
Para pengawal sudah
bersiap menarik pelatuk, hanya menunggu satu kata dari atasan mereka. namuan Ai
dengan lelaki berseragam itu tetap mengunci tatapan mereka. saling menunggu.
“ aku, Duchees Wellington”ucap
Ai akhirnya. Kening lelaki berseragam itu berkerut. Sungguh dia tidak pernah berfikir jika wanita di depannya
memiliki status yang setinggi ini.
Dengan segera lelaki
berseragam itu menyuruh kedua pengawalnya menurunkan senjata lewat gerakan
tangannya. Dia akan sedikit berhati-hati jika status yang dia dengar adalah
benar identitas dari wanita ini.
“ Ai” Hardwin sedikit
kecewa dengan keputusan Ai yang terkesan gegabah. Dia menghembuskan nafas kasar
karena kekecewaannya. Hal ini jelas ditangkap oleh lelaki bersegaram itu,
membuatnya mulai percaya bahwa wanita itu berkata benar.
“ bagaimana jika kau
berbohong?” lelaki berseragam mengutarakan sedikit keraguanya.
“ untuk apa juga aku
berbohong” Ai tetap dalam mode arogan, dia sudah berniat akan seperti ini agar
tidak mudah di tindas.
“ siapa nama lengkapmu?”
kembali di tanya, Ai menarik sudut bibirnya. Seperti lelaki berseragam ini
sudah mulai menjaga sikap.
“ Ainsley, Lady Grafton”
mata itu melebar mendengar jawaban dari wanita yang ada di depannya. jelas identitas
ini sudah memberikan alasan bahwa wanita ini mungkin saja benar adalah Duchess.
Ruangan seakan sunyi
mendadak, baik Hardwin dan pengawal itu sudah menurunkan senjata. Ai dan lelaki
berseragam masih saling berpandangan hanya saja tatapan mereka tidak setajam
sebelumnya. Lelaki itu menilai gesture Ai dari atas sampai bawah.
Beberapa rumor mengatakan
jika Duchess Wellington adalah wanita yang besar di Barack dan memiliki prilaku
yang sedikit kelaki-lakian. Jika di kombinasikan dengan wanita di depannya
rasa-rasanya begitu cocok. Lelaki berseragam seketika salah tingkah, dia merasa
sedikit keterlaluan dengan tamunya.
“ apa kau bisa
mengizinkan pasukanku masuk?” tidak ingin kesunyian berlarut-larut akhirnya
Hardwin memecahkan dengan pertanyaan.
Pandangan lelaki
berseragam akhirnya terputus, kini dia memandang Hardwin. Setelah beberapa saat
akhirnya mengangguk dan menyuruh pengawalnya untuk keluar dan memberikan pesan
kepada penjaga gerbang. Ai dan Hardwin duduk kembali, setelah yakin jika
pasukan mereka aman.
“ aku tak ingin orang
lain mengetahui identitasku, jadi kau harus bisa merahasiakan hal ini” Ai sudah
mulai mencair, wanita ini sedikit terlihat bersahabat.
“baiklah, lalu ada maksud
apa Duchess datang kemari?” lelaki berseragam tadi sudah percaya dan kini
bersikap hormat pada Ai. bagaimanapun wanita ini jelas berada di atasnya.
“ aku ingin mendengar
kabar Duke, apa kau bisa mengatakan padaku apa yang terjadi di perbatasan
selama ini, tuan?” ucap Ai jelas. Seketika raut wajah lelaki itu berubah, Ai
tidak mengerti maksud dari ekpresinya itu.
“ Edward, saya wakil
ketua Edward” lelaki bersegaram itu aakhirnya mengatakan posisinya di pasukan
kota. Lelaki itu seakan diam sejenak sambil melirik Hardwin. Pertanyaan yang Ai
berikan jelas sangatlah crusial. Dia ingin menjawabnya namun di ruangan itu ada
orang lain. Bagaimanapun dia tidak bisa sembarangan menjelaskan hal ini pada
orang asing.
Melihat gelagap Edward,
Ai mengerti maksud dari lirikan itu.
“ kau bisa meninggalkau
sejenak Hardwin?” Ai menatap Hardwin datar, sedangkan lelaki itu mengerutkan
tempat, Ai mengangguk kecil seakan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik
saja.
Kini semua tatapan
tertuju pada Hardwin, lelaki ini tidak memiliki pilihan selain pergi dari
ruangan. Baik Edward dan Ai memiliki keinginan yang sama.
“ baiklah” jawab Hardwin
terpaksa. Meski dengan berat hati lelaki itu tetap melangkah mendekati pintu
kemudia keluar.
“ jadi bagaimana?” Ai
kembali menutut jawabannya.
“ seperti informasi yang
beredar, perbatasan telah jatuh. Pasukan Duke sudah kalah setelah berperang
beberapa hari” Ai sudah mengetahui hal ini, dia menginginkan jawaban lain.
“ jelaskan padaku
bagaimana bisa Duke tidak ada saat baku tembak terjadi?” Edward semakin dibuat
takjub dengan keberanian serta wawasan Ai. bagaimana bisa dia sudah mengetahui
hal rahasia ini. Ini adalah bukti kuat bahwa memang benar bahwa wanita di
depannya memanglah Duchess Wellington.
“ em, saya tidak bisa
memberikan jawaban atas pertanyaan anda“ Edward sudah berjanji bahwa dia harus
menjaga rahasia ini. Ai mengerutkan keningnya, dia mengolah apa maksud dari
ucapan Edward.
“ lalu siapa yang bisa
memberikan jawaban atas pertanyaanku?” Ai harus bisa bertemu dengan seseorang
yang bisa memberikannya jawaban, mungkin ketua pasukan kota, atau seseorang
lain yang memiliki status yang lebih tinggi. Karena dari jawaban Edward bukanya
dia tidak tau, dia hanya tidak diizinkan untuk mengatakan jawabannya.
“ saya akan mengatarkan
anda bertemu dengannya,tapi hanya anda. Lelaki tadi tetap tidak boleh
mengetahui apapun” jawab Edward yakin. Lelaki ini sedikit curiga bahkan menilai
Hardwin memiliki niat lain datang kemari.
“ kenapa?” meskipun Ai
bisa menyembunyikan hal ini namun akan sulit jika dia tidak memiliki teman
diskusi.
“ dia memiliki surat raja”
jawab Edwad singkat. Ai memaklumi meski dirinya tidak mengetahui apa makna yang
sebenarnya. Akhirnya dia hanya bisa mengangguk sebagai jawaban.
“ dia lebih baik
meninggalkan kota” ucap Edward kemudian. Ai mulai goyah, bagaimana caranya dia
meyakinkan Hardwin untuk meninggalkannya. Rasanya tidak mungkin.
“ aku akan
mengusahakannya” jawab Ai. dia tetap lebih memilih Axton, mau apapun resikonya.
Perbincangan itu akhirnya
selesai, Hardwin menatap Ai saat wanita itu keluar dari ruangan. Dirinya akan
meminta jawaban nanti saat Edward tidak ada di sekitarnya.
“ kau bisa ikut denganku
untuk mengurus pasukanmu” Edward berbicara pada Hardwin. Meski sedikit bimbang,
Hardwin lebih baik memang mengatur pasukannya terlebih dahulu.
“ baiklah” jawab Hardwin.
“ sebentar lagi akan ada
pelayan yang mendampingi anda” ucap Edward pada Ai. setelah mengatahui identitas
sebenarnya tentu saja Ai akan di perlakukan berbeda.
Tanpa menunggu
persetujuan Edward dan Hardwin pergi meninggalkan Ai. wanita itu duduk di teras
tak lama kemudian seorang wanita menghampiri Ai.
“ saya Susan, akan melayani
anda disini. Mari saya antar ke kamar” ucap wanita itu, dari penampilannya
seperti Susan adalah wanita desa yang memang diberikan tugas agar bisa menemai
Ai.
“ baiklah” jawab Ai ramah
kemudian mengikuti Susan menuju kamarnya.