
“ Al!” Axton kembali
mengingatkan. Lelaki itu sudah habis kesabaran. Bagaimana bisa Hardwin yang
selama ini Al kenal sebagai lelaki yang bagus budi, malah memiki tingkah laku
kelewat batas seperti itu. Benar-benar mengecewakan, selama ini dia telah salah
menilai kepribadian Hardwin.
Allard jelas tidak bisa
membantah, dia dengan terpaksa menelan amarahnya. Belum saatnya dia
mengeluarkan emosinya. Apalagi suami Ai sendiri yang menyuruhnya.
“ ayah” Dalbert terus
menenagkan ayahnya. Jangan sampai Ai tau bahwa mereka tau tentang kesepakatannya
dengan Hardwin.
Suasana meja menjadi agak
memanas, mereka semua sedang berusaha mengendalikan amarah mereka masing-masing.
Terlebih Axton, lelaki itu sungguh ingin segera membunuh Hardwin saat itu juga.
Bagaimana lelaki itu berperilaku seenaknya, rasanya sebagai suami Ai, Axton
merasa direndahkan. Tidak ada harga diri, tunggu saja setelah masa pengobatan
ini selesai, dia benar-benar akan membuat perhitungan.
“ makanan sudah siap” Ai
berteriak dari arah dapur, dia berjalan sambil ditemani pelayan yang membawakan
makanan untuk ditaruh di meja. Mereka seketika langsung mengubah ekpresi wajah.
“ kalian pasti lapar” Ai
kembali menimpali. Dia duduk di samping Axton sedangkan pelayan mengatur posisi
makanan di meja.
“ kenapa kalian diam saja?”
Ai yang seakan merasa ada kejanggalan, semua orang hanya menatap datar. Tidak ada
yang bersuara ataupun terlihat senang dengan kehadiran dirinya.
“ tidak, kami benar-benar
lapar sampai tidak bisa berkata-kata” Dalbert mencoba mencairkan suasana.
“ mari kita makan” Axton
masih dalam mode datar, lelaki itu hanya menatap Ai sekilas lalu kemudian
mengambil makanan terlebih dahulu.
“ saya baru mengingat
sesuatu, saya pamit lebih dahulu” paman Al tidak bisa mengkondisikan emosinya. Dia
tidak bisa berpura-pura tidak terjadi apa-apa, belum lagi Ai yang di depanya
juga nampak baik-baik saja.
“ silahkan” Axton tidak
banyak kata, dia sudah tau alasan
sebenarnya Allard memilih pergi
darisana, dia perlu menenangkan dirinya.
Dalbert semakin merasa
tidak enak hati, sepertinya acara makan bersama ini harus gagal karena dirinya.
Lelaki itu sudah kehilangan nafsu makannya juga.
“ saya akan menemai ayah”
saut Dalbert kemudian beranjak dan berjalan mengiringi ayahnya.
“ kenapa mereka begitu
sibuk” Ai tampak kesal, dia sudah menyiapkan semua menu namun semuanya malah
pergi.
“ tak apa, aku bisa
menghabiskan semuanya” jawab Axton untuk menghibur istrinya. Dan tentu saja
perasaann Ai kembali lega, dia tersenyum kemudian ikut makan bersama dengan
suaminya.
Malam harinya Axton masih
terbaring di kamar, dia merasaka efek obatnya yang semakin kuat. Tubuhnya tiba-tiba
melemah dengan suhu tubuh yang mulai naik.
“ Axton, makanan sudah
siap” Ai masuk ke kamar, dia duduk di tepi ranjang sambil mencoba membangunkan
suaminya.
“ astaga, kau deman!”
saat menyentuh tubuh Axton, tangan Ai merasakan suhu panas. Di tempelkannya di
atas kening suaminya, dan benar saja selain rasa hangat, banyak sekali keringan
yang keluar. Bahkan baju yang Axton kenakan sudah basah karena keringat itu.
“ aku akan memanggil tuan
Kleiner” Ai panic dia tidak tau harus bagaimana, hanya satu cara yang
terpintas. Mencari tuan Kleiner.
“ jangan, buatkan aku air
hangat saja. Aku sudah terbiasa mengalami demam” Axton melarang istrinya, belum
lagi jarak untuk memanggil Aidyn harus melewati hutan. Axton tidak mau membuat
Ai celaka.
Ai hanya bisa menurut,
air hangat ke kamar.
“ apa ada bagian tubuhmu
yang sakit?” tanya Ai begitu kembali ke kamar dan langsung duduk di ranjang. Dia
tampak sangat khawatir, suhu tubuh Axton begitu tinggi.
“ tidak ada, hanya
sedikit kedinginan saja” Axton tidak mau mengatakan yang sebenarnya, meski
dadanya terasa sakit bahkan sulit bernafas, dia bisa menahannya. Dia tidak mau
Ai semakin panic dan malah lari ke kawasan pondok depan.
“ tuan ini air hangat nya”
pelayan membawakan baskom dan menaruhnya di atas nakas.
“ kompres aku pakai itu
saja” mendengar perintah Axton, Ai bergegas melaksanakan.
“ kau sediakan teh hangat
ya” perintah Ai kepada pelayan, dia ingat jika suaminya tadi mengeluhkan
sedikit kedinginan.
“ baik tuan” pelayan
meninggalkan kamar. Ai dengan setia mengompres suaminya. Axton merasa tidak
berdaya, rasa sakit membuat tubuhnya lemah. Semakin lama rasa sakit ini akan
terus naik sampai semua racun dalam tubuhnya bisa hilang.
“ bagaimana?” Ai
bertanya, dia merasakan dada Axton yang naik turun tidak beraturan. Membuatnya semakin
khaawatir.
“ sudah lebih baik,”
sambil tersenyum tipis. Axton mencoba menghilangkan kekhawatiran sang istri.
Dan selanjutnya suasana
kamar menjadi sunyi. Ai membiarkan suaminya tertidur. Dia hanya bertugas mengganti
kain dan air jika sudah dingin. Begitu terus sampai tengah malam, Ai ketiduran
di tepi ranjang.
Sebenarnya Axton sedari
tadi tidaklah tertidur, dia hanya berpura-pura. Memejamkan mata dan sambil
terus menahan sakit.
Uhuk, uhuk. Axton
terbatuk. Dia memelankan suaranya. Mengambil kain untuk membersihkan cairan
merah yang keluar dari mulutnya.
Tubuhnya semakin tak
karuan, Axton melihat bahwa darah yang keluar berwarna begitu pekat. Artinya efek
obatnya semakin kuat dan racun ditubuhnya mulai keluar.
Uhuk, uhuk. Axton batuk
lagi, dia menyampingkan tubuhnya agar suara batuknya tidak terlalu keras. Sekali
lagi darah keluar lebih banyak.
“ ehem, kau sudah bangun?”
Ai terlihat mulai sadar, dengan segera membersihkan bibirnya dan menyembunyikan
kain yang sudah berlumuran darah.
“ ambilkan aku minum”
ucap Axton agar Ai tidak curiga.
Ai berjalan kearah meja,
dan mengambil air di teko. Semuanya tampak baik-baik saja.
“ ini, hati-hati” Ai membantu
Axton untuk menaikan punggungnya agar tidak tersedak. Semua air itu habis dalam
sekejab. Axton memberikan gelas kosong kepada Ai.
“ tidurlah lagi” ucap Ai
dan menarik selimut untuk menutupi tubuh Axton. setelanya dia berniat menaruh
kembali gelas itu, sayangnya ada noda merah yang tertinggal di bibir gelas. Ai
mengerutkan keningnya, bersamaan dengan jantungnya yang berdegup kencang. Dia menatap
kearah Axton, lelaki itu sudah menutup matanya. Ai yakin jika noda ini adalah
darah, jadi Axton menyembunyikan hal ini.
Sekali lagi Ai menatap ke
arah suaminya, dia sudah ingin menanyakan lebih jauh. Namun dia urungkan, Axton
pasti tidak mau jika dirinya tau. Ai akan berpurapura seperti itu. Suaminya selalu
saja menyimpan kesakitannya sendirian.
Ai segera bergabung
dengan suaminya, berbaring diatas ranjang. Suhu tubuh Axton sudah mulai normal.
Tidak perlu lagi mengompres. Ai memeluk lengan suaminya. Tanpa sadar lelehan
hangat keluar dari matanya, meski tertutup nyatanya air mata itu tetap kekeh
keluar. Ai begitu kasihan melihat suaminya, begitu banyak beban yang di
tanggung seorang Duke. Selama ini dia tidak bisa banyak membantu, semoga saja
perjanjiannya dengan Hardwin bisa menyelamatkan suaminya. Dengan begitu Ai bisa
sedikit berguna untuk suaminya.