
“ sudahi basa-basimu, apa
yang kau inginkan sebenarnya?” Grace sudah malas meladeni semua omong kosong
Sea.
“ hahahha, ini, inilah
alasannya kenapa aku begitu menyukaimu. Kau begitu pintar Grace” suara tawa Sea
meleking memenuhi ruangan.
Grace menebak-nebak jika kedatangan Sea pasti
berhubungan dengan sesuatu yang jahat. Lelaki ini dari sudut manapun tidak memiliki
sisi baik. Dia hanya beruntung lahir di dalam keluarga bangsawan, karena kalau
tidak lelaki hanya akan menjadi sampah.
“ tidak perlu terlalu
cepat, aku begitu merindukanmu. Mungkin kita bisa bersenang-senang dulu sebelum
membahas tujuanku kemari?” penawaran yang sangat tidak tahu malu. Sea beranjak
untuk mendekati Grace. Grace memegang perutnya, dia takut jika Sea melakukan
hal buruk pada kandungannya.
Dan pergerakan itu dengan
cermat di tangkap oleh Sea. Lelaki itu menatap sejenak perut Grace sambil
memikirkan sesuatu. Beberapa saat kemudian dia menyeringai menatap Grace.
“ apa itu anakku?”
bagaikan suara petir bagi Grace. Rahasianya begitu cepat di ketahui. Pupilnya
melebar rasa takutnya meningkat berkali-kali lipat.
“ apa yang kau maksud?”
Grace berdiri berniat menjauhkan diri.
“ tunggu” Sea memegang
lengan Grace dan mendorongnya untuk kembali duduk. Dengan kondisi Grace saat
ini wanita itu tidak bisa melawan, hanya bisa menuruti saja.
“ apa maumu?” suara Grace
meninggi sambil menatap Sea tajam.
“ jawab pertanyaanku,
apakah ini anakku?” sea mendekatkan wajanya tepat di depan wajah Grace hanya
berjarak 2 cm saja yang memisahkan mereka. Sedangkan tangannya mengusap pelan
perut buncit Grace yang tertutupi gaun.
Grace tau jika saat ini
Sea tengah menuntut jawabannya. Sorot matanya tajam seakan ingin membunuhnya
saat ini juga. Grace terdiam tak mau menjawab, meski jantungnya berdegu kencang
begitu takutnya.
“ sepertinya tebakanku
benar” Sea menarik diri. Grace sedikit bisa bernafas lega.
Sea menjauh, dirinya
tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Padahal dia kemari ingin memberikan
kejutan ringan malah dia yang terkejut. Sea tertawa tipis memandang Grace yang
terduduk di depannya.
“ aku akan menjadi ayah”
gumannya senang. Grace merasa aneh dengan tingkah Sea, lelaki itu tengah marah
tapi juga terlihat senang.
Prok prok, suara tepukan
mengagetkan Grace, lelaki itu benar-benar tidak tertebak.
“ bagus Grace, kau
benar-benar beruntung.” Sea kembali duduk dan memegang erat telapak tangan
Grace.
“ anak ini adalah
solusinya, dengan ini kau bisa mendapatkan apa yang kau inginkan dulu” sea begitu antusias mengatakan idenya.
“ aku tidak mengerti”
Grace menarik tangannya.
“ dengan kau mengatakan
bayi ini adalah bayi Duke keingian kita bisa terwujud. kau mendapatkan status
yang selama ini kau inginkan”
“ tidak” Grace paham betul
kemana arah pembicaraan ini. Benar jika dulu dia dan Sea memiliki tujuan yang
hampir sama. Menyingkirkan Ainsley. Dia ingin menjadi istri Axton dan Sea
mendapatkan Ainsley sebagai gantinya. Namun setelah semua hal yang dia lalui
rasanya dia sudah memiliki tujuan lain.
Apalagi dia sudah sadar
jika Ainsley adalah wanita yang sepadan dengan Axton, Grace sudah melepaskan
simpul hatinya dan merelakan cintanya pada Axton. dia sadar jika Ainsley
merupakan wanita yang baik.
“sepertinya kau tidak
mengetahui situasi Grace” nada bicara Sea menjadi berubah. Lelaki itu begitu
serius dengan ucapannya. Tidak hanya sekedar menakut-nakuti, Sea tidak mau di
tolak. Mau tidak mau Grace harus
melakukan perintahnya.
“ bayi itu adalah anak
Duke Wellington” desis Sea penuh penekanan.
kasar, tangannya gemetar mendengar rencana jahat Sea. Saat ini dia tidak bisa
melakukan apapun, atau sea akan mengancamnya.
“ bagaimana Grace kau
menerimanya?” Grace mengagguk pelan. Seringai puas kini tercetak jelas di wajah
Sea. Lelaki itu kemudian menjelaskan hal-hal yang harus dilakukan oleh Grace,
meski terlihat santai namun saat ini Sea seakan ingin merobek perut Grace jika
sedikit saja Grace menolak permintaannya.
Kediaman Allard malan ini
terlihat sedikit sendu. Di dalam kamar Ainsley yang baru saja menghabiskan
makan malamnya, terlihat melamun diatas ranjang, memandangi jendela dengan
wajah yang lesu.
Setelah mengutakaran
semua bebannya paman Allard meninggalkannya. Paman menyuruhnya untuk istirahat
lebih awal. Tentu saja ini tidak akan dilakukan oleh Ai. wanita itu jelas tidak
bisa tidur dan terus saja memikirkan suaminya yang entah bagaimana keadaanya.
Sudah beberapahari berjalan dan tidak ada kabar apapun yang didapatkan. Hatinya
semakin tidak menentu.
Kekhawatiran yang sama
dirasakan oleh sepasang suami istri di kediaman yang sama. Allard dan Amber
begitu mencemaskan keadaan Ai. mereka tidak tega melihat kerapuhan
keponakannya.
“ lebih baik biarkan saja
Ai disini, dengan begitu kita bisa menjaganya” Amber memulai pembicaraan di
kamar mereka.
“ aku juga tidak tega
dengannya, namun seperti yang Duke katakan. Kediaman Duke adalah tempat yang
aman untuk Ai” Allard menghembuskan nafasnya kasar, saat ini lelaki itu dilema.
“ apa kau tidak melihat
kekalutannya, dia bahkan menaiki kuda sendirian kemari” amber mulai terpancing
emosi.
“ jika dia disini, mereka
akan semakin mudah mencelakainya” Allard juga ikut meninggikan suaranya.
“ kita harus berfikir
secara menyeluruh. Posisi Duchess tidak akan membantunya disini. Aku yakin
Axton pasti sudah merencakan yang terbaik untuk Ai. dia tidak akan membiarkan
istrinya terluka” Allard menekan emosinya agar istrinya ikut tenang.
“ aku tidak bisa tenang
setelah melihat kondisinya kemari. Apa tidak ada cara lain untuk bisa membuat
Ai tenang?” Amber terus saja meminta agar Allard melakukan sesuatu yang bisa
membantu Ainsley.
“ kita harus membuatnya
percaya jika kondisi Axton tidak seburuk yang dia fikirkan” mereka saling
berpelukan. Amber menangis di depan dada suaminya. Ai adalah satu-satunya hal
yang ditinggalkan oleh adiknya. Dia harus bisa menjaganya.
Lain hanya dengan
keluarga Allard, pangeran Aric menjalan keluar dari kamar raja dengan keadaan
sedikit linglung. Terlihat sekali jika dia tidak fokus berjalan. Tidak lain
karena fakta yang dia dapatkan dari mulut ayahnya.
Meski tertegun sejenak,
dengan cepat pangeran Aric menstabilkan dirinya. Rasa penasarannya sedikit
terpenuhi, meski tebilang sedikit terlambat. Aric yakin dia masih bisa melakukan
sesuatu.
“ bagimana pangeran?”
pengawal yang sedari tadi menunggunya bertanya.
“ kita tidak memiliki
banyak waktu” jawab Aric. Berjalan cepat meninggalkan kamar sang raja. Dia
sudah memilih, kali ini dia pastikan bahwa dia tidak akan menyesal.
“ malam ini suruh yang
lain berkumpul” ucap Aric ditengah perjalanan.
“ baik “ jawab pengawal
kemudian memisahkan diri untuk melaksanakan perintah.
Aric tidak menyangka
dengan apa yang dengar barusan dia dapatkan ketika di kamar ayahnya. Dugaanya
sepenuhnya benar tapi dia tidak menyangkan akan seburuk dan sebesar ini. Meski
ada rasa marah kenapa ayahnya bisa diam sampai sekarang, Aric tidak bisa
menyalahkan raja sepenuhnya. Resiko yang ditimbulkan tentu tidak main-main.
Baik kerajaan maupun Duke
keduanya tidak bisa dipisahkan. Masing-masing akan berdampak pada lainnya.
Apalagi keluarga kerajaan yag terlibat memiliki posisi yang penting. Tidak bisa
di pandang remeh. Kini meski tidak sejalan Aric memaklumi dan dia sendiri yang
akan bertanggung jawab atas semua ketakutan sang ayah.