
Raut wajah pemimpin
berubah mendadak, tentu dia berharap putra mahkota Sea akan melindunginya. Anak
buah Aric sudah tidak ada lagi, mereka sudah pergi meninggalkan pos.
“ bagaimana kau akan
menjelaskan kepada putra mahkota nantinya?” pengawal Sea keluar, dia bertanya
dengan nada sinis.
“ jangan harap kau aman,
kau sendiri tidak berbuat apapun” pemimpin itu segera pergi meninggalkan
tempat. Dia harus menjelaskan situasinya sebelum putra mahkota mendengar dari
orang lain.
Rombongan pangeran Aric
sudah memulai perjalanan, para perwakilan itu juga sudah memisahkan diri.
Mereka kembali ke ibu kota untuk melaporkan tugas mereka. Sekalgus membebaskan
pasukan Aric dari tahanan kota dan menyuruhnya segera menyusul ke perbatasan.
Jika mereka mengabaikan
istirahat kemungkinan saat fajar baru bisa sampai di perbatasan. Pasukan mereka
masih tertahan di kota, anak buahnya hanya berjumlah puluhan. Jumlah yang
benar-benar kecil. Namun Aric tidak takut, dia yakin sekecil apapun bantuan
akan sangat berarti di medan perang.
Di kediaman Duke, seorang
wanita tengah memandang taman dari jendela kamar. Dia semalaman tidak bisa
tidur, hanya menghabiskan waktu dengan memandangi kearah perbatasan.
“ bagaimana kau disana?”
guman Ai, wanita itu terus saja menanyakan hal yang sama pada angin kamarnya.
Dalam kesunyian dia hanya bisa berkata pada dirinya sendiri.
Hukum menyatakan bahwa
dia menjalani tahanan rumah, namun nyatanya dia malah menjadi tahanan kamar di
rumahnya sendiri. Hardwin menguncinya didalam kamar tanpa memberikan izin pada
siapapun untuk membukanya.
Pelayan dikediaman sedang
menjalani pemeriksaan, serta di mintai penjelasan selama bekerja di kediaman.
Hanya ada beberapa pelayan saja yang bisa tinggal, termasuk Milly. Dia tidak
mau meninggalkan nyonya sedikitpun.
Pagi ini dia sudah
menyiapkan sarapan untuk di bawa ke kamar Duchess, di depan pintu kamar sudah
ada 2 orang penjaga milik Hardwin.
“biar aku saja yang
membawanya masuk” ucap Hardwin saat melihat Mily akan memasuki kamar.
“ tidak tuan” ucap gadis
itu tegas. Mily sudah agak kesal dan marah dengan tindakan Hardwin, dia tidak
mau menghormati lelaki yang sudah menghianati nyonyanya.
“ berikan padaku” nampan
itu di tarik dengan cepat dari tangan Mily, ingin sekali dia memukul lelaki
itu, tapi dia masih waras, dia pasti kalah. Hanya mengantar nyawa saja.
Lelaki itu masuk ke dalam
kamar, pintu sudah tertutup membuat Mily menuruni tangga dengan perasaan
dongkol.
Hardwin mencari-cari
keberadaan Ai di dalam kamar, dia sudah mendiamkan wanita itu sejak masa
penahananya dimulai. Kini dia bermaksud untuk menjelaskan semuanya pada Ai.
begitu tau ternyata Ai berada didekat jendela kamarnya. Pintu balkon sengaja di
kunci mati dan tidak bisa di buka dari arah manapun.
Ai hanya diam, tidak
bergeming. Wanita itu menganggap jika tak ada seorangpun yang ada dikamarnya.
“ aku melakukan semua ini
demi kebaikanmu” lanjut Hardwin. Kalimat ini seakan mengelitik di telinga Ai,
wanita itu menarik sudut bibirnya.
“ kebaikan dari sudut
mana?” Ai tertawa sumbang, dia sudah merasa tertipu jadi untuk apa berbaik hati
pada lelaki ini.
Hardwin hanya diam, dia
merasa perbedaan yang begitu nyata akan sikap Ai pada dirinya. Wanita itu tidak
seperti biasanya, bahkan saat Ai tertawa terdengar begitu sedih. Tatapan mata
wanita itu kosong mengisyaratkan kesepian dan kekecewaan.
“ Aku tau kau pasti marah
padaku, tapi aku tak ingin kamu terluka” lelaki itu terus berkilah membenarkan
tindakannya.
“ justru seperti ini aku
semakin terluka, bahkan sangat kecewa denganmu. Sekarang katakan padaku, berapa
si brengsek Sea membayarmu?” sorot mata Ai begitu tajam menatap Hardwin. Sampai
membuat lelaki itu menelan ludahnya kasar. Tak pernah dilihatnya Ai semarah ini
dalam perjalanan pertemanan mereka.
“ Sea? Ini tak ada
hubungannya dengannya!” Hardwin menegaskan nadanya. Dia mendekati Ai agar
wanita itu percaya dengannya.
“ lalu kenapa kau
melakukan semua ini, Brengsek!?” tak mau kalah kini Ai naik pitam, segalanya
sudah berubah bagi Ai untuk Hardwin. Rasa kecewa bercampur marah bersatu dalam
tatapan garangnya. Hardwin mengambil nafas panjang, sebisa mungkin jangan
sampai dia juga kelepasan emosi. Ai memang berhak memakinya, bahkan jika wanita
itu memukulnya dia tak akan menghindar. Hardwin memaklumi semua perkataan Ai.
“ aku tak ingin
kehilaganmu Ai”
“ hentikan bualanmu!” tatapan
wanita itu semakin nanar.
“ aku melakukan semua ini
hanya karena ingin melindungimu. Aku tak mau kau celaka , aku sangat
mencintaimu Ai” nadanya melemah di akhir kalimat, kini jelas sudah perasaan
yang lelaki itu pendam sekian lama. Semua sudah terbuka.
“ aku tau kau pasti akan
menyusul Axton ke perbatasan, apalagi dengan berita perang telah pecah. kau
semakin nekat dan tidak akan memikirkan keselamatanmu. Semua itu membuatku
takut kehilanganmu, aku benar-benar ingin memilikimu Ainsley” Hardwin seakan
sedang memohon, dia begitu mengiba pengertian wanita itu, hanya dengan cara ini
lelaki itu bisa melindungi Ai. dia berharap Ai mengerti perasaanya.
“ hentikan omomg kosong
mu!” Ai semakin tak mengerti, jadi salama ini dia tertipu, dia fikir Hardwin
adalah benar-benar sahabatnya. Ternyata salah, mungkin inilah alasannya kenapa
suaminya begitu membanci lelaki ini.