The New Duchess

The New Duchess
Bab 120: Air Terjun



Axton sedang menyiapkan


sesuatu, lelaki sibuk dengan beberapa barang yang dia masukkan kedalam sebuah


kantong kain besar.


“ Axton, apa yang kau


lakukan. Kamu masih sakit segera masuk dan istirahat dikamar saja” Ai langsung


menjadi istri cerewet keika mendapti Axton yang sudah mulai sibuk beraktifitas.


“ jangan khawatir, aku


sudah sembuh” jawab Axton dengan tidak menatap wajah Ai sama sekali.


“ apa yang kau lakukan?”


Ai mendekat dan melihat apa yang membuat suaminya seakan mengabaikannya.


“ hari begitu cerah, aku


akan menujukkan sesuatu padamu, kita akan mengujungi suatu tempat” jawab Axton


sedikit antusias. Dia ingin membuat sesuatu yang tidak akan Ai lupakan dalam


hidupnya.


“ tapi kau masih sakit,


aku tidak setuju” tolak Ai, dia tidak mau kondisi Axton akan kambuh lagi.


“ tidak, kau tenang saja”


Axton masih kekeh akan mengajak istrinya ke suatu tempat.


Setelah perbicangan yang


tidak ada hasilnya, Ai sedari tadi mencari keberadaan pelayan pondok. sejak


perbicangan tadi pagi dia tidak terlihat lagi.


“ kau mau kemana?” tanya


Axton yang ikut bingung melihat istrinya yang sudah berkeliling pondok.


“ pelayan itu kemana?”Ai


lupa menanyakan hal itu kepada Axton.


“ aku menyuruhnya


mengurus kawasan depan” jawab Axton enteng.


“ lalu, makan malam siapa


yang buat?” tanya Ai cemas, dia tidak memiliki persiapan apapun untuk membuat


makan malam.


“ sudahlah, ayo ikut aku”


Axton menarik tangan Ai dan membawanya pergi dari pondok, tak lupa dengan


kantong besar yang sudah berada di tangan satunya.


“ kita akan kemana?” Ai


hanya bisa pasrah mengikuti keinginan sang suami.


“ sudahlah ikut saja” Axton


terus merahasiakanya, dia akan membuat kejutan.


Perjalanan mereka dimulai


dengan masuk kedalam hutan. Mereka mengikuti sebuah jalan setapak yang berada


tak jauh dari mereka. Axton dengan penuh hati-hati memilihkan jalur yang aman


untuk mereka lalui. Dia tidak mau istrinya celaka atau kelelahan menaiki medan


yang lumayan terjal.


Meski sudah menjelang


tengah hari, karena mereka berada di hutan rasanya masih seperti pagi. Cahaya


yang masuk ke hutan begitu minim. Bahkan udaranya  masih terasa lembab seperti selesai turun


hujan. Mereka terus masuk kedalam hutan. Axton terus memantau dan membantu


istrinya melangkah.


“ masih jauh?” celetuk Ai


yang mulai merasa capek. Kakinya terasa berat untuk melangkah lagi.


“ tidak sebentar lagi”


jawab Axton sambil mengusap pelan kepala sang istri.


Dan sesuai dengan


perkataan Axton, sedetik kemudian mereka mendengar suara yang begitu deras,


seakan tau asal dari suara itu Ai menatap sekeliling mencoba mencari sumber


suara itu.


Ai langsung berbinar saat Axton mengangguk lemah sebagai jawabannya.


Benar-benar hal yang


tidak pernah dia bayangkan, dulu wanita ini begitu ingin melihat air terjun.


Baru sekarang keinginanya tercapai. Axton tampak puas, kejutan yang dia


rencanakan ternyata begitu membuat senang sang istri.


Tak lama mereka sampai di


tepi sungi, dengan seksama Ai dan Axton menatap ke atas. Mereka menyaksikan air


terjun yang mengalir deras ke bawah. Udaranya begitu sejuk, tak lupa percikan


air terlihat berkilau terkena cahaya matahari yang menerebos celah pepohonan.


Indah sekali.


“ bagaimana?” tanya Axton


puas.


“ indah, sangat indah” Ai


mendekat di arah sungai, dia terduduk di sebuah batu dan memasukkan kakinya ke


dalam air.


Sebenarnya mata air


inilah yang tuan Kleiner cari, dia sempat mendengarnya dari Axton saat awal


datang ke kawasan pondok. karena tdak tau arah jalan, mereka tidak bisa


menemukannya.


“ dingin” ucap Ai saat


Axton mengikutinya duduk di atas batu.


“ aku sudah membawa baju


dan perlengkapan lainnya, kau bisa berendam sepuasmu” ucap Axton senang, momen


inilah yang ingin Axton rasakan bersama Ai. bukan momen dia terkena racun atau


segala masalah yang membuat istrinya sedih dan terancam. Meski sebentar Axton


akan membuat Ai bahagia bersama dengannya.


“benarkah?” Ai seperti


anak kecil, dia begitu menggemaskan dengan tatapan berbinar itu. Axton


mengangguk dia tidak bisa berkata-kata melihat kesenangan di wajah istrinya.


Tanpa menunggu lama Ai


segera memasukkan dirinya di tepi danau. Dia tentu ingat bahwa dirinya tidak


bisa berenang. Jadi hanya bisa berendam di bagian yang dangkal.


Axton menjauh dari sungai,


dia akan membuat tenda kecil sebagai tempat ganti dan istirahat mereka setelah


berenang nanti. Sambil terus mengawasi istrinya Axton tidak mengalami kesulitan


apapun dalam membuat tenda. Dia sudah terbiasa, apalagi perlengkapannya sudah


siap.


Setelah tenda berhasil


berdiri, Axton ikut mendekat dan bergabung bersama Ai di sungai. Axton juga


memberikan pengajaran dasar berenang kepada Ai. sejak kejadian di danau, Axton


sedikit ketakutan dan memang berniat mengajari Ai berenang untuk melindungi


diri.


“ bagus, tahan nafasmu


dan gerakkan tangan dan kakimu seperti ini” ucap Axton sambil menyontohkan


gerakan dasar berenang.


“ oh gitu, seperti ini?”


Ai langsung menirukan dengan gaya yang sama.


“ ya, teruskan” Axton


memperbaiki gerakan yang kurang benar.


Mereka berlatih sambil


sesekali bermain dan saling menjahili. Momen yang begitu membahagiakan. Axton


dan Ai tertawa lepas, mereka melupakan sejenak segala beban masalah dalam


fikiran mereka. hanya ada mereka sekarang.