
Tuanmuda Kleneir sudah bersiap dalam keretanya, pagi ini dia akan pergi menuju kediaman Duke. Beberapa hari yang lalu
dia mendapatkan pesan agar menemui Duke. Meski sibuk dalam pelatihan militer
namun dia tidak bisa menolaknya, apalagi ayahnya seakan memaksanya untuk segera
pulang.
“ sudah sampai tuan” ucap
kusir kereta.
Hardwin merapikan bajunya
dan keluar dari kereta. Ada perasaan rindu dalam hatinya pada salah satu
penghuni kediaman. Sudut bibirnya tertarik, saat maniknya menangkap seseorang
yang dia maksud terlihat sibuk di pelataran samping. Dengan langkah panjang
Hardwin mendekati seseorang itu.
“ selamat pagi “ sapa
Hardwin yang membuat Ai tersentak kaget. Bukan Karena apa, saat ini dia sedang menyiapkan
beberapa barang keperluan untuk dikirim ke tempat Grace. Hal bisa dikatakan
rahasia.
“ astaga Hardwin,”
mendapati lelaki yang dia tau akan membuat suaminya marah membuat Ai panic.
“ apa yang kau lakukan
disini” Ai berucap pelan, segera meninggalkan Mily yang sibuk mengangkat
barang-barang ke dalam kereta.
“sudah lama kita tidak
bertemu” Hardwin masih bersikap polos. Dia tidak mengetahui kepanikan Ai.
“ kenapa kau kemari?” Ai
kembali bertanya, dia menggandeng Hardwin membawanya jauh dari pelataran
kediaman.
“ kenapa kita kemari?”
Hardwin bingung dengan sikap Ai yang seakan ingin bersembunyi.
“Aku yang bertanya, kenapa kau kemari? “ tanya
Ai sekali lagi.
“ Aku ada ,,”
“Dimana Duchess ?” terdengar samar-samar suara
Axton yang sedang mencarinya.
Ai semakin panik, jangan
sampai suaminya salah paham.
“Dengar Hardwin kurasa ini bukan waktu yang
tepat. Kau kembali saja”
“ kurasa kau salah paham,
aku kesini karena..”
“ apa yang kalian lakukan
disana?” Axton sudah berada di belakang Ai. Hal ini tentu semakin meningkatkan
kepanikan
“ A,,Axton “ Ai menoleh dan membalikkan badan kearah suaminya.
“ kau, masuklah” tak
ingin sang istri terus berdekatan dengan Hardwin, Axton segera menengahi. Tanpa
menunggu jawaban Axton segera berjalan masuk. Ai menatap temannya itu dengan penuh tanya.
“ Duke mengundangku
kemari” jawab Hardwin enteng.
“ kenapa kau tidak
mengataannya sedari awal?” Ai merasa kesal.
“ aku sudah mencobanya”
Hardwin mengangkat bahunya kemudian berlalu meninggalkan Ai yang masih kesal.
´kenapa aku panic?` batin
Ai yang menyadari tingkah anehnya. Tak lama dia juga menyusul kedua lelaki tadi
masuk ke dalam.
“ apa tuan Kleiner
mengatakan sesuatu padamu sebelumnya?” Axton sudah berada di ruang kerjanya.
Mereka duduk berhadapan.
“ ayah hanya menyuruhku
untuk segera pulang” jawab Hardwin
“ bagaimana kondisi
militer disana? “
“ tak jauh beda dengan
yang lain, ku dengar anda akan memulai perang?”
“tidak memulai. Namun
perang akan pecah begitu aku ada disana”
“ anda bisa memprediksikannya?”
“bukan ini yang ingin aku
diskusikan denganmu. Tapi ini” Axton memberikan selembar surat kepada Hardwin.
“ kenapa?” tanya Hardwin
begitu selesai membaca surat. Dia melihat Duke yang terdiam menatap dirinya.
“ anda berniat berhenti?”
lanjut Hardwin Karena Duke tak kunjung menjawabnya.
“ kau akan tau nanti,
jangan sampai ada yang tau. “ jawaban singkat Axton membuat Hardwin mengerutkan
dahinya, tentu ini bukan hal sepele. Pertanyaanya tak terjawab. Lelaki itu ingi
bertanya lebih jauh lagi namun melihat wajah serius Duke membuat Hardwin
“ bersiaplah” Hardwin
beranjak dari sofa, Duke mengakhiri perbincangan.
“ makan sianglah disini”
ajak Ai saat suami dan temannya berjalan
menuruni tangga.
“ tuan muda Kleiner harus
mengurusi sesuatu, bukan begitu? “ Axton lebih dulu menjawab.
“ emm,, iya. Maafkan saya
Duchess” Harwdin segera menimpali. Jelas sekali Axton tidak ingin membiarkan lelaki lain berdekatan
dengan istrinya.
“ yah, sayang sekali.
Baiklah aku akan mengantarmu pulang” Ai berjalan mendekati Hardwin. Kedua sejoli
itu berjalan menuju pintu, disana sudah ada Brian yang sudah menyiapkan kereta.
“ sampai ketemu lagi”
ucap Hardwin kemudian masuk kedalam kereta. Setelah kereta berjalan, Hardwin
termenung menatap surat pemberian Duke. Dia masih belum mengerti kenapa Duke
memberikan surat ini padanya.
“ keretanya sudah pergi,
masuk” ucap Axton yang melihat Ai masih berdiri di ambang pintu.
“ lain kali beritahu aku kalau kau
mengundangnya” Ai mendekati suaminya.
Medengar permintaan aneh
istrinya membuat Axton mendadak memanas.
“ kenapa memangnya? Kau
tak memiliki urusan dengan lelaki itu”
“ dia temanku, tentu saja
aku ingin menghabiskan waktu dengannya”
“ coba saja kalau berani”
Axton segera meninggalkan Ai yang ternyata sengaja menjahili suaminya. Melihat
tampang kesal Axton membuat Ai tertawa puas.
Hari terus berganti, besok adalah hari keberangkatan Duke. Ai yang baru
saja sampai di kediaman setelah menjenguk Grace. Meski tak banyak pembicaraan
dengan wanita itu tapi Ai merasa jika kondisi Grace sudah pulih. Hanya bisa menunggu dan bersembunyi disana.
“ Axton dimana?” tanya Ai
kepada salah satu pelayan saat menaiki lantai 2.
“ Duke masih belum
kembali” jawab pelayan itu. Ai hanya menghembusakn nafas kasar. Sejak kemarin
Axton terlihat begitu sibuk, membuat Ai merasa jika ada sesuatu yang tidak
beres.
“ Mily kau bisa
menyiapkan makan malam” hari sudah mulai gelap, tak lama lagi malam datang.
Langkah Ai membwanya masuk kedalam ruang kerja sang suami. Disana pasti ada
jawaban dari rasa penasarannya.
Kali ini Ai berfikir suaminya
pasti menyembunyikan berkas-berkas penting itu. Ai membuka satu persatu lai di
meja, dia tak tertarik dengan tumpukan yang ada di atas meja. Pencariaanya
terhenti begitu menemukan sebuah laci yang terkunci.
“ sepertinya aku butuh
sebuah kawat kecil” guman Ai. Dia dulu juga pernah membuka gembok tanpa kunci
tapi entah kali ini dia sedikit ragu karena sudah lama tak pernah melakukannya
lagi.
“ kurasa ini bisa” Ai
menemukan sebuah penjepit kertas. Dia membentuk kawat itu menjadi lurus, dengan
beberapa kali percobaan laci itu tak kunjung terbuka.
Klek.. suara itu membuat
Ai tersenyum senang.
Perlahan Ai membuka laci itu, dugaaanya benar. Disana
berisikan beberapa berkas saja. Tak terlalu banyak. Ai mengambil satu persatu
berkas dan membacanya dengan seksama.
“ apa ini?” Ai sedikit
kaget dengan apa yang dia baca. Alisnya semakin mengerut saat berkas terakhir sudah dia baca. Nafasnya
memburu, marah campur sedih mengetahui hal ini. Bagaimana bisa Axton tak
mengatakan hal ini kepadanya.
“ nyonya..” Mily
mengagetkan Ai.
“ ah ya, apa sudah siap
?” Ai menjadi sedikit gugup dan berusaha mengalihkan perhatian Mily.
“ iya nyonya” jawab Mily
tak merasakan kejanggalan.
“ baiklah sebentar lagi aku akan turun” Ai
menyembunyikan berkas yang ada di tangannya. Selepas Mily pergi Ai merapikan
kembali berkas itu tak lupa mengembalikan posisi terkunci pada laci. Baru saja
keluar dari sana sudut mata wanita itu menangkap kehadiran Axton yang berjalan
menaiki tangga.