
Jantung Milly masih berdegup kencang setelah pintu tertutup. Dia benar-benar melakukan kesalahan. Mily bingung harus bagaimana. Jadi memutuskan untuk turun menjauhi lantai 3.
Sebentar lagi masuk makan malam. Ai masih betah untuk berbaring di ranjang. Setelah kepergok oleh Mily, suasana kamar menjadi sangat canggung, bagi Ai tadi merupakan pelukan pertama dengan Axton. Pelukan hangat yang begitu dia tunggu-tunggu. Sayanganya moment itu harus cepat berakhir karena kehadiran pelayan setianya. Sedikit kesal, tapi Ai juga memakluminya.
Berbeda dengan Axton yang merasa sangat di sayangkan, padahal tadi merupakan moment yang di tunggu-tunggu. Karena situasi langsung berubah jadi Axton memilih keluar kamar dengan wajah kesal. Di luar Mily sudah menghilang, kekesalan Axton tidak menemukan pelampiasan.
Seperti biasa makan malam berjalan dengan lancar, Axton dan Ai memulai hubungan baik setelah kesalapaham ulah Grace.
“ Brian, kau sudah mengantar Grace? “ tanya Axton yang memang menugaskan Brian untuk itu. Bagaimanapun Grace sudah lama bekerja dengan Duke. Kini harus dipecat karena ulahnya sendiri. Axton masih tau cara beretika jadi berbaik hati menyuruh pengawalnya.
“ sudah tuan”
“ bagus” Ai hanya menyimak permbicaraan singkat itu. Dia begitu lega sekarang. Bayangan masa lalu yang selalu menghantui, kini sepertinya sirna.
“ jadi karena masalah sudah selesai, apa yang akan kau lakukan dengan perhiasan itu?” tanya Ai yang sejatinya tertarik dengan set perhiasan.
“ kau boleh memilih salah satu, sisanya akan kembali di jual untuk membayar gaji pelayan” jawab Axton tenang. Yah meskipun satu Ai sedikit senang. Dia punya koleksi perhiasan baru untuk di pamerkan.
“ besok kerajaan akan mengadakan pesta ulang tahun putra mahkota. Kau persiapakan diri dengan baik “ Axton hampir kelupaan untuk memberitahu istrinya. Untung saja karena membahas perhiasan itu membuat ingatan Axton kembali.
“ pesta ulang tahu?, kita perlu menyiapkan hadiah bukan?” Ai terlihat panik, pasalnya acaranya sudah besok, dia tidak memiliki waktu yang cukup untuk menyiapkan kado.
“ tenang saja, aku sudah menyiapkan itu” putra mahkota sudah sering berhubungan dengannya membuat Axton tau apa kado yang cocok untuknya.
“ syukurlah kalau begitu” jawab Ai lega. Malam ini Ai bisa tidur dengan nyenyak, rasanya tubuhnya begitu ringan dan rileks. Beban terbesar hidupnya sudah menghilang.
Waktu menunjukan siang hari, ketika Ai sedang menatap 3 set pehiasan. Dia masih bingung harus memilih yang mana, semuanya tampak sama-sama begitu indah. Ai berencana menggunakan perhiasan ini untuk menghadiri pesta ulang tahun putra mahkota. Disana merupakan tempat yang cocok untuk pamer harta.
“ nyonya jadi pilih yang mana?” Mily yang sedari tadi menunggu kini sedikit tidak sabar.
“ sebentar Milly, ini pilihan yang sulit” ucap Ai yang kesal, konsentrasinya di ganggu.
“ sore nanti anda sudah harus berangkat. Perjalanan ke istana cukup memerlukan waktu. Jadi bisakan nyonya mempercepat pilihannya?” sudah hampir satu jam Ai yang sedari tadi menatap perhiasan, namun tak kunjung menjatuhkan pilihan. Membuat Mily gemas sendiri.
“ iya iya aku tau. Tunggu sebentar lagi” selalu saja kalimat itu yang keluar, tapi kata sebentar bagi Milly terasa sangat lama.
“ kau bisa siapkan air mandiku dulu” lanjut Ai.
“sudah dari satu jam yang lalu nyonya” Mily menjaawab dengan nada datar. Membuat Ai kembali mengingat bahwa dia sudah 2 kali menyuruh Mily menyiapkan pemandian.
“ baiklah aku akan mandi dulu, sambil memikirkan apa pilihannya” Mily sedikit menafas lega, setidaknya ada sedikit kemajuan. Dia tidak mau di marahi Duke jika terlambat menyiapkan nyonyanya.
Kini Ai sudah rapi menggunakan gaun warna merah gelap. Waktu udah semakin menipis. Mily terlihat cemas karena Ai tak kunjung memberikan pilihan.
“ nyonya rambut anda sudah selesai di rias. Sekarang kita bisa memakai perhiasannya”
Tok tok
“ nyonya itu pasti pengawal Brian. Untung saja kita selesai tepat waktu” Mily berjalan mendekati pintu dan membukanya.
“ em,tuan” Milly tiba-tiba gugup ternyata tebakannya salah. Dengan sedikit canggung Mily segera meninggalkan kamar, begitu Axton melangkah masuk.
Dilihatnya sosok wanita yang duduk menyamping di meja rias. Bahkan Axton belum melihat wajahnya, tapi sudah terpesona.
“ oh kau, apa kita sudah akan berangkat? Mari” Ai yang melihat Axton berdiri kini beranjak dari kursi. Mendekati Axton dan mengajaknya turun.
“ ayoo” ucap Ai yang melihat Axton masih diam.
Seakan tersadar Axton ber dehem dan mengkuti langkah istrinya. Axton juga sengaja menaruh tangannya di pinggang sang istri, malam ini dia tidak boleh membiarkan Ai terlepas dari pandangannya. Axton khawatir jika lelaki lain berusaha mendekati istrinya yang menawan ini. Didalam kereta pasangan itu tidak banyak berbincang. Sampai beberapa saat kemudian kereta sudah berhenti. Waktu sudah mulai gelap. Pertanda pesta akan segera di mulai.
Dari gerbang kerajaan sudah banyak yang menyapa Axton dan Ai, pasangan Duke dan Duchess ini nampak paling serasi. Tampan dan cantik, meskipun siapapun pasti tau berapa jauh jarak usia pasangan terkenal ini.
“ Duke dan Duchess Wellington “ teriak penjaga pintu, memberitahukan kedatangan Axton.
Aula pesta sudah begitu ramai dengan bangsawan Bavaria. Semuanya menatap penuh damba pasangan yang baru masuk, lelaki pada Ai dan wanita kepada Axton. Dengan tangan masih merangkul erat pinggang sang istri Axton berjalan menemui tuan rumah.
“ yang mulia putra mahkota Sea” sapa Axton pada sosok lelaki berumur 23 yang tampak begitu tampan.
“ oh Duke serta em,, Duchess Wellington, bukan?” jawab Sea yang sedikit heran menatap wanita muda di samping Axton.
“ iya yang mulia, wanita ini istri saya” jawab Axton sopan.
“ oh astaga, kau membuatku patah hati saat berulang tahun, Duke “ sea menyenggol pelan punggung Axton. Mendengar kalimat itu nampaknya membuat Axton tidak bisa tenang.
“ oh ya, bagaimana bisa?” tanya Axton penasaran.
“ aku pernah melihatnya di acara amal beberapa minggu yang lalu. Kecantikannya menarik hatiku seketika, sekarang aku baru tau jika wanita itu sudah bersuami” jawab Sea yang tidak lepas menatap Ai. Membuat Ai sedikit terganggu dan memegang erat gaunnya sambil menunduk.
“ ternyata begitu, maaf telah membuat anda kecewa. Dia sudah menarik hati saya lebih dulu” jawab Axton sedikit menahan amarahnya. Dia juga mengelus pelan pipi istrinya untuk menunjukkan kepemilikan.
“ oh ayolah jangan pamer kemesraan disini “ Sea yang melihat rangkulan Axton semakin erat. Tak lupa dengan adegan mesra barusan.
“ anda sudah saatnya memilih putri mahkota” sindir Axton untuk menyairkan suasana.
“ kau benar sekali Duke “ mereka tampak saling mengenal dekat. Tertawa dan berbincang bersama, tapi dalam hati masing-masing selalu memasang perlindungan diri. Mereka bisa dikatakan lawan satu sama lainnya. Hanya saja tidak bisa dilihat dengan jelas. Posisi dan keterampilan Axton terkadang masih di banding-bandingkan dengan anggota kerajaan, salah satunya putra mahkota.
Tanpa meraka sadari, tak jauh darisana ada sepasang mata yang menatap tajam ke arah 3 orang yang sedang berbicang itu. Sambil hati yang terus memaki seseorang itu menyeringai pelan. Pasalnya sudah ada rencana besar yang sudah dia susun matang-matang.
“kali ini kau tidak akan selamat” guman seseorang itu.