The New Duchess

The New Duchess
Bab 89 : Tugas



“ kecurigaan apa yang mulia?”


Grace seakan ingin memperjelas maksud raja, dia benar-benar tidak bisa mengolah


maksud kalimat raja sebelumnya karena begitu khawatir.


“ apakah kediaman


Wellington yang menyuruh kalian?” seakan mati lemas, Grace dan Mily merasa


sesak tidak percaya dengan respon yang raja berikan setelah mereka mengatakan


semua kebenarannya. Bagaimana bisa mereka tidak memikirkan jika akan ada


kemungkinan seperti ini.


“ tidak yang mulia, kami


benar-benar mengatakan kebenarannya” Grace langsung menjawab keraguan raja.


Wanita itu tidak mau semuanya menjadi sia-sia. Keberanian yang dia kumpulkan harus


bisa menyelamatkan dirinya dan bayinya.


“ iya yang mulia,


bagaimana mungkin Duke atau Duchess menyuruh kami disaat keberadaan mereka saja


tidak ada yang mengetahui” Hardwin menambahkan. Dia tampil dengan wajah yang


sangat serius. Baru kali ini dia berinteraksi dengan raja Bavaria dan langsung


mendapatkan kesan yang tidak mengenakkan.


Raja terdiam beberapa


saat dia tidak mengatakan apapun. Hanya menatap sambil memikirkan sesuatu.


Lelaki itu harus menangani masalah ini dengan baik. Tidak bisa langsung


terburu-buru dan asal mengambil keputusan. Jika rumor ini tersebar maka status


kerajaan juga akan mengalami masalah.


“baiklah, untuk sementara


kalian tinggallah dulu di istana. Ini tempat paling aman agar kalian tidak


celaka” begitulah kalimat terakhir dari raja. Dia akan menunggu sampai bisa


mengambil sikap. Demi menutup semetara kasus ini maka semua yang terlibat akan


di amankan oleh kerajaan. Mereka tidak boleh menghilang atau bahkan celaka.


Ketiga orang itu saling


berpandangan. Mily dan Grace merasa lega. Meskipun awalnya raja mencurigai


mereka, namun akhirnya mereka tetap mendapatkan perlindungan. Memang istana


adalah tempat yang aman menurut mereka.


“ terimakasih yang mulia”


ucap ketiga orang itu hampir bersamaan.


“ baiklah, kalian boleh


pergi. Pelayan akan menunjukkan tempatnya. Dan untuk tuan muda Kleiner, kau


bisa tinggal terlebih dahulu. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan” jawab raja.


“ terimakasih yang Mulia”


keduanya memberikan salam penghormatan.


Akhirnya Grace yang


dibantu oleh Mily beranjak dan berjalan meninggalkan ruangan. Dia depan pintu


sudah satu pelayan dan penjaga yang bersiap mendampingi mereka menuju tempat


yang sudah mereka siapkan.


Sepeninggalnya


wanita-wanita itu, di dalam ruangan kini tinggal raja dan Hardwin. Lelaki itu


masih duduk di sofa sedangkan Raja berjalan mendekati meja dan mengambil sebuah


kertas.


Hardwin mengerutkan


keningnya saat melihat sang Raja sedang menuliskan sesuatu di atas kertas itu. Sampai


beberapa saat raja mendekatinya dan kembali duduk.


“ aku memiliki tugas


untukmu, apa kau mau menerimanya?” Raja masih menahan kertas sambil menunggu


jawaban yang akan Hardwin katakan.


“ tugas apa yang mulia? Selama


tugas itu demi Bavaria saya akan menerimanya” ucap Hardwin yakin. Dia sedikit beromong


kosong pada kalimat terakhirnya. Lelaki itu memiliki penilaiannya sendiri


tentang bagaimana respon raja ketika sedang meragukan pernyataan tadi. Dia sedikit


tidak percaya dengan kebaikan raja.


Sea di perbatasan” kalimat itu seakan membuat jantung Hardwin berdegup kencang.


Kabar perbatasan jatuh telah menyebar di seluruh Bavaria, bukannya Hardwin


takut dengan peperangan namun jika terjadi apa-apa pada pangeran Sea atau sudah


terjadi apa-apa pada pangeran Sea sehingga tugas ini tidak terlaksana maka


tamat sudah riwayatnya. Hardwin merasa jika saat ini raja sedang memberikan


jebakan padanya, namun Hardwin tidak mungkin bisa menolaknya.


Raja memberikannya kertas


yang sudah tertulis dengan jelas namanya beserta tugas yang harus dia lakukan. Surat


perintah langsung dari Raja siapapun tidak memiliki kewenangan untuk


menolaknya.


“ ba,baik yang mulia”


dengan terpaksa Hardwin menerima surat tugas itu. Dia serasa sedang menerima


surat kematiannya. Jantungnya tidak berhenti berdegup kencang. Entah bagaimana


keadaan Pangeran Sea disana, hanya itulah yang Hardwin pikirkan dan harus


Pikirkan.


“ kau memang berani


Hardwin” ucap raja kemudian. Entah keberanian macam apa yang raja kagum dari


lelaki itu. Keberanian berbicara atau keberanian mengambil resiko, Hardwin


tidak bisa berkata-kata hanya tersenyum singkat dan langsung memberikan salam


penghormatan. Lelaki itu berjalan keluar dari istana.


Namun sebelum pergi


lelaki itu meminta bertemu dengan kedua wanita yang lebhi dulu meninggalkan


ruangan. Dengan diantar seorang penjaga Hardwin di tunjukkan jalan menuju


sebuah lorong lalu tembus bagian tengah istana. Disana ada sebuah pintu.


“ Hardwin? Kenapa kau


kemari?” Grace sedang duduk di samping jendela saat Hardwin masuk ke kamarnya.


“ aku memiliki tugas


penting yang mengharuskan aku meninggalkan ibukota” jawab Hardwin sambil


berjalan mendekat. Disana Mily sedang menata makanan di meja dengan seorang


pelayan kerajaan.


Mengetahui kedatangan


Hardwin, Mily ikut bergabung dengan Grace. Tak lama kemudian pelayan itu pergi


dari kamar.


“ raja memberikan tugas


apa?” Mily berniat berbasa-basi namun ekpresi Hardwin malah memancing rasa


penasaran wanita itu.


“ ada apa?” Grace


mengambil kertas yang Hardwin tunjukkan kepada mereka.


“ perbatasan?” Grace


mengerutkan keningnya merasa ada sesuatu yang salah.


“ aku hanya berpesan,


kalau bisa cari cara keluar dari sini” bisik Hardwin, kedua wanita itu membola.


Rasa lega mereka seperi hilang begitu saja.


Tok tok , bunyi ketukan


pintu. Penjaga memang sudah berpesan agar Hardwin jangan terlalu lama


berkunjung ke kamar para wanita. Ini merupakan etika kerajaan.


“ jaga diri kalian”


Hardwin tidak menjelaskan secara detail maksud perkataanya. Dia sendiri tidak


tau kenapa firasatnya buruk terhadap raja.


Lelaki itu kemudian


berjalan keluar dari kamar. Meninggalkan Grace dan Mily dalam rasa


kekhawatiran.


Sudah beberapa hari Masy


menginap dan menemani Ai di rumah pelayannya dulu. Mereka tidak mengetahui


apapun mengenai ibukota. Hari ini Masy berniat untuk kembali ke kediaman,


sekedar mengecek peternakan dan kepulangan kedua orang tuanya.