The New Duchess

The New Duchess
bab. 145 : Terulang Lagi



" cukup!!hentikan!! aku mohon, hiks hiks hiks" teriak Ai.


Sean memukuli Axton seperti orang kesetanan. Kaki, punggung, lengan, bahkan sesekali menendang perut Axton.


Ai menyeret tubuhnya untu menahan pukulan. Dia menutupi tubuh Axton menggunakan tubuhnya.


" kau ingin juga, baiklah rasakan" ucap Sean angkuh.


" nyonya!!"


" Duchess!"


" Ai"


Bugh bugh


Sean tidak main- main, pukulan itu kini mengenai tubuh Ai.


" me nying kir Ai" ucap Axton terbatas-bata.


" uhuk uhuk" bahkan setelahnya Axton muntah darah.


" ak" pukulan itu mengenai perutnya.


" Duchess! berhenti kau brengsek!!" teriak tuan Kleiner.


" sini lawan aku!" Dalbert sangat marah. Dia tidak bisa membiarkan pasangan suami istri itu tewas.


" ahahahahahaha. Dasar lemah. ccuih" Sean tertawa senang lalu meludahi keduanya. Dia melemparkan kayu yang sudah berlumuran darah.


" singkirkan wanita ini" ucap Sean pada pengawalnya.


Lelaki itu maju dan menarik tubuh Ai yang lemah dengan darah mengalir membasahi kakinya.


" le..pas" Ai memberontak lemah. Dia melihat Axton sudah terkapar dengan sangat menyakitkan.


" kau, hanya menjadi duri dalam kehidupan ku. Kini setelah menungggu bertahun-tahun aku bisa membunuhmu" Sean mengeluarkan pistol.


" lihat Duchess, kau akan menyusulnya setelah ini! dan kalian semua! kalian yang melawanku akan mati disini malam ini!" teriak Sean dengan wajah penuh marah.


" tunggu" lanjut Sean lemah.


" bukankah hari ini adalah peringatan ulang tahun pernikahan kalian? aku akan menghadiahkan kalian agar bisa sehidup semati. hahahahah romantis sekali" Sean mengambil botol anggur dan dengan keras melemparkannya ke Axton.


" itu minumlah, anggur perayaaan pernikahan mu" ucap Sea.


" tidak" ucap Ai lemah. wanita itu kini ingat, pistol yang Sean bawa adalah pistol yang sama saat dia melakukan bunuh diri.


" tidak tidak tidak" Ai meronta. Apa kali ini Axton yang mati. dia sangat khawatir.


" diam kau" ucap pengawal marah.


" baiklah kurasa tidak perlu banyak pidato, aku Sean. Putra Mahkota Bavaria akan memberikan hadiah kepada Duke Wellington. Sebuah kematian abadi bersama istrinya. hahaah" Sean mengarahkan pistol itu ke tubuh Axton yang lemah. Jarak mereka sekitar 5 meter.


" tidak! aku mohon" Ai berteriak sambil memberontak.


" kau perhatian dengan baik. Aku hitung" Sean menatap Ai dengan wajah mengejek.


" satu "


" .dua" Seorang wanita berlari kencang menuju taman utama.


" ti.... ga"...


" Duke!" Teriak wanita itu.


door


" tidak.. !" semua orang berteriak dengan kencang.


" Ax xt.. Grace" semua tidak percaya. Grace menerima tembakan itu karena menghalangi tubuh Axton. Wanita itu berdiri di depan Sean.


" sial kau...akkk sial sial" teriak Sean kesal karena kesenangannya di ganggu.


" Grace" teriak Milly. Dia sejenak melupakan kehadiran wanita ini di rumah ini.


" akkk" rintih Grace yang langsung tumbang. Dia terkena luka tembak di bagian perut atas. Sangat dekat dengan janin nya.


" Grace, kau sangat mengganggu!" sentak Sean


" akk perutku" ucap Grace. dia merasakan perutnya kontraksi.


" anakku? tidak.. Dia ini wanita murahan. Itu bukanlah anakku" Sean menyangkal.


Ai menangis tiada henti, dia juga merasakan sakit pada perutnya. Dia hanya berharap agar pertolongan segera datang.


" sudahlah kita mulai " jawab Sean enteng.


tap tap tap tap tap


Suara langkah kaki memenuhi taman.


" letakkan senjata" teriak prajurit kerajaan yang baru sampai.


" aku putra mahkota, siapa yang menyuruh kalian? lancang sekali" Sean tidak mau menuruti perintah prajurit kerajaan.


" Aku!" teriak pangeran Aric dia berdiri dengan gagah di depan semua orang.


" tangkap Sean dengan cara apapun" lanjut Aric. Lelaki itu sudah sadar dan berani bertindak. Di depannya bukanlah putra mahkota, juga bukan kakaknya. Dia adalah orang asing yang dengan lancang mengambil tahta kerajaan.


tap tap tap Semua prajurit dengan kompak semakin mempersempit kepungan.


" jika kalian menyerahkan diri, hukuman kalian akan di peringan" Aric memberikan pilihan.


Kini penjaga yang Sean bawa dengan cepat langsung menjauhkan senjata. Aric tertawa dalam hati.


" kalian tidak berguna!" Sean sangat marah.


" baiklah jika itu yang kalian inginkan" Lanjut Sean dan mengarahkan senjata ke Axton lagi.


door suara tembakan. Bukannya milik Sean, namun pengawal Aric menembak Sean di bagian kaki.


" aaakkk sialan kau, dasar rendahan".


Sean terjatuh. Tuan Kleiner segera berlari dan merampas pistol milik Sean.


" tangkap dia!" perintah Aric.


Sean di ringkus dengan cepat.


" Duke" Tuan Kleiner mendekati Axton.


" Grace," dia membantu wanita itu


" perutku, tolong selamatkan bayiku. Tolong" Grave tidak bisa menahan sakit. Dia kehilangan banyak darah.


" ini bagaimana? jalan satu-satunya adalah pembedahan" ucap Aric yang juga prihatin dengan kondisi Grace.


" kalian segera panggil semua tenaga kesehatan kemari" lanjut Aric. Di sana Axton, Grace, Ai dan beberapa lainnya membutuhkan tenaga kesehatan.


" apapun tolong keluarkan bayiku" ucap Grace memohon.


Tuan Kliener tidak bisa berkata apapun, kondisi ibunya sangat lemah. Dan kemungkinan tidak tertolong dan ini sangat membahayakan bayinya.


" selamat anakku aku mohon" Grace mengiba.


" hanya ada satu yang selamat" ucap Tuan Kleiener.


Malam terus berlanjut, ke 3 orang dengan luka paling parah langsung di beri tindakan di tempat. Kediaman Wellington berubah menjadi kamar perawatan.


" Ai, kau.." mulut Dalbert tercekat tak kala melihat darah yang terus mengalir dari perut Ainsley.


" perutku, sakit sekali" ucap Ai memegang perutnya erat.


" kau bertahanlah" ucap Dalbert.


Dikamar lainnya Axton sedang berjuang, kesadarannya semakin menipis, luka pukulan di tubuhnya menyebabkan cidera serius.


"Duke, jangan sampai anda pingsan" ucap Aric yang Sejak tadi mengkhawatirkan Axton.


di kamar lain


" Aku pernah melakukan ini sebelumnya, dan pasien tidak selamat" ucap tuan Kleiner pada Grace.


" aku tidak peduli, nyawaku sebentar lagi habis, tolong buat anakku bisa lahir ke dunia" Grace sudah tidak memperdulikan hidupnya. Hanya bayinya yang dia fikirkan.


Malam itu semua orang tampak sangat sibuk. semua dokter istana bahkan dokter Leyna ikut membantu di kediaman Wellington.