
“ paman, bibi!” teriak Ai begitu sampai di meja makan. Dua orang yang sudah seperti ayah dan ibu pengganti bagi Ai, langsung saja berhambur memeluk Amber sang bibi.
“ oh gadisku” ucap Amber dengan panggilan kesayangan. Amber segera membalas pelukan Ai tak kalah eratnya.
“ bibi” Ai berlaku manja, semenjak menikah ini adalah pertemuan pertama bagi kedua wanita itu.
“ mari makan, nanti bicaranya di sambung lagi” ucap Axton sambil menarik kursi untuk sang istri.
“ ah ya, mari bibi” ke empat orang itu sudah mengisi meja makan. Suasana malam kali begitu ramai dan hangat.
“ pantas saja kau betah disini, lihatlah makanan ini. Terlihat begitu lezat” sindir Amber sambil melirik sang ponakan yang senyum-senyum sendiri.
Setelah menyelesaikan makan malam, Amber dan Ai berada ruang tamu lantai 2. Sedangkan Allard bersama dengan Axton di ruang kerjanya.
“kenapa bibi tidak memberitahuku jika akan kemari ?” ucap Ai yang kini sedang berbaring berbantalkan paha Amber. Kebiasaan Ai ketika dulu masih berada satu rumah dengan Amber, meskipun hanya singgah sebentar.
“ bibi hanya ikut pamanmu saja, mana tau ternyata kemari” kilah Amber, dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya kepada Ai.
“ paman daridulu tak pernah berubah, misterius” ucap Ai sambil beranjak duduk mengambil cemilan.
“ sudah ada pertumbuhan belum di perutmu?” tanya Amber tiba-tiba.
Uhuk uhuk Ai tidak menyangka jika bibinya akan bertanya soal kehamilan. Baru saja kemarina mereka melakukannya tentu saja masih belum.
“ ah bibi, janga menanyakan itu” Ai tidak mungkin menjelaskan situasinya.
“ atau jangan-jangan kalian belum..”
“ bibi jangan di teruskan, mari bahas yang lain” Ai memeluk lengan bibinya agar Amber mau berganti topik.
“ ini topik penting Ai sayang, sudah 3 bulan lebih kalian menikah. Kau tau keturunan itu momok paling berpengaruh” bibik Amber di telinga Ai. Melihat tingkah Ai yang masih manja seperti remaja kebanyakan sedikit membuat Amber khawatir, status Duchess bukanlah hal sepele.
“ Ai tau bibi, untuk sekarang sepertinya masih belum ada “ jawab Ai mulai menenangkan Amber.
“ oh ya, bagaimana kabar kak Dalbert? Apa dia juga masih tidak mau menikah?” tanya Ai yang tiba-tiba mengingat kakak sepupunya.
“ dia sudah cinta mati dengan dunia militer, bibi sudah menyerah menyuruhnya menikah” Amber mengambil teh dan meminumnya pelan.
“ pasti sering bertemu dengan Axton, lain kali aku akan menyuruh Axton mencari bangsawan kaya disini untuk kak Dalbert”
“ bibi setuju. Sepertinya kakakmu ini sangat dekat dengan suamimu, mungkin saja dia bisa memaksa Dalbert sedikit” Amber begitu antusias dengan tawaran Ai.
“ bibi, Ai ingin menanyakan sesuatu, sebenarnya kenapa paman menjodohkan Ai dengan Axton?” Ai ingin tau cerita dibalik pernikahannya yang cepat dan tiba-tiba.
Amber diam sejenak menatap Ai, dia bingung harus mengatakan apa. Semuanya terkait dengan masa lalu orang tuan Ai. Tidak mungkin menceritakan hal menyedihkan ini pada Ai.
“ biasa pamanmu yanga lebih tau” hanya alasan ini yang bisa Amber berikan.
“ Axton sudah menikah 2 kali dan semua istrinya meninggal dalam waktu yang singkat. Apa bibi tau?” Ai mulai mengajak bibinya membicarakan hal yang serius.
“ he’em, bibi tau” kali ini Amber tidak ingin berbohong lagi.
“ apa bibi tau bagaimana kedua istrinya meninggal?” tanya Ai serius, padangannya sangat dalam pada Amber, Amber hanya bisa menarik nafas dalam. Dilema tiba-tiba menyerang wanita paruh baya ini.
“ bibi tidak tau jelasnya” ini keputusan Amber, tak ingin mengatakan kejelasannya.
“ ada yang mengatakan bahwa mereka terbunuh karena aura hitam kediaman ini, aura yang berhubungan dengan kematian Grand Duke. Apa benar?” Ai mengeluarkan semua informasi yang dia dapat, tidak ada salahnya bertanya pada bibinya.
“ tentu saja tidak benar, tidak ada yang namanya aura hitam seperti itu” Amber segera menimpali pendapat Ai yang salah.
“ bibi terlihat begitu yakin, bibi sebenarnya tau kan”
“ bibi ha,hanya tidak percaya dengan hal mistis seperti itu” Amber terlihat sedkit salah tingkah. Tentu saja Ai bisa menangkap keraguan dalam jawaban bibinya.
Tak ingin berlama-lama sendirian, setelahnya Ai naik ke lantai 3. Dia juga ingin segera beristirahat setelah aktivitas yang memelahkan seharian ini. Ketika melihat pintu kerja Axton yang tidak tertutup rapat, memunculkan rasa penasarannya. Mungkin dia bisa mencuri dengar sebentar pembicaraan para lelaki itu. Perlahan berjalan mendekat, memastikan situasi aman kemudian menempelkan telingannya di pintu masuk.
“ Dalbert bisa menggantikan anda” suara ini milik Allard.
“ tidak, ini terlalu beresiko, harus aku yang turun tangan” jawab Axton.
“ bagaimana dengan Sea, dia tidak akan tinggal diam”
“ ya kau benar, wanita itu tidak akan membiarkan anaknya menderita” Ai tidak tahu apapun yang sedang mereka bicarakan tapi sepertinya ini sedikit serius.
“ bisa jadi tahun ini akan ada kenaikan” bahasan ini terlalu memusingkan Ai, tapi dia tidak ingin menyerah. Ai tetap berada disana.
“ aku tidak tau mau sampai kapan wanita itu terus memaksaku masuk kerajaan. Sudah 2 kali aku kehilangan, kali ini tidak bisa lagi “ ucap Axton mantap. Pembicaraan berhenti sejenak, Axton menangkap bayangan di celah-celah pintu. Dengan memberikan kode lewat matanya, dia menyuruh Allard juga diam.
Ai yang seakan merasakan hal aneh dari kediaman dari dalam, segera memutuskan untuk pergi. Kemungkinan pembicaraan itu selesai. Daripada tertangkap ketika salah satu dari lelaki itu keluar lebih baik Ai meyelamatkan diri.
Tepat ketika Ai menutup pintu kamar, Axton keluar. Sangat mudah untuk mengetahui jika seseorang yang menguping itu adalah istrinya sendiri. Entah sejak kapan Ai disana, Axton hanya berharap jika itu tidak lama.
“ ada apa ?”
“ ada penguping, Ai barusan berdiri disini” jawab axton masuk ke ruangan.
“ ini gawat, sebanyak apa yang dia ketahui” Allard sangat panik, hal ini begitu rahasia. Apa mungkin keponakannya sudah mengetahui semuanya.
“ tidak, sepertinya dia baru saja disana. Dia tidak mungkin berlari jika sudah mengetahui semuanya “ ucap Axton yang sudah mengenal perangai istirnya, alih-alih berlari menyelamatkan diri, istrinya pasti segera masuk dan meminta penjelasan jika tau semua pembicaraanya dengan Allard.
Setelah beberapa lama menyelasaikan rencanaa ke depan, Allard dan Axton menyudahi pembahasan. Malam sudah mulai larut. Allard segera masuk ke kamar, didalam kamar Amber sedang duduk menatap cendela. Pikirannya masih belum tenang, menunggu suaminya selesai berbaincang dengan Duke.
“ bagaimana?” tanya Amber begitu suaminya masuk.
“ tenang saja, kita perlu beberapa hari lagi sebelum membawanya pulang ” ucap Allard memeluk sang istri lembut. Menenangkan wanitanya yang terlihat begitu gelisah.
Lain halnya dengan pasangan Baron daan Baroness, Axton tidak ada sedikitpun keinginan untuk menjelaskan dan menenangkan istrinya. Malah dia sudah memiliki niat lain untuk menghukum tindakan Ai yang lancang itu.
Ceklek
ruangan kamar sudah sedikit lebih gelap. Ai baru saja terlelap, setelah sedikit ketakutan jika aksinya diketahui. Axton masuk ke pemandian, dan mengganti baju. Perlahan mengganggu istrinya yang terlelap.
“ Axton, tidurlah” ucap Ai setengah sadar.
“ hemm,,, ku kira kau masih berbicang dengan bibimu di bawah. Ternyata sudah di terlelap” Axton mencuim setiap jengkal dari leher Ai. Mengerti keinginan suaminya Ai berfikir bagaimana caranya dia bisa terbebas kali ini.
“ Axtona hentikan, kau tidak bisa melakukannya malam ini” Ai membalik tubuhnya menjadi terlentang tepat di bawah kungkungan suaminya.
“ kenapa?” tanya Axton sambil tetap menghirup leher Ai.
“ a,,aaku sudah masuk waktu berdarah ( mens)” ucap Ai sambil mendorong wajah Axton menjauh.
“ benarkah?” tanya Axton tidak percaya. Menarik diri dan meneliti raut wajah Ai, istrinya ini terlalu sering beralasan jadi kali ini Axton mulai waspada.
“ iya, barusan” ucap Ai mencoba meyakinkan. Axton mundur, berbaring di samping Ai.
“ yah sayang sekali” ucap Axton mendesah. Ai memeluk dada Axton sebagai gantinya. Sambil menyembunyikan senyum kemenangannya. Bisa tidur nyenyak malam ini. Namun tidak semudah itu Axton akan mempercayainya. Dari analisanya istrinya pasti sedang berbohong.
“ aakkk” teriak Ai ketika merasakan tangan Axton menyentuh intinya. Sambil mata melotot meminta kejelasan pada Axton.
“ tak ada apapun, kau berbohong” sambil memperlihatkan tangannya yang tidak ada noda darah bahkan sangat bersih, Axton kini yang meminta kejelasan.
“ mesum” kesal Aia membelakangi suaminya. Tentu saja Axton tidak begitu saja menyerah, tetap menyerang sang istri sebagai hukuman karena telah menguping pembicaraanya.