
Malam ini pertama kalinya bagi Ai tidur bersama dengan suaminya, jantungnya tidak berhenti berdegup kencang. Ai sudah terbaring di ranjang, sedang Axton masih sibuk di ruang kerjanya. Dia membolak-balikkan tubuhnya, tak bisa tidur. Ini begitu menegangkan.
“ The Prince, jangan bawa Ai ke kerajaan lagi” kalimat Hardwin waktu itu tidak benar-benar mengagetkannya, ini seperti kaset rusak yang terus berputar tiada henti. Axton berdiri di samping cendela besar, terlihat sedang memandangi langit malam, namun sejatinya dirinya sedang memandangi masa lalu.
“ Sea, kau tidak pernah berhenti. Kali ini sudah keluar batas aku tidak akan tinggal diam” guman Axton tangannya terkepal kuat. Hujan dengan lebatnya mengguyur Bavaria, bahkan suara gemuruh guntur seperti mencerminkan gemuruh amarah yang Axton rasakan. Axton berniat membuat perhitungan dengan anggota kerajaan itu, kali ini tidak akan dia biarkan begitu saja.
Ceklek.. pintu kamar terbuka.
Ai semakin mengeratkan pelukannya pada guling empuk, seseorang yang sedari tadi mengganggu pikirannya sekarang sudah masuk. Langkahnya semakin mendekat. Tak lama lampu kamar mulai padam, membuat cahaya kamar menjadi lebih remang-remang. Ai berbaring membelakangi pintu. Dia yakin Axton pasti mengiranya sudah tertidur. Ranjang sedikit bergoyang, menandakan suaminya menaiki ranjang.
“ kau sudah tidur?” tanya Axton, Ai terdiam jangan sampai Axton menyadari aksi pura-pura tidurnya. Tak ada jawaban.
Sebuah lengan melingkari perut lansing Ai, Axton membawa tubuh mungil itu dalam pelukannya. Menjadikan dadanya sebagai sandaran wanita cantiknya. Ai semakin tak bisa mengatur nafasnya, hatinya begitu berbunga-bunga. Tak ingin melewatkannya Ai memutuskan untuk membalik tubuhnya.
“ kau tidak pandai berpura-pura” Axton yang sudah mengetahui aksi istrinya kini menyindir halus.
“ oh ya?, memang kau tau darimana?” Ai bertanya sambil membalas pelukan suaminya.
“ emm, seseorang yang tidur tidak akan tersentak jika di sentuh” jawab Axton. mereka saling pandang. Saling menyelami kedalaman tatapan masing-masing.
“ memalukan sekali” Ai menyembunyikan wajahnya di dada bidang Axton. tidak menyangka aksinya tertangkap basah.
“ begitu menggemaskan bagiku” pelukan itu semakian erat. Keduanya menikmati waktu berdua dengan sangat nyaman. Semenjak menikah inilah pertama kalinya mereka bisa sedekat dan seintim ini. Rasa tenang membuatnya rasa ngatuk menghampiri pasangan baru itu.
***
Sudah sekitar 3 hari dari kejadain pesta ulang tahun, Grace semakin hari semakin lengket. Kini Axton berubah menjadi suami yang romantis dan pengertian, meski sikap posesifnya juga semakin naik saja. Bahkan tidak mengizinkan Ai untuk menghadiri segala pertemuan seperti sebelumnya. Jika ingin bertemu dengan orang lain, harus mengundangnya ke kediaman. Seperti saat ini, Ai sengaja mengudang Lady Masy dan Lady Lansoria. Khusus teman lelaki siapun tidak boleh berhubungan lagi. Itu aturan yang Axtona berikan.
“ kau tau sudah lama aku ingin melihat taman samping kediaman Duchess Wellington ini” ucap Masy sengaja menyindir Ai.
“ darimana bahasa formalmu itu, kau berniat menyindirku ?” mereka sedang berada di meja taman samping, lengkap dengan teh dan cemilan.
“ hahaha kemana sosok Ai yanga dulu begitu sombong dengan kebebasannya” kini giliran Lasy yang ikut menggoda Ai.
“ sudah hilang, semenjak pesta itu Axton semakin ketat padaku” Ai memajukan bibinya, menunjukkan kesan kesal kepada kedua temannya itu.
“ pesta apa?” kedua temannya mendekat, ingin mendengar cerita lengkapnya.
“ pesta putra mahkota, eem tak ingin banyak bercerita. Intinya waktu itu aku mendapatkan masalah” Ai hanya bisa sedikit menutupi masalah dalam rumah tangganya, tak ingin desas-desus jelek berhembus di kehidupan suaminya.
“ sepertinya Duke sedang cemburu?” meski kedua temannya ini belum menikah, tapi pengetahuan terkait asmara sedikit lebih bagus dari Ai. Mereka berdua cukup terkenal.
“ namanya juga pengantin baru” Masy tidak mau berhenti menggoda Duchess barunya Wellington.
“ ih, sepertinya sebutan itu kurang cocok untuk Duke” Lasy semakin berani dengan candaannya. Membuat situasi sedikit canggung dengan mengungkapkan masa lalu.
“ emm, maafkan aku” ucap Lasy merasa sedikit bersalah.
“ ah, kenapa denganmu. Jangan seperti itu, aku tak keberatan” ucap Ai mencairkan suasan.
“ em, masa lalu tentang apa?” Masy sedikit basa-basi.
“ tentang mendiang istrinya. Dua Duchess sebelumku” bisik Ai membuat mereka diam seketika. Hal ini juga menjadi misteri seluruh Bavaria, tidak ada yang tau pasti, yang berkembang di masyarakat lebih seperti kabar burung saja.
“ kau tidak tanya saja pada Duke?” saran Lansy.
“ mana mungkin, aku tidak berani bertanya” tolak Ai mentah-mentah, hubungan mereka baru saja membaik dia tak ingin membuat jarak dengan Axton.
“ coba saja, berikan sedikit rayuan” Masy mulai menghasut teman polosnya. Dia sebenarnya juga penasaran dengan kemaatian Duchess sebelumnya. Jadi memanfatkan pertemananya dengan Ai.
“ ih, tidak akan berhasil. Yang aku dengar mereka bunuh diri” ucap Ai yang sedikit keceplosan. Membuat kedua temanya membola, ini fakta baru kemungkinan lebih mendekati kebenarannya.
“ bunu diri? Kami malah percaya mereka terbunuh karena ,,” Masy menghentikan ucapannya, dia tidak berani mengatakan kalimat selanjutnya. Padahal baik Lansy dan Ai sudah sangat menantikan lanjutannya.
“ karena apa??” ucap Ai kesal. Membuat rasa penasarannya semakin tinggi.
“ apa kau tak pernah mendengarnya? Kediaman ini terlihat begitu dingin dan suram” Masy sedikit menggiring opini agar dirinya tidak mengatakan kalimat selanjutnya.
“ berhantu, maksudmu kedua istrinya terbunuh karena hantu?” Ai baru mendengar bahwa kediamannya mempunyai rumor seram. Tapi selama ini tidak ada kejadian aneh yang dia lihat.
“ apa kau pernah merasakannya kehadiran mereka?” Lansy sedikit terpengaruh dengan ucapan Masy.
“ iya, menurut beberapa kabar seperti itu. Apa benar?” jawab Masy.
“ tentu saja tidak, tidak ada apapun disini selain pelayan “ ucap Ai Sarkas. Bagaimana bisa ada rumor seperti itu.
“ semenjak mendiang Grand Duke sakit tiba-tiba, banyak yang mengatakan rumah ini memiliki aura hitam” Masy terus melanjutkan rumor yang paling banyak di percayai bangsawan Bavaria.
“ kau yakin?” Ai mulai goyah, dia orang desa dan baru mengetahui rumor ini. Kemungkinan hal ini benar terjadi. Ai mulai merasakan hawa aneh di sekeliingnya.
“ inikah alasan beberapa bangsawan tidak mau menghadiri undanganku” lanjut Ai yang seolah membenarkan rumor Masy.
“ kau harus berhati-hati” Lansy semakin cemas dengan temannya.
“ aku harus mulai mencari tahu” lirih Ai, dia mulai berfikir apa kebangkitannya ada sangkut pautnya dengan aura hitam yang Masy bicarakan.
Langit mulai malam, Ai sedang berada di ruang kerja Axton. Perbicangannya tadi pagi sedikit menganggunya. Ai mulai merasakan ketakutan tak mendasar jika berada di ruangan sendirian. Belakangan ini Mily sering meninggalkannya, membuatnya semakin ketakutan.
“ tumben sekali kau mau berlama-lama disini” ucap Axton yang berada di meja kerja. Sedang Ai di sofa sambil mengalihkan diri dengan membaca buku.
“ em, ingin saja” Ai merasa ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakan semua ketakutannya.
“ sudah masuk makan malam, mari turun” Axton berdiri menuju pintu, Karena posisi Ai yang tiduran membuatnya sedikit tertinggal. Ai segera berlari dan mengapit lengan Axton erat.
“ kau kenapa?” tanya Axton yang sedikit kaget dan merasa aneh dengan perilaku Ai sejak tadi.
“ hahaha, tidak apa-apa” jawab Ai sambil tersenyum paksa agar Axton tidak curiga.