The New Duchess

The New Duchess
Bab 73 : Kecewa



Raut wajah pemimpin


berubah mendadak, tentu dia berharap putra mahkota Sea akan melindunginya. Anak


buah Aric sudah tidak ada lagi, mereka sudah pergi meninggalkan pos.


“ bagaimana kau akan


menjelaskan kepada putra mahkota nantinya?” pengawal Sea keluar, dia bertanya


dengan nada sinis.


“ jangan harap kau aman,


kau sendiri tidak berbuat apapun” pemimpin itu segera pergi meninggalkan


tempat. Dia harus menjelaskan situasinya sebelum putra mahkota mendengar dari


orang lain.


Rombongan pangeran Aric


sudah memulai perjalanan, para perwakilan itu juga sudah memisahkan diri.


Mereka kembali ke ibu kota untuk melaporkan tugas mereka. Sekalgus membebaskan


pasukan Aric dari tahanan kota dan menyuruhnya segera menyusul ke perbatasan.


Jika mereka mengabaikan


istirahat kemungkinan saat fajar baru bisa sampai di perbatasan. Pasukan mereka


masih tertahan di kota, anak buahnya hanya berjumlah puluhan. Jumlah yang


benar-benar kecil. Namun Aric tidak takut, dia yakin sekecil apapun bantuan


akan sangat berarti di medan perang.


Di kediaman Duke, seorang


wanita tengah memandang taman dari jendela kamar. Dia semalaman tidak bisa


tidur, hanya menghabiskan waktu dengan memandangi kearah perbatasan.


“ bagaimana kau disana?”


guman Ai, wanita itu terus saja menanyakan hal yang sama pada angin kamarnya.


Dalam kesunyian dia hanya bisa berkata pada dirinya sendiri.


Hukum menyatakan bahwa


dia menjalani tahanan rumah, namun nyatanya dia malah menjadi tahanan kamar di


rumahnya sendiri. Hardwin menguncinya didalam kamar tanpa memberikan izin pada


siapapun untuk membukanya.


Pelayan dikediaman sedang


menjalani pemeriksaan, serta di mintai penjelasan selama bekerja di kediaman.


Hanya ada beberapa pelayan saja yang bisa tinggal, termasuk Milly. Dia tidak


mau meninggalkan nyonya sedikitpun.


Pagi ini dia sudah


menyiapkan sarapan untuk di bawa ke kamar Duchess, di depan pintu kamar sudah


ada 2 orang penjaga milik Hardwin.


“biar aku saja yang


membawanya masuk” ucap Hardwin saat melihat Mily akan memasuki kamar.


“ tidak tuan” ucap gadis


itu tegas. Mily sudah agak kesal dan marah dengan tindakan Hardwin, dia tidak


mau menghormati lelaki yang sudah menghianati nyonyanya.


“ berikan padaku” nampan


itu di tarik dengan cepat dari tangan Mily, ingin sekali dia memukul lelaki


itu, tapi dia masih waras, dia pasti kalah. Hanya mengantar nyawa saja.


Lelaki itu masuk ke dalam


kamar, pintu sudah tertutup membuat Mily menuruni tangga dengan perasaan


dongkol.


Hardwin mencari-cari


keberadaan Ai di dalam kamar, dia sudah mendiamkan wanita itu sejak masa


penahananya dimulai. Kini dia bermaksud untuk menjelaskan semuanya pada Ai.


begitu tau ternyata Ai berada didekat jendela kamarnya. Pintu balkon sengaja di


kunci mati dan tidak bisa di buka dari arah manapun.


Ai hanya diam, tidak


bergeming. Wanita itu menganggap jika tak ada seorangpun yang ada dikamarnya.


“ aku melakukan semua ini


demi kebaikanmu” lanjut Hardwin. Kalimat ini seakan mengelitik di telinga Ai,


wanita itu menarik sudut bibirnya.


“ kebaikan dari sudut


mana?” Ai tertawa sumbang, dia sudah merasa tertipu jadi untuk apa berbaik hati


pada lelaki ini.


Hardwin hanya diam, dia


merasa perbedaan yang begitu nyata akan sikap Ai pada dirinya. Wanita itu tidak


seperti biasanya, bahkan saat Ai tertawa terdengar begitu sedih. Tatapan mata


wanita itu kosong mengisyaratkan kesepian dan kekecewaan.


“ Aku tau kau pasti marah


padaku, tapi aku tak ingin kamu terluka” lelaki itu terus berkilah membenarkan


tindakannya.


“ justru seperti ini aku


semakin terluka, bahkan sangat kecewa denganmu. Sekarang katakan padaku, berapa


si brengsek Sea membayarmu?” sorot mata Ai begitu tajam menatap Hardwin. Sampai


membuat lelaki itu menelan ludahnya kasar. Tak pernah dilihatnya Ai semarah ini


dalam perjalanan pertemanan mereka.


“ Sea? Ini tak ada


hubungannya dengannya!” Hardwin menegaskan nadanya. Dia mendekati Ai agar


wanita itu percaya dengannya.


“ lalu kenapa kau


melakukan semua ini, Brengsek!?” tak mau kalah kini Ai naik pitam, segalanya


sudah berubah bagi Ai untuk Hardwin. Rasa kecewa bercampur marah bersatu dalam


tatapan garangnya. Hardwin mengambil nafas panjang, sebisa mungkin jangan


sampai dia juga kelepasan emosi. Ai memang berhak memakinya, bahkan jika wanita


itu memukulnya dia tak akan menghindar. Hardwin memaklumi semua perkataan Ai.


“ aku tak ingin


kehilaganmu Ai”


“ hentikan bualanmu!” tatapan


wanita itu semakin nanar.


“ aku melakukan semua ini


hanya karena ingin melindungimu. Aku tak mau kau celaka , aku sangat


mencintaimu Ai” nadanya melemah di akhir kalimat, kini jelas sudah perasaan


yang lelaki itu pendam sekian lama. Semua sudah terbuka.


“ aku tau kau pasti akan


menyusul Axton ke perbatasan, apalagi dengan berita perang telah pecah. kau


semakin nekat dan tidak akan memikirkan keselamatanmu. Semua itu membuatku


takut kehilanganmu, aku benar-benar ingin memilikimu Ainsley” Hardwin seakan


sedang memohon, dia begitu mengiba pengertian wanita itu, hanya dengan cara ini


lelaki itu bisa melindungi Ai. dia berharap Ai mengerti perasaanya.


“ hentikan omomg kosong


mu!” Ai semakin tak mengerti, jadi salama ini dia tertipu, dia fikir Hardwin


adalah benar-benar sahabatnya. Ternyata salah, mungkin inilah alasannya kenapa


suaminya begitu membanci lelaki ini.