The New Duchess

The New Duchess
Bab 114 : Sembunyi



“ Al!” Axton kembali


mengingatkan. Lelaki itu sudah habis kesabaran. Bagaimana bisa Hardwin yang


selama ini Al kenal sebagai lelaki yang bagus budi, malah memiki tingkah laku


kelewat batas seperti itu. Benar-benar mengecewakan, selama ini dia telah salah


menilai kepribadian Hardwin.


Allard jelas tidak bisa


membantah, dia dengan terpaksa menelan amarahnya. Belum saatnya dia


mengeluarkan emosinya. Apalagi suami Ai sendiri yang menyuruhnya.


“ ayah” Dalbert terus


menenagkan ayahnya. Jangan sampai Ai tau bahwa mereka tau tentang kesepakatannya


dengan Hardwin.


Suasana meja menjadi agak


memanas, mereka semua sedang berusaha  mengendalikan amarah mereka masing-masing.


Terlebih Axton, lelaki itu sungguh ingin segera membunuh Hardwin saat itu juga.


Bagaimana lelaki itu berperilaku seenaknya, rasanya sebagai suami Ai, Axton


merasa direndahkan. Tidak ada harga diri, tunggu saja setelah masa pengobatan


ini selesai, dia benar-benar akan membuat perhitungan.


“ makanan sudah siap” Ai


berteriak dari arah dapur, dia berjalan sambil ditemani pelayan yang membawakan


makanan untuk ditaruh di meja. Mereka seketika langsung mengubah ekpresi wajah.


“ kalian pasti lapar” Ai


kembali menimpali. Dia duduk di samping Axton sedangkan pelayan mengatur posisi


makanan di meja.


“ kenapa kalian diam saja?”


Ai yang seakan merasa ada kejanggalan, semua orang hanya menatap datar. Tidak ada


yang bersuara ataupun terlihat senang dengan kehadiran dirinya.


“ tidak, kami benar-benar


lapar sampai tidak bisa berkata-kata” Dalbert mencoba mencairkan suasana.


“ mari kita makan” Axton


masih dalam mode datar, lelaki itu hanya menatap Ai sekilas lalu kemudian


mengambil makanan terlebih dahulu.


“ saya baru mengingat


sesuatu, saya pamit lebih dahulu” paman Al tidak bisa mengkondisikan emosinya. Dia


tidak bisa berpura-pura tidak terjadi apa-apa, belum lagi Ai yang di depanya


juga nampak baik-baik saja.


“ silahkan” Axton tidak


banyak kata, dia sudah tau  alasan


sebenarnya Allard  memilih pergi


darisana, dia perlu menenangkan dirinya.


Dalbert semakin merasa


tidak enak hati, sepertinya acara makan bersama ini harus gagal karena dirinya.


Lelaki itu sudah kehilangan nafsu makannya juga.


“ saya akan menemai ayah”


saut Dalbert kemudian beranjak dan berjalan mengiringi ayahnya.


“ kenapa mereka begitu


sibuk” Ai tampak kesal, dia sudah menyiapkan semua menu namun semuanya malah


pergi.


“ tak apa, aku bisa


menghabiskan semuanya” jawab Axton untuk menghibur istrinya. Dan tentu saja


perasaann Ai kembali lega, dia tersenyum kemudian ikut makan bersama dengan


suaminya.


Malam harinya Axton masih


terbaring di kamar, dia merasaka efek obatnya yang semakin kuat. Tubuhnya tiba-tiba


melemah dengan suhu tubuh yang mulai naik.


“ Axton, makanan sudah


siap” Ai masuk ke kamar, dia duduk di tepi ranjang sambil mencoba membangunkan


suaminya.


“ astaga, kau deman!”


saat menyentuh tubuh Axton, tangan Ai merasakan suhu panas. Di tempelkannya di


atas kening suaminya, dan benar saja selain rasa hangat, banyak sekali keringan


yang keluar. Bahkan baju yang Axton kenakan sudah basah karena keringat itu.


“ aku akan memanggil tuan


Kleiner” Ai panic dia tidak tau harus bagaimana, hanya satu cara yang


terpintas. Mencari tuan Kleiner.


“ jangan, buatkan aku air


hangat saja. Aku sudah terbiasa mengalami demam” Axton melarang istrinya, belum


lagi jarak untuk memanggil Aidyn harus melewati hutan. Axton tidak mau membuat


Ai celaka.


Ai hanya bisa menurut,


air hangat ke kamar.


“ apa ada bagian tubuhmu


yang sakit?” tanya Ai begitu kembali ke kamar dan langsung duduk di ranjang. Dia


tampak sangat khawatir, suhu tubuh Axton begitu tinggi.


“ tidak ada, hanya


sedikit kedinginan saja” Axton tidak mau mengatakan yang sebenarnya, meski


dadanya terasa sakit bahkan sulit bernafas, dia bisa menahannya. Dia tidak mau


Ai semakin panic dan malah lari ke kawasan pondok depan.


“ tuan ini air hangat nya”


pelayan membawakan baskom dan menaruhnya di atas nakas.


“ kompres aku pakai itu


saja” mendengar perintah Axton, Ai bergegas melaksanakan.


“ kau sediakan teh hangat


ya” perintah Ai kepada pelayan, dia ingat jika suaminya tadi mengeluhkan


sedikit kedinginan.


“ baik tuan” pelayan


meninggalkan kamar. Ai dengan setia mengompres suaminya. Axton merasa tidak


berdaya, rasa sakit membuat tubuhnya lemah. Semakin lama rasa sakit ini akan


terus naik sampai semua racun dalam tubuhnya bisa hilang.


“ bagaimana?” Ai


bertanya, dia merasakan dada Axton yang naik turun tidak beraturan. Membuatnya semakin


khaawatir.


“ sudah lebih baik,”


sambil tersenyum tipis. Axton mencoba menghilangkan kekhawatiran sang istri.


Dan selanjutnya suasana


kamar menjadi sunyi. Ai membiarkan suaminya tertidur. Dia hanya bertugas mengganti


kain dan air jika sudah dingin. Begitu terus sampai tengah malam, Ai ketiduran


di tepi ranjang.


Sebenarnya Axton sedari


tadi tidaklah tertidur, dia hanya berpura-pura. Memejamkan mata dan sambil


terus menahan sakit.


Uhuk, uhuk. Axton


terbatuk. Dia memelankan suaranya. Mengambil kain untuk membersihkan cairan


merah yang keluar dari mulutnya.


Tubuhnya semakin tak


karuan, Axton melihat bahwa darah yang keluar berwarna begitu pekat. Artinya efek


obatnya semakin kuat dan racun ditubuhnya mulai keluar.


Uhuk, uhuk. Axton batuk


lagi, dia menyampingkan tubuhnya agar suara batuknya tidak terlalu keras. Sekali


lagi darah keluar lebih banyak.


“ ehem, kau sudah bangun?”


Ai terlihat mulai sadar, dengan segera membersihkan bibirnya dan menyembunyikan


kain yang sudah berlumuran darah.


“ ambilkan aku minum”


ucap Axton agar Ai tidak curiga.


Ai berjalan kearah meja,


dan mengambil air di teko. Semuanya tampak baik-baik saja.


“ ini, hati-hati” Ai membantu


Axton untuk menaikan punggungnya agar tidak tersedak. Semua air itu habis dalam


sekejab. Axton memberikan gelas kosong kepada Ai.


“ tidurlah lagi” ucap Ai


dan menarik selimut untuk menutupi tubuh Axton. setelanya dia berniat menaruh


kembali gelas itu, sayangnya ada noda merah yang tertinggal di bibir gelas. Ai


mengerutkan keningnya, bersamaan dengan jantungnya yang berdegup kencang. Dia menatap


kearah Axton, lelaki itu sudah menutup matanya. Ai yakin jika noda ini adalah


darah, jadi Axton menyembunyikan hal ini.


Sekali lagi Ai menatap ke


arah suaminya, dia sudah ingin menanyakan lebih jauh. Namun dia urungkan, Axton


pasti tidak mau jika dirinya tau. Ai akan berpurapura seperti itu. Suaminya selalu


saja menyimpan kesakitannya sendirian.


Ai segera bergabung


dengan suaminya, berbaring diatas ranjang. Suhu tubuh Axton sudah mulai normal.


Tidak perlu lagi mengompres. Ai memeluk lengan suaminya. Tanpa sadar lelehan


hangat keluar dari matanya, meski tertutup nyatanya air mata itu tetap kekeh


keluar. Ai begitu kasihan melihat suaminya, begitu banyak beban yang di


tanggung seorang Duke. Selama ini dia tidak bisa banyak membantu, semoga saja


perjanjiannya dengan Hardwin bisa menyelamatkan suaminya. Dengan begitu Ai bisa


sedikit berguna untuk suaminya.