
“ itu semua karena aku
sedang mengandung anak Duke” lanjut Grace yang semakin membuat Hardwin kembali
tercengang.
“ kau gila? Ai sudah
membantumu sejauh ini?!” Hardwin naik pitam, bagaimana dia bisa bertemu dengan
wanita selicik ini.
“tidak, aku akan
melakukan semua yang sudah aku katakan padamu” Grace tetap dengan nada datar saat mengatakanya. Dia tidak
mengeluarkan emosi apapun. Hal ini membuat Hardwin kewalahan dalam mengerti
maksud dari perkataan Grace. Hardwin mengambil nafas panjang, dia mulai
memikirkan semuanya dengan teliti.
“ kenapa kau mengatakan
semua rencanamu padaku?” Hardwin mulai bisa mengatur kewarasannya.
“ inilah yang putra
mahkota inginkan” Grace masih datar, dia tidak terpengaruh dengan teriakan
Hardwin sebelumnya.
“ kau akan menurutinya?”
lelaki itu tidak bisa memahami pemikiran wanita ini.
“ ya, aku akan
menurutinya” jawab Grace yakin. Dia begitu serius menjawab pertanyaan Hardwin.
“ bagaimana dengan Ai?”
ya itu yang membuat lelaki itu kepikiran.
“ sebagai seorang
bangsawan Duchess tidak akan di hukum sebelum bukti ataupun saksi kasus ini
lengkap” bagaimanapun Grace pernah menjadi asisten Duke dalam waktu yang lama,
persoalan hukum dan seluk beluknya Grace jelas memahaminya. Itu adalah
kerjaanya beberapa bulan yang lalu.
“ lalu?” Hardwin terus mencerna ucapan Grace.
“ ketidakberadaan Duke
akan membuat kasus ini hanya tertunda beberapa waktu, sebelum saksi lainnya
ditemukan. Dan itu akan menjadi pilihanmu” Grace membuat lelaki di depannya
semakin tidak mengerti, kenapa bisa menjadi pilihannya.
“ apa yang sebenarnya
ingin kau rencanakan?” Hardwin sudah tidak bisa menebak-nebak dia harus
memastikan semuanya.
“ kau pasti tau apa yang
akan dilakukan seseorang begitu dituduh namun belum dijatuhi hukuman. Kemana
tujuan Duchess sudah jelas arahnya” Grace seakan menariknya untuk ikut bekerja
sama, Hardwin kini yang dilanda dilemma. Mereka sudah tau kemana arah
pembicaraan ini.
“ dari yang aku tau kau
pasti tidak mau kehilangan Ai, bukan begitu?” ya perkataan Grace kali ini
sangatlah benar.
“ aku sudah mengatakan
semuanya, kau tenang saja aku tidak bermaksud menyelakai Duchess, semua ini
karena bayi ini. Aku tidak mau mengorbankannya” Grace mamandang kejauhan, inilah
ketakutan terbesarnya, wanita itu sudah menyanyangi bayinya dengan begitu
besar.
“ Sea mengancammu?”
Hardwin kembali bertanya.
“ lelaki itu akan
melakukan apapun yang dia inginkan, jika tidak aku dia pasti menyuruh seseorang
lainnya” ya, Grace benar, setidaknya dia bisa mengatakan rencananya, jika itu
orang lain. Keselamatan Ai akan jauh lebih terancam.
“ lebih baik kau
menghentikan Duchess nantinya, bukan aku. Setelah bayi ini lahir aku berjanji
akan menebus semua dosaku pada kediaman Duke” lelehan hangat tak terasa
mengelir turun dari sudut mata Grace, hanya bayinya. Semua hanya untuk
menyelamatkan bayi tak bersalah miliknya.
Hardwin hanya terdiam
memandangi Grace yang kini telihat begitu rapuh. Dia hanya seorang diri, janin
itu adalah satu-satunya yang dia miliki, tidak heran dia mati-matian mencari
cara agar bayinya bisa selamat. Lelaki itu kini mulai mengerti dan memaklumi
situasi yang Grace hadapi.
“ kau lebih baik menjaga
diri dengan baik, biar aku yang mengurus sisanya” Hardwin akhirnya beranjak dia
akan memikirkan semuanya dengan matang.
“ terimakasih dan maaf”
Grace tidak bisa mengatakan apapun selain hanya kalimat itu.
“aku mengerti” Hardwin
segera melangkah menjauhi kediaman itu, lelaki itu akan mengatur semuanya. Dia
tidak boleh membiarkan Ai bertindak terlalu jauh, dia harus melindungi wanita
melepaskan Ai.
Sedang dikota lainnya,
Aric dan Pengawalnya sudah turun dan mulai memantau. Dilihatnya dari jarah
sejauh ini keadaan Camp masih sangat kacau. Beberapa malah terlihat lenggang,
dan jelas kemana perginya para prajurit itu. Pasti rombongan pengalihan
berhasil mengacaukan jejak Aric.
“ yang mulia, kita bisa
mulai bergerak menuju perbatasan” ucap Pengawal dan di angguki oleh Aric.
Bawahannya membawa prajurit menjauhi perbatasan, dan ini jelas menguntung bagi
mereka.
Aric hanya bisa melewati
hutan sebagai jalur perjalanannya, akan sangat beresiko jika mereka terlihat. Dia
sudah menyusun rencana dengan seksama dan cukup berhasil sampai saat ini,
jangan sampai rencana ini kacau.
“ kau bilang apa?” dengan
muka garangnya Sea bertanya pada pemimpin kota dimana tempat Aric ditahan
semula.
“ kami sedang
mengejarnya, berdasarakan jejaknya , sepertinya pangeran bertolak dari
perbatasan dan kembali ke kota” pemimpin itu memberikan kabar yang dia fikir
akan menenangkan putra mahkota.
“tidak,,kau salah. Segera
perketat jalur menuju perbatasan” Sea tidak mudah di tipu. Pemimpin itu seakan
bingung dengan keputusan yang diambil oleh Sea.
“ b,, baik yang mulia”
percuma jika dia bertanya, lebih baik menuruti saja perkataan Putra mahkota
jika ingin selamat.
Pasukan kota kembali di
atur, semula yang terpecah kini kesemuanya berpusat pada penjagaan jalur menuju
perbatasan. Pasukan Aric masih tetahan di camp mereka tidak diperbolehkan keluar
dan beraktifitas mandiri, lebih tepatnya mereka adalah tahanan kota.
Hari semakin malam,
perjalanan Aric dan pengawalnya sudah semakin mendekati perbatasan. mereka semakin mempercepat laju kudanya.
“ gawat yang mulia,
sepertinya perang sudah pecah” pengawal itu sayup-sayup mendengar suara meriam.
“ tidak, tidak tidak,
kau pasti salah” Aric yang tidak
mendengar hanya berharap ucapan pengawal itu salah.
“ awas yang mulia!”
rombongan prajurit milik Sea hampir saja melihat pergeraan mereka. Aric dan
Pengawal kini bersembunyi semakin dalam ke hutan. Kedua orang itu langsung
menuruni kuda.
“ kenapa banyak sekali
penjagaanya?” pengawal itu mencium ada yang tidak beres.
“ kakak sudah membaca
rencana kita” jawab Aric datar, semenjak malam itu presepsi dia kepada Sea
telah berubah. Dia tau siapa sebenarnya kakaknya, bagaimana ambisi dan tempramennya.
Semua penilaiannya sudah berubah.
“ lalu bagimana yang
mulia?” rencana mereka berhenti sampai disini, mereka harusmemikirkan cara
lain.
“ aku pura-pura
menyerahkan diri, kau lihat pos mereka disini sangat dekat dengan perbatasan,
kasih tau yang lain untuk segera menyusulku, kita akan tau bagaimana kakak akan
menangani kita” Aric tidak memiliki pilihan lain, dia yang mereka cari. Hanya
ada kesempatan ini, Aric mencoba menguji keberuntungannya.
“ bagaimana jika..”
“ tidak akan, aku masih
pangeran disini, mereka tidak akan berani kecuali jika kakak memang melampaui
batasannya” Aric tetap tidak akan mundur, mau bagaimanapun dia harus tetap pada
tujuannya.
“ saya akan mencoba
secepat mungkin menyusul anda “ pengawal itu menatap kagum pada tuannya.
“ kau pergilah” Aric
menghembuskan nafas kasar, dia sejatinya juga sedang bertarung nyawa. Namun
jika tidak mencoba bagaimana tau hasilnya, lagi pula tidak mungkin juga dia
mundur setelah semua sudah sedekat ini.
Keduanya berpamitan
mereka berpencar dengan membawa misi masing-masing. Kini Aric sendirian, dia
menunggu waktu yang tepat agar dirinya di temukan tidak seperti sedang
menyerah.