The New Duchess

The New Duchess
Bab 141: Berbalik



Tuan Kleiner dan Dalbert kini saling menyusuri kota, mereka tidak ada putusnya meneliti dan memantau setiap pergerakan yang mencurigakan. Sampai akhirnya Dalbert sampai di sebuah kedai.


Lelaki itu masuk dan mulai menganalisa, tiba-tiba saja dia mengenali sosok laki-laki yang sedang duduk di sana. Dengan segera Dalbert berpura-pura mendekat, begitu melihat wajahnya Dalbert dapat mengenali seseorang itu. Jelas sekali lagi itu adalah pengawal Pangeran Aric.


" kau di sini ?" tanya Dalbert dengan suara yang rendah.


" kau juga kenapa di sini?" giliran pengawal itu bertanya hal yang sama.


Tau akan kondisi dan situasi yang ramai, keduanya akhirnya keluar dari kedai dan mencari tempat sepi.


"kemarin aku masuk ke istana, keadaan disana begitu menakutkan, pasukan kerajaan mengepung Duke beserta pangeran Aric di istana raja" jelas pengawal itu. Lelaki itu awalnya ingin bergabung dengan Duke. Namun para pasukan istana benar- benar tidak bisa di ajak kompromi saat melihatnya.


" kau yakin?" tanya Dalbert, dia baru tau jika kondisi istana akan seburuk ini.


"namun dari yang aku lihat, Duke akan memulai negosiasi. Malam ini aku juga berniat pergi ke sana kemungkinan keadaan bisa berubah" jelas pengawal.


Wajar saja pengawal itu dengan mudah masuk keluar di istana karena memang dia sudah tahu seluk beluk di sana. Mendapatkan jalan rahasia dan aman sangat mudah dia lakukan.


"lalu kau, kenapa di sini?" tanya pengawal balik.


" sebenarnya ceritanya panjang, yang jelas alasan ku disini adalah karena Duchess sedang diculik dan kemungkinan penculik adalah anak buah Sean" jawab Dalbert dengan wajah menyesal.


" itu gawat" Pengawal itu kaget dengan berita ini.


"tapi kau jangan ucapkan apapun mengenai hal ini pada Duke, aku takut hal ini akan memecah konsentrasinya. Tuan Kleiner juga sudah melarangku untuk mengatakan hal ini kepadanya" jelas Dalbert.


" lalu bagaimana saat ini perkembangannya?" pengawal itu langsung bersimpati.


"aku dan tuan Kleiner sudah berpencar tapi belum menemukan hasil. Kamu terus mencari tanda-tanda dari sang penculik" jawab Dalbert.


" ah ya, Apa kau tahu di mana Hardwin?" lanjut Dalbert.


" tidak, kami berpisah saat penjaga gerbang mengetahui kebohongan kami. kurasa lelaki itu juga sudah masuk ke istana tapi aku sendiri belum bisa memastikannya" ucap pengawal.


" Baiklah aku akan menemanimu mencari Duchess, sampai nanti malam" mereka segera melanjutkan pencarian. Keduanya pergi ke setiap penginapan, setiap tempat yang mungkin berpotensi menjadi tempat persembunyian anak buah Sean.


Sedangkan tuan Kleiner, lelaki itu menyusuri tempat dan menemukan kereta yang beberapa hari yang lalu dia lihat berada tak jauh dari kompleks pemukiman kediaman Wellington.


"Apa mungkin mereka membawanya ke sana?" guman tuan Kleiner. Lelaki itu tidak langsung masuk dia harus mencari Dalbert untuk menyusun rencana. Jika dia masuk sekarang kemungkinan malah seperti mengantar nyawa.


Di sisi lain, pasukan kerajaan mulai terjadi pergolakan. kepala pasukan kerajaan sudah menyerah dan tidak mengikuti perintah Putra Mahkota Sean lagi. sedikit banyak dari pasukannya yang malah menyerang balik bahkan terjadi beberapa kerusuhan.


Hal ini jelas didengar pengawal putra mahkota


" yang mulai keadaan semakin tidak terkendali, kepala pasukan sudah tidak mau menuruti keinginan kita lagi. Dia ikut melindungi istana raja" ucap pengawal itu di dalam istana selatan.


Sean langsung mengepalkan kedua telapak tangannya. Jika kekuatannya semakin menipis kemungkinan dia akan benar-benar kalah.


"tidak bisa!, Lalu bagaimana dengan nasibku denganku? sekarang juga mereka boleh memulai peperangan. bunuh siapapun yang menentang keputusanku" ucap Sean marah. Lelaki itu tidak mau segala derih payahnya selama ini akan hangus begitu saja.


" tidak, jangan yang mulia. Hal ini tidak boleh terjadi. kepala pasukan kerajaan adalah seseorang yang berhak untuk memulai peperangan. jika kita yang memulainya maka kita adalah penghianat kerajaan" ucap pengawal menasehati.


" aku tidak mau tahu, pokoknya aku tidak ingin mereka berhasil menyingkirkan aku dari sini, mereka harus binasa" ucap Sean kekeh. Pengawal seketika kebingungan, lelaki itu mulai tidak sejalan dengan junjungannya.


Awalnya targetnya mereka adalah Axton sekeluarga, namun kelamaan junjungannya ini terus menyerang anggota kerajaan lainnya. Dia tidak mau kerajaan ini runtuh.


Ditengah perdebatan mereka, seseorang yang sudah lama meninggalkan istana kembali dan dia berdiri di samping pintu keluar ruangan istana Selatan. Wajah yang senang Sean langsung menyambut kedatangan lelaki itu.


Ternyata lelaki itu adalah anak buahnya yang diberi tugas khusus untuk membawa Duchess kemari. Jika lelaki itu kembali kemungkinan dia sudah dilaksanakan tugasnya dengan baik. Pelan-pelan lelaki itu berjalan masuk, Dia bersujud sebentar sebagai tanda penghormatan.


" kau barhasil menangkapnya?" tanya Sea mulai menyelidik.


" benar yang mulia" jawab lelaki itu.


"lelaki itupun semakin maju dan membisikkanya di telinga junjungannya. Sea tampak senang mendengar kabar ini.


" bagus, lebih baik kita pergi kesana" ucap Sea.


" kita akan memulai pertunjukan disana" lanjut Sea dengan maksud tersembunyi.


" iya yang mulia" jawab penculik itu.


Sedangkan pengawal pribadi nya sejak tadi mencoba mendengarkan laporan penculik. Namun dia sama sekali tidak bisa mendengarnya.


" kau kenapa masih ada disini?" Sea membentak pengawal pribadi nya.


" suruh mereka menahan dan membunuh siapa saja yang melawan perintahku" ucap Sea kemudian dengan nada marah.


" baik yang mulia" ucap Pengawal itu ketakutan. Dia hanya bisa melaksanakan perintah Putra mahkota. Meskipun itu melanggar dan pasti berakibat buruk pada mereka sendiri.


Disisi lain Axton sudah mendengar bahwa ketua pasukan kerajaan bersedia melindungi pangeran Aric. Lelaki itu segera menemui temannya itu.


" aku tau kau pasti bisa merasakan mana jalan yang tepat" ucap Axton sambil menepuk pundak ketua pasukan.


" kau terlalu menyanjung, namun masih banyak


prajurit yang melawan. mereka tetap patuh pada putra mahkota" jawab ketua pasukan.


" kau tenang saja, malam ini aku bersiap mengunjungi istana selatan. kau hanya perlu diam disini dan melindungi pangeran mau bagaimanapun caranya" ucap Axton berpamitan.


Pasukannya yang hanya segelintir orang kini bersiap menuju istana selatan. Mereka akan menyergap putra mahkota sendirian. Bisa di bilang ini adalah urusan keluarga Wellington.


" Duke, kami akan membawa beberapa senjata baru. mungkin saat senja kita bisa memulai rencana" ucap salah satu anak buahnya. Axton menyetujuinya. Mereka memang sangat kurang senjata. Dan setidaknya memberikan waktu istirahat kepada pasukan miliknya sebelum masuk pada rencana utama.


" baiklah, kalian pulihkan tenaga" ucap Axton.


Dia kemudian pergi ke istana raja, dia akan melihat bagaimana keadaan pangeran Aric disana.


" Duke, bagaimana kondisi kerajaan?" tanya pengawal pribadi Raja, saat melihat Axton masuk ke istana.


" semuanya aman, ketua pasukan kerajaan memihak kita. kau jangan khawatir" ucap Axton dan berlalu pergi. Dia harus berpamitan dengan pangeran Aric.


Ceklek, pintu kamar Raja terbuka.


Pangeran Aric masih setia menemani raja yang sudah terbaring dengan keadaan tak sadar. Lelaki itu manatap penuh kesedihan.


" yang mulia" ucap Axton menyadarkan Aric.


" Duke, bagaimana keadaan diluar?" tanya Aric sambil mengusap air matanya.


" anda tidak perlu khawatir, saat ini yang Bavaria butuhkan adalah anda. anda harus bisa mementingkan urusan kerajaan di banding dengan urusan pribadi. Raja Aiden pasti bangga melihat anda bisa memimpin dengan baik" ucap Axton sedikit memberikan petuah.


" anda selalu bisa menyadarkan saya. Saat kekacauan ini selesai aku ingin anda tetap bersama dengan saya di istana. hanya anda yang bisa saya percayai Duke" Aric benar- benar tidak ada pijakan. Hanya Axton seorang yang bisa menemaninya.


" anda pasti bisa melalui ini semua sendirian" ucap Axton menolak halus permintaan Aric.


" setelah ini saya akan pergi ke istana selatan, harap anda jaga diri" hanya kalimat perpisahan yang akan Axton berikan. Dia tidak mau Aric terlalu masuk dalam rencananya.


" anda akan menyusul Sean sendirian?" Aric merasa khawatir dengan keputusan Axton.


" saya sudah punya rencana matang" Axton tidak ingin panjang lebar.


" jaga diri anda juga" Aric tau bahkan statusnya saja tidak bisa menahan Axton, apalagi saat ini situasinya memang sangat mendesak.


" baik" ucap Axton dan dia kembali kepada pasukannya.