
Mentari sudah naik cukup
tinggi, pasangan itu masih terlelap dalam tidurnya. Aktifitas mereka semalam
benar-benar liar dan menggairahkan. Baik Ai dan Axton sama-sama merasakan surga
dunia yang selama ini mereka bayangkan.
Baru selepas fajar tadi
mereka mandi air hangat lalu berberes sekenanya kemudian melanjutkan tidur.
Hari ini takutnya pelayan pondok akan datang untuk mengirimi mereka sarapan,
akan sangat memalukan jika dia melihat bagaimana kondisi pondok akibat ulah
mereka semalam.
Dan memang benar, pelayan
pondok sudah sampai. Lelaki itu meletakkan keranjang makanan di ruangan depan dan
berberes di beberapa bagian pondok. tak lupa membawa kembali keranjang yang
semalam dia tinggalkan.
Lelaki itu masuk kedalam,
karena dia merasa aneh dengan pondok yang masih sepi padahal hari sudah cerah.
Namun dia harus terpaksa berhenti saat dia melihat pintu kamar yang terbuka
sedikit, dan penghuni didalam masih tertidur sambil berpelukan. Posisinya tentu
saja begitu membuat pelayan itu salah tingkah. akhirnya dia kembali ke teras
kemudian pergi sambil membawa keranjang kosong sisa kemarin.
Pelayan itu tersenyum-senyum
sendiri selama perjalanan, akhirnya dia tau kenapa Duke menyuruhnya bekerja di
kawasan depan. Bodohnya dia baru menyadarinya sekarang.
Baru sampai di kawasan
depan pelayan itu berpas-pasan dengan Hardwin yang baru selesai meminun ramuan
dari kamar ayahnya. Lelaki itu keheranan dengan tingkah pelayan yang aneh.
“ kenapa kau senyum-senyum
begitu? Dan sepertinya aku tidak pernah melihatmu sebelumnya?” tanya Hadwin
santai. Dia memang baru melihat pelayan itu sejak sampai disini.
“ ah maafkan saya tuan,
saya pelayan khusus Duke. Memang baru 2 hari ini mengurus kawasan depan. Ini
saya baru selesai mengatar makanan ke pondok” jawab pelayan itu terus terang.
“ pelayan khusus Duke?
Bukannya Duke masih lemah kenapa kau terlihat sesenang itu?” Hardwin yang tidak
tau menahu tempat khusus dan perkembangan Axton, tentu saja merasa janggal
dengan jawaban pelayan itu.
“ Duke sudah membaik,
saya baru saja melihatnya bersama istrinya begitu mesra” pelayan itu berbisik
di akhir kalimatnya. Dia mengira bahwa lelaki di depannya sama seperti penghuni
lainnya yang sangat mengagumi Duke.
“dimana mereka?” tanya Hardwin
tegas, dia merasa di tipu oleh ayahnya. Tentu saja rasa marah mulai menyala
dalam diri Hardwin.
“ tentu saja di pondok “
pelayan itu masih belum menangkap rasa tidak suka Hardwin saat mendengar semua
jawabannya. Dia menganggap reaksi Hardwin karena rasa senang.
“ antar aku kesana”
Hardwin langsung memaksa pelayan itu untuk melaksanakan perintahnya. Bagian ini
baru membuat pelayan itu sadar, jika tidak semua orang diizinkan mendekati
pondok Duke. Karena Hardwin tidak mengetahui letaknya, jelas saja Hardwin
bukanlah orang yang bisa kesana sesuka hatinya.
“ maaf saya tidak bisa
mengantar anda” pelayan itu menolak halus. Dia paham betul bagaimana
peraturannya. Semuanya harus berdasarkan perizinan dari Duke.
“ kenapa?” Hardwin
semakin emosi, teriakan itu terdengar oleh ayahnya. Aidyn segera mendekat yang
ingin mencari tau apa penyebabnya.
“ Hardwin apa yang
terjadi?” tanya Aidyn segera mendekat saat dengan keras tangan anaknya menyeret
pelayan pondok.
“ kau bohong padaku, Duke
sudah membaik bukan?” Hardwin menatap ayahnya dengan raut kemarahan dan
kekecewaan.
“ lalu kenapa? Kau tidak
senang?” Aidyn balik bertanya. Lelaki ini memang tidak tahu mengenai perjanjian
yang membuat anaknya dengan sukarela mau memberikan darahnya sebagai obat. Jadi
“ aku ingi bertemu dengan
Ai, kami memliki sesuatu yang penting” jawab Hardwin yang semakin menuai kecurigaan Aidyn. Hardwin
masih merahasiakan mengenai dirinya dan Ai, jika sampai ayahnya tau kemungkinan
malah dia yang akan di pisahkan dengan Ai.
“ besok saja sekalian
bersama pangeran Aric, kita kesana bersama-sama” jawab Aidyn final. Masalah seperti
ini saja kenapa terlihat begitu besar. Rasanya ada sesuatu yang anaknya
sembunyikan darinya.
“ tidak bisa ayah, harus
sekarang” Hardwin masih ngotot, dia ingin segera memiliki Ai. Kewajibannya
sudah selesai dan dia menuntut haknya.
“ apa yang kau risaukan. Belum
lagi langit mulai mendung sebentar lagi pasti hujan. Medan kesana tidak
segampang itu” Aidyn tidak mau melunak
dirinya ingin mengetahui urusan apa yang anaknya bicarakan. Jadi satau-satunya
cara adalah datang bersama-sama besok hari.
Hardwin tidak memiliki
alasan lagi untuk berdebat, dia akhirnya dengan terpaksa harus mengurungkan
niatnya. Hardwin tidak mau menimbulkan kecurigaan jika terus bersikukuh.
Tanpa mengucapkan apapun
lelaki itu meninggalkan tempat dengan raut wajah yang memedan kemarahan. Dia membuang
nafas kasar dan berjalan menuju kamarnya. Aidyn menatap anaknya sambil
menggelengkan kepala, tempramen anaknya masih saja seperti dulu bahkan
sepertinya sekarang malah lebih buruk. Dia merasa gagal mendidik anaknya.
“ kau kembalilah bekerja”
ucap Aidyn kepada pelayan pondok yang masih kebingungan setelah berhadapan
dengan Hardwin.
“ baik tuan” pelayan itu
meninggalkan Aidyn sendiri.
Sedangkan di tempat yang
menjadi sumber pertengkaran, pasangan itu baru saja terbangun karena mencium
aroma makanan yang lezat.
“ Axton lepaskan, aku mau
makan” Ai mendorong tubuh suaminya dan berusaha melepaskan pelukan Axton yang
begitu erat melilit perutnya.
“ emm” Axton melepaskan
perlahan, dia benar-benar masih mengantuk.
Ai berjalan menuju
ruangan depan dan langsung membuka keranjang-keranjang itu.
“ baik sekali mereka” Ai
menyusun makanan itu diatas meja, dan tanpa menunggu Axton, Ai segera mencicipi
menu-menu yang terlihat menggiurkan.
Axton ikut beranjak dan
berjalan mendekati istrinya, memandangi meja yang sudah terisi penuh oleh
makanan.
“ duduklah” ucap Ai
sambil memberikan isyarat lewat matanya.
“ aa” begitu duduk di sebelahnya Ai segera menyuapi makanan. Axton yang
sudah lapar tentu saja langsung membuka mulutnya. Kedua sejoli itu menikmati
semua makanan dengan penuh kesenangan. Rasa lelah akibat semalam langsung
tergantikan dengan hidangan lezat ini.
“ hujan mulai turun” ucap
Ai yang melihat kearah luar. Udara semakin dingin di pondok semakin membuat
mereka betah untuk memakan hampir semua hidangan.
“ bagus, kita bisa mulai
lagi” jawab Axton santai, dia tidak menyadari tatapan tajam yang istrinya
layangan begitu mendengar sautan kejam sang suami. Axton masih dengan datarnya
memakan hidangan yang tersaji, Ai dibuat kesal, jadi dia memakan semuanya
dengan lahab tidak membiarkan suaminya mengambil satu menupun.
“ sisakan untuk nanti
siang, mereka hanya mengirim 2 kali saja” Axton mengingatkan istrinya yang
sudah rakus kelaparan. Dirinya ikut tidak kebagianm makanan.
“ itu masih ada satu
keranjang lagi” jawab Ai datar.