
“ kecurigaan apa yang mulia?”
Grace seakan ingin memperjelas maksud raja, dia benar-benar tidak bisa mengolah
maksud kalimat raja sebelumnya karena begitu khawatir.
“ apakah kediaman
Wellington yang menyuruh kalian?” seakan mati lemas, Grace dan Mily merasa
sesak tidak percaya dengan respon yang raja berikan setelah mereka mengatakan
semua kebenarannya. Bagaimana bisa mereka tidak memikirkan jika akan ada
kemungkinan seperti ini.
“ tidak yang mulia, kami
benar-benar mengatakan kebenarannya” Grace langsung menjawab keraguan raja.
Wanita itu tidak mau semuanya menjadi sia-sia. Keberanian yang dia kumpulkan harus
bisa menyelamatkan dirinya dan bayinya.
“ iya yang mulia,
bagaimana mungkin Duke atau Duchess menyuruh kami disaat keberadaan mereka saja
tidak ada yang mengetahui” Hardwin menambahkan. Dia tampil dengan wajah yang
sangat serius. Baru kali ini dia berinteraksi dengan raja Bavaria dan langsung
mendapatkan kesan yang tidak mengenakkan.
Raja terdiam beberapa
saat dia tidak mengatakan apapun. Hanya menatap sambil memikirkan sesuatu.
Lelaki itu harus menangani masalah ini dengan baik. Tidak bisa langsung
terburu-buru dan asal mengambil keputusan. Jika rumor ini tersebar maka status
kerajaan juga akan mengalami masalah.
“baiklah, untuk sementara
kalian tinggallah dulu di istana. Ini tempat paling aman agar kalian tidak
celaka” begitulah kalimat terakhir dari raja. Dia akan menunggu sampai bisa
mengambil sikap. Demi menutup semetara kasus ini maka semua yang terlibat akan
di amankan oleh kerajaan. Mereka tidak boleh menghilang atau bahkan celaka.
Ketiga orang itu saling
berpandangan. Mily dan Grace merasa lega. Meskipun awalnya raja mencurigai
mereka, namun akhirnya mereka tetap mendapatkan perlindungan. Memang istana
adalah tempat yang aman menurut mereka.
“ terimakasih yang mulia”
ucap ketiga orang itu hampir bersamaan.
“ baiklah, kalian boleh
pergi. Pelayan akan menunjukkan tempatnya. Dan untuk tuan muda Kleiner, kau
bisa tinggal terlebih dahulu. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan” jawab raja.
“ terimakasih yang Mulia”
keduanya memberikan salam penghormatan.
Akhirnya Grace yang
dibantu oleh Mily beranjak dan berjalan meninggalkan ruangan. Dia depan pintu
sudah satu pelayan dan penjaga yang bersiap mendampingi mereka menuju tempat
yang sudah mereka siapkan.
Sepeninggalnya
wanita-wanita itu, di dalam ruangan kini tinggal raja dan Hardwin. Lelaki itu
masih duduk di sofa sedangkan Raja berjalan mendekati meja dan mengambil sebuah
kertas.
Hardwin mengerutkan
keningnya saat melihat sang Raja sedang menuliskan sesuatu di atas kertas itu. Sampai
beberapa saat raja mendekatinya dan kembali duduk.
“ aku memiliki tugas
untukmu, apa kau mau menerimanya?” Raja masih menahan kertas sambil menunggu
jawaban yang akan Hardwin katakan.
“ tugas apa yang mulia? Selama
tugas itu demi Bavaria saya akan menerimanya” ucap Hardwin yakin. Dia sedikit beromong
kosong pada kalimat terakhirnya. Lelaki itu memiliki penilaiannya sendiri
tentang bagaimana respon raja ketika sedang meragukan pernyataan tadi. Dia sedikit
tidak percaya dengan kebaikan raja.
Sea di perbatasan” kalimat itu seakan membuat jantung Hardwin berdegup kencang.
Kabar perbatasan jatuh telah menyebar di seluruh Bavaria, bukannya Hardwin
takut dengan peperangan namun jika terjadi apa-apa pada pangeran Sea atau sudah
terjadi apa-apa pada pangeran Sea sehingga tugas ini tidak terlaksana maka
tamat sudah riwayatnya. Hardwin merasa jika saat ini raja sedang memberikan
jebakan padanya, namun Hardwin tidak mungkin bisa menolaknya.
Raja memberikannya kertas
yang sudah tertulis dengan jelas namanya beserta tugas yang harus dia lakukan. Surat
perintah langsung dari Raja siapapun tidak memiliki kewenangan untuk
menolaknya.
“ ba,baik yang mulia”
dengan terpaksa Hardwin menerima surat tugas itu. Dia serasa sedang menerima
surat kematiannya. Jantungnya tidak berhenti berdegup kencang. Entah bagaimana
keadaan Pangeran Sea disana, hanya itulah yang Hardwin pikirkan dan harus
Pikirkan.
“ kau memang berani
Hardwin” ucap raja kemudian. Entah keberanian macam apa yang raja kagum dari
lelaki itu. Keberanian berbicara atau keberanian mengambil resiko, Hardwin
tidak bisa berkata-kata hanya tersenyum singkat dan langsung memberikan salam
penghormatan. Lelaki itu berjalan keluar dari istana.
Namun sebelum pergi
lelaki itu meminta bertemu dengan kedua wanita yang lebhi dulu meninggalkan
ruangan. Dengan diantar seorang penjaga Hardwin di tunjukkan jalan menuju
sebuah lorong lalu tembus bagian tengah istana. Disana ada sebuah pintu.
“ Hardwin? Kenapa kau
kemari?” Grace sedang duduk di samping jendela saat Hardwin masuk ke kamarnya.
“ aku memiliki tugas
penting yang mengharuskan aku meninggalkan ibukota” jawab Hardwin sambil
berjalan mendekat. Disana Mily sedang menata makanan di meja dengan seorang
pelayan kerajaan.
Mengetahui kedatangan
Hardwin, Mily ikut bergabung dengan Grace. Tak lama kemudian pelayan itu pergi
dari kamar.
“ raja memberikan tugas
apa?” Mily berniat berbasa-basi namun ekpresi Hardwin malah memancing rasa
penasaran wanita itu.
“ ada apa?” Grace
mengambil kertas yang Hardwin tunjukkan kepada mereka.
“ perbatasan?” Grace
mengerutkan keningnya merasa ada sesuatu yang salah.
“ aku hanya berpesan,
kalau bisa cari cara keluar dari sini” bisik Hardwin, kedua wanita itu membola.
Rasa lega mereka seperi hilang begitu saja.
Tok tok , bunyi ketukan
pintu. Penjaga memang sudah berpesan agar Hardwin jangan terlalu lama
berkunjung ke kamar para wanita. Ini merupakan etika kerajaan.
“ jaga diri kalian”
Hardwin tidak menjelaskan secara detail maksud perkataanya. Dia sendiri tidak
tau kenapa firasatnya buruk terhadap raja.
Lelaki itu kemudian
berjalan keluar dari kamar. Meninggalkan Grace dan Mily dalam rasa
kekhawatiran.
Sudah beberapa hari Masy
menginap dan menemani Ai di rumah pelayannya dulu. Mereka tidak mengetahui
apapun mengenai ibukota. Hari ini Masy berniat untuk kembali ke kediaman,
sekedar mengecek peternakan dan kepulangan kedua orang tuanya.