
Selang beberapa lama,
tuan Kleiner dan pelayan kembali memindahkan tubuh Axton di sebuah kursi kayu.
Ai perlu mengeringkan tubuh dan memberikan baju pada Axton. terlihat jika Axton
benar-benar tidak sadar, mata itu tertutup dengan sempurna.
Setelah semuanya selesai,
Axton di baringkan di atas ranjang. Tak lupa Ai juga memakaikan selimut.
Kondisi Axton mulai membaik. Tuan Kliner dan pelayan membersihkan sisa
pemandian. Dan Kini tinggal Ai yang berjaga disana.
Wanita itu duduk di bawah
samping ranjang, dengan kepala menyender di tepi ranjang. Wanita itu lelah
bercampur mengantuk. Hari sudah terang mereka bertiga semalam menjaga Axton.
“ anda bisa istirahat
sejenak, saya akan menjaga Duke bergantian” ucap tuan Kleiner yang entah sejak
kapan masuk ke kamar, Ai tidak menyadarinya sama sekali.
“ em, kamu sendiri juga
belum istirahat” Ai menolak halus, dia tidak mau meninggalkan Axton sendirian.
“ saya sudah terbiasa,
anda bisa tidur terlebih dahulu. Nanti setelahnya baru ganti saya” tuan Kleiner
berusaha membujuk Ai agar wanita itu tidak jatuh sakit. Ai menatap Axton
singkat, setelah memastikan jika tidak ada masalah serius, akhirnya Ai
mengalah.
“ baiklah, nanti sebelum
siang kau bisa membangunkanku” jawab Ai, wanita itu kemudian beranjak keluar
dan menepati kamar lain yang berada di samping kamar Axton.
Tuan Kleiner mengambil
kursi dan mendekatkannya ke ranjang. Lelaki itu kemudian duduk dan memeriksa
nadi Axton. semuanya mulai membaik dan berangsur normal, hanya saja kesadaran
Axton menghilang. Jika sampai sore Axton belum juga terbangun, kemungkinan
lelaki itu mengalami koma. Rasa takut Aidyan seakan menjadi kenyataan. Lelaki
it uterus berdoa dalam hati agar semua akan terlewati dengan baik.
“ segera sadar Duke”
guman Aidyan sambil terus menatap tubuh Axton. lelaki itu bahkan membakar
sejenis bahan herbal untuk memenuhi kamar, dengan harapan penyembuhan Axton
akan berhasil dilakukan. Lelaki itu mengusahakan agar racun ditubuh Axton bisa
segera ternetralisir dengan baik. Dia sudah menggunakan media air, kali ini
Aidyn juga menggunakan media asap. Semua cara akan dia lakukan, untuk
memaksimalkan obat masuk ke dalam tubuh Axton.
Tak lama pelayan masuk
dengan membawakan cemilan dan teh hangat. Satu penghuni pondok sejak semalam
belum ada yang menyentuh makanan. Jadi baru sekarang pelayan membawakan
makanan.
“ tak usah repot, kau istirahatlah.
Siang nanti gantian kau yang berjaga” ucap tuan Kleiner. Setidaknya nanti siang
Duchess ada yang menemai berjaga.
“ baik, tuan” tak bisa
dipungkiri pelayan itu juga sudah sangat lelah. Dia perlu tidur sejenak. Dia
kemudian keluar dari kamar.
Matahari semakin tinggi,
Axton masih tenang dalam tidurnya.
Uhuk uhuk.. Axton
terbatuk. Kali ini meski dalam kondisi tak sadar, darah tetap keluar dari mulut
Axton.
Tuan Kleiner mengambil
air hangat dan membersihkan noda itu menggunakan kain. Darah itu begitu pekat
hampir mendekati warna hitam. Jelas sekali jika ini bercampur dengan racun.
Untung tidak ada
siapapun, Aidyn tidak perlu menenangkan orang lain. Pemandangan ini memang
sering dia lihat, dan tentu tidak terlalu mengkhawatirkan baginya.
Noda itu sudah bersih,
Aidyan kembali berjaga. Semuanya akan membaik jika kesadaran Axton kembali.
Percuma semua racun berhasil keluar namun Axton tetap tidak mau sadar. Hanya
itu kuncinya, dan kini waktu sudah siang namun tidak ada tanda-tanda Axton akan
terbangun.
“ bagaimana ?” Ai baru
saja terbangun, wanita itu segera menemui Axton.
“ anda sudah bangun?”
tuan Kleiner kaget dengan kehadiran Ai.
“ kau pasti berniat tidak
membangunkanku, sekarang gantian, pergilah tidur” ucap Ai agak kesal. Dia tau
tuan Kleiner pasti tidak enak membiarkannya sendirian berjaga, jadi Ai terpaksa
memaksa tuan Kleiner untuk gantian berjaga.
“ saya akan berjaga sedikit lagi, anda bisa
makan terlebih dahulu” tuan Kleiner mencoba mengulur waktu, takutnya Axton akan
muntah darah lagi. Dan itu pasti semakin membuat Duchess ketakutan.
“ aku bisa berjaga sambil
makan, tenang saja. Kau pergilah tidur” Ai tetap menyuruh tuan Kleiner untuk
beristirahat. Tak ingin terus beradu akhirnya terpaksa tuan Kleiner
meninggalkan kamar Duke.
Setelah beristirahat Ai
merasa tubuhnya mulai kembali bugar, dia melihat ada makanan dan teh di atas
meja. Karena memang dirinya juga lapar, Ai melahap makanan itu. Setidaknya ada
yang bisa dimakan, meski makanan dan teh sudah dingin karena sudah lama tak
disajikan.
Hari sudah mulai sore,
matahari beranjak turun ke arah barat, Axton masih saja tertidur. Selama siang
tadi Axton tidak mengalami muntah darah lagi. Semuanya tenang, seakan terlihat
baik-baik saja.
“ apa Duke belum juga sadar?” tuan Kleiner masuk kedalam kamar,
disana Ai sedang terduduk dan tidak sengaja ketiduran.
“ em, sepertinya belum”
jawab Ai yang setengah terbangun.
Tuan Kleiner segera mengecek nadi dan mata Axton.
perlakuan ini sontak membuat Ai curiga. Melihat tuan Kleiner yang sedikit panic
membuat Ai ikut berprasangka buruk.
“ apa yang terjadi?” Ai
langsung ikut mendekati ranjang, dia memperhatikan semua yang tuan Kleiner
lakukan.
“ kita harus membuat Duke
tersadar sebelum malam” ucap tuan Kleiner serius. Dia harus melakukan sesuatu
agar Axton terbangun dari koma.
“ sebenarnya apa yang
terjadi? Bukankah Axton hanya tertidur?” Ai masih belum mengerti dengan situasi
yang sebenarnya.
“ saya rasa semua akan
baik-baik saja selagi Duke bisa tersadar, akan saya jelaskan nanti” Tuan
Kleiner memegang dagunya, dia memikirkan cara agar Axton bisa terbangun.
“ bagaimana caranya?” Ai
juga ikut berfikir, dia tidak tau menahu soal medis. Namun jika ingin
menyadarkan seseorang biasanya dia melakukannya dengan memberikan aroma tajam
di hidung seseorang.
apa bisa?” Ai mengatakan pengalamannya.
“ untuk kondisi Duke kita
membutuhkan sesuatu yang lain, “ jawab tuan Kleiner. Karena kondisi Axton yang
lebih parah sepertinya caara Ai tidak terlalu efektif.
“ apa mungkin menggunakan
air dingin?” cicit Ai. dia sedikit ragu, tapi saat itu dia pernah terjatuh dan
terluka yang cukup parah. Kondisinya saat itu juga sedang tidak sadar, entah
bagaimana dia terbangun di kolam air dingin. Orang-orang Barack sering
menggunakan metode itu selain untuk meredakan pembekakan dan peradaangan luka dan
lagi beberapa dari mereka juga bisa tersadar.
Mendengar pertanyaan Ai,
tuan Kleiner seakan baru tersadar. Air es bisa merangsang penyempitan pembuluh
darah dan memperlambat aliran darah.
“ ya bagus, bisa kita
lakukan cara itu, tapi bagaimana mendapatkan air dingin?” itulah yang menjadi
kendalanya. Mereka tidak bisa mendapatkan es.
“ apa mungkin di hutan
ada sumber mata air,mungkin suhunya bisa sedikit lebih rendah dari air danau?”
Ai terus mencari alternative cara, mereka tidak boleh menyerah begitu saja oleh
keadaan.
“ saya akan mencoba
mencarinya, sepertinya saya pernah melihatnya” tuan Kleiner segera pergi dengan
mengajak pelayan pondok. Ai sendirian menjaga Axton.
Waktu semakin gelap. Masih
belum ada tanda-tanda Axton terbangun. Tuan Kleiner juga belum datang, Ai
semakin panic. Dia berjalan mondar mandir di teras pondok karena lelah menunggu
di dalam.
“ kenapa belum juga
datang” Ai cemas, sebentar lagi malam. Langit sore sudah terlihat gelap, karena
mendung yang tiba-tiba datang.
“ apa mereka tersesat?”
Ai tidak bisa diam, sebentar lagi mungkin turun hujan. Bagaimana dengan nasib
tuan Kleiner yang masih didalam hutan. Kondisi medan pasti jauh lebih berat
jika sampai hujan turun.
Fikiran Ai kini
bercabang-cabang, dia mengkhawatirkan tuan Kleiner dan juga mencemaskan kondisi
Axton. tidak ada seorangpun di pondok yang bisa membantunya.
Hari sudah hampir gelap,
jika Ai masih terus menunggu kedatangan tuan Kleiner, kemungkinan Axton semakin
parah. Dia harus melakukan sesuatu.
“ sepertinya aku pernah
melihat tandu” celetuk Ai saat dia menatap kearah belakang pondok. dia bisa menggunakan
tandu itu untuk menggotong Axton. Ai berencana membawa Axton ke danau, dia akan
merendam Axton disana. Setidaknya air danau semakin malam akan semakin dingin.
Dengan berbekal tubuh
kecilnya Ai menyerat tandu yang sudah ada tubuh Axton keluar dari pondok. tubuh
itu terikat kuat sedangka bagian depannya diberikan tali untuk memudahkan Ai
menariknya menggunakan bahunya. Meskipun bagian kaki Axton terpaksa menyentuh
tanah namun Ai sudah melapisinya dengan kain.
Wanita itu menyeret
selangkah demi selangkah mendekati danau. Dia tidak merasakan sakit sedikitpun
meski bahunya mulai memerah karena menarik beban berat.
Angin badai menerjang
keras tubuh Ai, wanita itu hampir saja limbung. Sejenak Ai berhenti dia menatap
langit yang mendung.
“ kuharap turun hujan
badai” guman Ai, dia tidak memikirkan apapun selain air dingin. Meski harapannya
juga terkesan egois karena tuan Kleiner masih ada didalam hutan. Namun Ai tidak
peduli, satu-satunya yang dia fikirkan adalah Axton.
Wanita itu meneruskan
perjalanan beratnya, dia terus mengarah ke danau. Disana ada sebuah kayu yang
menjorok ke danau, kayu yang tersusun semakin masuk ke danau seperti tangga
yang lebar. Itulah tempat tujuannya, dia bisa mendudukan Axton disana. Tubuhnya
akan terendam setidaknya setengah dari tubuhnya.
Hingga usahanya
membuahkan hasil, Ai sampai di tepi danau. Wanita itu menyeret tandu dengan
posisi yang berbeda. Tidak lagi bagian atas, Ai harus masuk ke danau terlebih
dahulu kemudian menarik bagian bawah tandu. Setelah sampai dia susunan kayu
paling atas, tali yang melilit tubuh Axton dibuka.
Secara otomatis tubuh
Axton luruh ke bawah, Ai dengan sigap menangkap tubuh itu dan membuatnya
menjadi posisi duduk. Ai berdiri bertumpu pada susunan kayu paling bawah, dia
menjadi sandaran tubuh Axton. Ai memeluk erat tubuh Axton yang terduduk di
susunan kayu diatasnya. Kepala Axton tersender di dada Ai. wanita itu bertahan
dengan posisi itu dalam waktu yang lama.
Hari semakin gelap, angin
badai semakin kencang. Dalam hati Ai terus meminta hujan turun. Dan semua
pengharapan Ai terkabul dengan suara guntur yang keras dan setelahnya hujan
turun dengan deras.
Air membasahi kedua tubuh
itu. Air dingin yang sejak tadi Ai harapkan mengalir membasahi tubuh mereka
berdua.
“ Axton, sadarlah” ucap
Ai, entah sudah berapa lama wanita itu bertahan dengan posisi yang begitu
berat. Dia harus berdiri dan menanggung beban tubuh suaminya. Hujan turun
semakin lebat, dan juga angin dingin yang kencang.
Tubuh Ai bahkan mulai
mengigil karena terlalu lama berada di dalam air, belum lagi air hujan yang
juga semakin menusuk kulitnya. Bibir merahnya berubah menjadi keunguan dan
bergetar ringan. Wajahnya pucat dan telapak kaki beserta tangannya mulai
berkerut.
Ai mencoba menggoyangkan
tubuhnya untuk memancing kesadaran Axton. dia menebuk punggung Axton pelan. Menggerakkan
bahu dan dadanya agar kepala Axton ikut bergerak. Semuanya tidak membuahkan
hasil.
Tenaganya semakin
menipis, Ai merasa sudah tidak sanggup lagi menahan tubuh suaminya. Rasa dingin
yang menusuk tiba-tiba saja menghilang, tubuh wanita itu mulai mati rasa. Di barengi
dengan penglihatannya yang mulai kabur.
“ Axton, ku mohon
bangunlah” cicit lemah Ai. wanita itu sudah tidak sanggup bertahan. Kakinya sudah
tidak menapak lagi. Tubuh kecil itu roboh, dengan masih memeluk suaminya yang
juga ikut jatuh kedalam danau.
Kedua orang itu masuk ke
dalam danau, semakin lama tubuh mereka semakin jatuh ke bawah. Disisa kesadarannya
Ai menggapai tangan Axton, dia menikmati waktu berdua untuk terakhir kalinya. Suara
badai seakan senyap, dibawah air yang begitu tenang, penuh kedamaian. Ai
melihat tubuh Axton yang ikut tenggelam bersama dengan dirinya. Dia tersenyum
tipis sebelum hawa dingin memaksa matanya tertutup rapat.