersiap pergi ke dapur.


“ aku akan menyiapkan teh


hangat” pamit Ai sebelum beranjak dari tepi ranjang.


“ memangnya dimana


pelayan pondok?” Axton masih ingin ditemani oleh istrinya. Dia tidak mau Ai


kecapean dengan melakukan hal-hal sepele seperti itu.


“aku menyuruhnya


memanggil tuan Kleiner” jawab Ai singkat. Dia tidak mau sampai terjadi hal


buruk kepada Axton, belum lagi masalah noda darah yang ia temukan semalam. Ai


tidak mau kecolongan.


“ kau tetap disini dan


temani aku, itu sudah sangat menghangatkan” cegah Axton. lelaki itu tetap tidak


mengizinkan Ai berkutat di dapur.


Ai menghembuskan nafas


panjang, suaminya kenapa begitu rewel pagi ini.


“ baiklah” mau tak mau Ai


tetap naik ke ranjang. Dia masuk ke dalam selimut dan memeluk suaminya. Sambil


menunggu kedatangan tuan Kleiner untuk mengecek kondisi Axton.


Memang dasarnya Ai sudah


kecapaian menjaga Axton semalam, wanita itu dengan segera langsung masuk


kedalam alam mimpi. Axton yang mengatahui bahwa istrinya tertidur hanya bisa


tersenyum singkat. Ingin sekali lelaki itu memeluk dan menyentuh wanita itu


lebih dalam, namun bagaimanapun keadaan tubuhnya yang memaksanya menahan rindu.


Matahari sudah nampak,


hari memulai putaran baru. Ai terbangun dan mengerjab matanya. Sebelahnya sudah


kosong. Axton pasti membiarkannya tertidur,padahal wanita itu tidak mau sampai


Axton melakukan sesuatu sendiri.


Tak ingin berlama-lama Ai


segera keluar dari kamar. Tujuan utamanya adalah teras samping. Karena setiap


pagi Axton selalu duduk disana sambil menikmati pemandangan danau.


“ pelaya itu masih belum


kembali?” Ai langsung duduk di sebelah Axton, melihat meja yang kosong menjadi


alasan pertanyaan Ai.


“ dia sudah kembali, itu


dapur.


“ lalu tuan Kleiner ?” Ai


takut jika dirinya ketinggalan penjelasan lelaki itu.


“ dia akan datang


sebentar lagi” jawab Axton, seketika Ai menjadi lega. Dia tidak terlewat


mengetahui perkembangan kesehatan Axton.


“bagus” ucap Ai senang.


Pelayan kemudian


menyiapkan sarapan, tidak ada perbincangan serius. Ai dan Axton hanya fokus


menghabiskan makanan.


“ tuan kleiner suda


datang” ucap pelayan begitu sarapan mereka selesai.


“ suruh kemari” Ai


terlihat begitu antusias.


Tak lama terdengar


langkah pelan menuju ke teras samping.


“ pagi Duke, ada apa


memanggil saya kemari?” tuan Kleiner memberikan salam pembuka.


“ saya yang meminta anda


datang, anda bisa langsung memeriksa perkembangan Axton” Ai segera


mempersilahkan tuan Kleiner untuk duduk di dekat suaminya.


“ apa semalam Duke


mengalami sesuatu?” tuan Kleiner tidak bisa langsung tau, dia perlu rujukan


dengan beberapa keluhan atau kejadian tertentu.


“ selama suhu tubuh Axton


begitu tinggi, dan lemah.. lalu..” Ai bingung harus bagaimana mengatakannya.


“ biar aku jelaskan ya”


Axton segera mengambil alih.


“ semalam mengalami demam


dan pernafasanku mendadak menjadi sesak, rasanya tubuhku tidak ada energi”


jelas Axton, sebenarnya dia juga tau alasan dibalik keluhannya semalam. Apa yang


terjadi dan akan terjadi Axton sudah mengerti pola penyembuhan ini. Namun dia


tidak bisa mengatakannya atau akan membuat Istrinya semakin khawatir. Lebih baik


seperti ini, Ai akan lebih tenang jika ada seseorang terpercaya yang


mengatakannya.


“ itu semua adalah efek


dari obat, ini menujukkan bahwa tubuh Duke sedang mengalami penyembuhan” jawab


tuan Kleiner tenang. Axton yang mendengarnya juga ikut senang, semuanya sesuai dengan


keinginannya.


“ lalu adakah cara untuk


meringankannya?” Ai mencoba untuk mencari tau apakah ada jalan untuk mengurangi


rasa sakit suaminya.


“ mungkin ini, anda bisa


merebusnya untuk Duke” tuan Kleiner mengeluarkan sebuah buntalan kertas berisi


beberapa bahan herbal dan memberikanya kepada Ai. Ai segera menerima dan


membuka isi buntalan itu.


“ aku akan menyuruh


pelayan menyiapkannya” Ai bergegas pergi.


“ dia sedang membersihkan


kamar dan pakaian kotor, mungkin lebih baik kamu saja,  biar lebih cepat, tidak apakan?” Axton


menyuruh Ai halus.


“ ah begitu, tentu” Ai


berjalan menjauh dari meja.


“ apa ada sesuatu yang


terjadi?” tanya tuan Kleiner serius, memang sejak tadi dirinya menangkap kode


Axton yang menyuruhnya untuk bersandiwara didepan Ai.


“ aku sudah mengalami


muntah darah” jawab Axton singkat. tuan Kleiner yang mendengar tampak kaget


sambil mengerutkan keningnya.


“ bagaimana bisa, ini


masih fase kedua” tuan Kleiner dibuat bingung, efek yang Axton sebutkan


seharusnya terjadi begitu masuk ke tahap *******. Kenapa bisa secepat itu


terjadi.


“ kemungkinan karena


racun di tubuhku yang beraneka ragam, getah itu mengaktifkan sebagian besarnya.


Kapan fase ke tiga dimulai?” jawab Axton santai. Dia tidak merasa takut dengan


gejala yang aneh ini.


“ kita tidak bisa


melanjutka dulu, bisa-bisa tubuh anda malah tidak kuat dengan efek obatnya. Kita


tidak tau bagaimana reaksinya kali ini, kemungkinan bisa lebih parah atau anda


mengalami koma “ tuan Kleinner lebih terlihat panic daripada takut. Dia tidak


mau sampai Duke mengalami hal terburuk itu.


“ lanjutkan saja, aku


bisa menahannya. Kita tidak memiliki waktu” Axton menatap penuh keseriusan.


“ tapi hal terburuknya  adalah anda akan kehilangan kesadaran, kita


tidak bisa melihat anda seperti itu” tuan Kleiner semakin panic dengan ucapan


Axton.


“ entah koma atau mati, takutnya


semakin lama racun ini malah akan menjadi kebal. Semuanya bermuara pada


kematian, namun setidaknya dengan obat itu aku  memiliki sedikit harapan” kalimat itu terdengar begitu menyedihkan,


Axton seakan sudah putus asa dan hanya bisa bergantung pada obat itu.


Tuan Kleiner terdiam, dia


memandang Axton dalam. Bagaimana jika obat itu malah membunuh Axton lebih


cepat. Tapi jika sampai racun itu menjadi kebal peluang untuk sembuh menjadi


hilang. Aidyn benar-benar dilemma. Keputusan apa yang sebaiknya dia ambil.


“kita tidak punya banyak


waktu Aidyn, ibu kota sudah sangat kacau dengan kudeta Sea, kau tau sendiri. Pilihan


kita sekarang cuma dua, maju atau tidak sama sekali” Axton semakin membuat tuan


Kleiner ketakutan. Semuanya tergantung dari tuhan. Bagaimana pertahanan tubuh


Axton semuanya akan dia serahkan pada takdir.


“ saya akan melakukan


sesuai dengan permintaan anda” ucap tuan Kleiner lemah. Dia akan berharap dan


terus berdoa untuk keselamatan Duke.


Di dapur Ai sedang


menuangkan ramuan itu perlahan. Dia tidak mau sampai ada yang terbuang percuma.


Setelah selesai wnita itu berjalan menuju teras.


“ tuan Kleiner dimana?”


tanya Ai saat sampai di teras dan hanya mendapati Axton seorang diri.


“ dia sudah pergi, ada


hal penting yang harus dia kerjakan” jawab Axton, sambil membantu Ai menaruh


mangkuk obat di atas meja.


“ kalian disini ternyata


tidak sedang bersantai ya, selalu saja ada hal penting. Sibuk sekali” ucap Ai


sedikit kesal. Dia salah menilai, awalnya dia mengira bahwa semua orang sedang


bersembunyi disini. Ternyata mereka tidak kalah sibunya saat sedang di ibukota.


“ kenapa?” Axton


mengganggap lucu ucapan polos istrinya.


“ tidak, aku salah


mengira saja. Sudahlah ini minumlah”Ai mendekatkan mangkuk ramuan itu kearah


Axton. Axton hanya tersenyum menatap Ai lalu mengambil ramuan itu dan


meminumnya. Itu hanya herbal biasa. Hanya untuk meningkatkan energy tidak termasuk


dalam obat pemawar racun.