The New Duchess

The New Duchess
Bab 122: Kejam



Mentari sudah naik cukup


tinggi, pasangan itu masih terlelap dalam tidurnya. Aktifitas mereka semalam


benar-benar liar dan menggairahkan. Baik Ai dan Axton sama-sama merasakan surga


dunia yang selama ini mereka bayangkan.


Baru selepas fajar tadi


mereka mandi air hangat lalu berberes sekenanya kemudian melanjutkan tidur.


Hari ini takutnya pelayan pondok akan datang untuk mengirimi mereka sarapan,


akan sangat memalukan jika dia melihat bagaimana kondisi pondok akibat ulah


mereka semalam.


Dan memang benar, pelayan


pondok sudah sampai. Lelaki itu meletakkan keranjang makanan di ruangan depan dan


berberes di beberapa bagian pondok. tak lupa membawa kembali keranjang yang


semalam dia tinggalkan.


Lelaki itu masuk kedalam,


karena dia merasa aneh dengan pondok yang masih sepi padahal hari sudah cerah.


Namun dia harus terpaksa berhenti saat dia melihat pintu kamar yang terbuka


sedikit, dan penghuni didalam masih tertidur sambil berpelukan. Posisinya tentu


saja begitu membuat pelayan itu salah tingkah. akhirnya dia kembali ke teras


kemudian pergi sambil membawa keranjang kosong sisa kemarin.


Pelayan itu tersenyum-senyum


sendiri selama perjalanan, akhirnya dia tau kenapa Duke menyuruhnya bekerja di


kawasan depan. Bodohnya dia baru menyadarinya sekarang.


Baru sampai di kawasan


depan pelayan itu berpas-pasan dengan Hardwin yang baru selesai meminun ramuan


dari kamar ayahnya. Lelaki itu keheranan dengan tingkah pelayan yang aneh.


“ kenapa kau senyum-senyum


begitu? Dan sepertinya aku tidak pernah melihatmu sebelumnya?” tanya Hadwin


santai. Dia memang baru melihat pelayan itu sejak sampai disini.


“ ah maafkan saya tuan,


saya pelayan khusus Duke. Memang baru 2 hari ini mengurus kawasan depan. Ini


saya baru selesai mengatar makanan ke pondok” jawab pelayan itu terus terang.


“ pelayan khusus Duke?


Bukannya Duke masih lemah kenapa kau terlihat sesenang itu?” Hardwin yang tidak


tau menahu tempat khusus dan perkembangan Axton, tentu saja merasa janggal


dengan jawaban pelayan itu.


“ Duke sudah membaik,


saya baru saja melihatnya bersama istrinya begitu mesra” pelayan itu berbisik


di akhir kalimatnya. Dia mengira bahwa lelaki di depannya sama seperti penghuni


lainnya yang sangat mengagumi Duke.


“dimana mereka?” tanya Hardwin


tegas, dia merasa di tipu oleh ayahnya. Tentu saja rasa marah mulai menyala


dalam diri Hardwin.


“ tentu saja di pondok “


pelayan itu masih belum menangkap rasa tidak suka Hardwin saat mendengar semua


jawabannya. Dia menganggap reaksi Hardwin karena rasa  senang.


“ antar aku kesana”


Hardwin langsung memaksa pelayan itu untuk melaksanakan perintahnya. Bagian ini


baru membuat pelayan itu sadar, jika tidak semua orang diizinkan mendekati


pondok Duke. Karena Hardwin tidak mengetahui letaknya, jelas saja Hardwin


bukanlah orang yang bisa kesana sesuka hatinya.


“ maaf saya tidak bisa


mengantar anda” pelayan itu menolak halus. Dia paham betul bagaimana


peraturannya. Semuanya harus berdasarkan perizinan dari Duke.


“ kenapa?” Hardwin


semakin emosi, teriakan itu terdengar oleh ayahnya. Aidyn segera mendekat yang


ingin mencari tau apa penyebabnya.


“ Hardwin apa yang


terjadi?” tanya Aidyn segera mendekat saat dengan keras tangan anaknya menyeret


pelayan pondok.


“ kau bohong padaku, Duke


sudah membaik bukan?” Hardwin menatap ayahnya dengan raut kemarahan dan


kekecewaan.


“ lalu kenapa? Kau tidak


senang?” Aidyn balik bertanya. Lelaki ini memang tidak tahu mengenai perjanjian


yang membuat anaknya dengan sukarela mau memberikan darahnya sebagai obat. Jadi


“ aku ingi bertemu dengan


Ai, kami memliki sesuatu yang penting” jawab Hardwin  yang semakin menuai kecurigaan Aidyn. Hardwin


masih merahasiakan mengenai dirinya dan Ai, jika sampai ayahnya tau kemungkinan


malah dia yang akan di pisahkan dengan Ai.


“ besok saja sekalian


bersama pangeran Aric, kita kesana bersama-sama” jawab Aidyn final. Masalah seperti


ini saja kenapa terlihat begitu besar. Rasanya ada sesuatu yang anaknya


sembunyikan darinya.


“ tidak bisa ayah, harus


sekarang” Hardwin masih ngotot, dia ingin segera memiliki Ai. Kewajibannya


sudah selesai dan dia menuntut haknya.


“ apa yang kau risaukan. Belum


lagi langit mulai mendung sebentar lagi pasti hujan. Medan kesana tidak


segampang itu”  Aidyn tidak mau melunak


dirinya ingin mengetahui urusan apa yang anaknya bicarakan. Jadi satau-satunya


cara adalah datang bersama-sama besok hari.


Hardwin tidak memiliki


alasan lagi untuk berdebat, dia akhirnya dengan terpaksa harus mengurungkan


niatnya. Hardwin tidak mau menimbulkan kecurigaan jika terus bersikukuh.


Tanpa mengucapkan apapun


lelaki itu meninggalkan tempat dengan raut wajah yang memedan kemarahan. Dia membuang


nafas kasar dan berjalan menuju kamarnya. Aidyn menatap anaknya sambil


menggelengkan kepala, tempramen anaknya masih saja seperti dulu bahkan


sepertinya sekarang malah lebih buruk. Dia merasa gagal mendidik anaknya.


“ kau kembalilah bekerja”


ucap Aidyn kepada pelayan pondok yang masih kebingungan setelah berhadapan


dengan Hardwin.


“ baik tuan” pelayan itu


meninggalkan Aidyn sendiri.


Sedangkan di tempat yang


menjadi sumber pertengkaran, pasangan itu baru saja terbangun karena mencium


aroma makanan yang lezat.


“ Axton lepaskan, aku mau


makan” Ai mendorong tubuh suaminya dan berusaha melepaskan pelukan Axton yang


begitu erat melilit perutnya.


“ emm” Axton melepaskan


perlahan, dia benar-benar masih mengantuk.


Ai berjalan menuju


ruangan depan dan langsung membuka keranjang-keranjang itu.


“ baik sekali mereka” Ai


menyusun makanan itu diatas meja, dan tanpa menunggu Axton, Ai segera mencicipi


menu-menu yang terlihat menggiurkan.


Axton ikut beranjak dan


berjalan mendekati istrinya, memandangi meja yang sudah terisi penuh oleh


makanan.


“ duduklah” ucap Ai


sambil memberikan isyarat lewat matanya.


“ aa” begitu duduk di sebelahnya  Ai segera menyuapi makanan. Axton yang


sudah lapar tentu saja langsung membuka mulutnya. Kedua sejoli itu menikmati


semua makanan dengan penuh kesenangan. Rasa lelah akibat semalam langsung


tergantikan dengan hidangan lezat ini.


“ hujan mulai turun” ucap


Ai yang melihat kearah luar. Udara semakin dingin di pondok semakin membuat


mereka betah untuk memakan hampir semua hidangan.


“ bagus, kita bisa mulai


lagi” jawab Axton santai, dia tidak menyadari tatapan tajam yang istrinya


layangan begitu mendengar sautan kejam sang suami. Axton masih dengan datarnya


memakan hidangan yang tersaji, Ai dibuat kesal, jadi dia memakan semuanya


dengan lahab tidak membiarkan suaminya mengambil satu menupun.


“ sisakan untuk nanti


siang, mereka hanya mengirim 2 kali saja” Axton mengingatkan istrinya yang


sudah rakus kelaparan. Dirinya ikut tidak kebagianm makanan.


“ itu masih ada satu


keranjang lagi” jawab Ai datar.