The New Duchess

The New Duchess
Bab 102 : Dalbert Kecewa



“ saya bisa mengatakan


semuanya kepada anda, tapi Duchess tidak semua yang kita tau akan baik untuk


kita” tuan Kleiner mencoba memberikan sebuah sinyal, dia seakan membuat Ai


kembali menjadi bimbang.


“ malam sudah larut, kita


akan teruskan perbincangan ini besok” lelaki itu langsung beranjak pergi dari


ruangan itu, entah kenapa memikirkan perkataan tuan Kleiner barusan membuat Ai


terpaku diam. bahkan ketika lelaki itu berlalu pergi, Ai hanya bisa menatapnya.


Hardwin masih menunggu di


depan kantor Edward, lelaki itu menanti kedatangan kedua orang yang dilihatnya


siang tadi. Namun hingga tengah malam lelaki itu tidak menemukan batang hidung


mereka. dia juga tidak tau harus bertanya kepada siapa. Alhasil lelaki hanya


bisa kembali besok untuk mengetahui jelasnya.


Begitu sampai ditendanya,


lelaki itu langsung menerima beberapa laporan dari anak buahnya mengenai


kegiatan hari ini. Semuanya aman terkendali tidak ada masalah serius.


Sepeninggalnya anak buahnya, Hardwin yang masih kesal karena tidak bisa menemui


Ai melimpahkan kemarahanya pada barang-barang miliknya.


Sebuah kotak jatuh dan


membuat isinya keluar. Salah satunya adalah surat dari ayahnya yang sudah


hampir satu bulan tidak dia baca. Rasa penasaran mulai menghinggapi pikirannya,


akhirnya di bukanya surat tersebut. Lelaki itu membacanya dengan serius.


Sudut bibirnya tertarik,


tapi bukan senyum senang, melainkan senyum meremehkan. Nyatanya surat itu


berisikan pesan tidak penting bagi Harwdin. Sudah berungkali dia menerima surat


yang hampir sama dengan isi pesan ini sebelumnya. Bahkan ayahnya masih saja


sama seperti dahulu, rasanya ayahnya itu tidak pernah memberikannya


kebebasan.  Selalu saja hal yang sama,


inilah yang membuat hubungan anak dan ayah itu semakin renggang tiap tahunnya.


Hardwin segera meremas


surat tersebut dan membakarnya. Lelaki itu seakan memiliki dendam lama yang


membuatnya begitu emosinal setelah membaca isi surat tersebut.


Pagi harinya Ai sudah


akan kelaur dari kamarnya, meski malam itu dia tidak bisa melihat dengan jelas


bagaimana kondisi pondok yang dia kunjungi. Nyatanya dia diberikan sebuah kamar


yang lumayan terawat. Kini setelah membersihkan diri wanita itu keluar dari


kamar.


Baru saja melangkah


keluar dia di sambut dengan seorang lelaki yang duduk di teras kamarnya.


“ Dalbert!” Ai langsung


berteriak setelah mengenali lelaki tersebut. Ai rasanya senang sekali bisa


menemukan seseorang yang dia kenali disini.


“ merindukanku?” Dalbert


langsung berdiri dan memeluk adik sepupunya itu dengan erat.


“ kau disini juga?


Bukannya kau bilang akan ke perbatasan?” Ai langsung bertanya.


“ sebenarnya baru


beberapa hari yang lalu, aku juga baru kembali semalam dari perbatasan. Dan


mengetahui kau disini aku langsung menuju ke kamarmu” Dalbertpun terlihat


girang dengan kehadiran Ai.


“ kau sudah menemui ayah?”


tanya Dalbert tanpa pikir panjang. Lelaki itu tidak melihat raut wajah


kebingungan dari Ai.


“ paman juga disini?” Ai


terkejut dia baru mengetahui hal ini, apa semua orang memang berniat


menyembunyikan semuanya dari dirinya. Ai merasa sedikit kesal dengan apa yang


dia tau. Seakan membenarkan perkataan tuan Kleiner semalam bahkan terkadang


mengetahui segalanya juga tidak baik untuk kita.


“ kau tak tau, ayo akan


aku antar kau menemui ayah” Dalbert dengan sok santainya segera membawa Ai


menuju bangunan lain. Ternyata disini memiliki beberapa pondok, meski di dalam


hutan nyatanya kediaman ini sangat layak huni.


Mereka berjalan melewati


lorong dan beberapa taman sederhana. Ai terus mengamati keadaan sekitar, seakan


di buat takjub dengan pemandangan kediaman Ai smapai tidak peduli dengan ocehan


Dalbert.


memanggil ayahnya dari luar. Lelaki itu menyuruh Ai untuk duduk di teras


bangunan, sedang dia masuk kedalam.


Tak lama berselang


seorang lelaki paruh baya keluar dari ruangan.


“ Ainsley!” lelaki itu


tampak kaget dengan kehadiran Ai, dia benar-benar terlihat tidak mengetahui


bahwa keponakannya itu berada di kawasan ini.


“ paman” Ai segera


berdiri dan langsung memeluk pamannya.


“ paman kenapa tidak


pernah mengirim kabar padaku?, pamankan sudah berjanji. Lalu kenapa paman juga


ada disini, sebenarnya ini tempat apa paman?” Ai yang kesal langsung meminta


jawaban. Dia seakan meluapkan segala macam rasa kesal dan marahnya kepada satu


orang yang ada di depannya ini.


“ suut, kau tenanglah


dulu” paman Al segera menenangkan keponakanya yang sudah hampir meledak itu.


Memang benar dia sudah berjanji akan berkirim kabar, sayangnya begitu sampai


disini dia tidak di perbolehkan untuk mengirim surat. Kawasan ini harus tetap


bersifat rahasia.


Paman Al membimbing Ai


untuk segera duduk, dan tak lama Dalbert datang dengan membawa minuman dan


beberapa cemilan. Mereka duduk melingkar di teras ruangan.


“ kau terlihat begitu


kesal pada ayah” Dalbert mengatakan apa yang dia lihat,pemuda itu tidak tau jika


baru saja Ai mengomel pada ayahnya.


“ diam kau!” paman Al


tampaknya marah, karena dengan entengnya dia memberitahu kepada Ai mengenai


keberadaanya disini.


Dalbert yang di marahi


ayahnya, dengan tampang cengengesan hanya membalas dengan tertawa santai. Lelaki


itu selalu berpihak pada adiknya, entah kenapa mungkin karena umur mereka tidak


jauh beda, sehingga bisa saling mengerti.


“ paman jawab pertanyaan


Ai” wanita itu merengek meminta jawabannya. Dia tidak mau kecolongan lagi.


Rasanya dia memiliki firasat jika pamannya ini mengetahui sesuatu.


“ apa , apa yang ingin


kau tau?” paman Al seolah ingin bertele-tele, lelaki itu tidak langsung


menjawab pertanyaan Ai.


“ ah paman, sebenarnya


bagaimana kabar Axton? apa paman sudah mendapatkan kabarnya?” Ai sudah kepalang


marah akhirnya dia langsung menuju pertanyaan inti. Pertanyaan yang selama ini


menghantui dirinya.


Dalbert yang mendengar


pertanyaan itu seketika menghentikan aksi makannya. Dia baru tau jika ternyata


adiknya ini belum mendapatkan kabar apapun. Pantas saja ayahnya begitu marah


saat dirinya memberitahu keberadaanya disini. Dengan segera langsung menatap


wajah ayahnya, dia ingin mendengar apa yang akan ayahnya katakan pada adiknya


ini.


Paman Al serasa sedang di


sidang, kedua orang ini menatapnya dengan begitu serius. Membuatnya secara


tidak sadar menelan ludahnya kasar, bukannya dia tidak bisa menjawab pertanyaan


itu. Namun dia tidak tau harus mengatakan apa.


“kami belum mendapatkan


kabar apapun” jawab paman Al singkat. Baik Ai dan Dalbert langsung menghembuskan


nafas kasar. Keduanya kecewa dengan jawaban lelaki itu. Ai yang kecewa karena


ternyata harapanya sirna sedangkan Dalbert kecewa karena ayahnya berbohong


dengan jawaban itu.


Tak ingin mendengarkan


lebih jauh lagi bualan ayahnya, Dalbert segera berdiri dan meninggalkan ayahnya


bersama adiknya. Entah dia sendiri ikut kesal dengan kebohongan yang ayahnya


katakan. Sudah sejak lama mereka seakan menutupi semuanya dari Ai. padahal


menurut Dalbet, adiknya sangat berhak tau bagaimana situasi sekarang. Adiknya


sudah dewasa dan dia berhak memilih kehidupannya. Jika bukan karena


alasan-alasan menakutkan yang ayahnya ancamkan padanya, lelaki itu pasti sudah


dengan gamblang mengatakan kebenarannya kepada adiknya itu.