The New Duchess

The New Duchess
BAB 54 : TULANG



Beberapa hari setelah kejadian pendarahan itu, Ai. dan Axton sudah kembali di kediaman utama Wellington. Sedang Grace masih berada di kediaman tepi kota. Demi menutupi kehamilannya serta menjaga keamanannya.


Saat ini Axton sedang berada di ruang kerjanya, ada seorang tamu yang berkunjung di kediamannya.


“ beberapa wilayah Bavaria dilaporkan mengalami masa buruk, banyak penjarahan. Beberapa yang lain juga mengalami kerugian hasil panen. Sebenarnya masalah ini termasuk masalah lama, namun entah kenapa kali ini kerajaan terkesan terlalu berlebihan dalam menanganinya” ucap Marquess Kleiner.


“ kau tau, kerajaan tak tanggung-tanggung membeli separuh kudaku untuk menangani masalah ini” lanjut Aidyn. Axton hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan Aidyn.


“ mereka sedang menyusun rencana untukku. Perebutan wilayah di perbatasan tidak pernah berhenti, namun baru kali ini memberikan surat tugas resmi demi memastikan keberangkatanku. Prajurit yang mereka kirim juga terbilang kurang, ya dengan alasan pembagian untuk masalah yang kau sebutkan tadi” Axton bersikap tenang satu-satunya kekhawatirannya bukan terletak diperbatasan ataupun tentang prajurit yang sedikit. namun di sini. Dimana ada Ai istrinya.


“ namun Duke, anda tidak boleh diam saja seakan menyerahkan diri anda dengan suka rela. Begitu perang itu pecah semuanya akan menjadi terlambat untuk mencari bantuan” jawab Aidyn.


“ menangani hal seperti ini sudah biasa untukku, hanya saja kali ini firasatku tidak enak. Tidak bisa tenang” axton menerawang jauh menatap perapian.


“ apa ini mengenai putra mahkota?”


“ lelaki itu tidak biasanya ikut campur bahkan ikut andil dalam mengawasi jumlah persediaan senjata secara diam-diam. Namun ketakutan terbesarku adalah keamanan Duchess. Tak ada yang tau apa yang akan kerajaan lakukan saat aku tak ada disini” Axton mengembuskan nafas diakhir kalimatnya. Serasa ribuan beban tengah menunggu dirinya.


“ sebaiknya anda mulai merencakan sesuatu, sudah menjadi rahasia umum jika kerajaan hanya menghabiskan harta untuk berfoya-foya dan main seenaknya sendiri” saran Aidyn yang segera diangguki oleh Axton. Waktu semakin menipis sedang Axton belom bisa memutuskan bagaimana caranya melewati masalah ini, dia harus menyusun rencana penyelamatannya.  Khususnya penyelamatan untuk istrinya.


“ apa putramu ikut dalam jajaran pemerintahan kali ini?” tanya Axton, meski sejatinya dirinya tidak menyukai Hardwin kali ini dia harus mengalah pada egonya.


“ anak itu sibuk melatih para anak muda, entahlah sepertinya dia tidak bisa aku andalkan” Aidyn meminum tehnya dengan kasar. Namun Axton tiba-tiba menemukan ide untuk mengurangi ketakutannya. Meski hanya sejenak sudut bibir axton tertarik puas.


Selepas berbincang dengan Marquess Kleiner, Axton pergi ke kamar, waktu sudah mulai masuk sore hari. Kemungkinan istrinya masih tidur siang. Dan benar saja begitu membuka pintu kamar Axton langsung tersenyum melihat wajah tenang sang istri. Tanpa berlama-lama segera mendekati ranjang untuk ikut bergabung dengan Ai.


Makan malam telah usai beberapa saat yang lalu, Ai terlihat sibuk dengan bacaannya. Mengacuhkan Axton yang sedari tadi memintanya segera pergi ke kamar.


“ Axton jangan menarik tanganku, aku belum selesai membaca bagian ini” gerutu Ai yang sudah kesal dengan tingkah kekanakan Axton.


“ besok bisa dilanjutkan lagikan. Ayo kita ke kamar” entahlah kali ini Axton bersikap begitu manja, Ai sampai mengerutkan keningnya karena heran.


“ nanti dulu, kalau kau mengantuk kau tidur saja dulu. Biasanya juga aku kau tinggal sendirian” kesal Ai sembari sedikit menyindir suaminya.


“ jadi ini semacam aksi balas dendam” Axton berdiri dari sofa ruang santai lantai 3. Berkacak pinggang di depan Ai yang masih fokus membaca.


“ tidak” jawab Ai tegas. Padahal jantungnya berdegup kencang. Axton terlihat sedikit tersinggung dengan perkataanya barusan.


Axton tidak menjawab, mata lelaki itu menatap tajam sang istri yang beberapa waktu lalu terus saja tak menghiraukannya. Merasa hawa dingin melanda kulitnya Ai dengan pelan mengangkat pandangannya ke arah suaminya.


“ ehem,” Ai berdehem pelan setelah melihat sorot tajam Axton pada dirinya. Tak lama mengganti posisi duduknya.


“ kenapa kau melihatku seperti itu?” lanjut Ai yang tiba-tiba dilanda kepanikan.


“ masuk ke kamar sekarang” desis Axton. Ai memang sengaja berlama-lama membaca buku, dia tau apa yang suaminya inginkan. Tentu saja aktifitas ranjang, cuman dirasa akhir-akhir ini hal tersebut terlalu sering dilakukan membuat wanita itu menjadi khawatir dan takut.


“a..aku ingin menyelesaikan bacaanku” jawab Ai yang sedikit terintimidasi.


“ baiklah” jawaban ini tak pernah terfikirkan dalam benak Ai. Suaminya bukan seorang yang mudah menyerah dan penurut seperti ini. Axton terlihat berjalan menjauh dari ruang santai. Ai kini bernafas lega, ternyata Axton sekarang lebih mudah diatasi.


Manik AI terus mengekori kepergian sang suami. Hingga Axton membuka pintu kamarnya.


“ apa yang kau,,aaakkk” dengan segera membopong sang istri meninggalkan ruang santai.


“ aku sudah meminta baik-baik, Duchess “ Axton berjalan menuju kamarnya. Ternyata Axton pergi untuk mempersiapkan rencananya.


“ lepaskan Axton,”


“ tidak akan” Axton sengaja membuka pintu kamar agar mudah memasukkan Ai, begitupun dengan dirinya yang sudah membukan kemejanya. Ai sudah salah menilai, sampai kapapun Axton tidak akan mudah untuk diatasi.


Brak,, pintu tertutup dengan keras, Axton menggunakan kakinya dengan baik.


Penerangan kamar masih terang  benderang, Ai sudah ada di tengah ranjang. Masih syok dengan cara Axton meletakkan dirinya di sana.


“ aku tidak mau” teriak Ai saat Axton menahan tubuhya di atas ranjang.


“ diam dan dengarkan aku” tegas Axton, dia sudah menduga istrinya pasti berfikir macam-macam dengan tindakannya.


Ai yang melihat raut serius sang suami akhirnya duduk diam di tepi ranjang, maniknya menyorot Axton penuh tanda tanya. Axton berdiri dihadapannya. Axton mengambil tangan Ai dan meletakkannya di atas dadanya.


“ rasakan apa ada yang berbeda?” tanya Axton.


“ apa maksudmu?” Ai masih belum faham dengan situasinya.


“ ini, rasakan tulang rusukku” kembali Axton mengulangi permintaanya sambil mengambil tangan Ai yang satunya lagi. Kini kedua tangan Ai berada di dada Axton.


Awalnya Ai tidak paham dengan maksud Axton, namun saat tangannya sampai pada tulang rusuk terakhir alisnya mengerut. Dia menemukan sesuatu yang berbeda.


“ ini,,” kedua mata Ai menyoroti Axton, seakan mencoba membaca benak suaminya.


“ berbeda bukan, aku mengalami insiden mengerikan waktu kecil yang membuat tulang rusukku patah, saat itu pengobatan sangat terbatas, untung saja tidak melukai organ penting. Selama berjalannya waktu tulang ini tumbuh dengan tak normal” Axton menjelaskan.


“ kenapa kau mengatakan hal ini?” Ai menyentuh rahang suaminya, maniknya menangkap sorot kesedihan dalam penjelasan Axton.


“ jadikan ini sebagai identitasku. Jika nanti terjadi hal buruk padaku kau bisa memastikannya dengan ini”


“ hal buruk apa yang kau maksudkan? Kau akan baik-baik saja” ucap Ai lembut.


“ akupun ingin baik-baik saja, sayangnya situasinya tidak begitu. “ Axton membawa tangan Ai dan menciumnya lembut.


“ terlalu banyak hal yang tak bisa aku jelaskan, tapi hanya satu yang aku takutkan”


“ apa ?” Ai menatap Axton tanpa berkedip.


“ kau,” Axton memeluk istrinya pelan dan hangat.


“ aku takut kehilanganmu” lanjut Axton mengusap rambut hitam Ai.


“ akupun sama” setelah beberapa saat baru A berani membalas ucapan Axton. Ai tak bisa memungkiri jika dia sudah terjerat pesona suaminya sejak awal bertemu, meski ini kehidupan kedua baginya, tapi rasa cinta itu masih sama. Ai sudaah buta dalam menilai, hanya Axton yang mampu membuat hatinya berdesir, meski rasa sakit pernah dia rasakan, nyatanya itu tidak mengubah apapun di hatinya. Axton masih menjadi penghuni hatinya.