The New Duchess

The New Duchess
Bab 24 : Tidur terus



Kelegaan menerpanya ketika tau jika seseorang itu adalah suaminya. Sudut bibirnya tertarik, Ai tersenyum senang. Lelaki yang dia tunggu semalam kini terbaring bersamanya. Perlahan Ai mengubah tubuhnya agara menghadap Axton. Meskipun sedikit kesusahan karena pelukan Axton yang begitu erat.


Ai menyentuh wajah suaminya, meneliti rahangnya yang sudah ditumbuhi rambut. Wajahnya terlihat tidak terawat. Kemudian tangan Ai naik, dia menyetuh bulu mata Axton yang lentik. Niatnya memang ingin membangunkan sang suami. Hari sudah pagi dan Ai tidak mau Mily datang dan melihat hal ini. Bisa-bisa jadi bahan gosip pelayan satu kediaman.


“ emm,,” Axton menjauhkan benda lembut yang menyetuh wajahnya. Dia masih sangat mengantuk.


Ai tidak menyerah, dia terus menjahili suaminya dengan menyentuh wajah Axton sekali lagi. Kali ini Axton yang terganggu mulai membuka matanya sedikit. Dia kesal jika ada yang mengganggu tidurnya.


“ Ai, diamlah” Axton mengunci pergerakan Ai dengan mendekap kedua tangan Ai lebih erat lagi.


“ sudah pagi Axton, bangun!. Sebentar lagi pelayan akan datang” Ai merasa tidak berdaya dengan dekapan Axton hanya bisa mengoceh.


“ sudah diam” suara berat Axton tak bisa mencegah Ai untuk terus memberontak agar dia terlepas dari pelukan Axton.


“ diam atau aku akan lakukan sesuatu” ancam Axton yang sedikit membuat Ai diam karena berfikir.


“ lakukan apa?” Ai malah memancing emosi Axton. Namun Axton tidak menghiraukannya dan tetap melanjutkan tidurnya. Ai mengembuskan nafas kesal karena tidak mendapat jawaban.


“ Axton lepaskan aku, kalau kau ingin tidur kau tidur saja sendiri. Aku mau bangun” Ai terus merengek agar dilepaskan oleh Axton, sayangnya telinga Axton tidak mendengarnya, dia sudah kembali ke alam mimpi.


Pegangan Axton tidak seerat tadi tenaganya melemah, Ai perlahan menarik tangannya.


“ akhirnya bisa terlepas” lirih Ai saat tangannya terlepas. Perlahan menggeser tubuhnya menjauh. Dia tidak berniat menggoda suaminya lagi, sudah cukup. Ai ingin segera bangun dan membersihkan diri.


Beberapa lama menghabiskan waktu dikamar mandi Ai kini keluar lengkap dengan baju yang sudah dia bawa sebelumnya. Ada Axton dikamarnya, Ai tidak mau mengganti baju di luar seperti biasanya.


Tok tok Mily masuk, dia terbiasa dengan itu. Namun kali ini langkah Mily harus terhenti ketika melihat sesosok lelaki yang terbaring membelakangi pintu di ranjang nyonya itu.


Ai berdiri di dekat sofa hanya terdiam dan memberikan kode diam kepada Mily dengan tangannya. Mily yang mulai mengerti situasinya, kembali meneruskan langkahnya dengan penuh hati-hati. Diletakkanya menu sarapan di atas meja dan segera pamit undur diri. Ai mengantar kepergian Mily, menutup pintu dengan pelan.


“ siapa itu? Apa tuan?” guman Mily penasaran. Segera saja dia kembali turun untuk menanyakannya kepada pelayan lainnya.


“ pelayan Chloe, apa kau tau jika tuan sudah kembali?” Chloe yang berada di dapur mengerutkan keningnya baru mengetahui kabar ini.


“ tuan sudah kembali?” bukannya menjawab malah bertanya balik. Tak lama pertanyaan itupun terjawab dengan kehadiran Brian yang mencari makanan di dapur. Kedua pelayan itu langsung saja menatap Brian secara bersamaan.


“ kenapa kalian melihatku seperti itu?” tanya Brian yang terganggu dengan tatapan aneh kedua pelayan itu. Baik Mily ataupun Chloe malah berjalan mendekat dan mencegat langkah Brian.


“ tuan sudah kembali?” Brian melangkah mundur, tidak nyaman dengan jarak yang begitu dekat.


“ sudah ” Brian melanjutkan langkahnya dengan menghindari kedua pelayan itu.


“ kapan?” kedua pelayan itu seakan mengejar Brian, langkahnya kembali terhalang.


“ saat fajar datang” jawab Brian kesal. Dia sudah sangat lapar, semenjak kembali Brian belum makan apapun. Apalagi perjalanan yang begitu panjanga dan melelahkan. Membuat perutnya memberontak dari tadi.


“ bisa kalian menyingkir dan membiarkan aku makan?” ucap Brian kesal karena kedua pelayan ini masih tidak mau menyingkir dan memberikan jalan.


Mendengar nada kesal Brian, Mily dan Chloe langsung membuka jalan sambil tersenyum malu.


“ apa kita perlu menyiapkan sarapan di meja?” tanya pelayan Chloe yang terlihat cemas dan kaget mendengar kepulangan Duke.


“ em, sepertinya tidak perlu, tuan masih tidur di kamar nyonya. Kita siapkan saja seperti sarapan nyonya” jawab Mily yang semakin membuat Chloe kaget.


“ tuan dikamar nyonya? “ bukan Chloe yang bertanya namun Grace yang baru saja memasuki dapur tak senagaja mendengar pembicaraan kedua pelayan. Milly dan Chloe langsung membalik badan karena kaget.


“ iya nona” giliran Mily yang menjawab dengan mantap karena Grace bertanya dengan nada kesal. Milly memang berniat memanas-manasi Grace tentang kemesraan tuan dan nyonyanya itu.


Tanpa banyak bicara Grace segera meninggalkan dapur selera makannya langsung turun mendengar kabar ini. Dengan kesal dia kembali memasuki kamarnya.


Mily kembali mengatar sarapan, kali ini untuk tuannya.


Tok tok Milly menunggu jawaban dari dalam.


“ masuk” Mily membuka pintu dan melihat situasi kamar. Tidak ada yang berubah, tuannya masih tidur sedangkan nyonyanya menikmati sarapan yang dia bawa sebelumnya.


“ ini untuk tuan nyonya” ucap Milly sambil meletakkan nampan.


“ terimakasih Mily “ jawab Ai riang. Mily masih berdiri disana, menunggu bila nyonyanya memerintahkan sesuatu.


“ kau boleh pergi” ucap Ai yang mengetahui keengganan Mily untuk keluar.


Ai melanjutkan acara sarapannya sendiri. Dia tidak mau menunggu Axton yang belum terlihat ingin bangun. Perutnya sudah keroncongan, saat pesta kemarin dia tidak banyak makan karena sibuk diajak mengobrol oleh Hardwin dan ibunya.


Waktu sudah mulai masuk siang hari tapi Axton tak kunjung membuka matanya. Rasa lelah beberapa minggu lalu kini terbayar dengan aroma istrinya yang menemani tidurnya. Nyaman sekali, membuatnya betah tidur.


“ Axton, bangunlah” Ai yang sedari tadi membaca buku kini mulai bosan dan memilih menggoda suaminya lagi.


Ai duduk disamping Axton tangannya tidak bisa diam, terus memainkan rambut Axton. Meskipun Axton tidak menghiraukannya Ai tidak masalah. Dia tetap melanjutkan aksinya.


 


“ Axton,” bisik Ai terus memanggil nama suaminya. Hari ini tak ada pertemuan, biasanya Ai yang terbaring disini sampai siang. Kini dengan adanya suaminya Ai mati bosan tidak tau harus melakukan apa lagi. Dia sudah membaca buku sedari tadi, tapi Axton tak kunjung bangun. Ai terlalu gengsi untuk tidur di samping suaminya, rasanya tidak nyaman jika dalam kondisi sadar.


Axton yang mulai terganggu dengan cepat menarik tangan istrinya. Dan membuat Ai jatuh terbaring diatas tubuh suaminya. Tak hanya itu Axton mencium singkat bibir Ai yang sedari tadi memanggil namanya.


“ diam, atau aku akan menciumu lagi” Axton mengancam lagi. Ai terdiam dan mengangguk pelan karena  terlalu syok dengan tindakan Axton yang tiba-tiba. Nyalinya langsung menciut bahkan untuk menggeser tubuhnya saja kini Ai tidak berani. Melihat istrinya yang menurut Axton kembali menutup matanya, karena terlalu lama diam Ai sendiri mulai mengantuk. Kini mereka berdua tidur siang bersama.