The New Duchess

The New Duchess
Bab 150. Kacau



Hari masih sangat pagi, saat istana Pangeran sedang terlihat pengawal pribadi pangeran yang berlari menuju kamar Aric.


tap tap tap


Lelaki itu berlari sekuat yang dia bisa.


" pangeran"


tok tok tok, dia melupakan sejenak etika kerajaan yang selama ini dia jaga.


" pangeran" panggil pengawal itu dengan keras.


ceklek, terlalu lama. Pengawal itu langsung membuka kamar dan berlari menuju ranjang.


" pangeran, bangun. Ada masalah. Ratu akan memberikan surat pengakuan diri dan wasiat kepada bagian hukum kerajaan"


seketika lelaki itu membuka mata.


" apa?, dimana surat itu. Mereka tidak boleh tau masalah sebenarnya. tidak, ibu tidak boleh mengambil langkah seperti ini" Aric segera bangkit dan berjalan cepat keluar dari kamar. Sebagai anak dia juga ingin melindungi ibunya, meski perbuatan Ratu tidak di benarkah.


" pangeran, baju anda!" pengawal itu mengambil asal jas yang terlampir di luar. Lalu segera menyusul pangeran yang sudah jauh.


Kedua lelaki itu segera pergi menuju staf kerajaan. Aric harus bisa menahan surat itu sampai dia tau isi di dalamnya.


" pangeran" ucap pengawal terengah-engah. Dia memberikan jas dan Aric memakainya di depan ruangan kerajaan.


brak, Aric membuka pintu.


" pangeran" ucap semua staff.


" mana surat Ratu?" tanya Aric langsung pada intinya.


Aric melihat dengan seksama, di tangan sekertaris kerajaan ada laporan yang dia curigai sebagai surat Ratu.


" mana" ucap Aric dengan wajah serius. semua staff saling pandang, pasalnya yang Pangeran minta adalah berkas penting dari istana Ratu.


" berikan Padaku!" teriak Aric dan sekertaris itu langsung memberikan berkas itu dengan cepat.


" untung saja kau bergerak cepat" puji Aric pada pengawalnya.


Setelah santai di meja kamarnya Aric segera membuka surat tersebut. Lelaki itu ingin memastikan jika surat ini memang tidak berbahaya untuk keselamatan ibu dan kerajaan. Aric membuka lembar pertama di bacanya dengan serius, Aric terlihat syok bercampur tidak percaya. Dia meneruskan sampai surat itu habis.


" pangeran?!" tanya pengawal itu, Aric terbengong diam sejenak.


" ini.. jangan sampai orang lain tau" lirih Aric yang juga setengah linglung. Dia hanya menatap ke depan dengan wajah pias.


" kita ke kediaman Wellington" ucapnya kemudian.


" baik pangeran" jawab pengawal itu.


Setelah segala persiapan selesai, Aric segera keluar dari istana. Dia ingin membahas hal ini dengan Duchess sebagai wanita yang sangat dekat dengan Axton.


" nyonya, ada pangeran Aric datang bertamu" ucap Milly di meja makan, semua orang tampak sedikit kaget. kecuali Ai.


" dia datang sendiri?" tanya Ai dengan wajah datar, dia sudah biasa dengan kehadiran anggota kerajaan.


" iya nyonya" jawab Milly.


Tak perlu waktu lama, mereka menghentikan sarapan sejenak dan segera beranjak menuju ruang tamu.


" Pangeran" ucap Duchess dengan diikuti yang lainnya.


" maafkan aku karena menganggu kalian pagi-pagi ini, tapi ini ada hal mendesak yang terjadi di istana" ucap Aric langsung saja.


" mari kita membahasnya di ruang baca di sana" ucap Ai yang ingin sedikit tertutup, tidak mau pelayan atau orang lain mendengar pembahasan ini.


" baiklah" saut Aric setuju.


" paman. ikutlah dengan aku" ucap Ai. Sedangkan Amber dan Dalbert memberikan jalan. Mereka cukup tau diri dengan status mereka.


Ai, Allard dan Aric duduk di sofa ruang baca. tak lupa dengan surat milik Ratu yang sudah tergeletak di atas meja.


" Ratu membuat surat pengakuan serta surat wasiat" ucap Aric membuka pembicaraan mereka. Allard dan Ai tidak langsung membukanya, kedua orang itu hanya menatap dengan waja datar.