The New Duchess

The New Duchess
Bab 117 : Selamat Tinggal



Selang beberapa lama,


tuan Kleiner dan pelayan kembali memindahkan tubuh Axton di sebuah kursi kayu.


Ai perlu mengeringkan tubuh dan memberikan baju pada Axton. terlihat jika Axton


benar-benar tidak sadar, mata itu tertutup dengan sempurna.


Setelah semuanya selesai,


Axton di baringkan di atas ranjang. Tak lupa Ai juga memakaikan selimut.


Kondisi Axton mulai membaik. Tuan Kliner dan pelayan membersihkan sisa


pemandian. Dan Kini tinggal Ai yang berjaga disana.


Wanita itu duduk di bawah


samping ranjang, dengan kepala menyender di tepi ranjang. Wanita itu lelah


bercampur mengantuk. Hari sudah terang mereka bertiga semalam menjaga Axton.


“ anda bisa istirahat


sejenak, saya akan menjaga Duke bergantian” ucap tuan Kleiner yang entah sejak


kapan masuk ke kamar, Ai tidak menyadarinya sama sekali.


“ em, kamu sendiri juga


belum istirahat” Ai menolak halus, dia tidak mau meninggalkan Axton sendirian.


“ saya sudah terbiasa,


anda bisa tidur terlebih dahulu. Nanti setelahnya baru ganti saya” tuan Kleiner


berusaha membujuk Ai agar wanita itu tidak jatuh sakit. Ai menatap Axton


singkat, setelah memastikan jika tidak ada masalah serius, akhirnya Ai


mengalah.


“ baiklah, nanti sebelum


siang kau bisa membangunkanku” jawab Ai, wanita itu kemudian beranjak keluar


dan menepati kamar lain yang berada di samping kamar Axton.


Tuan Kleiner mengambil


kursi dan mendekatkannya ke ranjang. Lelaki itu kemudian duduk dan memeriksa


nadi Axton. semuanya mulai membaik dan berangsur normal, hanya saja kesadaran


Axton menghilang. Jika sampai sore Axton belum juga terbangun, kemungkinan


lelaki itu mengalami koma. Rasa takut Aidyan seakan menjadi kenyataan. Lelaki


it uterus berdoa dalam hati agar semua akan terlewati dengan baik.


“ segera sadar Duke”


guman Aidyan sambil terus menatap tubuh Axton. lelaki itu bahkan membakar


sejenis bahan herbal untuk memenuhi kamar, dengan harapan penyembuhan Axton


akan berhasil dilakukan. Lelaki itu mengusahakan agar racun ditubuh Axton bisa


segera ternetralisir dengan baik. Dia sudah menggunakan media air, kali ini


Aidyn juga menggunakan media asap. Semua cara akan dia lakukan, untuk


memaksimalkan obat masuk ke dalam tubuh Axton.


Tak lama pelayan masuk


dengan membawakan cemilan dan teh hangat. Satu penghuni pondok sejak semalam


belum ada yang menyentuh makanan. Jadi baru sekarang pelayan membawakan


makanan.


“ tak usah repot, kau istirahatlah.


Siang nanti gantian kau yang berjaga” ucap tuan Kleiner. Setidaknya nanti siang


Duchess ada yang menemai berjaga.


“ baik, tuan” tak bisa


dipungkiri pelayan itu juga sudah sangat lelah. Dia perlu tidur sejenak. Dia


kemudian keluar dari kamar.


Matahari semakin tinggi,


Axton masih tenang dalam tidurnya.


Uhuk uhuk.. Axton


terbatuk. Kali ini meski dalam kondisi tak sadar, darah tetap keluar dari mulut


Axton.


Tuan Kleiner mengambil


air hangat dan membersihkan noda itu menggunakan kain. Darah itu begitu pekat


hampir mendekati warna hitam. Jelas sekali jika ini bercampur dengan racun.


Untung tidak ada


siapapun, Aidyn tidak perlu menenangkan orang lain. Pemandangan ini memang


sering dia lihat, dan tentu tidak terlalu mengkhawatirkan baginya.


Noda itu sudah bersih,


Aidyan kembali berjaga. Semuanya akan membaik jika kesadaran Axton kembali.


Percuma semua racun berhasil keluar namun Axton tetap tidak mau sadar. Hanya


itu kuncinya, dan kini waktu sudah siang namun tidak ada tanda-tanda Axton akan


terbangun.


“ bagaimana ?” Ai baru


saja terbangun, wanita itu segera menemui Axton.


“ anda sudah bangun?”


tuan Kleiner kaget dengan kehadiran Ai.


“ kau pasti berniat tidak


membangunkanku, sekarang gantian, pergilah tidur” ucap Ai agak kesal. Dia tau


tuan Kleiner pasti tidak enak membiarkannya sendirian berjaga, jadi Ai terpaksa


memaksa tuan Kleiner untuk gantian berjaga.


“  saya akan berjaga sedikit lagi, anda bisa


makan terlebih dahulu” tuan Kleiner mencoba mengulur waktu, takutnya Axton akan


muntah darah lagi. Dan itu pasti semakin membuat Duchess ketakutan.


“ aku bisa berjaga sambil


makan, tenang saja. Kau pergilah tidur” Ai tetap menyuruh tuan Kleiner untuk


beristirahat. Tak ingin terus beradu akhirnya terpaksa tuan Kleiner


meninggalkan kamar Duke.


Setelah beristirahat Ai


merasa tubuhnya mulai kembali bugar, dia melihat ada makanan dan teh di atas


meja. Karena memang dirinya juga lapar, Ai melahap makanan itu. Setidaknya ada


yang bisa dimakan, meski makanan dan teh sudah dingin karena sudah lama tak


disajikan.


Hari sudah mulai sore,


matahari beranjak turun ke arah barat, Axton masih saja tertidur. Selama siang


tadi Axton tidak mengalami muntah darah lagi. Semuanya tenang, seakan terlihat


baik-baik saja.


“ apa Duke belum  juga sadar?” tuan Kleiner masuk kedalam kamar,


disana Ai sedang terduduk dan tidak sengaja ketiduran.


“ em, sepertinya belum”


jawab Ai yang setengah terbangun.


Tuan  Kleiner segera mengecek nadi dan mata Axton.


perlakuan ini sontak membuat Ai curiga. Melihat tuan Kleiner yang sedikit panic


membuat Ai ikut berprasangka buruk.


“ apa yang terjadi?” Ai


langsung ikut mendekati ranjang, dia memperhatikan semua yang tuan Kleiner


lakukan.


“ kita harus membuat Duke


tersadar sebelum malam” ucap tuan Kleiner serius. Dia harus melakukan sesuatu


agar Axton terbangun dari koma.


“ sebenarnya apa yang


terjadi? Bukankah Axton hanya tertidur?” Ai masih belum mengerti dengan situasi


yang sebenarnya.


“ saya rasa semua akan


baik-baik saja selagi Duke bisa tersadar, akan saya jelaskan nanti” Tuan


Kleiner memegang dagunya, dia memikirkan cara agar Axton bisa terbangun.


“ bagaimana caranya?” Ai


juga ikut berfikir, dia tidak tau menahu soal medis. Namun jika ingin


menyadarkan seseorang biasanya dia melakukannya dengan memberikan aroma tajam


di hidung seseorang.


apa bisa?” Ai mengatakan pengalamannya.


“ untuk kondisi Duke kita


membutuhkan sesuatu yang lain, “ jawab tuan Kleiner. Karena kondisi Axton yang


lebih parah sepertinya caara Ai tidak terlalu efektif.


“ apa mungkin menggunakan


air dingin?” cicit Ai. dia sedikit ragu, tapi saat itu dia pernah terjatuh dan


terluka yang cukup parah. Kondisinya saat itu juga sedang tidak sadar, entah


bagaimana dia terbangun di kolam air dingin. Orang-orang Barack sering


menggunakan metode itu selain untuk meredakan pembekakan dan peradaangan luka dan


lagi beberapa dari mereka juga bisa tersadar.


Mendengar pertanyaan Ai,


tuan Kleiner seakan baru tersadar. Air es bisa merangsang penyempitan pembuluh


darah dan memperlambat aliran darah.


“ ya bagus, bisa kita


lakukan cara itu, tapi bagaimana mendapatkan air dingin?” itulah yang menjadi


kendalanya. Mereka tidak bisa mendapatkan es.


“ apa mungkin di hutan


ada sumber mata air,mungkin suhunya bisa sedikit lebih rendah dari air danau?”


Ai terus mencari alternative cara, mereka tidak boleh menyerah begitu saja oleh


keadaan.


“ saya akan mencoba


mencarinya, sepertinya saya pernah melihatnya” tuan Kleiner segera pergi dengan


mengajak pelayan pondok. Ai sendirian menjaga Axton.


Waktu semakin gelap. Masih


belum ada tanda-tanda Axton terbangun. Tuan Kleiner juga belum datang, Ai


semakin panic. Dia berjalan mondar mandir di teras pondok karena lelah menunggu


di dalam.


“ kenapa belum juga


datang” Ai cemas, sebentar lagi malam. Langit sore sudah terlihat gelap, karena


mendung yang tiba-tiba datang.


“ apa mereka tersesat?”


Ai tidak bisa diam, sebentar lagi mungkin turun hujan. Bagaimana dengan nasib


tuan Kleiner yang masih didalam hutan. Kondisi medan pasti jauh lebih berat


jika sampai hujan turun.


Fikiran Ai kini


bercabang-cabang, dia mengkhawatirkan tuan Kleiner dan juga mencemaskan kondisi


Axton. tidak ada seorangpun di pondok yang bisa membantunya.


Hari sudah hampir gelap,


jika Ai masih terus menunggu kedatangan tuan Kleiner, kemungkinan Axton semakin


parah. Dia harus melakukan sesuatu.


“ sepertinya aku pernah


melihat tandu” celetuk Ai saat dia menatap kearah belakang pondok. dia bisa menggunakan


tandu itu untuk menggotong Axton. Ai berencana membawa Axton ke danau, dia akan


merendam Axton disana. Setidaknya air danau semakin malam akan semakin dingin.


Dengan berbekal tubuh


kecilnya Ai menyerat tandu yang sudah ada tubuh Axton keluar dari pondok. tubuh


itu terikat kuat sedangka bagian depannya diberikan tali untuk memudahkan Ai


menariknya menggunakan bahunya. Meskipun bagian kaki Axton terpaksa menyentuh


tanah namun Ai sudah melapisinya dengan kain.


Wanita itu menyeret


selangkah demi selangkah mendekati danau. Dia tidak merasakan sakit sedikitpun


meski bahunya mulai memerah karena menarik beban berat.


Angin badai menerjang


keras tubuh Ai, wanita itu hampir saja limbung. Sejenak Ai berhenti dia menatap


langit yang mendung.


“ kuharap turun hujan


badai” guman Ai, dia tidak memikirkan apapun selain air dingin. Meski harapannya


juga terkesan egois karena tuan Kleiner masih ada didalam hutan. Namun Ai tidak


peduli, satu-satunya yang dia fikirkan adalah Axton.


Wanita itu meneruskan


perjalanan beratnya, dia terus mengarah ke danau. Disana ada sebuah kayu yang


menjorok ke danau, kayu yang tersusun semakin masuk ke danau seperti tangga


yang lebar. Itulah tempat tujuannya, dia bisa mendudukan Axton disana. Tubuhnya


akan terendam setidaknya setengah dari tubuhnya.


Hingga usahanya


membuahkan hasil, Ai sampai di tepi danau. Wanita itu menyeret tandu dengan


posisi yang berbeda. Tidak lagi bagian atas, Ai harus masuk ke danau terlebih


dahulu kemudian menarik bagian bawah tandu. Setelah sampai dia susunan kayu


paling atas, tali yang melilit tubuh Axton dibuka.


Secara otomatis tubuh


Axton luruh ke bawah, Ai dengan sigap menangkap tubuh itu dan membuatnya


menjadi posisi duduk. Ai berdiri bertumpu pada susunan kayu paling bawah, dia


menjadi sandaran tubuh Axton. Ai memeluk erat tubuh Axton yang terduduk di


susunan kayu diatasnya. Kepala Axton tersender di dada Ai. wanita itu bertahan


dengan posisi itu dalam waktu yang lama.


Hari semakin gelap, angin


badai semakin kencang. Dalam hati Ai terus meminta hujan turun. Dan semua


pengharapan Ai terkabul dengan suara guntur yang keras dan setelahnya hujan


turun dengan deras.


Air membasahi kedua tubuh


itu. Air dingin yang sejak tadi Ai harapkan mengalir membasahi tubuh mereka


berdua.


“ Axton, sadarlah” ucap


Ai, entah sudah berapa lama wanita itu bertahan dengan posisi yang begitu


berat. Dia harus berdiri dan menanggung beban tubuh suaminya. Hujan turun


semakin lebat, dan juga angin dingin yang kencang.


Tubuh Ai bahkan mulai


mengigil karena terlalu lama berada di dalam air, belum lagi air hujan yang


juga semakin menusuk kulitnya. Bibir merahnya berubah menjadi keunguan dan


bergetar ringan. Wajahnya pucat dan telapak kaki beserta tangannya mulai


berkerut.


Ai mencoba menggoyangkan


tubuhnya untuk memancing kesadaran Axton. dia menebuk punggung Axton pelan. Menggerakkan


bahu dan dadanya agar kepala Axton ikut bergerak. Semuanya tidak membuahkan


hasil.


Tenaganya semakin


menipis, Ai merasa sudah tidak sanggup lagi menahan tubuh suaminya. Rasa dingin


yang menusuk tiba-tiba saja menghilang, tubuh wanita itu mulai mati rasa. Di barengi


dengan penglihatannya yang mulai kabur.


“ Axton, ku mohon


bangunlah” cicit lemah Ai. wanita itu sudah tidak sanggup bertahan. Kakinya sudah


tidak menapak lagi. Tubuh kecil itu roboh, dengan masih memeluk suaminya yang


juga ikut jatuh kedalam danau.


Kedua orang itu masuk ke


dalam danau, semakin lama tubuh mereka semakin jatuh ke bawah. Disisa kesadarannya


Ai menggapai tangan Axton, dia menikmati waktu berdua untuk terakhir kalinya. Suara


badai seakan senyap, dibawah air yang begitu tenang, penuh kedamaian. Ai


melihat tubuh Axton yang ikut tenggelam bersama dengan dirinya. Dia tersenyum


tipis sebelum hawa dingin memaksa matanya tertutup rapat.