The New Duchess

The New Duchess
Bab 126 : Cerita



Pondok terlihat begitu


sepi, meski pelayan sudah kembali bekerja disana. Namun saat malam hari mereka


memilih untuk kembali ke kawasan depan. Pasangan suami istri itu sedang


sibuk-sibuknya berada di dalam kamar. Seperti saat ini mereka sedang terbaring


setelah aktfitas suami istri.


“ kau terlihat begitu


perhatian dengan tuan Kleiner?” tanya Ai, wanita itu tengah terbaring dan


menjadikan dada Axton sebagai bantalnya.


“ dia sudah seperti paman


bagiku” jawan Axton sambil mengelus pelan rambut istrinya.


“ keluarga kalian sangat


dekat?” Ai bertanya lagi.


“ tidak bisa dibilang


dekat juga, semua karena hutang budi yang Aidyn fikirkan itu. Dulu mendiang


nyonya Kleiner terkena racun yang sama dengan Grand Duke. Sebagai bangsawan


tertinggi Grand Duke dengan mudah mendapatkan penawarnya, namun tidak dengan


Kleiner. Seiring dengan waktu kondisi istrinya semakin buruk dan baru di


ketahui jika wanita itu sedang hamil Hardwin. GranDuke iku prihatin dan


memberikan beberapa penawar racun miliknya. Membuat Hardwin memiliki darah


penawar dan bisa meningkatkan efek penawar. Akhirnya Wanita itu selamat sampai


bayinya lahir namun sayang GrandDuke tidak” jelas Axton datar. Lelaki itu tidak


mengeluarkan emosi apapun.


“ jadi Grand Duke


mengorbankan dirinya untuk keluarga Kleiner?” Ai mendongak menatap wajah


suaminya. Kisah ini begitu menyentuh bagi Ainsley.


“ Kleiner berfikir


seperti itu” jawab Axton singkat. Tentu saja Ai semakin dibuat bingung,


keningnya berkerut sambil menatap dalam menuntut penjelasan.


“ lalu apa yang sebenarnya


terjadi ?” Ai ingin mendengar keseluruhan ceritanya. Axton diam sambil menatap


istrinya. Lelaki itu sedang menimbang apakah istrinya aman jika mengetahui


cerita yang sebenarnya, lelaki itu takut jika semakin banyak hal yang


terungkap, akan mempengaruhi keselamatan sang istri.


“ kau tidak mau


bercerita?” Ai menatap sinis, dia sudah terlanjur penasaran dan dengan


seenaknya suaminya menyembunyikannya.


“ kau tidak percaya


denganku?” sekali lagi Ai menuntut. Akhirnya Axton tersenyum tipis, dia gemas


jika melihat istirnya merajuk seperti ini.


“ aku sangat percaya


padamu, namun aku takut jika kau mengetahui semuanya, nanti keselamatanmu..”


“ terancam begitu? Mau bagaimana


lagi aku sudah menjadi buronan. Kurang buruk apa nasibku” Ai berceloteh tidak


terima dengan alasan yang Axton berikan.


“ ah ya aku melupakan


itu” Axton menyubit pipi Ai, dia lupa mengenai Ai yang menjadi buronan di


ibukota.


“ baiklah aku ceritakan.


Hal yang paling mematikan itu ternyata bukanlah racun, bagi Grand Duke tanpa


terkena racunpun tubuhnya sudah teracuni dan perlahan menuju kematian, beliau


melihat bayi Kleiner  masih memiliki


harapan. Sedang dirinya sudah tidak memiliki harapan apapun. Bukan masalah


racunnya, yang lebih menyakitkan lagi adalah orang yang memberikanya racun


ternyata adalah seseorang yang mati-matian dia cintai. Satu-satunya harapannya


sudah pergi. Ayah tidak pernah ingin hidup lebih lama setelah ditinggal


kekasihnya. Dia hanya ingin aku tidak mengulang kesalahan yang sama” Axton


memeluk istrinya dengan erat, mencium aroma sang istri dengan dalam. Seolah


ingin mengingatnya dalam pikiran.


“ lalu kau bagaimana?”


tanya Ai sambil mendorong wajah suaminya.


“ aku tidak masalah, selagi


ayah bahagia aku juga selalu mendukung” jawab Axton ringan. Padahal hatinya


terasa begitu sakit, bagaimana dia menyaksikan kondisi ayahnya saat sudah tidak


memiliki semangat hidup, apalagi setelah diberikan racun, ayahnya juga mengetahui


salah satu anaknya dijadikan anak orang lain. Baginya melihat ayahnya


sakit-sakitan seperti itu lebih menyakitkan daripada melihat ayahnya pergi


selamanya dalam damai. Axton meyembunyikan kesedihannya seorang diri dan kini


berjuang seorang diri. Lelaki itu memikul banyak sekali beban dalam hidupnya.


“ kau tak apa?” Ai merasa


Axton sedang bersandiwara, apalagi saat ini lelaki itu sedang menyembunyikan


wajahnya di dadanya. Dan benar saja, sedetik kemudian, Ai merasakan basah


didadanya, dibarengi dengan bahu suaminya yang sedikit bergetar. Ai memeluk


erat sang suami, dia juga merasakan kesedihan yang Axton rasakan.


“ sstt” Ai menenangkan,


Malam itu ditutup dengan


cerita yang begitu emosional, Ai menenangkan suaminya dengan berbagai macam


cara. Meski akhirnya dia sedikit menyesal karena nyatanya suaminya malah


meminta lebih dan memanfaatkan simpati darinya.


Pagi harinya Axton dan Ai


sudah bersiap, mereka akan meninggalkan pondok dan akan bergabung ke kawasan


depan. Kemungkinan besok atau lusa mereka sudah akan meninggalkan kawasan


rahasia ini.


Mereka disambut pengikut


Axton yang setia, tak lupa dengan pengeran Aric yang sudah  menantikan kedatangan Duke, mereka sudah


melaksanakan semua persiapan yang sudah Duke katakan sebelumnya.


Sejak pagi sampai sore,


Axton hanya sibuk di dalam ruang strategi dengan ditemani pangeran Aric beserta


tuan Kleiner, kemungkinan ini akan menjadi rencana terbesar yang akan berdampak


dalam jajaran pemerintahan Bavaria.


“ ibukota sudah dijaga


ketat dengan pasukan putra mahkota, kabar sakitnya raja membuatnya semakin


mudah mengambil alih pemerintahan” ucap salah seolah mata-mata yang baru sampai


mendapatkan kabar.


“ kita bisa membagi 2


pasukan. Kau dan Hardwin akan menjadi pasukan bayangan, aku dan pangeran akan menyelundup


ke istana. Kita akan bertemu saat berada di pintu masuk. Kita harus


menyelamatkan raja terlebih dahulu” jelas Axton.


“ aku setuju dengan


rencana Duke, ayah harus segera kita amankan dulu” jawab pengeran Aric tegas.


Dia sudah tidak bisa tenang saat mengetahui jika putra mahkota memblokade pintu


masuk ibukota dengan alasan raja sedang sakit, nyatanya dia sedang melakukan


kejahatan demi mengambil tahta.


“ baiklah, besok pagi


kita langsung berangkat, sesuai dengan jalur yang sudah kita sepakati” tuan


Kleiner menutup pertemuan panjang sore itu. Mereka mulai mempersiapkan diri di


kamar masing-masing.


Axton langsung menemui


istrinya  yang sudah seharian ini dia


tinggal. Ada hal penting yang harus dia katakan dan ini menyangkut nasib


mereka.


“  kau sudah makan?” Ai sedang menata makanan di


meja, dia barusaja dari dapur untuk mengambil makan malam.


“ aku mencarimu sedari


tadi” Axton memeluk Ai dari belakang.


“ kita makan terlebih


dahulu” Ai melepaskan pelukan suaminya dan menariknya agar duduk.


Mereka makan dengan


santai, sambil sesekali berbincang sedang. Baik Ai maupun Axton mereka


menghindari perbincangan serius mengenai rencana besok agar tidak mengganggu


suasan makan. Baru setelah selesai Ai dan Axton duduk diteras depan.


“ besok kita sudah akan


meninggalkan kawasan ini” Axton memulai perbincangan.


“ apa kita langsung


menuju ibukota?” tanya Ai.


“ bukan kita tapi aku,


kau ikutlah bersama pasukan Kleiner. Mereka akan mengantarmu ke paman Al.


setelah semua urusan selesai baru aku akan menjemputmu kembali” jelas Axton


mengatakan rencana khusus untuk istrinya. Ai terdiam agak lama.


“ tidak, aku tidak mau.


Aku akan ikut denganmu” Ai menolak dengan tegas.


“ Ai menurutlah. Bukannya


aku tidak mau, situasinya tidak mendukung” Axton mencoba memberikan penjelasan.


“ aku tidak mau kita


berpisah lagi” Ai memegang tangan Axton kuat. Dia tidak mau seperti sebelumnya,


mencari kabar suaminya kesana kemari.


“ aku juga menginginkan


sperti itu, dengarkan aku. Kali ini jauh berbeda, setelah mengantar putra


mahkota aku akan langsung menyusulmu. Lagi pula pasukan utama jumlahnya tidak


banyak, penjagaan pengeran Aric akan diprioritaskan. Jika kau juga disana maka


semakin berat tanggung jawab pasukan. Mengertilah “ Axton merangkai berbagai


alasan agar Ai mau percaya dan menuruti semua perintahnya.


Ai tidak bisa mengelak,


memang benar apa yang suaminya katakan. Dia akan semakin memberatkan pasukan


jika berada disana. Axton juga terlihat tidak mau mengalah.


“ baiklah ikuti rencanamu


saja” jawab Ai pasrah. Dia akan pura-pura menurut sambil mencari tau apa rencana


sebenarnya dari orang lain.