The New Duchess

The New Duchess
Bab 63 : Memilih



“ sudahi basa-basimu, apa


yang kau inginkan sebenarnya?” Grace sudah malas meladeni semua omong kosong


Sea.


“ hahahha, ini, inilah


alasannya kenapa aku begitu menyukaimu. Kau begitu pintar Grace” suara tawa Sea


meleking memenuhi ruangan.


Grace  menebak-nebak jika kedatangan Sea pasti


berhubungan dengan sesuatu yang jahat. Lelaki ini dari sudut manapun tidak memiliki


sisi baik. Dia hanya beruntung lahir di dalam keluarga bangsawan, karena kalau


tidak lelaki hanya akan menjadi sampah.


“ tidak perlu terlalu


cepat, aku begitu merindukanmu. Mungkin kita bisa bersenang-senang dulu sebelum


membahas tujuanku kemari?” penawaran yang sangat tidak tahu malu. Sea beranjak


untuk mendekati Grace. Grace memegang perutnya, dia takut jika Sea melakukan


hal buruk pada kandungannya.


Dan pergerakan itu dengan


cermat di tangkap oleh Sea. Lelaki itu menatap sejenak perut Grace sambil


memikirkan sesuatu. Beberapa saat kemudian dia menyeringai menatap Grace.


“ apa itu anakku?”


bagaikan suara petir bagi Grace. Rahasianya begitu cepat di ketahui. Pupilnya


melebar rasa takutnya meningkat berkali-kali lipat.


“ apa yang kau maksud?”


Grace berdiri berniat menjauhkan diri.


“ tunggu” Sea memegang


lengan Grace dan mendorongnya untuk kembali duduk. Dengan kondisi Grace saat


ini wanita itu tidak bisa melawan, hanya bisa menuruti saja.


“ apa maumu?” suara Grace


meninggi sambil menatap Sea tajam.


“ jawab pertanyaanku,


apakah ini anakku?” sea mendekatkan wajanya tepat di depan wajah Grace hanya


berjarak 2 cm saja yang memisahkan mereka. Sedangkan tangannya mengusap pelan


perut buncit Grace yang tertutupi gaun.


Grace tau jika saat ini


Sea tengah menuntut jawabannya. Sorot matanya tajam seakan ingin membunuhnya


saat ini juga. Grace terdiam tak mau menjawab, meski jantungnya berdegu kencang


begitu takutnya.


“ sepertinya tebakanku


benar” Sea menarik diri. Grace sedikit bisa bernafas lega.


Sea menjauh, dirinya


tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Padahal dia kemari ingin memberikan


kejutan ringan malah dia yang terkejut. Sea tertawa tipis memandang Grace yang


terduduk di depannya.


“ aku akan menjadi ayah”


gumannya senang. Grace merasa aneh dengan tingkah Sea, lelaki itu tengah marah


tapi juga terlihat senang.


Prok prok, suara tepukan


mengagetkan Grace, lelaki itu benar-benar tidak tertebak.


“ bagus Grace, kau


benar-benar beruntung.” Sea kembali duduk dan memegang erat telapak tangan


Grace.


“ anak ini adalah


solusinya, dengan ini kau bisa mendapatkan apa yang kau inginkan dulu”  sea begitu antusias mengatakan idenya.


“ aku tidak mengerti”


Grace menarik tangannya.


“ dengan kau mengatakan


bayi ini adalah bayi Duke keingian kita bisa terwujud. kau mendapatkan status


yang selama ini kau inginkan”


“ tidak” Grace paham betul


kemana arah pembicaraan ini. Benar jika dulu dia dan Sea memiliki tujuan yang


hampir sama. Menyingkirkan Ainsley. Dia ingin menjadi istri Axton dan Sea


mendapatkan Ainsley sebagai gantinya. Namun setelah semua hal yang dia lalui


rasanya dia sudah memiliki tujuan lain.


Apalagi dia sudah sadar


jika Ainsley adalah wanita yang sepadan dengan Axton, Grace sudah melepaskan


simpul hatinya dan merelakan cintanya pada Axton. dia sadar jika Ainsley


merupakan wanita yang baik.


“sepertinya kau tidak


mengetahui situasi Grace” nada bicara Sea menjadi berubah. Lelaki itu begitu


serius dengan ucapannya. Tidak hanya sekedar menakut-nakuti, Sea tidak mau di


tolak.  Mau tidak mau Grace harus


melakukan perintahnya.


“ bayi itu adalah anak


Duke Wellington” desis Sea penuh penekanan.


kasar, tangannya gemetar mendengar rencana jahat Sea. Saat ini dia tidak bisa


melakukan apapun, atau sea akan  mengancamnya.


“ bagaimana Grace kau


menerimanya?” Grace mengagguk pelan. Seringai puas kini tercetak jelas di wajah


Sea. Lelaki itu kemudian menjelaskan hal-hal yang harus dilakukan oleh Grace,


meski terlihat santai namun saat ini Sea seakan ingin merobek perut Grace jika


sedikit saja Grace menolak permintaannya.


Kediaman Allard malan ini


terlihat sedikit sendu. Di dalam kamar Ainsley yang baru saja menghabiskan


makan malamnya, terlihat melamun diatas ranjang, memandangi jendela dengan


wajah yang lesu.


Setelah mengutakaran


semua bebannya paman Allard meninggalkannya. Paman menyuruhnya untuk istirahat


lebih awal. Tentu saja ini tidak akan dilakukan oleh Ai. wanita itu jelas tidak


bisa tidur dan terus saja memikirkan suaminya yang entah bagaimana keadaanya.


Sudah beberapahari berjalan dan tidak ada kabar apapun yang didapatkan. Hatinya


semakin tidak menentu.


Kekhawatiran yang sama


dirasakan oleh sepasang suami istri di kediaman yang sama. Allard dan Amber


begitu mencemaskan keadaan Ai. mereka tidak tega melihat kerapuhan


keponakannya.


“ lebih baik biarkan saja


Ai disini, dengan begitu kita bisa menjaganya” Amber memulai pembicaraan di


kamar mereka.


“ aku juga tidak tega


dengannya, namun seperti yang Duke katakan. Kediaman Duke adalah tempat yang


aman untuk Ai” Allard menghembuskan nafasnya kasar, saat ini lelaki itu dilema.


“ apa kau tidak melihat


kekalutannya, dia bahkan menaiki kuda sendirian kemari” amber mulai terpancing


emosi.


“ jika dia disini, mereka


akan semakin mudah mencelakainya” Allard juga ikut meninggikan suaranya.


“ kita harus berfikir


secara menyeluruh. Posisi Duchess tidak akan membantunya disini. Aku yakin


Axton pasti sudah merencakan yang terbaik untuk Ai. dia tidak akan membiarkan


istrinya terluka” Allard menekan emosinya agar istrinya ikut tenang.


“ aku tidak bisa tenang


setelah melihat kondisinya kemari. Apa tidak ada cara lain untuk bisa membuat


Ai tenang?” Amber terus saja meminta agar Allard melakukan sesuatu yang bisa


membantu Ainsley.


“ kita harus membuatnya


percaya jika kondisi Axton tidak seburuk yang dia fikirkan” mereka saling


berpelukan. Amber menangis di depan dada suaminya. Ai adalah satu-satunya hal


yang ditinggalkan oleh adiknya. Dia harus bisa menjaganya.


Lain hanya dengan


keluarga Allard, pangeran Aric menjalan keluar dari kamar raja dengan keadaan


sedikit linglung. Terlihat sekali jika dia tidak fokus berjalan. Tidak lain


karena fakta yang dia dapatkan dari mulut ayahnya.


Meski tertegun sejenak,


dengan cepat pangeran Aric menstabilkan dirinya. Rasa penasarannya sedikit


terpenuhi, meski tebilang sedikit terlambat. Aric yakin dia masih bisa melakukan


sesuatu.


“ bagimana pangeran?”


pengawal yang sedari tadi menunggunya bertanya.


“ kita tidak memiliki


banyak waktu” jawab Aric. Berjalan cepat meninggalkan kamar sang raja. Dia


sudah memilih, kali ini dia pastikan bahwa dia tidak akan menyesal.


“ malam ini suruh yang


lain berkumpul” ucap Aric ditengah perjalanan.


“ baik “ jawab pengawal


kemudian memisahkan diri untuk melaksanakan perintah.


Aric tidak menyangka


dengan apa yang dengar barusan dia dapatkan ketika di kamar ayahnya. Dugaanya


sepenuhnya benar tapi dia tidak menyangkan akan seburuk dan sebesar ini. Meski


ada rasa marah kenapa ayahnya bisa diam sampai sekarang, Aric tidak bisa


menyalahkan raja sepenuhnya. Resiko yang ditimbulkan tentu tidak main-main.


Baik kerajaan maupun Duke


keduanya tidak bisa dipisahkan. Masing-masing akan berdampak pada lainnya.


Apalagi keluarga kerajaan yag terlibat memiliki posisi yang penting. Tidak bisa


di pandang remeh. Kini meski tidak sejalan Aric memaklumi dan dia sendiri yang


akan bertanggung jawab atas semua ketakutan sang ayah.