
Pondok terlihat begitu
sepi, meski pelayan sudah kembali bekerja disana. Namun saat malam hari mereka
memilih untuk kembali ke kawasan depan. Pasangan suami istri itu sedang
sibuk-sibuknya berada di dalam kamar. Seperti saat ini mereka sedang terbaring
setelah aktfitas suami istri.
“ kau terlihat begitu
perhatian dengan tuan Kleiner?” tanya Ai, wanita itu tengah terbaring dan
menjadikan dada Axton sebagai bantalnya.
“ dia sudah seperti paman
bagiku” jawan Axton sambil mengelus pelan rambut istrinya.
“ keluarga kalian sangat
dekat?” Ai bertanya lagi.
“ tidak bisa dibilang
dekat juga, semua karena hutang budi yang Aidyn fikirkan itu. Dulu mendiang
nyonya Kleiner terkena racun yang sama dengan Grand Duke. Sebagai bangsawan
tertinggi Grand Duke dengan mudah mendapatkan penawarnya, namun tidak dengan
Kleiner. Seiring dengan waktu kondisi istrinya semakin buruk dan baru di
ketahui jika wanita itu sedang hamil Hardwin. GranDuke iku prihatin dan
memberikan beberapa penawar racun miliknya. Membuat Hardwin memiliki darah
penawar dan bisa meningkatkan efek penawar. Akhirnya Wanita itu selamat sampai
bayinya lahir namun sayang GrandDuke tidak” jelas Axton datar. Lelaki itu tidak
mengeluarkan emosi apapun.
“ jadi Grand Duke
mengorbankan dirinya untuk keluarga Kleiner?” Ai mendongak menatap wajah
suaminya. Kisah ini begitu menyentuh bagi Ainsley.
“ Kleiner berfikir
seperti itu” jawab Axton singkat. Tentu saja Ai semakin dibuat bingung,
keningnya berkerut sambil menatap dalam menuntut penjelasan.
“ lalu apa yang sebenarnya
terjadi ?” Ai ingin mendengar keseluruhan ceritanya. Axton diam sambil menatap
istrinya. Lelaki itu sedang menimbang apakah istrinya aman jika mengetahui
cerita yang sebenarnya, lelaki itu takut jika semakin banyak hal yang
terungkap, akan mempengaruhi keselamatan sang istri.
“ kau tidak mau
bercerita?” Ai menatap sinis, dia sudah terlanjur penasaran dan dengan
seenaknya suaminya menyembunyikannya.
“ kau tidak percaya
denganku?” sekali lagi Ai menuntut. Akhirnya Axton tersenyum tipis, dia gemas
jika melihat istirnya merajuk seperti ini.
“ aku sangat percaya
padamu, namun aku takut jika kau mengetahui semuanya, nanti keselamatanmu..”
“ terancam begitu? Mau bagaimana
lagi aku sudah menjadi buronan. Kurang buruk apa nasibku” Ai berceloteh tidak
terima dengan alasan yang Axton berikan.
“ ah ya aku melupakan
itu” Axton menyubit pipi Ai, dia lupa mengenai Ai yang menjadi buronan di
ibukota.
“ baiklah aku ceritakan.
Hal yang paling mematikan itu ternyata bukanlah racun, bagi Grand Duke tanpa
terkena racunpun tubuhnya sudah teracuni dan perlahan menuju kematian, beliau
melihat bayi Kleiner masih memiliki
harapan. Sedang dirinya sudah tidak memiliki harapan apapun. Bukan masalah
racunnya, yang lebih menyakitkan lagi adalah orang yang memberikanya racun
ternyata adalah seseorang yang mati-matian dia cintai. Satu-satunya harapannya
sudah pergi. Ayah tidak pernah ingin hidup lebih lama setelah ditinggal
kekasihnya. Dia hanya ingin aku tidak mengulang kesalahan yang sama” Axton
memeluk istrinya dengan erat, mencium aroma sang istri dengan dalam. Seolah
ingin mengingatnya dalam pikiran.
“ lalu kau bagaimana?”
tanya Ai sambil mendorong wajah suaminya.
“ aku tidak masalah, selagi
ayah bahagia aku juga selalu mendukung” jawab Axton ringan. Padahal hatinya
terasa begitu sakit, bagaimana dia menyaksikan kondisi ayahnya saat sudah tidak
memiliki semangat hidup, apalagi setelah diberikan racun, ayahnya juga mengetahui
salah satu anaknya dijadikan anak orang lain. Baginya melihat ayahnya
sakit-sakitan seperti itu lebih menyakitkan daripada melihat ayahnya pergi
selamanya dalam damai. Axton meyembunyikan kesedihannya seorang diri dan kini
berjuang seorang diri. Lelaki itu memikul banyak sekali beban dalam hidupnya.
“ kau tak apa?” Ai merasa
Axton sedang bersandiwara, apalagi saat ini lelaki itu sedang menyembunyikan
wajahnya di dadanya. Dan benar saja, sedetik kemudian, Ai merasakan basah
didadanya, dibarengi dengan bahu suaminya yang sedikit bergetar. Ai memeluk
erat sang suami, dia juga merasakan kesedihan yang Axton rasakan.
“ sstt” Ai menenangkan,
Malam itu ditutup dengan
cerita yang begitu emosional, Ai menenangkan suaminya dengan berbagai macam
cara. Meski akhirnya dia sedikit menyesal karena nyatanya suaminya malah
meminta lebih dan memanfaatkan simpati darinya.
Pagi harinya Axton dan Ai
sudah bersiap, mereka akan meninggalkan pondok dan akan bergabung ke kawasan
depan. Kemungkinan besok atau lusa mereka sudah akan meninggalkan kawasan
rahasia ini.
Mereka disambut pengikut
Axton yang setia, tak lupa dengan pengeran Aric yang sudah menantikan kedatangan Duke, mereka sudah
melaksanakan semua persiapan yang sudah Duke katakan sebelumnya.
Sejak pagi sampai sore,
Axton hanya sibuk di dalam ruang strategi dengan ditemani pangeran Aric beserta
tuan Kleiner, kemungkinan ini akan menjadi rencana terbesar yang akan berdampak
dalam jajaran pemerintahan Bavaria.
“ ibukota sudah dijaga
ketat dengan pasukan putra mahkota, kabar sakitnya raja membuatnya semakin
mudah mengambil alih pemerintahan” ucap salah seolah mata-mata yang baru sampai
mendapatkan kabar.
“ kita bisa membagi 2
pasukan. Kau dan Hardwin akan menjadi pasukan bayangan, aku dan pangeran akan menyelundup
ke istana. Kita akan bertemu saat berada di pintu masuk. Kita harus
menyelamatkan raja terlebih dahulu” jelas Axton.
“ aku setuju dengan
rencana Duke, ayah harus segera kita amankan dulu” jawab pengeran Aric tegas.
Dia sudah tidak bisa tenang saat mengetahui jika putra mahkota memblokade pintu
masuk ibukota dengan alasan raja sedang sakit, nyatanya dia sedang melakukan
kejahatan demi mengambil tahta.
“ baiklah, besok pagi
kita langsung berangkat, sesuai dengan jalur yang sudah kita sepakati” tuan
Kleiner menutup pertemuan panjang sore itu. Mereka mulai mempersiapkan diri di
kamar masing-masing.
Axton langsung menemui
istrinya yang sudah seharian ini dia
tinggal. Ada hal penting yang harus dia katakan dan ini menyangkut nasib
mereka.
“ kau sudah makan?” Ai sedang menata makanan di
meja, dia barusaja dari dapur untuk mengambil makan malam.
“ aku mencarimu sedari
tadi” Axton memeluk Ai dari belakang.
“ kita makan terlebih
dahulu” Ai melepaskan pelukan suaminya dan menariknya agar duduk.
Mereka makan dengan
santai, sambil sesekali berbincang sedang. Baik Ai maupun Axton mereka
menghindari perbincangan serius mengenai rencana besok agar tidak mengganggu
suasan makan. Baru setelah selesai Ai dan Axton duduk diteras depan.
“ besok kita sudah akan
meninggalkan kawasan ini” Axton memulai perbincangan.
“ apa kita langsung
menuju ibukota?” tanya Ai.
“ bukan kita tapi aku,
kau ikutlah bersama pasukan Kleiner. Mereka akan mengantarmu ke paman Al.
setelah semua urusan selesai baru aku akan menjemputmu kembali” jelas Axton
mengatakan rencana khusus untuk istrinya. Ai terdiam agak lama.
“ tidak, aku tidak mau.
Aku akan ikut denganmu” Ai menolak dengan tegas.
“ Ai menurutlah. Bukannya
aku tidak mau, situasinya tidak mendukung” Axton mencoba memberikan penjelasan.
“ aku tidak mau kita
berpisah lagi” Ai memegang tangan Axton kuat. Dia tidak mau seperti sebelumnya,
mencari kabar suaminya kesana kemari.
“ aku juga menginginkan
sperti itu, dengarkan aku. Kali ini jauh berbeda, setelah mengantar putra
mahkota aku akan langsung menyusulmu. Lagi pula pasukan utama jumlahnya tidak
banyak, penjagaan pengeran Aric akan diprioritaskan. Jika kau juga disana maka
semakin berat tanggung jawab pasukan. Mengertilah “ Axton merangkai berbagai
alasan agar Ai mau percaya dan menuruti semua perintahnya.
Ai tidak bisa mengelak,
memang benar apa yang suaminya katakan. Dia akan semakin memberatkan pasukan
jika berada disana. Axton juga terlihat tidak mau mengalah.
“ baiklah ikuti rencanamu
saja” jawab Ai pasrah. Dia akan pura-pura menurut sambil mencari tau apa rencana
sebenarnya dari orang lain.