
04.15 AM
Kediaman Duke
Di sebuah kamar mewah dengan nuansa gelap seorang lelaki mulai menggeliat, mulai bangun dari ketidaksadarannya. Dengan masih menggunakan pakaian lengkap lelaki itu berangsur duduk bersandar pada sandaran ranjang.
“ aahh, kepalaku” lirih lelaki itu sambil memegangi kepalanya. Tak lama dia memandang jendela, langit mulai sedikit terang. Pertanda fajar mulai terbit. Pelahan mencerna situasi yang terjadi, tak lama ingatannya kembali.
“ Brian..!!” teriaknya mulai menuruni ranjang dengan kesadarannya yanga masih setengah tak khayal tubuhnya sedikit limbung semboyongan.
“ iiya tuan” brian dengan tergesa segera membuka pintu, dilihatnya tuannya sedang menyangga tubuhnya di salah satu meja kamar. Terlihat sekali jika kondisinya masih lemah.
“ tuan “ Brian membantu Axton berdiri. Axton menoleh.
“ dimana Duchess?” semenjak sadar hanya Ai yang teringat. Meskipun alasan kenapa dia terbangun dan sudah berada di kediaman juga sedikit membingunkan Axton.
“ emm,, iitu” Brian tampak kebingungan bagaimana menjawab pertanyaan Axton.
“ ,iitu apa?” tanya Axton menangkap raut kekhawatiran yang tinggi di wajah pengawalnya. Membuat hatinya semakin resah. Pertanda ada sesuatu yang buruk.
“ k,,aami tidak bisa me..menemukan Duchess “ mendengar jawaban Brian yang membuat emosi marah Axton langsung naik. Di sentaknya tangan Brian dengan kasar. Kini bukan saja marah tapi entah perasaan khawati bahkan panik langsung menerjang secara bersamaan. Bagaimana bisa ketika dirinya sudah nyaman di kediaman, tapi keberadaan istrinya malah belum tentu.
“ apa maksudmu dengan tidak ditemukan? Apa dia masih di kerajaan?” Axton langsung melangkah keluar kamar. Perasaanya sudah campur aduk, dia sudah tidak bisa merasakan apapun lagi, semuanya perhatiannya tertuju pada Ai seorang.
“ tuan,, tunggu” panggil Brian menyusul Axton yang sudah sampai di tangga. Namun Axton sama sekali tidak menghentikan langkahnya. Dia ingin segera menemukan istri kecilnya memeluknya dan menanyakan keadaanya.
“tuan, nyonya tidak ada di kerajaan” Brian harus mengatakan yang membuatnya kebingungan setengah mati.
“ terus dimana?” sentak Axton karena baru diberikan informasi.
“ saya juga tidak tau tuan, seseorang menghampiri saya dan tiba-tiba menyuruh saya untuk segera menemukan tuan. Kami sudah mencari di semua tempat pesta serta kamar tamu, tapi tidak bisa menemukan nyonya”
“ seseorang siapa? Katakan dengan jelas “ axton benar-benar tidak bisa mengatur emosinya. Sampai dia benar-benar mengetahui bagaima kabar istrinya.
“ ,saya juga tidak tahu tuan, seorang pelayan entah dari keluarga mana” ucap Brain penuh penyesalan, dia begitu bodoh tidak menanyakannya tadi. Dia sangat panik ketika di beritahu untuk segera menemukan tuannya yang berada dalam bahaya.
“ maaf kan saya tuan” lanjut Brian. Axton semakin kacau, tidak ada petunjuk apapun mengenai keberadaan istrinya.
“ dasar bodoh!!! sekarang apa yang bisa dilakukan?” teriak Brian mengeluarkan segala emosi yang dia rasakan. Axton benar benar kecewa dengan kinerja Brian bahkan kecewa dengan dirinya sendiri. Kenapa bisa kecolongan seperti ini.
“ Grace aku tidak akan melepaskanmu” desis Axton seram dan kembali naik segera masuk ke ruang kerjanya.
“ kau ikut denganku” ucap Axton kepada Brian yang diam di tempat, dia harus mencari pelayan dari keluarga mana yang sudah membawa istrinya.
04.30 AM
Kerajaan
Di dalam sebuah kamar dengan penampakan yang lumayan berantakan, seorang wanita tanganya mengepal menggegam kuat seprai ranjang yang dia tempati. Tiada hentinya mencaci maki seorang yang membuatnya berakhir menyedihkan dalam kondisi yang tidak layak seperti ini. Dengan tubuh polosnya yanga tertutup selimut tidak membuatnya malu, semuanya sudah berhasil di renggut darinya.
Disana juga terdapat seorang lelaki yanag sedang merapikan penampilannya setelaha kegiatan panasnya bersama wanita. Dengan raut puasnya dia mengancing kemejanya dengan senyum seringai. Tatapannya masih menguci keadaan sang wanita yang sudah tak berdaya.
“ jangan biarkan dia pergi” pesannya dengan wajah datar dan tatapan tajam. Sayang sekali kali ini Grace menjadi mangsa sang harimau. Tidak akan mudah melepaskan diri.
“ brengsekkk,, !! tidak akan aku maafkan” lirih Grace dengan suara yang parau, sebulir lelehan hangat menjadi saksi kekejaman yang baru saja dia rasakan.
Baru saja Sea keluar, dua orang pelayan masuk meletakkan satu set gaun dan senampan makanan. Tentu saja Grace hanya diam tak melihat ataupun peduli. Tubuhnya terasa begitu remuk redam setelah melayani kebuasan Sea, bahkan bekas kemerahan dan keunguan sudah hampir menghiasi sekujur tubuhnya.
Ingin sekali segera membersihkan diri, menghilangkan segala bekas yang Sea tinggalkan. Namun tubuh Grace benar-benar lemas, kakinya begitu kebas, pinggangnya rasanya patah. Hanya bisa terbaring sambil menunggu energinya kembali.
Di waktu yang sama dengan tempat yanga berbeda, dua orang lelaki sedang berdiskusi serius.
“ jelaskan bagaimana penampilan pelayan itu?” Axton duduk di meja kerjanya sedang Brian berdiri di hadapanya.
“ seorang lelaki paruh baya, terlihata begitu bugar dan memiliki tinggi yang sama dengan saya. Sepertinya dia seorang kusir kereta” jawab Brian menerawang kejadian beberapa jam yang lalu.
“apa kau melihat keretanya? Atau ciri khusus dari penampilanya?”
“ waktu itu saya ada berada di area taman samping, dekat dengan jalan. Dan tiba-tiba saja dia datang. Saya tidak melihat apapun”
“ taman samping memang sangat berdekatan dengan jalan keluar masuknya kereta. Kemungkinan pelayan itu sudah membawa Ainsley. Huh, kenapa tidak ada jejak sama sekali” Axton kesal pencariannya tidak membuahkan hasil.
“ lebih baik kita pergi ke wanita gila itu” lanjut Axton tidak bisa berdiam diri seperti ini, lebih baik menggali ke sumber masalah.
Brian masih bertanya-tanya siapa wanita yang di maksud oleh tuannya itu. Jarang sekali tuannya menjebut seseorang dengan panggilan kasar seperti barusan. Tak ada waktu untuk berfikir, Brian segera menyusul tuanya yang sudah jauh di depan.
Perjalanan terasa begitu lama bagi Axton, mentari sudah menujukkan berkas-berkas cahayanya. Namun kabar istrinya masih belum bisa dia temukan. Begitu sampai Axton segera turun.
“ maafkan kami, tapi Lady Bart belum kembali dari pesta” ucap pelayan kediaman. Tentu saja bukannya membaik, kekhawatiran Axton semakin menggunung. Bisa-bisa keselamatan Ai sedang terancam. Axton masuk ke kereta dengan membawa kekecewaan. Harapannya pupus di tengah jalan.
“ sepertinya aku tau siapa yang membawa istriku” Axton menaikan sudut bibirnya, setelah menganalisis seseorang yang paling mungkin membawa Ainsley.
“ pergi ke kediaman Kleiner” teriak Axton. Brian segera memacu kereta.
Hari masih sangat pagi ketika kediaman Kleiner menerima tamu. Dengan tergesa para pelayan langsung kerepotan setelah mengetahui jika tamu itu seorang yang penting, ya Axton telah sampai. Brian cukup handal membawa kereta dalam kecepatan tinggi. Membuat perjalanan setengah kali lebih cepat dari seharusnya.
“ Duke Wellington, tuan Kleiner sedang dalam bersiap menyambut anda” ucap salah satu pelayan kediaman.
“ tidak usah, antarkan saya ke kamar Lord Hardwin” ucap Axton tegas. Membuat pelayan itu sedikit ketakutan.
“ tuan..” Brian mencoba mengingatkan tuannya agar tidak bertindak gegebah.
“ saya memiliki urusan dengan tuan mudamu itu” ucap Axton dengan nada semakin tinggi.
“ b,baiklah” pelayan itu tak memiliki pilihan. Akhirnya mengantar Axton ke kamar Hardwin.
“ pergilah” usir Axton, Brian hanya terdiam tanpa bisa menasehati tindakan tuannya yang sedikit lancang.
Brak, tanpa mengetuk Axton langsung membuka keras pintu kamar. Segera masuk untuk membuktikan kehawatirannya. Tak lama melangkah dengan mata kepalanya sendiri, dia melihat seorang wanita yang dia cari sedanga tertidur di atas ranjang disana.