
Axton sedang menyiapkan
sesuatu, lelaki sibuk dengan beberapa barang yang dia masukkan kedalam sebuah
kantong kain besar.
“ Axton, apa yang kau
lakukan. Kamu masih sakit segera masuk dan istirahat dikamar saja” Ai langsung
menjadi istri cerewet keika mendapti Axton yang sudah mulai sibuk beraktifitas.
“ jangan khawatir, aku
sudah sembuh” jawab Axton dengan tidak menatap wajah Ai sama sekali.
“ apa yang kau lakukan?”
Ai mendekat dan melihat apa yang membuat suaminya seakan mengabaikannya.
“ hari begitu cerah, aku
akan menujukkan sesuatu padamu, kita akan mengujungi suatu tempat” jawab Axton
sedikit antusias. Dia ingin membuat sesuatu yang tidak akan Ai lupakan dalam
hidupnya.
“ tapi kau masih sakit,
aku tidak setuju” tolak Ai, dia tidak mau kondisi Axton akan kambuh lagi.
“ tidak, kau tenang saja”
Axton masih kekeh akan mengajak istrinya ke suatu tempat.
Setelah perbicangan yang
tidak ada hasilnya, Ai sedari tadi mencari keberadaan pelayan pondok. sejak
perbicangan tadi pagi dia tidak terlihat lagi.
“ kau mau kemana?” tanya
Axton yang ikut bingung melihat istrinya yang sudah berkeliling pondok.
“ pelayan itu kemana?”Ai
lupa menanyakan hal itu kepada Axton.
“ aku menyuruhnya
mengurus kawasan depan” jawab Axton enteng.
“ lalu, makan malam siapa
yang buat?” tanya Ai cemas, dia tidak memiliki persiapan apapun untuk membuat
makan malam.
“ sudahlah, ayo ikut aku”
Axton menarik tangan Ai dan membawanya pergi dari pondok, tak lupa dengan
kantong besar yang sudah berada di tangan satunya.
“ kita akan kemana?” Ai
hanya bisa pasrah mengikuti keinginan sang suami.
“ sudahlah ikut saja” Axton
terus merahasiakanya, dia akan membuat kejutan.
Perjalanan mereka dimulai
dengan masuk kedalam hutan. Mereka mengikuti sebuah jalan setapak yang berada
tak jauh dari mereka. Axton dengan penuh hati-hati memilihkan jalur yang aman
untuk mereka lalui. Dia tidak mau istrinya celaka atau kelelahan menaiki medan
yang lumayan terjal.
Meski sudah menjelang
tengah hari, karena mereka berada di hutan rasanya masih seperti pagi. Cahaya
yang masuk ke hutan begitu minim. Bahkan udaranya masih terasa lembab seperti selesai turun
hujan. Mereka terus masuk kedalam hutan. Axton terus memantau dan membantu
istrinya melangkah.
“ masih jauh?” celetuk Ai
yang mulai merasa capek. Kakinya terasa berat untuk melangkah lagi.
“ tidak sebentar lagi”
jawab Axton sambil mengusap pelan kepala sang istri.
Dan sesuai dengan
perkataan Axton, sedetik kemudian mereka mendengar suara yang begitu deras,
seakan tau asal dari suara itu Ai menatap sekeliling mencoba mencari sumber
suara itu.
Ai langsung berbinar saat Axton mengangguk lemah sebagai jawabannya.
Benar-benar hal yang
tidak pernah dia bayangkan, dulu wanita ini begitu ingin melihat air terjun.
Baru sekarang keinginanya tercapai. Axton tampak puas, kejutan yang dia
rencanakan ternyata begitu membuat senang sang istri.
Tak lama mereka sampai di
tepi sungi, dengan seksama Ai dan Axton menatap ke atas. Mereka menyaksikan air
terjun yang mengalir deras ke bawah. Udaranya begitu sejuk, tak lupa percikan
air terlihat berkilau terkena cahaya matahari yang menerebos celah pepohonan.
Indah sekali.
“ bagaimana?” tanya Axton
puas.
“ indah, sangat indah” Ai
mendekat di arah sungai, dia terduduk di sebuah batu dan memasukkan kakinya ke
dalam air.
Sebenarnya mata air
inilah yang tuan Kleiner cari, dia sempat mendengarnya dari Axton saat awal
datang ke kawasan pondok. karena tdak tau arah jalan, mereka tidak bisa
menemukannya.
“ dingin” ucap Ai saat
Axton mengikutinya duduk di atas batu.
“ aku sudah membawa baju
dan perlengkapan lainnya, kau bisa berendam sepuasmu” ucap Axton senang, momen
inilah yang ingin Axton rasakan bersama Ai. bukan momen dia terkena racun atau
segala masalah yang membuat istrinya sedih dan terancam. Meski sebentar Axton
akan membuat Ai bahagia bersama dengannya.
“benarkah?” Ai seperti
anak kecil, dia begitu menggemaskan dengan tatapan berbinar itu. Axton
mengangguk dia tidak bisa berkata-kata melihat kesenangan di wajah istrinya.
Tanpa menunggu lama Ai
segera memasukkan dirinya di tepi danau. Dia tentu ingat bahwa dirinya tidak
bisa berenang. Jadi hanya bisa berendam di bagian yang dangkal.
Axton menjauh dari sungai,
dia akan membuat tenda kecil sebagai tempat ganti dan istirahat mereka setelah
berenang nanti. Sambil terus mengawasi istrinya Axton tidak mengalami kesulitan
apapun dalam membuat tenda. Dia sudah terbiasa, apalagi perlengkapannya sudah
siap.
Setelah tenda berhasil
berdiri, Axton ikut mendekat dan bergabung bersama Ai di sungai. Axton juga
memberikan pengajaran dasar berenang kepada Ai. sejak kejadian di danau, Axton
sedikit ketakutan dan memang berniat mengajari Ai berenang untuk melindungi
diri.
“ bagus, tahan nafasmu
dan gerakkan tangan dan kakimu seperti ini” ucap Axton sambil menyontohkan
gerakan dasar berenang.
“ oh gitu, seperti ini?”
Ai langsung menirukan dengan gaya yang sama.
“ ya, teruskan” Axton
memperbaiki gerakan yang kurang benar.
Mereka berlatih sambil
sesekali bermain dan saling menjahili. Momen yang begitu membahagiakan. Axton
dan Ai tertawa lepas, mereka melupakan sejenak segala beban masalah dalam
fikiran mereka. hanya ada mereka sekarang.