The New Duchess

The New Duchess
Bab 70 : Menyerah



“ itu semua karena aku


sedang mengandung anak Duke” lanjut Grace yang semakin membuat Hardwin kembali


tercengang.


“ kau gila? Ai sudah


membantumu sejauh ini?!” Hardwin naik pitam, bagaimana dia bisa bertemu dengan


wanita selicik ini.


“tidak, aku akan


melakukan semua yang sudah aku katakan padamu” Grace tetap dengan  nada datar saat mengatakanya. Dia tidak


mengeluarkan emosi apapun. Hal ini membuat Hardwin kewalahan dalam mengerti


maksud dari perkataan Grace. Hardwin mengambil nafas panjang, dia mulai


memikirkan semuanya dengan teliti.


“ kenapa kau mengatakan


semua rencanamu padaku?” Hardwin mulai bisa mengatur kewarasannya.


“ inilah yang putra


mahkota inginkan” Grace masih datar, dia tidak terpengaruh dengan teriakan


Hardwin sebelumnya.


“ kau akan menurutinya?”


lelaki itu tidak bisa memahami pemikiran wanita ini.


“ ya, aku akan


menurutinya” jawab Grace yakin. Dia begitu serius menjawab pertanyaan Hardwin.


“ bagaimana dengan Ai?”


ya itu yang membuat lelaki itu kepikiran.


“ sebagai seorang


bangsawan Duchess tidak akan di hukum sebelum bukti ataupun saksi kasus ini


lengkap” bagaimanapun Grace pernah menjadi asisten Duke dalam waktu yang lama,


persoalan hukum dan seluk beluknya Grace jelas memahaminya. Itu adalah


kerjaanya beberapa bulan yang lalu.


“ lalu?”  Hardwin  terus mencerna ucapan Grace.


“ ketidakberadaan Duke


akan membuat kasus ini hanya tertunda beberapa waktu, sebelum saksi lainnya


ditemukan. Dan itu akan menjadi pilihanmu” Grace membuat lelaki di depannya


semakin tidak mengerti, kenapa bisa menjadi pilihannya.


“ apa yang sebenarnya


ingin kau rencanakan?” Hardwin sudah tidak bisa menebak-nebak dia harus


memastikan semuanya.


“ kau pasti tau apa yang


akan dilakukan seseorang begitu dituduh namun belum dijatuhi hukuman. Kemana


tujuan Duchess sudah jelas arahnya” Grace seakan menariknya untuk ikut bekerja


sama, Hardwin kini yang dilanda dilemma. Mereka sudah tau kemana arah


pembicaraan ini.


“ dari yang aku tau kau


pasti tidak mau kehilangan Ai, bukan begitu?” ya perkataan Grace kali ini


sangatlah benar.


“ aku sudah mengatakan


semuanya, kau tenang saja aku tidak bermaksud menyelakai Duchess, semua ini


karena bayi ini. Aku tidak mau mengorbankannya” Grace mamandang kejauhan, inilah


ketakutan terbesarnya, wanita itu sudah menyanyangi bayinya dengan begitu


besar.


“ Sea mengancammu?”


Hardwin kembali bertanya.


“ lelaki itu akan


melakukan apapun yang dia inginkan, jika tidak aku dia pasti menyuruh seseorang


lainnya” ya, Grace benar, setidaknya dia bisa mengatakan rencananya, jika itu


orang lain. Keselamatan Ai akan jauh lebih terancam.


“ lebih baik kau


menghentikan Duchess nantinya, bukan aku. Setelah bayi ini lahir aku berjanji


akan menebus semua dosaku pada kediaman Duke” lelehan hangat tak terasa


mengelir turun dari sudut mata Grace, hanya bayinya. Semua hanya untuk


menyelamatkan bayi tak bersalah miliknya.


Hardwin hanya terdiam


memandangi Grace yang kini telihat begitu rapuh. Dia hanya seorang diri, janin


itu adalah satu-satunya yang dia miliki, tidak heran dia mati-matian mencari


cara agar bayinya bisa selamat. Lelaki itu kini mulai mengerti dan memaklumi


situasi yang Grace hadapi.


“ kau lebih baik menjaga


diri dengan baik, biar aku yang mengurus sisanya” Hardwin akhirnya beranjak dia


akan memikirkan semuanya dengan matang.


“ terimakasih dan maaf”


Grace tidak bisa mengatakan apapun selain hanya kalimat itu.


“aku mengerti” Hardwin


segera melangkah menjauhi kediaman itu, lelaki itu akan mengatur semuanya. Dia


tidak boleh membiarkan Ai bertindak terlalu jauh, dia harus melindungi wanita


melepaskan Ai.


Sedang dikota lainnya,


Aric dan Pengawalnya sudah turun dan mulai memantau. Dilihatnya dari jarah


sejauh ini keadaan Camp masih sangat kacau. Beberapa malah terlihat lenggang,


dan jelas kemana perginya para prajurit itu. Pasti rombongan pengalihan


berhasil mengacaukan jejak Aric.


“ yang mulia, kita bisa


mulai bergerak menuju perbatasan” ucap Pengawal dan di angguki oleh Aric.


Bawahannya membawa prajurit menjauhi perbatasan, dan ini jelas menguntung bagi


mereka.


Aric hanya bisa melewati


hutan sebagai jalur perjalanannya, akan sangat beresiko jika mereka terlihat. Dia


sudah menyusun rencana dengan seksama dan cukup berhasil sampai saat ini,


jangan sampai rencana ini kacau.


“ kau bilang apa?” dengan


muka garangnya Sea bertanya pada pemimpin kota dimana tempat Aric ditahan


semula.


“ kami sedang


mengejarnya, berdasarakan jejaknya , sepertinya pangeran bertolak dari


perbatasan dan kembali ke kota” pemimpin itu memberikan kabar yang dia fikir


akan menenangkan putra mahkota.


“tidak,,kau salah. Segera


perketat jalur menuju perbatasan” Sea tidak mudah di tipu. Pemimpin itu seakan


bingung dengan keputusan yang diambil oleh Sea.


“ b,, baik yang mulia”


percuma jika dia bertanya, lebih baik menuruti saja perkataan Putra mahkota


jika ingin selamat.


Pasukan kota kembali di


atur, semula yang terpecah kini kesemuanya berpusat pada penjagaan jalur menuju


perbatasan. Pasukan Aric masih tetahan di camp mereka tidak diperbolehkan keluar


dan beraktifitas mandiri, lebih tepatnya mereka adalah tahanan kota.


Hari semakin malam,


perjalanan Aric dan pengawalnya sudah semakin mendekati perbatasan.  mereka semakin mempercepat laju kudanya.


“ gawat yang mulia,


sepertinya perang sudah pecah” pengawal itu sayup-sayup mendengar suara meriam.


“ tidak, tidak tidak,


kau  pasti salah” Aric yang tidak


mendengar hanya berharap ucapan pengawal itu salah.


“ awas yang mulia!”


rombongan prajurit milik Sea hampir saja melihat pergeraan mereka. Aric dan


Pengawal kini bersembunyi semakin dalam ke hutan. Kedua orang itu langsung


menuruni kuda.


“ kenapa banyak sekali


penjagaanya?” pengawal itu mencium ada yang tidak beres.


“ kakak sudah membaca


rencana kita” jawab Aric datar, semenjak malam itu presepsi dia kepada Sea


telah berubah. Dia tau siapa sebenarnya kakaknya, bagaimana ambisi dan tempramennya.


Semua penilaiannya sudah berubah.


“ lalu bagimana yang


mulia?” rencana mereka berhenti sampai disini, mereka harusmemikirkan cara


lain.


“ aku pura-pura


menyerahkan diri, kau lihat pos mereka disini sangat dekat dengan perbatasan,


kasih tau yang lain untuk segera menyusulku, kita akan tau bagaimana kakak akan


menangani kita” Aric tidak memiliki pilihan lain, dia yang mereka cari. Hanya


ada kesempatan ini, Aric mencoba menguji keberuntungannya.


“ bagaimana jika..”


“ tidak akan, aku masih


pangeran disini, mereka tidak akan berani kecuali jika kakak memang melampaui


batasannya” Aric tetap tidak akan mundur, mau bagaimanapun dia harus tetap pada


tujuannya.


“ saya akan mencoba


secepat mungkin menyusul anda “ pengawal itu menatap kagum pada tuannya.


“ kau pergilah” Aric


menghembuskan nafas kasar, dia sejatinya juga sedang bertarung nyawa. Namun


jika tidak mencoba bagaimana tau hasilnya, lagi pula tidak mungkin juga dia


mundur setelah semua sudah sedekat ini.


Keduanya berpamitan


mereka berpencar dengan membawa misi masing-masing. Kini Aric sendirian, dia


menunggu waktu yang tepat agar dirinya di temukan tidak seperti sedang


menyerah.