The New Duchess

The New Duchess
Bab 98: Terbongkar



Para pengawal sudah


bersiap menarik pelatuk, hanya menunggu satu kata dari atasan mereka. namuan Ai


dengan lelaki berseragam itu tetap mengunci tatapan mereka. saling menunggu.


“ aku, Duchees Wellington”ucap


Ai akhirnya. Kening lelaki berseragam itu  berkerut. Sungguh dia tidak pernah berfikir jika wanita di depannya


memiliki status yang setinggi ini.


Dengan segera lelaki


berseragam itu menyuruh kedua pengawalnya menurunkan senjata lewat gerakan


tangannya. Dia akan sedikit berhati-hati jika status yang dia dengar adalah


benar identitas dari wanita ini.


“ Ai” Hardwin sedikit


kecewa dengan keputusan Ai yang terkesan gegabah. Dia menghembuskan nafas kasar


karena kekecewaannya. Hal ini jelas ditangkap oleh lelaki bersegaram itu,


membuatnya mulai percaya bahwa wanita itu berkata benar.


“ bagaimana jika kau


berbohong?” lelaki berseragam mengutarakan sedikit keraguanya.


“ untuk apa juga aku


berbohong” Ai tetap dalam mode arogan, dia sudah berniat akan seperti ini agar


tidak mudah di tindas.


“ siapa nama lengkapmu?”


kembali di tanya, Ai menarik sudut bibirnya. Seperti lelaki berseragam ini


sudah mulai menjaga sikap.


“ Ainsley, Lady Grafton”


mata itu melebar mendengar jawaban dari wanita yang ada di depannya. jelas identitas


ini sudah memberikan alasan bahwa wanita ini mungkin saja benar adalah Duchess.


Ruangan seakan sunyi


mendadak, baik Hardwin dan pengawal itu sudah menurunkan senjata. Ai dan lelaki


berseragam masih saling berpandangan hanya saja tatapan mereka tidak setajam


sebelumnya. Lelaki itu menilai gesture Ai dari atas sampai bawah.


Beberapa rumor mengatakan


jika Duchess Wellington adalah wanita yang besar di Barack dan memiliki prilaku


yang sedikit kelaki-lakian. Jika di kombinasikan dengan wanita di depannya


rasa-rasanya begitu cocok. Lelaki berseragam seketika salah tingkah, dia merasa


sedikit keterlaluan dengan tamunya.


“ apa kau bisa


mengizinkan pasukanku masuk?” tidak ingin kesunyian berlarut-larut akhirnya


Hardwin memecahkan dengan pertanyaan.


Pandangan lelaki


berseragam akhirnya terputus, kini dia memandang Hardwin. Setelah beberapa saat


akhirnya mengangguk dan menyuruh pengawalnya untuk keluar dan memberikan pesan


kepada penjaga gerbang. Ai dan Hardwin duduk kembali, setelah yakin jika


pasukan mereka aman.


“ aku tak ingin orang


lain mengetahui identitasku, jadi kau harus bisa merahasiakan hal ini” Ai sudah


mulai mencair, wanita ini sedikit terlihat bersahabat.


“baiklah, lalu ada maksud


apa Duchess datang kemari?” lelaki berseragam tadi sudah percaya dan kini


bersikap hormat pada Ai. bagaimanapun wanita ini jelas berada di atasnya.


“ aku ingin mendengar


kabar Duke, apa kau bisa mengatakan padaku apa yang terjadi di perbatasan


selama ini, tuan?” ucap Ai jelas. Seketika raut wajah lelaki itu berubah, Ai


tidak mengerti maksud dari ekpresinya itu.


“ Edward, saya wakil


ketua Edward” lelaki bersegaram itu aakhirnya mengatakan posisinya di pasukan


kota. Lelaki itu seakan diam sejenak sambil melirik Hardwin. Pertanyaan yang Ai


berikan jelas sangatlah crusial. Dia ingin menjawabnya namun di ruangan itu ada


orang lain. Bagaimanapun dia tidak bisa sembarangan menjelaskan hal ini pada


orang asing.


Melihat gelagap Edward,


Ai mengerti maksud dari lirikan itu.


“ kau bisa meninggalkau


sejenak Hardwin?” Ai menatap Hardwin datar, sedangkan lelaki itu mengerutkan


tempat, Ai mengangguk kecil seakan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik


saja.


Kini semua tatapan


tertuju pada Hardwin, lelaki ini tidak memiliki pilihan selain pergi dari


ruangan. Baik Edward dan Ai memiliki keinginan  yang sama.


“ baiklah” jawab Hardwin


terpaksa. Meski dengan berat hati lelaki itu tetap melangkah mendekati pintu


kemudia keluar.


“ jadi bagaimana?” Ai


kembali menutut jawabannya.


“ seperti informasi yang


beredar, perbatasan telah jatuh. Pasukan Duke sudah kalah setelah berperang


beberapa hari” Ai sudah mengetahui hal ini, dia menginginkan jawaban lain.


“ jelaskan padaku


bagaimana bisa Duke tidak ada saat baku tembak terjadi?” Edward semakin dibuat


takjub dengan keberanian serta wawasan Ai. bagaimana bisa dia sudah mengetahui


hal rahasia ini. Ini adalah bukti kuat bahwa memang benar bahwa wanita di


depannya memanglah Duchess Wellington.


“ em, saya tidak bisa


memberikan jawaban atas pertanyaan anda“ Edward sudah berjanji bahwa dia harus


menjaga rahasia ini. Ai mengerutkan keningnya, dia mengolah apa maksud dari


ucapan Edward.


“ lalu siapa yang bisa


memberikan jawaban atas pertanyaanku?” Ai harus bisa bertemu dengan seseorang


yang bisa memberikannya jawaban, mungkin ketua pasukan kota, atau seseorang


lain yang memiliki status yang lebih tinggi. Karena dari jawaban Edward bukanya


dia tidak tau, dia hanya tidak diizinkan untuk mengatakan jawabannya.


“ saya akan mengatarkan


anda bertemu dengannya,tapi hanya anda. Lelaki tadi tetap tidak boleh


mengetahui apapun” jawab Edward yakin. Lelaki ini sedikit curiga bahkan menilai


Hardwin memiliki niat lain datang kemari.


“ kenapa?” meskipun Ai


bisa menyembunyikan hal ini namun akan sulit jika dia tidak memiliki teman


diskusi.


“ dia memiliki surat raja”


jawab Edwad singkat. Ai memaklumi meski dirinya tidak mengetahui apa makna yang


sebenarnya. Akhirnya dia hanya bisa mengangguk sebagai jawaban.


“ dia lebih baik


meninggalkan kota” ucap Edward kemudian. Ai mulai goyah, bagaimana caranya dia


meyakinkan Hardwin untuk meninggalkannya. Rasanya tidak mungkin.


“ aku akan


mengusahakannya” jawab Ai. dia tetap lebih memilih Axton, mau apapun resikonya.


Perbincangan itu akhirnya


selesai, Hardwin menatap Ai saat wanita itu keluar dari ruangan. Dirinya akan


meminta jawaban nanti saat Edward tidak ada di sekitarnya.


“ kau bisa ikut denganku


untuk mengurus pasukanmu” Edward berbicara pada Hardwin. Meski sedikit bimbang,


Hardwin lebih baik memang mengatur pasukannya terlebih dahulu.


“ baiklah” jawab Hardwin.


“ sebentar lagi akan ada


pelayan yang mendampingi anda” ucap Edward pada Ai. setelah mengatahui identitas


sebenarnya tentu saja Ai akan di perlakukan berbeda.


Tanpa menunggu


persetujuan Edward dan Hardwin pergi meninggalkan Ai. wanita itu duduk di teras


tak lama kemudian seorang wanita menghampiri Ai.


“ saya Susan, akan melayani


anda disini. Mari saya antar ke kamar” ucap wanita itu, dari penampilannya


seperti Susan adalah wanita desa yang memang diberikan tugas agar bisa menemai


Ai.


“ baiklah” jawab Ai ramah


kemudian mengikuti Susan menuju kamarnya.