The New Duchess

The New Duchess
BAB 55 : PANIK



  Tuanmuda Kleneir sudah bersiap dalam keretanya, pagi ini dia akan pergi  menuju kediaman Duke. Beberapa hari yang lalu


dia mendapatkan pesan agar menemui Duke. Meski sibuk dalam pelatihan militer


namun dia tidak bisa menolaknya, apalagi ayahnya seakan memaksanya untuk segera


pulang.


“ sudah sampai tuan” ucap


kusir kereta.


Hardwin merapikan bajunya


dan keluar dari kereta. Ada perasaan rindu dalam hatinya pada salah satu


penghuni kediaman. Sudut bibirnya tertarik, saat maniknya menangkap seseorang


yang dia maksud terlihat sibuk di pelataran samping. Dengan langkah panjang


Hardwin mendekati seseorang itu.


“ selamat pagi “ sapa


Hardwin yang membuat Ai tersentak kaget. Bukan Karena apa, saat ini dia sedang menyiapkan


beberapa barang keperluan untuk dikirim ke tempat Grace. Hal bisa dikatakan


rahasia.


“ astaga Hardwin,”


mendapati lelaki yang dia tau akan membuat suaminya marah membuat Ai panic.


“ apa yang kau lakukan


disini” Ai berucap pelan, segera meninggalkan Mily yang sibuk mengangkat


barang-barang ke dalam kereta.


“sudah lama kita tidak


bertemu” Hardwin masih bersikap polos. Dia tidak mengetahui kepanikan Ai.


“ kenapa kau kemari?” Ai


kembali bertanya, dia menggandeng Hardwin membawanya jauh dari pelataran


kediaman.


“ kenapa kita kemari?”


Hardwin bingung dengan sikap Ai yang seakan ingin bersembunyi.


 “Aku yang bertanya, kenapa kau kemari? “ tanya


Ai sekali lagi.


“ Aku ada ,,”


 “Dimana Duchess ?” terdengar samar-samar suara


Axton yang sedang mencarinya.


Ai semakin panik, jangan


sampai suaminya salah paham.


 “Dengar Hardwin kurasa ini bukan waktu yang


tepat. Kau kembali saja”


“ kurasa kau salah paham,


aku kesini karena..”


“ apa yang kalian lakukan


disana?” Axton sudah berada di belakang Ai. Hal ini tentu semakin meningkatkan


kepanikan


“ A,,Axton “ Ai menoleh  dan membalikkan badan kearah suaminya.


“ kau, masuklah” tak


ingin sang istri terus berdekatan dengan Hardwin, Axton segera menengahi. Tanpa


menunggu jawaban Axton segera berjalan masuk.  Ai menatap temannya itu dengan penuh tanya.


“ Duke mengundangku


kemari” jawab Hardwin enteng.


“ kenapa kau tidak


mengataannya sedari awal?” Ai merasa kesal.


“ aku sudah mencobanya”


Hardwin mengangkat bahunya kemudian berlalu meninggalkan Ai yang masih kesal.


´kenapa aku panic?` batin


Ai yang menyadari tingkah anehnya. Tak lama dia juga menyusul kedua lelaki tadi


masuk ke dalam.


“ apa tuan Kleiner


mengatakan sesuatu padamu sebelumnya?” Axton sudah berada di ruang kerjanya.


Mereka duduk berhadapan.


“ ayah hanya menyuruhku


untuk segera pulang” jawab Hardwin


“ bagaimana kondisi


militer disana? “


“ tak jauh beda dengan


yang lain, ku dengar anda akan memulai perang?”


“tidak memulai. Namun


perang akan pecah begitu aku ada disana”


“ anda bisa memprediksikannya?”


“bukan ini yang ingin aku


diskusikan denganmu. Tapi ini” Axton memberikan selembar surat kepada Hardwin.


“ kenapa?” tanya Hardwin


begitu selesai membaca surat. Dia melihat Duke yang terdiam menatap dirinya.


“ anda berniat berhenti?”


lanjut Hardwin Karena Duke tak kunjung menjawabnya.


“ kau akan tau nanti,


jangan sampai ada yang tau. “ jawaban singkat Axton membuat Hardwin mengerutkan


dahinya, tentu ini bukan hal sepele. Pertanyaanya tak terjawab. Lelaki itu ingi


bertanya lebih jauh lagi namun melihat wajah serius Duke membuat Hardwin


“ bersiaplah” Hardwin


beranjak dari sofa, Duke mengakhiri perbincangan.


“ makan sianglah disini”


ajak  Ai saat suami dan temannya berjalan


menuruni tangga.


“ tuan muda Kleiner harus


mengurusi sesuatu, bukan begitu? “ Axton lebih dulu menjawab.


“ emm,, iya. Maafkan saya


Duchess” Harwdin segera menimpali. Jelas sekali Axton tidak  ingin membiarkan lelaki lain berdekatan


dengan istrinya.


“ yah, sayang sekali.


Baiklah aku akan mengantarmu pulang” Ai berjalan mendekati Hardwin. Kedua sejoli


itu berjalan menuju pintu, disana sudah ada Brian yang sudah menyiapkan kereta.


“ sampai ketemu lagi”


ucap Hardwin kemudian masuk kedalam kereta. Setelah kereta berjalan, Hardwin


termenung menatap surat pemberian Duke. Dia masih belum mengerti kenapa Duke


memberikan surat ini padanya.


“ keretanya sudah pergi,


masuk” ucap Axton yang melihat Ai masih berdiri di ambang pintu.


“  lain kali beritahu aku kalau kau


mengundangnya” Ai mendekati suaminya.


Medengar permintaan aneh


istrinya membuat Axton mendadak memanas.


“ kenapa memangnya? Kau


tak memiliki urusan dengan lelaki itu”


“ dia temanku, tentu saja


aku ingin menghabiskan waktu dengannya”


“ coba saja kalau berani”


Axton segera meninggalkan Ai yang ternyata sengaja menjahili suaminya. Melihat


tampang kesal Axton membuat Ai tertawa puas.


Hari terus berganti, besok  adalah hari keberangkatan Duke. Ai yang baru


saja sampai di kediaman setelah menjenguk Grace. Meski tak banyak pembicaraan


dengan wanita itu tapi Ai merasa jika kondisi Grace sudah pulih.  Hanya bisa menunggu dan bersembunyi disana.


“ Axton dimana?” tanya Ai


kepada salah satu pelayan saat menaiki lantai 2.


“ Duke masih belum


kembali” jawab pelayan itu. Ai hanya menghembusakn nafas kasar. Sejak kemarin


Axton terlihat begitu sibuk, membuat Ai merasa jika ada sesuatu yang tidak


beres.


“ Mily kau bisa


menyiapkan makan malam” hari sudah mulai gelap, tak lama lagi malam datang.


Langkah Ai membwanya masuk kedalam ruang kerja sang suami. Disana pasti ada


jawaban dari rasa penasarannya.


Kali ini Ai berfikir suaminya


pasti menyembunyikan berkas-berkas penting itu. Ai membuka satu persatu lai di


meja, dia tak tertarik dengan tumpukan yang ada di atas meja. Pencariaanya


terhenti begitu menemukan sebuah laci yang terkunci.


“ sepertinya aku butuh


sebuah kawat kecil” guman Ai. Dia dulu juga pernah membuka gembok tanpa kunci


tapi entah kali ini dia sedikit ragu karena sudah lama tak pernah melakukannya


lagi.


“ kurasa ini bisa” Ai


menemukan sebuah penjepit kertas. Dia membentuk kawat itu menjadi lurus, dengan


beberapa kali percobaan laci itu tak kunjung terbuka.


Klek.. suara itu membuat


Ai tersenyum senang.


Perlahan  Ai membuka laci itu, dugaaanya benar. Disana


berisikan beberapa berkas saja. Tak terlalu banyak. Ai mengambil satu persatu


berkas dan membacanya dengan seksama.


“ apa ini?” Ai sedikit


kaget dengan apa yang dia baca. Alisnya semakin mengerut  saat berkas terakhir sudah dia baca. Nafasnya


memburu, marah campur sedih mengetahui hal ini. Bagaimana bisa Axton tak


mengatakan hal ini kepadanya.


“ nyonya..” Mily


mengagetkan Ai.


“ ah ya, apa sudah siap


?” Ai menjadi sedikit gugup dan berusaha mengalihkan perhatian Mily.


“ iya nyonya” jawab Mily


tak merasakan kejanggalan.


 “ baiklah sebentar lagi aku akan turun” Ai


menyembunyikan berkas yang ada di tangannya. Selepas Mily pergi Ai merapikan


kembali berkas itu tak lupa mengembalikan posisi terkunci pada laci. Baru saja


keluar dari sana sudut mata wanita itu menangkap kehadiran Axton yang berjalan


menaiki tangga.