
“ saya bisa mengatakan
semuanya kepada anda, tapi Duchess tidak semua yang kita tau akan baik untuk
kita” tuan Kleiner mencoba memberikan sebuah sinyal, dia seakan membuat Ai
kembali menjadi bimbang.
“ malam sudah larut, kita
akan teruskan perbincangan ini besok” lelaki itu langsung beranjak pergi dari
ruangan itu, entah kenapa memikirkan perkataan tuan Kleiner barusan membuat Ai
terpaku diam. bahkan ketika lelaki itu berlalu pergi, Ai hanya bisa menatapnya.
Hardwin masih menunggu di
depan kantor Edward, lelaki itu menanti kedatangan kedua orang yang dilihatnya
siang tadi. Namun hingga tengah malam lelaki itu tidak menemukan batang hidung
mereka. dia juga tidak tau harus bertanya kepada siapa. Alhasil lelaki hanya
bisa kembali besok untuk mengetahui jelasnya.
Begitu sampai ditendanya,
lelaki itu langsung menerima beberapa laporan dari anak buahnya mengenai
kegiatan hari ini. Semuanya aman terkendali tidak ada masalah serius.
Sepeninggalnya anak buahnya, Hardwin yang masih kesal karena tidak bisa menemui
Ai melimpahkan kemarahanya pada barang-barang miliknya.
Sebuah kotak jatuh dan
membuat isinya keluar. Salah satunya adalah surat dari ayahnya yang sudah
hampir satu bulan tidak dia baca. Rasa penasaran mulai menghinggapi pikirannya,
akhirnya di bukanya surat tersebut. Lelaki itu membacanya dengan serius.
Sudut bibirnya tertarik,
tapi bukan senyum senang, melainkan senyum meremehkan. Nyatanya surat itu
berisikan pesan tidak penting bagi Harwdin. Sudah berungkali dia menerima surat
yang hampir sama dengan isi pesan ini sebelumnya. Bahkan ayahnya masih saja
sama seperti dahulu, rasanya ayahnya itu tidak pernah memberikannya
kebebasan. Selalu saja hal yang sama,
inilah yang membuat hubungan anak dan ayah itu semakin renggang tiap tahunnya.
Hardwin segera meremas
surat tersebut dan membakarnya. Lelaki itu seakan memiliki dendam lama yang
membuatnya begitu emosinal setelah membaca isi surat tersebut.
Pagi harinya Ai sudah
akan kelaur dari kamarnya, meski malam itu dia tidak bisa melihat dengan jelas
bagaimana kondisi pondok yang dia kunjungi. Nyatanya dia diberikan sebuah kamar
yang lumayan terawat. Kini setelah membersihkan diri wanita itu keluar dari
kamar.
Baru saja melangkah
keluar dia di sambut dengan seorang lelaki yang duduk di teras kamarnya.
“ Dalbert!” Ai langsung
berteriak setelah mengenali lelaki tersebut. Ai rasanya senang sekali bisa
menemukan seseorang yang dia kenali disini.
“ merindukanku?” Dalbert
langsung berdiri dan memeluk adik sepupunya itu dengan erat.
“ kau disini juga?
Bukannya kau bilang akan ke perbatasan?” Ai langsung bertanya.
“ sebenarnya baru
beberapa hari yang lalu, aku juga baru kembali semalam dari perbatasan. Dan
mengetahui kau disini aku langsung menuju ke kamarmu” Dalbertpun terlihat
girang dengan kehadiran Ai.
“ kau sudah menemui ayah?”
tanya Dalbert tanpa pikir panjang. Lelaki itu tidak melihat raut wajah
kebingungan dari Ai.
“ paman juga disini?” Ai
terkejut dia baru mengetahui hal ini, apa semua orang memang berniat
menyembunyikan semuanya dari dirinya. Ai merasa sedikit kesal dengan apa yang
dia tau. Seakan membenarkan perkataan tuan Kleiner semalam bahkan terkadang
mengetahui segalanya juga tidak baik untuk kita.
“ kau tak tau, ayo akan
aku antar kau menemui ayah” Dalbert dengan sok santainya segera membawa Ai
menuju bangunan lain. Ternyata disini memiliki beberapa pondok, meski di dalam
hutan nyatanya kediaman ini sangat layak huni.
Mereka berjalan melewati
lorong dan beberapa taman sederhana. Ai terus mengamati keadaan sekitar, seakan
di buat takjub dengan pemandangan kediaman Ai smapai tidak peduli dengan ocehan
Dalbert.
memanggil ayahnya dari luar. Lelaki itu menyuruh Ai untuk duduk di teras
bangunan, sedang dia masuk kedalam.
Tak lama berselang
seorang lelaki paruh baya keluar dari ruangan.
“ Ainsley!” lelaki itu
tampak kaget dengan kehadiran Ai, dia benar-benar terlihat tidak mengetahui
bahwa keponakannya itu berada di kawasan ini.
“ paman” Ai segera
berdiri dan langsung memeluk pamannya.
“ paman kenapa tidak
pernah mengirim kabar padaku?, pamankan sudah berjanji. Lalu kenapa paman juga
ada disini, sebenarnya ini tempat apa paman?” Ai yang kesal langsung meminta
jawaban. Dia seakan meluapkan segala macam rasa kesal dan marahnya kepada satu
orang yang ada di depannya ini.
“ suut, kau tenanglah
dulu” paman Al segera menenangkan keponakanya yang sudah hampir meledak itu.
Memang benar dia sudah berjanji akan berkirim kabar, sayangnya begitu sampai
disini dia tidak di perbolehkan untuk mengirim surat. Kawasan ini harus tetap
bersifat rahasia.
Paman Al membimbing Ai
untuk segera duduk, dan tak lama Dalbert datang dengan membawa minuman dan
beberapa cemilan. Mereka duduk melingkar di teras ruangan.
“ kau terlihat begitu
kesal pada ayah” Dalbert mengatakan apa yang dia lihat,pemuda itu tidak tau jika
baru saja Ai mengomel pada ayahnya.
“ diam kau!” paman Al
tampaknya marah, karena dengan entengnya dia memberitahu kepada Ai mengenai
keberadaanya disini.
Dalbert yang di marahi
ayahnya, dengan tampang cengengesan hanya membalas dengan tertawa santai. Lelaki
itu selalu berpihak pada adiknya, entah kenapa mungkin karena umur mereka tidak
jauh beda, sehingga bisa saling mengerti.
“ paman jawab pertanyaan
Ai” wanita itu merengek meminta jawabannya. Dia tidak mau kecolongan lagi.
Rasanya dia memiliki firasat jika pamannya ini mengetahui sesuatu.
“ apa , apa yang ingin
kau tau?” paman Al seolah ingin bertele-tele, lelaki itu tidak langsung
menjawab pertanyaan Ai.
“ ah paman, sebenarnya
bagaimana kabar Axton? apa paman sudah mendapatkan kabarnya?” Ai sudah kepalang
marah akhirnya dia langsung menuju pertanyaan inti. Pertanyaan yang selama ini
menghantui dirinya.
Dalbert yang mendengar
pertanyaan itu seketika menghentikan aksi makannya. Dia baru tau jika ternyata
adiknya ini belum mendapatkan kabar apapun. Pantas saja ayahnya begitu marah
saat dirinya memberitahu keberadaanya disini. Dengan segera langsung menatap
wajah ayahnya, dia ingin mendengar apa yang akan ayahnya katakan pada adiknya
ini.
Paman Al serasa sedang di
sidang, kedua orang ini menatapnya dengan begitu serius. Membuatnya secara
tidak sadar menelan ludahnya kasar, bukannya dia tidak bisa menjawab pertanyaan
itu. Namun dia tidak tau harus mengatakan apa.
“kami belum mendapatkan
kabar apapun” jawab paman Al singkat. Baik Ai dan Dalbert langsung menghembuskan
nafas kasar. Keduanya kecewa dengan jawaban lelaki itu. Ai yang kecewa karena
ternyata harapanya sirna sedangkan Dalbert kecewa karena ayahnya berbohong
dengan jawaban itu.
Tak ingin mendengarkan
lebih jauh lagi bualan ayahnya, Dalbert segera berdiri dan meninggalkan ayahnya
bersama adiknya. Entah dia sendiri ikut kesal dengan kebohongan yang ayahnya
katakan. Sudah sejak lama mereka seakan menutupi semuanya dari Ai. padahal
menurut Dalbet, adiknya sangat berhak tau bagaimana situasi sekarang. Adiknya
sudah dewasa dan dia berhak memilih kehidupannya. Jika bukan karena
alasan-alasan menakutkan yang ayahnya ancamkan padanya, lelaki itu pasti sudah
dengan gamblang mengatakan kebenarannya kepada adiknya itu.