The New Duchess

The New Duchess
Bab 77 : Egois



“ semua yang saya katakan


adalah benar, saya sudah tidak memiliki rencana apapun selain melindungi


anakku” Grace sudah mengatakan semuanya, tak ada yang dia tutupi.  Semuanyademi menebus rasa bersalah yang dia


rasakan atas perbuatanya kepada Duchess.


“ lalu, setelah ini apa? Kau


tau sendiri Kerajaan akan segera menjatuhkan hukuman” ucap Ai kembali datar.


Dia menatap jendela kembali.


“ saya berjanji bahwa


kerajaan baru akan bertindak saat Duke kembali dan pada saat itu saya akan


menjelaskan semua  kebenarannya” Grace


yakin sekali dengan keputusannya. Sayang, dia tidak mengetahui situasi apa yang


sedang terjadi. Wanita itu tidak mengetahui jika saat ini perang sudah pecah


dan entah bagaimana berakhirnya.


Ai terdiam mendengar


rencana matang dari Grace, dia juga menginginkan kepulangan suaminya. Harapan


yang Grace inginkan tidak jauh beda dengan miliknya. Ai memeluk dirinya


sendiri, seakan memberikan kekuatan bahwa semuanya pasti tidak seburuk yang dia


pikirkan. Masih banyak orang yang mengharapkan keselamatan Duke.


“ kepulangan Duke?” Ai


kembali bertanya, nada suaranya sedikit bergetar. Rasanya kalimat itu begitu berat


hingga dia tidak sanggup menyebutkannya. Entahlah mengapa bisa sesulit itu.


“ iya Duchess, saya akan


mengatakan siapa sebenarnya ayah dari bayi ini. Semua tuduhan kepada anda akan


hilang” Ai tersenyum kecut, kenapa dia sedikit terganggu dengan pembicaraan


ini.


“ lalu bagaimana nanti


Sea menanggapinya, tentu dia tidak akan tinggal diam bukan?” Ai memastikan


bahwa wanita ini tidak sedang mengatar nyawa  dengan membuka rahasianya.


“ saya yakin raja pasti


akan melindungi saya dan bayi ini” Ai mengiyakan dalam hati. Memang jika raja


mempercayai semua perkataan Grace, dia tidak aka tinggal diam. namun Sea tidak


akan begitu mudah membiarkannya.


Ai menarik nafas panjang,


dia tidak bisa memikirkan keselamatan semua orang, untuk kali ini dia akan bersikap


egois. Bertaruh dengan takdir bagaimana nasib anak dalam kandungan Grace.


Apakah nanti ayah kandungnya akan menerimanya atau bahkan membunuhnya. Ai hanya


mengutamakan keselamatan suaminya, Axton.


“  itu sudah menjadi keputusanmu, aku berharap


anak itu selamat” ucap Ai memandang lembut kearah Grace.


singkat itu Grace pulang ke kediamannya sendiri. Sebentar lagi fajar, Ai tak


sadar sudah terlelap dalam kondisi duduk disamping jendela kamar. Sudah


beberapa hari dia tak makan dan tidur dengan teratur. Tubuhnya sudah tak bisa


diajak kompromi, ranjang yang semula rapi masih tetap terjaga kerapihannya. Dengan


di sinari cahaya rembulan wajah cantik itu terlelap dengan tenang.  Dia mendapatkan sedikitketenangan


mengantarkannya pada ketidaksadaran.


Sedangkan di daerah lain,


putra mahkota tengah menerima sebuah informasi bahwasanya nanti menjelang pagi


meriam pertama akan segera di luncurkan. Lelaki itu tampak serius membahas


akhir dari rencananya itu.


“ keadaan sudah sangat


kacau, tapi posisi mereka sepertinya imbang” ucap salah satu mata-matanya yang


kembali dari medan peperangan.


“ sudah berhari-hari


perang itu terjadi, pasukan Axton masih belum juga menyerah, padahal mereka


hanya 1 : 100. Sudah aku batasi jumlah pasukan kenapa masih belum juga ada


hasil?” Sea meremas sebuah kertas yang berasal dari mata-mata  lawan. Dia terlihat geram atas berita ini.


“ mereka sangat tangguh


yang mulia, kabanyakan dari orang-orang kita bahkan sudah mati terlebih dahulu”


ucap mata-mata itu. Ya memang beberapa pasukan yang mendampingi Axton adalah


suruhan dari Sea. Orang-orang itu hanya sekupulan orang tahanan tak berguna,


Sea mengirim mereka hanya ingin merusak pasukan Axton. Sea yakin Axton tidak


akan mengetahui jika pasukannya ditukar dengan geromblan tahanan yang tidak


mengerti teknik perang.


“ kirimkan beberapa


meriam lagi kepada mereka (lawan), aku ingin dalam 2 hari berita kekalahan


harus segera terdengar”  Sea sudah habis kesabaran,


untuk membunuh Axton saja kenapa haru sesulit ini.


“ ah ya kau sudah memutus


penyaluran makanan mereka?” Lanjut Sea memastikan lagi.


“ sudah yang mulia, bahkan


sudah beberapahari yang lalu, begitu perang pecah penyaluran itu sudah


dihentikan” sedikitnya hal bagus ini masih berjalan. Sea yakin cepat atau


lambat rencananya pasti akan berhasil.


“ bagus, percepat rencana”


ucapnya singkat. Mata-mata itu segera pergi menuju perbatasan. Dia harus


mengabarkan informasi ini dengan segera.